Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 16


__ADS_3

Disisi lain 2 hari setelah kenangan baru tercipta antara Ray dan Suci, akhirnya Yuli tiba di terminal kota tak begitu jauh dari tempat Ray bekerja.


Tak memberitahu kabar keberadaannya pada Ray berniat ingin menciptakan sebuah kejutan tersendiri. Meski begitu, Yuli belum mengetahui dengan pasti dimana kantor Ray bekerja.


"Ah, akhirnya sampai juga di kota. Saatnya beraksi mencari idaman hati. Eh, tapi dimana ya tempat Ray bekerja?"


Berjalan mengitari gedung-gedung besar membuat Yuli bingung begitu lelahnya karena tak menemukan yang ia cari. Melihat sebuah market di samping gedung besar, Yuli bermaksud mengistirahatkan diri.


Selepas membeli dan membayar minuman pelepas dahaga di meja kasir, ia lanjut berjalan menuju tempat duduk yang ada di halaman depan market.


Ketika perlahan berjalan...


Gedebrakkk...!!!


"Aduh sakit, lihat-lihat dong kalau jalan," ujar Yuli terduduk di lantai memangku tangan kiri yang keram akibat bertabrakan dengan seorang pemuda.


Seketika ia menoleh menatap dari ujung kaki sampai ke wajah.


"Wah ganteng juga, rapi lagi pakaiannya, pasti orang tajir ini," batin Yuli menatap sang pemuda.


"Maaf Mbak, maaf. Mbaknya enggak kenapa-kenapa kan? Maaf tadi buru-buru jadi gak fokus lihat depan akunya, Mbak," ucap pemuda tersebut segera membantu yuli berdiri membawa ke tempat duduk halaman depan market.


"Iya gak apa-apa kok Mas, aku juga gak liat tadi." Tersenyum manis manja.


"Mbaknya baru di sini ya? Soalnya terlihat asing," ujar pemuda itu duduk bersama menemani yuli.


"Iya Mas, aku baru tiba dari desa." Meminum air mineral.


"Oh iya, kenalin aku Aldo, Mbak." Mengulurkan tangan kanan.


"Panggil Yuli saja Mas, jangan mbak, ntar terlihat tua." Menyambut uluran tangan bersalaman.


"Oh iya Yuli, tujuan datang ke kota ini mau ngapain?"


"Aku mencari seseorang Mas Al. Info yang ku tau, dia kerja di perusahaan rokok sekitar sini."


"Oh, begitu ya. Maaf sampai di sini dulu pembicaraan kita ya, aku ada keperluan mendadak. Ini kartu nama lengkap nomor ponselku. Kalau perlu bantuan hubungin saja, nanti aku bantu," jelas aldo memberikan kartu nama tersebut langsung bergegas terburu-buru pergi meninggalkan yuli.


Saat itu ialah pertama kalinya Yuli mengenal Aldo ketika baru menginjakkan kaki di kota. Tak butuh waktu lama, Yuli langsung menyimpan nomor Aldo lalu mencoba menghubungi Ray kembali.


Nomor yang anda tujuh sedang sibuk, mohon tinggalkan pesan dan hubungin beberapa saat lagi.


"Kok gak bisa di hubungin sih Mas, kamu coba menghindar dariku ya? lihat saja nanti," ujar yuli menggerutu.


"Apa aku chat Aldo aja ya? Kali aja dia mau nemenin aku cari tempat tinggal. Em iya deh, kali aja bisa bantuin. Tapi...," batin yuli dalam hati.

__ADS_1


3 jam berlalu...


"Hay Mas, ini aku, Yuli. Kamu lagi sibuk gak? Aku bingung ini cari tempat tinggal belum dapet, takut nyasar." Mengirim pesan kepada Aldo.


Cling...(Pesan masuk).


"Bentaran lagi jam istirahat siang Aku temenin kamu ya, tunggu jangan kemana-mana." Balasan pesan Aldo.


30 menit berlalu,.


"Hay, maaf ya agak lama," ujar Aldo mendekati.


"Iya Mas gak apa-apa, berangkat sekarang?" tanya yuli ke Aldo.


"Iya, tapi kamu tunggu sini sebentar ya, Aku ambil kendaraan dulu di parkiran belakang."


"Iya, Mas."


Tak berapa lama kemudian, Aldo menghampiri dengan mobil mewahnya.


"Gileee, tajir bener ni cowok. Sudah baik, tampan lagi, bisa ni aku manfaatin." Terlintas seketika pikiran Yuli.


"Ayo naik, biar aku bantu kamu cari tempat tinggal di sekitaran daerah sini," ucap Aldo dari dalam saat membuka kaca mobil.


"Kamu sudah makan belum? kalau aku belum ni. Temenin makan bareng gimana? Di depan sana ada tempat makan enak," ujar Aldo menatap Yuli sambil mengendarai mobil berjalan pelan.


"Aku ikut kamu saja deh Mas, tapi beneran ini gak apa-apa? Aku jadi gak enak repotin kamu loh Mas. Padahal baru juga ketemu, tapi udah repotin kamunya."


"Gak kok, tenang aja, lagian terlalu berbahaya


membiarkan seorang wanita seperti kamu ini sendirian di kota yang cukup ramai, Yuli." Tersenyum kembali.


Sesampainya di tempat makan, memesan makanan lalu makan bersama. mereka hanya membicarakan obrolan biasa hingga akhirnya kembali melanjutkan perjalanan mencari tempat tinggal untuk Yuli.


"Makasih ya Mas untuk makanan tadi. Beruntung banget ya wanita yang memiliki Mas Aldo ini. Sudah tampan, pekerjaan tetap, baik lagi. Pasti istri Mas bangga banget tuh punya suami seperti Mas," ujar Yuli sedikit merayu mencari informasi tentang Aldo.


Mendengar itu, Aldo hanya tersenyum nyengir menatap jalanan.


"Aku belum menikah Yuli dan apa yg kamu ucapin barusan itu terlalu berlebihan. Buktinya seorang wanita yang ku cintai dan sayangi dari dulu malah lebih memilih rival ku semasa kuliah. Perlu kamu tau, yang membuatku benci itu, baru-baru ini dia masuk kantor kerja yang sama denganku. Kamu bisa bayangin gak seperti apa rasanya?" jawab Aldo terlihat kesal.


"Kok samaan ya Mas? Aku dulunya sudah bertunangan dengan seorang lelaki. Sampai akhirnya dia hadir dalam hidupku membuatku begitu menggilainya hingga pernikahan ku batal Mas."


"Tapi Aku gak bakal menyerah! Akan ku rebut kembali kebahagiaan itu. Siapapun gak ada yang boleh memiki Alisa selain aku!" kecam Aldo memperkenalkan seorang wanita yang amat membuatnya terobsesi.


Saat itu Yuli mengetahui bahwa Aldo tidak akan pernah berpaling ke wanita lain dan tetap memilih Alisa meski ia terus menggodanya.

__ADS_1


"Lebih baik aku memanfaatkan dirinya sebisa mungkin," pikir Yuli sejenak.


"Sama Mas, Aku juga gak bakal membiarkan Ray menjadi milik orang lain meski aku tau dia sudah ada yang punya," lanjut Yuli memberitahu Aldo bahwa apa yang ia alami sama seperti Aldo.


"Hah! apa kamu bilang tadi, Ray?" tanya Aldo menatap yuli serius sekejap menghentikan laju mobil.


"Iya Mas, kamu kenal?" balas Yuli sedikit bingung.


"Ray Al Karim?" jelas aldo kembali.


"Lah itu kamu tau Mas, dia baru sebulan ini kerja di perusahaan rokok, tapi aku gak tau pasti alamat kerjanya dimana. Cuma tau nama kotanya aja sih."


"Kebetulan bisa begini ya? Yang barusan aku ucapkan rival dari dulu itu ya si Ray, lelaki yang sudah merebut Alisa dariku. Dia sekantor denganku, hanya beda beberapa ruangan saja," ucap Aldo mengangguk seperti merencanakan sesuatu.


"Oh...Pantas saja dia tak pernah membuka hatinya untuk ku Mas. Asal kamu tau Mas, dia selalu menganggapku tak pernah ada," balas Yuli singkat.


Yuli tak memberitahu Aldo bahwa kisah antara dirinya dengan Ray yang pernah berhubungan intim. Hal itu ia lakukan agar Aldo tak menganggapnya wanita murahan.


Melanjutkan perjalanan kembali hingga akhirnya mereka sampai di tempat penginapan baru untuk Yuli. Setelah saling sepakat, Yuli memutuskan tinggal di tempat barunya.


"Sampai bertemu kembali, senang bisa mengenalmu. Oh iya, aku tunggu kerjasama kamu untuk memisahkan mereka," ujar Aldo.


Yuli hanya tersenyum dan mengiyakan peryataan Aldo saat itu ketika hendak berbalik arah menuju mobilnya.


"Bagus, dewi fortuna berpihak padaku. Dengan begini kamu gak akan pernah lepas dariku Ray, lihat saja nanti, hanya aku yang bisa memilikimu."


Disisi lain....


"Pembahasan kita sampai di sini dulu, selebihnya kita bahas lusa," jelas pak Taufik memberikan arahan ke divisi tujuh.


Berjalan meningalkan ruangan bersama Dani, Fendi dan Fii.


"Ah, kelar juga akhirnya, udah mumet (pusing) kepalaku, kasian janda ku gak di kabarin," ujar Fendi.


"Janda oi di mabuk janda," sahut Fii.


Ray mengambil ponsel di saku kanan hanya untuk mengaktifkan mode senyap, "Yuli? ngapain lagi lah wanita gila satu ini," batin Ray ketika membuka ponsel.


***


Sampai di sini dulu kakak-akak abang-abang kisah nya, dukung terus bila suka cerita ini ya.


Kritik dan saran di komentar agar memotivasi author yang satu ini dalam berkarya, mau kirim apapun juga di terima, kirim suami sama istri aja yang gak di terima.


Makasih kak kita lanjut...

__ADS_1


__ADS_2