Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 47


__ADS_3

Hari itu berjalan seperti biasa, tak meninggalkan kesan indah pada hidup Ray. Malam berlalu dan aktivitas ia di pagi hari telah kembali.


Di dalam ruang belajar


Hari ini Ray bersikap lebih tenang dari biasanya.


Tak melakukan kebiasaan seperti sebelumnya.


Sengaja mengabaikan Alisa saat itu, bersikap cuek namun tetap stay cool.


"Baik lah mata pelajaran kita sampai disini dulu dan pembagian kelompok nanti Ibu serahin kepada Dewi," ujar Bu Nita.


Kampus tersebut mengadakan beberapa lomba tertentu. Membebaskan pikiran siswa tentang karya apa yang ingin ditunjukan kepada seluruh Dosen di kampus.


Setelah nama-nama pembagian tersebut,


"Untuk kelompok 7, Ray, Alisa dan Aldo," jelas Dewi selaku perantara Bu Anita.


Ketika Dewi selesai mengumumkan pembagian kelompok tersebut, kegiatan belajar di kampus pun usai. Aldo, Alisa dan Ray saling menatap bengong


memikirkan bagaimana cara mereka agar bisa saling bekerja sama.


"Kamu kenapa selalu ada mulu?" ujar Aldo membuka percakapan.


"Kalau secara pemikiran aku gak buruk-buruk amat, malahan tuan konglomerat mungkin bisa jadi penghambat ku berfikir," balas Ray.


"Tuh baru juga dimulai udah mau ribut lagi. Kalian ini punya masalah hidup seberat apa sih?" sahut Alisa.


"Kami gak berantem kok, kami udah berteman. Wajar tadi ada sedikit perdebatan, ya gak Ray? jelas Aldo merangkul menginjak sepatu Ray sedikit kasar.


"Oh iya bener, gak berantem kok Lisa. Sekarang kami saling sepakat gencatan senjata tuk berdamai," jawab Ray kembali menginjakkan kaki lebih keras.


"Awww....." lirih Aldo.


"Kenapa Al?" tanya Ray penuh perhatian.


"Gak ada apa-apa, mungkin ada binatang kecil di sepatu menggigit jari kaki ku ini," singkat Aldo.


"Oh, lain kali hati-hati kalau pakai sepatu liat-liat dulu," lanjut Ray sedikit tersenyum.


30 menit berlalu.


Perdebatan itu usai dan Alisa berjalan menuju halaman kampus, begitupun dengan Aldo yang langsung menuju mobilnya bergerak pulang. Sedang mereka tak mengetahui Ray berjalan menuju toilet.


Di halaman depan yang kian sepi karena seluruh mahasiswa telah pulang, menyisahkan Alisa seorang diri menunggu kedatangan pak Herman.


"Kemana ya kok gak datang-datang sih Pak," batin Alisa cemas menunggu jemputan untuk dirinya tak kunjung datang.


"Hai Nona cantik, sendirian aja ini."

__ADS_1


"Iya ni lagi nunguin siapa? Mending sama kita aja yuk jalan," ucap kedua pemuda yang baru saja menghampiri Alisa.


Dua pemuda itu terus merayu Alisa. Mereka adalah kakak kelas senior di kampus tersebut. Terus merayu Alisa menggoda untuk ikut pergi bersama mereka, sesekali menyentuh tangan mulus nan lembut Alisa. Tindakan kedua pemuda itu semakin menggila ketika Alisa menyatakan penolakan.


"Aw sakit, lepasin tanganku," ucap Alisa memberontak genggaman kuat kedua pemuda tersebut.


"Sudah gak usah jual mahal, ikut saja," ucap salah satu kemudian menyeret paksa membungkam mulut Alisa menuju suatu ruangan kelas.


Alisa terus menangis memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman mereka meski ia tau usaha tersebut tak akan membuahkan hasil. Satpam yang bertugas saat itu sedang berkeliling mengecek semua pintu ruangan kelas dari lantai palinh atas, wajar jika tak mengetahui apa yang terjadi kepada Alisa di halaman bawah.


Kembali ke Ray.


"Berrrr, lega bener dah, toilet aja sebagus ini," ujarnya kemudian berjalan kembali menuju halaman depan.


Ray melihat Alisa dari sedikit kejauhan di paksa dua orang lelaki yang menariknya menuju ruangan belakang.


"Alisa? Apa yang ingin mereka lakukan?"


Tanpa berfikir panjang, Ray berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan Alisa.


Ketika hanya berjarak beberapa meter...


Gederukkk.......


Buuukkkkkkkk.....


Baakkkkk......


Alisa yang saat itu ketakutan, langsung memeluk mendekat memeluk Ray.


"Dasar bajingan! Apa yang mau kalian buat ke pacarku, bangsit!" umpat Ray penuh emosi.


Kedua pemuda tersebut yang tersungkur coba melakukan perlawanan, dengan segera Ray melepas pelukan Alisa kembali mendaratkan beberapa pukulan.


Bakkkk


Buuuukk


Brakkkk...


Ray terjatuh mendapatkan pukulan balik yang sangat keras. Kembali bangkit berdiri penuh luapan emosi, hingga akhirnya ia berhasil mendesak kedua pemuda tersebut sampai melarikan diri.


Raut wajah Ray sedikit berantakan, darah di bibirnya terus mengalir, penuh lebam serta mata kiri sedikit bengkak.


"Iishhhhh....uuuhh...ishhhh," lirih Ray merasakan perih luka.


"Makasih, Ray," ujar Alisa memeluk.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Ray menghawatirkannya.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa, kamu itu yang kenapa-kenapa, ayo keruang UKS mengobati lukamu," ujar Alisa mengusap linangan air mata langsung membopong Ray.


Sesampainya di ruang UKS...


"Aww, sakit, pelan dikit dong pake perasaan," cetus Ray kesakitan ketika Alisa mengobati luka di bibirnya.


"Iya iya maaf."


Memperhatikan wajahnya begitu dekat, sesekali Ray tersenyum. Bola mata indah miliknya, menghentikan akal Ray berfikir sehat.


"Kalau saja aku sedikit berani, mungkin kamu sudah menjadi milikku Alisa, sama seperti Rahul yang berhasil menemukan Angelie," cetus Ray.


"Apa barusan kamu bilang?"


"Gak, bukan apa-apa, hanya melamun tadi."


Ketika lagi berbahagia memandang Aisa penuh senyuman....


"Sedang apa kalian di sini?" sahut Pak satpam berdiri di pintu ruang.


Melihat Ray babak belur, pikiran negatif pak satpam sirna. Setelah menjelaskan hal yang baru ia alami, pak satpam memahami dan mengantar mereka berdua ke depan pintu gerbang kampus demi mencegah pembalasan dendam kedua pria tersebut.


Tak lama setelahnya mobil jemputan Alisa sampai.


"Maaf Non telat, tadi mobilnya mogok, ini baru selesai di perbaiki. Ponsel bapak ketinggalan di rumah jadi gak bisa kabarin si Non," ujar pak Herman.


"Iya pak gak apa-apa, lain kali jangan teledor ya Pak," singkat Alisa.


"Kamu ikut aku ya Ray, biar aku anterin kamu," lanjut Alisa.


"Gak usah repot-repot, aku masih bisa pulang sendiri kok."


"Biarin aku antar kamu ya, apa yang aku lakuin gak sebanding dengan kebaikan kamu yang sudah menolongku. Setidaknya beri tahu apa yang harus ku lakuin."


"Em, kamu gak perlu membalas perbuatan ku Alisa.


Aku ikhlas melakukan itu karena mereka memang pantas di beri pelajaran sebab telah berani menyakiti seorang wanita. Tapi jika kamu memaksa, aku hanya ingin tau nomor ponselmu," jelas Ray tersenyum manis menatap Alisa.


"Kamu ih emang bener-bener ya, nomor yang kamu hubungin kemarin itu milikku, Aku menjahilimu kemarin, maaf," ujar Alisa tertunduk.


"Oh nakal ya, liat saja ntar, Aku pasti akan membuatmu merindukanku," balas Ray menatap serius Alisa kemudian ia melambaikan tangan memberhentikan angkutan umum.


"Lelaki biasa itu kini selangkah lebih maju tuk memenangkan hati sang bidadari," bisik Ray ke Alisa berjalan masuk kedalam angkutan umum.


Sesekali berbalik melihat Alisa tersenyum dari balik kaca, membuat Ray lupa akan rasa sakit yang ia alami. Alisa juga bergegas masuk ke dalam mobilnya memutar arah kembali pulang.


***


Sampai di sini dulu kak, Fav komen apalah semuanya, intinya terimakasih telah membaca kisah ini kak,

__ADS_1


Lanjut,....


__ADS_2