Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 64


__ADS_3

"Gak perlu heran begitu Ray. Jangan lupa kalau aku adalah Aldo. Oh iya, sekarang aku sudah merelakan Alisa untukmu, semoga kamu selalu bahagia Ray," jelas Aldo menyodorkan tangan memberi selamat.


Melihatnya berubah dalam waktu cepat, sungguh hal itu tak mampu meyakinkan Ray. Ia paham betul seperti apa sifat Aldo. Lelaki yang tak pernah ingin mengakui sebuah kekalahan.


"Jangan pernah berfikir untuk merencanakan sesuatu yang keji Al, kamu tau kan seperti apa ketika aku menggila?"


"Eh, santai dulu dong, jangan langsung menuduh seperti itu, pencemaran nama baik itu Ray. Lagian nih ya, apa aku salah kalau aku berubah jadi yang lebih baik? gak salah kan?" lanjut Aldo tertawa ringan.


Hanya berdua di depan ruangan toilet, Ray menatapnya penuh serius tak memberikan celah menyepelekan Aldo mengingat begitu banyak perbuatan keji yang telah Aldo lakukan.


"Aku tak akan mengulang apa yang barusan aku katakan, cukup pahami!" pekik Ray perlahan berjalan berbalik arah membelakangi Aldo yang masih berdiri menatapnya.


"Kulit mulus Alisa serta bibir tipisnya, sungguh ingatan terbaik seumur hidup yang takkan pernah sanggup kulupakan," cetus Aldo seakan telah berbuat hal yang tak seharusnya dengan Alisa.


Mencoba mengendalikan emosi diri, Ray mengerti jika Aldo hanya ingin membuatnya terpancing masuk dalam permainan dirinya.


"Jangan lupakan Ray perbedaan antara meniduri Yuli dan Alisa," lanjut Aldo tersenyum picik menatap Ray yang sedikit menjauh.


Singkat Ray berbalik arah...


Baaaggggg....


Bugggggg.....


"Aw, cuih!" lirih Aldo memegang bibir merasakan kepalan tangan.


"Katakan sekali lagi! Aku pastikan ini terakhir kali kau bernafas!" kecam menunjuk Aldo.


"Cih, kita lihat saja nanti," balas Aldo berdiri merapikan baju.


Ray bejalan kembali meninggalkannya sendiri di depan ruangan tersebut.


Setelah memiliki Alisa, tingkat emosi dalam diri Ray terlihat lebih menggila. Menyadari dan menyesali kesalahan yang ia perbuat di masa dahulu, sekarang Ray berfikir tak ada yang boleh menyakiti ataupun menjelekan Alisa sedikitpun.


Ketika seorang lelaki telah mencintai wanita yang tepat, takkan pernah mundur selangkah pun ketika menghadapi masalah.


"Mas kamu dari mana saja," ujar Alisa ketika Ray menghampirinya kembali.


"Tadi agak mules sedikit," singkat Ray.


"Beneran? Kamu gak lagi ngalami hal aneh kan, Mas?"


"Gak kok sayang. Udah sore ni, pulang yuk takut keburu magrib," pinta Ray merahasiakan keberadaan Aldo darinya.


Dengan sengaja Ray tak memberitahukan keberadaan Aldo yang telah bebas dari penjara pada Alisa. Sebab ia tak ingin melihat Alisa khawatir memikirkan hal tersebut.


Di dalam mobil Alisa terus memandangi Ray yang melamun menatap kosong jalanan.


"Mas," ucapnya lembut.


"Mas."

__ADS_1


"Mas!" Bentak sedikit keras.


"Ha, iya, iya sayang kenapa?" balas Ray terkejut.


"Tuh kan, pasti ada yang kamu rahasiakan dariku. Gak biasanya kamu diam bengong seperti ini Mas. Ceritain dong ke aku hal apa yang kamu pikirkan," ujar Alisa terus menatap tak memalingkan pandangan.


"Maaf ya sayang, mungkin sedikit kecapean aja kok. Gak ada hal apapun yang aneh. Maaf ya udah buat kamunya khawatir," balas Ray sembari lengan kiri mengelus rambut Alisa.


"Beneran Mas gak ada apa-apa? Aku gak ingin kamu kenapa-kenapa atau sakit loh. Ingat ya Mas, kamu gak boleh sakit, Aku gak mau kita jatuh miskin," pekik Alisa sedikit menjahili.


Melihat Alisa berusaha membuat Ray tersenyum, Ray membalas senyuman menggenggam tangannya.


"Untung aja saat ini kita lagi di dalam mobil. Kalau tadi di kamar berdua, Aku jamin kamu bakal lari sayang," balas Ray sedikit menoleh ke arah Alisa.


"Kumat ih," lanjut Alisa memencet hidung Ray.


Tanpa terasa mereka telah sampai di rumah, segera turun berjalan ke sisi kiri.


"Mau di gendong lagi?" Ray membuka pintu mobil Alisa.


"Jangan kumat Mas, malu ih mulai rame orang tuh," balas Alisa manyun ke arah kerumunan.


"Lah kenapa? Suami istri kan bebas mau ngapain aja, mana boleh iri mereka."


"Udah ah mas, buruan ayo jalan masuk." Mendorong Ray agar melangkah.


"Mari Bu, permisi," sapa Ray ketika melewati para kumpulan Ibu.


"Makasih Bu, mudah-mudahan langsung diberi kembar 15," balas Ray nyengir.


"Ih, memang." Alisa mencubit dari belakang.


"Sakit sayang."


Berjalan kembali masuk kedalam rumah untuk segera berbenah diri. Cahaya malam telah hadir, acara yang telah di nantikan di rumah Alisa akhirnya tiba.


"Gantengnya suamiku, gantengnya suamiku, bikin mentok mentok kaca cermin ku," ujar Ray berirama saat berkaca memakai jas hitam lengkap.


"Mulai gila, suamiku akhirnya mulai gila," sahut Alisa yang sedang memakai pernik perhiasan.


"Malam ini, malam bulan madu kembali, ku harapkan istriku, tak dapat palang merah," balas Ray kembali berirama.


"Esok kita, akan pergi ke pantai, pasti hari kan jadi lebih asik," sahut Alisa mengikuti irama Ray.


"Ke pantai? Ide bagus itu, besok kita ke pantai terus nginap di sana gimana sayang?" Ray berbalik menatap Alisa.


"Seriusan Mas? Aku tadi hanya asal ceplos aja loh, kok malah jadi dapet ide kamu tuh.",


Tok tok tok....


"Ray buruan, acara segera mau di mulai, di pakai pakaiannya, bukan di lepas," ujar Fendi mengetuk pintu kamar berteriak dari luar ruangan.

__ADS_1


"Iya sabar, udah tunggu aja di bawah, jangan ngintip, adegan ini untuk abang-abang, bukan Adik-adik," balas Ray menaikan nada bicara.


"Kampreet," pekik Fendi berlalu meninggalkan kamar.


"Sudah siap nih mas, ayo buruan," sahut Alisa berdiri mendekatiku.


"Kiss me?" Ray menutup mata.


"Emm.......mok," balas Alisa tertawa kecil.


Beranjak keluar dari kamar, bergandeng tangan dengan Alisa perlahan menuruni tangga.


Melihat ke arah bawah ruangan yang telah di penuhi para tamu undangan Ayah, membuat Ray sedikit gugup.


"Kamu gugup mas? Kan udah pernah tampil, masak iya masih gugup juga?" bisik Alisa.


"Sedikit sih, gugup bukan karena mereka, tapi karena masih gak percaya aja tuan putri menikahi lelaki biasa," balas Ray berbisik.


"Hem, gombal terus ya." Alisa mencubit.


"Ih sakit, gak bosen main cubit terus?"


"Biarin, enak kok dilarang, week."


"Kalau enak di bungkus aja lah."


Acara di mulai ketika Fendi, Erlin, Mia, dan Fii menjadi pembawa acara malam itu.


"Selamat malam para hadirin sekalian yang kami hormati. Mewakili pihak keluarga mempelai, kami ucapkan terimakasih karena telah bersedia hadir di acara yang sangat berbahagia ini," ujar Fendi mengawali pesta malam.


"Berhubung kedua mempelai telah ikut bergabung, mari silahkan dinikmati hidangan yang telah disajikan Tuan rumah, Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian," sahut Erlin.


"Kok gak pakai DJ, Sayang?" bisik Ray kembali ke Alisa.


"Kamu kira sedang party apa?"


"Yakan biar makin ramai."


"Yaudah kamu bilang sendiri sana sama ayah."


"Males ah, ntar di pecat dari daftar ahli waris," singkat Ray tertawa kecil.


Semua berjalan lancar, tak ada hal aneh yang terjadi sampai akhirnya acara selesai.


"Kami permisi dulu ya Tuan, hari ini cukup melelahkan," keluh Fendi dengan wajah lelah pada Ray.


***


Sampai disini dulu kak ceritanya, jangan lupa ajak sanak saudara seluruh famili untuk Fav komen apalah itu semuanya kak bila suka alur ini ya, makasih.


Kita lanjut...

__ADS_1


__ADS_2