Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 13


__ADS_3

Usai keributan yang mereka lakukan di lingkungan kerja, Ray berjalan kembali menuju kantin sembari memesan kopi.


***


Aldo Afrizal ialah teman sekelas masa kuliah Ray begitu juga dengan Alisa. Berada di ruang yang sama mengisahkan kenangan mereka tersendiri.


Sifat keras kepala yang ingin selalu menang dan tak ingin kalah dalam hal apapun, sudah mendarah daging di kepala Aldo.


Meski satu ruangan, namun mereka berdua tak begitu akrab. Karena, Aldo dan Ray selalu bersaing di segala hal. Hingga akhirnya tak ada yang tau siapa yang lebih dulu mengenal dan menyukai Alisa.


Namun yang Ray tau, Alisa lebih memilih bersama dengannya di banding Aldo.


Kebencian Aldo semakin memuncak saat ia mengetahui Ray menjalin hubungan dengan Alisa.


Perkelahian yang baru mereka alami bukanlah hal pertama kalinya terjadi. Karena berkelahi dengan Aldo sudah menjadi budaya tersendiri dalam hidup Ray.


Jika bukan karena Alisa yang berhasil menghentikan perdebatan mereka dahulu, ntah apa yang bakal terjadi kedepan.


***


"Ini dek kopinya," ucap Ibu Ani pemilik kantin meletakan kopi di meja.


"Kamu baru bekerja di sini ya? soalnya Ibu gak pernah liat kamu," lanjutnya.


"Iya Bu, saya baru di sini, baru sehari ini," balas Ray tersenyum mengaduk kopi.


"Oh pantesan, terus kenapa tadi ribut sama pak Aldo? Dia itu orang penting lo dek di sini," ucap Bu Ani membersihkan gelas-gelas di atas meja lainnya.


"Orang penting? Sepenting apapun dia Aku gak perduli, kalau dia salah ya salah, masalah mental boleh di coba," gerutu Ray meminum kopi.


Hanya butuh waktu seminggu untuk Ray mendapatkan sahabat akrab di kantor.


Dani Armansyah 28 tahun, memiliki 2 putri.


Efendi Mulia 26 Tahun, masih lajang.


Safii Qotus 26 tahun, juga lajang.


Mereka berempat berada di divisi tujuh, menangani sarana bidang promosi perusahaan. Selalu bersama karna berada di dalam satu lingkungan sudah sepantasnya mereka akrab.


Dari seminggu sebelumnya hingga saat itu, Ray belum melihat Aldo. Wajar saja karena divisi mereka bekerja berbeda.


Kemudian kepala manager pemasaran memanggil mereka berempat untuk masuk keruangan miliknya.


"Kalian berempat akan join dengan divisi enam untuk melakukan gebrakan produk baru kita di event terbesar bulan depan." Tegas Pak Taufik selaku pimpinan perusahaan.


Akhir bulan depan ialah akhir dari sebuah tahun untuk menyambut tahun baru 2019 mendatang.

__ADS_1


"Mereka akan datang sebentar lagi, saya harap kalian bisa menjalin kerja sama yang baik demi memajukan perusahaan," lanjut Pak Taufik kembali.


"Tok, tok, tok." (Pintu di ketuk).


"Masuk," sahut Pak Taufiq mempersilahkan.


Ketika pintu terbuka dan memasuki ruangan,.


"Argh, kenapa harus dia lagi?" batin Ray dengan semangat mulai menurun.


Divisi enam itu di ketuai oleh Aldo, terlihat senyuman darinya memberi pesan kepadan Ray, seakan berkata, Aku kembali.


Dua jam berlalu dan rapat saat itu pun selesai. Ketika berjalan seiring menuju luar halaman, Aldo mendekati Ray berbisik lembut.


"Urusan kita belum selesai, Aku tidak akan pernah melepaskan Alisa untuk cowok seperti kamu," ujarnya tersenyum licik.


"Selagi mampu, lakukan. Tapi perlu kamu tau bahwa apa yang kamu usahakan itu akan selalu sama hasilnya, sia-sia," jawab Ray menepuk pundak Aldo.


"Oke baik, jangan menyesal!" Kecam Aldo berjalan ke arah berlawanan.


Saat itu juga Ray berjalan menuju tempat kos untuk segera beristirahat setelah lelah seharian bekerja.


Cahaya bintang telah muncul menampakan keindahan di gelapnya malam seiring dengan panggilan telepon dari Alisa.


"Gimana kabar kamu Mas? Kesibukan kamu sekarang apa?"


"Ya gitu deh Mas, di buat nyaman aja. Syukurlah kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang baru. Aku belum dapet kerjaan baru Mas disini, jadi fokus bantuin ayah ibu aja dulu."


"Kamu tau gak, sekarang Aku sekantor dengan Aldo di tempat kerja yang baru."


"Loh, kok bisa kebetulan begitu Mas? Hebat dong berarti bisa nostalgia." Tertawa ringan.


"Dia masih mencintai dan menyayangi kamu kelihatannya. Gak ingin berubah pikiran untuk menyambut hatinya?" tanya Ray sembari menghisap rokok.


"Kok kamu ngomong gitu sih Mas, kamu gak percaya ya sama Aku? asal kamu tau Mas, Aku dan dia hanya sebatas teman, gak lebih dan gak akan pernah memiliki hubungan lebih!" Tegas Alisa meyakinkan dengan nada kesal.


"Ya kan nanyak doang. Kalau kamu masih memilih Aku ya syukur, itu tanda peletku masih aktif, hehehe."


Mengetahui Alisa terdiam sejenak, Ray mengalihkan pembahasan agar cerianya kembali. Sebab ketika mereka membicarakan Aldo, pertengkaran adalah hasil yang pasti terjadi.


"Kamu tau sayang, hari ini terasa letih semua tubuh pikiran serta hatiku. Semua terasa berbeda arah, ragaku seperti enggan mengenali pikiranku. Kerja ku terlihat kacau karena selalu merindukanmu. Jika merindumu adalah sebuah masalah, maka Akulah pria sejuta perkara," ujar Ray mulai merayu Alisa mengingat semua kenangan indah bersama.


Terdengar lirih suara tersendu-sendu dari mulut Alisa, ternyata rayuan kecil itu membuat hatinya luluh begitu rapuh.


"Kenapa menangis? kata-kata barusan ada yang salah ya sayang?" tanya Ray bingung.


Dengan nada lirih Alisa menjawab,.

__ADS_1


"Aku rindu kamu Mas, sangat rindu dan kangen pelukan kamu. Aku sadar jika Aku terlihat begitu lemah apapun itu tentang kamu Mas, karena cuma kamu lelaki yang begitu berarti di dalam hidupku setelah ayah," jawab Alisa menangis.


"Kamu kuat sayang, pasti bisa bertahan meski jauh dariku, yakinkan hatimu dan pasrahkan semua yang terjadi. Apapun yang terjadi di kemudian hari, Aku pastikan masih berdiri menantikan mimpi kecil itu terwujud," balas Ray menenangkan Alisa.


Perlahan tangisan Alisa mereda,.


"Oh iya sayang, gimana keadaan orang tua kamu sekarang?" lanjut Ray.


"Alhamdulilah Mas, mereka baik-baik saja."


"Kapan main-main kemari?" Terdengar suara kecil dari kejauhan.


"Tuh kan Mas, kapok di tanyain Ibu. Kapan kamu kemari menjemput Aku, hayo," ujar Alisa terdengar bahagia kembali.


"Berangkat besok pagi langsung ku jemput, kalau gak kesiangan bangun," jawab Ray sedikit bercanda.


"Ih Mas ini, di tanyain bagus-bagus juga. Awas aja ntar kalau ketemu, Aku cubit abis abisan kamu Mas," ujar Alisa sedikit menggerutu.


"Iya iya maaf, canda dikit tadi. Doain ya agar langkah disini lancar terus bisa segera terbang ke kota kamu untuk mngetuk hatimu, membukanya, lalu menculik menjadikan tempat persinggahan terakhir."


"Mulai deh, Mas, nyanyiin Aku dong, udah lama gak denger kamu bernyanyi untukku."


"Tunggu sebentar." Masuk kedalam mengambil gitar dan kembali duduk di halaman depan.


"Mau di nyanyikan lagu apa sayang?"


"Lagu karangan bebas kamu aja, khusus buat Aku."


"Em,." Terdiam sejenak merangkai kata dalam pikiran.


~ Ku terbangkan tinggi, membawamu pergi.


~ Dapatkah dirimu, bertahan menunggu.


~ Jejak warna hati, yang telah kau tinggalkan.


~ Tenangkan hariku, bersama jiwamu.


"Hayo, senyum-senyum sendiri pastikan?"


"Ih enggak ya, apaan sih, Mas," jawab Alisa beralasan mengelak.


Pembahasan itu larut hingga dinginnya angin malam menusuk tulang rusuk. Seketika mengakhiri pembicaraan di telepon. Ketika Ray berjalan menuju kamar tidur, terlintas sedikit pikiran tentang Aldo.


"Bersaing denganku? menginjak bayangan ku pun kau takkan sanggup." Menghempaskan badan meletakan ponsel di sembarang tempat.


***

__ADS_1


Tadinya mau bilang makasih karena sudah baca kisah ini kak, cuma pasti kakak nya bosen, akhirnya aku putuskan untuk bilang, jangan lupa fav komen apalah itu namanya semua bila suka alur ini ya kak, kita lanjut...


__ADS_2