
Turun dari mobilnya, berjalan melepaskan kacamata tersenyum menghampiri.
"Hay," sapa Novi.
"Iya Bu," balas Ray bangkit dari tempat duduk.
"Kenalin, ini Bu Novi selaku pemimpin di kantor baruku, Sayang," lanjut Ray memperkenalkan Novi ke Alisa.
"Alisa."
"Novi."
"Oh iya, Aku udah mendengar semuanya dari Fendi juga Fii tentang apa yang kamu alami Ray. Ini buat kamu." Novi memberikan buah-buahan serta roti.
"Makasih Bu, jadi buat repot Ibu nih ceritanya."
"Gak kok, gak apa-apa Ray, udah seharusnya begitu bukan?"
"Maaf, mau minum apa Bu biar saya buatkan," sahut Alisa.
"Jangan repot-repot, Saya mampir sebentar saja. Kamu sedang hamil muda ya?" ucap Novi tersenyum menatap Alisa.
"Iya, Bu."
"Panggil Novi aja, kita seumuran kelihatannya," jelas Novi kembali.
Alisa hanya mengelus-elus perut mungilnya.
"Oh iya Ray, setelah mendengarkan insiden yang kamu alami, Saya akan membantu kamu segera menangkap pelaku agar di hukum karena telah melakukan penganiayaan."
"Terimakasih Bu, tapi sebaiknya jangan. Ini masalah pribadi, sudah seharusnya menyelesaikan masalah ini sendiri," jelas Ray.
"Tapi kejam sekali mereka telah membuat kamu seperti ini, Ray." Novi menyentuh lebam di pipi Ray.
"Ehem, uhuk." Batuk Alisa mengalihkan pandangan.
"Maaf ya Lisa, gak ada maksud apapun kok. Yaudah kalau begitu saya pamit kembali, ada urusan yang harus di selesain."
"Makasih udah datang menjenguk," sahut Alisa tersenyum lebar.
"Jelas perang lagi ini," batin Ray melihat ekspresi wajah Alisa tersenyum paksa.
Setelah Novi berlalu pergi.
"Gimana mas perasaannya? Pasti bahagia udah di perhatiin sama bosnya seperti tadi kan? Pakai pegang-pegang segala lagi," gerutu Alisa.
"Mungkin cuma simpati kasihan aja kok sayang, gak lebih dari itu."
"Enteng bener ya jawabannya."
"Terus harus jawab gimana lagi? Kan emang gak ada apa-apa antara aku dengan Novi. Kenapa kamu sekarang makin sensitif sih?"
"Bawaan bayi," singkat Alisa.
"Kasihan kamu nak, kena fitnah terus sama mamamu," balas Ray mengelus-elus perut Alisa.
"Gak lucu!"
Cling (Pesan masuk di ponsel Ray).
Mendengqr pesan masuk di handphone Ray yang terletak di atas meja, Alisa langsung mengambil ponsel tersebut. Seketika raut wajahnya berubah membaca sebuah pesan masuk.
Saat hendak melempar ponsel...
__ADS_1
"Say..."
Bruakkkk!! (Mencampakkan ponselku di lantai).
"Aish," lirih Ray menatap ponsel berserakan.
Terlihat begitu kesal, Alisa berjalan masuk meninggalkan Ray sendiri di halaman depan rumah.
GEDER!!! (Menutup pintu sangat kuat).
"Kok gini gini kali hidup, ah," pekik Ray meremas kepala menghampiri ponsel yang telah di banting segera mengotak-atik ponsel tersebut.
Walau layar ponsel sedikit mengalami retak namun dengan sedikit ketrampilan masih bisa hidup kembali.
"Semoga lekas sembuh ya, istirahat yang cukup agar kondisi kamu lekas membaik. Doa terbaik untuk kesehatan keselamatan kamu, Aku harap bisa segera bertemu kembali."
"Kenapa lagi lah sama nih anak. Aku bukan Leon atau Waluyo atau Mujiono atau Udin siapa lah itu semua, Aku ini Ray," pekik Ray sedikit kesal membaca pesan Novi.
"Positif malam ini bakal tidur ruang tamu. Nasibku sama nasibmu sama," lanjut Ray terduduk menatap lurus melihat ayam jago bertengger termenung di pagar rumah.
Terus terduduk melamun termenung memikirkan cara agar bisa berdamai dengan Alisa, berjalan masuk ruangan hingga sore hari pintu kamar tak kunjung terbuka.
"Sayang, bukain pintunya dong." Mengetuk pintu kamar.
Ceklek..
"Ini." Alisa memberi bantal lengkap dengan selimut menutup kembali pintu kamar.
"Say..."
GEDER!!
"Maha benar wanita dengan semua tingkah lakunya," gumam Ray turun menuju ruang tamu.
Tok...
Tok..
Tok...
"Apalagi?" Teriak Alisa.
"Peralatan mandi masih di dalam. Udah gatal badan ini sayang," lirih Ray menyandar di pintu kamar.
Ceklek....
Membuka pintu menyodorkan handuk lengkap beserta perlengkapan mandi.
"Apa gak se..."
GEDER!!
Ray menggeleng kepala berlalu pergi meninggalkan depan kamar. Malam telah tiba, Alisa tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Lisa mana Nak?" tanya Ibu melihat Alisa tak menemani Ray makan malam seperti biasa.
"Tidur Bu, kayaknya lagi kecapean. Ibu gak makan?"
"Oh, sudah tadi. Yasudah Ibu tinggal dulu ya."
"Iya Bu."
Waktu menunjukan pukul 11 malam dan yang Ray lakukan hanya menatap layar televisi.
__ADS_1
"Tidur ajalah." Membaringkan badan serta menyelimuti sekujur tubuh.
"Loh kok tidur disitu?" ujar Ibu terbangun keluar kamar.
"Lagi seru Bu acaranya."
"Bukan karena lagi bertengkar?"
"He..he..he."
"Sebaiknya ketika ada masalah harus bisa di selesaikan dengan baik-baik. Ibu gak akan ikut campur masalah kalian Nak. Tapi sebagai kepala rumah tangga, harusnya kamu lebih paham menanggapi sifat istrimu," jelas Ibu berjalan menuju dapur melewati Ray.
"Iya Bu, mungkin Alisa lagi ingin sendiri."
Keesokan paginya.
"Uahhh...lah?" Terbangun Ray membuka mata melihat pakaian kerja lengkap di atas meja ruang tamu.
"Masih belum reda juga?" lanjut Ray berjalan menuju kamar mandi membawa pakaian tersebut.
Setelah selesai berbenah diri menuju kamar sekedar pamit bekerja.
"Say..." Terhenti berucap ketika melihat bekal untuknya menggantung di pintu kamar.
"Mau sampai berapa tahun begini terus?" gumam Ray mengambil bekal tersebut.
"Aku berangkat. Ampun bener ah, pasti nanti alasannya karena bawaan bayi lah, pengen di mengertilah, di manja juga," gerutu Ray keluar ruang tamu berniat membuka gerbang rumah.
Tak lama setelahnya Fendi dan Fii tiba.
"Kenapa cemberut gitu," sapa Fendi memberikan kunci mobil.
"Panjang ceritanya," singkat Ray masuk ke dalam mobil.
"Kesan hari pertama masuk kerja harus smile bro, ingat kopi gula sebab ada manis menendang wasit gol meja pinggir, ya gak Fen?" sahut Fii.
"Iyalah, apalagi."
Disepanjang jalan, Ray terus menceritakan semua yang telah ia alami hingga akhirnya tiba di kantor.
"Ngeri-ngeri sedep juga jadi kau Ray. Tapi gak semuanya salahmu juga sih, kan bukan kau yang memulai," ucap Fendi memahami situasi berjalan beriringan di halaman kantor.
"Halah, macam gak tau aja kau Fendi. Buaya mana yang kalau di kasih daging ayam nolak?" sahut Fii.
"Iya juga, belum lagi ayamnya mentah sehat pulak tuh," balas Fendi.
"Belum, belum kalian alami bedanya masih melajang sama menikah. Terus aja, ntar kalian rasain sensasinya ketika istri jadi lebih posesif," jelas Ray.
"Canda loh. Yaudah sampai jumpa makan siang," ujar Fendi serta Fii melambai tangan berpisah ruangan.
"Yo," balas Ray berjalan menuju kursi tunggu supir.
Novi keluar dari ruangan miliknya berjalan menghampiri Ray sembari menelpon. "Kami akan berusaha sebaik mungkin, terimakasih." Menutup panggilan tersebut.
"Hari ini telah terjadi kasus pembunuhan di pelabuhan Belawan. Segera antar saya ke lokasi tersebut," jelas Novi menoleh menatap Ray kemudian berjalan kembali.
"Baik, Bu," balas Ray berjalan mengikuti.
"Next time bakal aku yang jadi korban pembuhunan," batin Ray terus memikirkan Alisa.
***
Sampai habis umurku, sampai disini dulu kak, makasih masih tetap mengikuti alur ini kak, jangan lupa klik Favnya kak biar tau berita update terbaru, like komen kritik juga bebas agar othor satu ini lebih baik dalam menulis membuat alur. Makasih kita lanjut..
__ADS_1