
"Baik kalau begitu saya permisi, Bos." Berlalu pergi meninggalkan ruangan.
"Jika terus merawat seperti ini, bisnisnya bakal makin gede paman, ajib," sahut Aldo penuh semangat.
"Semakin besar pendapatan, resiko juga bakal sesuai dengan tingkat kesulitannya, Aldo. Dalam hidup gak ada yang serba instan, semuanya perlu disiapkan dengan rencana yang cukup matang."
"Kalau itu sih pasti, Paman. Oh iya paman, mengenai pertemuan kita yang sebelumnya dengan Tomi beserta Deki, Aku masih belum sepenuhnya yakin kepada mereka dan aku cukup yakin kalau mereka menyembunyikan sesuatu dari kita," pekik Aldo.
"Belum saatnya kamu bermain peran ini, nikmati saja setiap proses yang kamu jalani, selebihnya biar paman yang atasi." Perlahan bangkit.
"Paman mau kemana?"
"Ikutlah denganku. Ada hal yang harus aku tunjukkan padamu." Berjalan menuju ruang interogasi yang berada tak jauh dari ruangan pribadi miliknya.
KLEKK (Membuka pintu masuk).
"Bos," sapa para anggota yang bertugas.
"Paman, siapa dia?" bisik Aldo melihat seorang lelaki paruh baya terikat di kursi tertunduk begitu lemah merasakan luka bakar di separuh tubuh.
"Perlu kamu tau Aldo, dia adalah pengkhianat yang coba menjerumuskan aku dalam permainannya. Hampir sedikit saja langkah ini salah, sudah pasti sekarang aku berada di jeruji besi," jelas Robi berjalan santai mendekati Nurman.
"Bagaimana kabarmu sekarang, Nurman?" lanjut Robi memegang kepala Nurman memaksanya mendongak membiarkan darah mengalir dari lubang hidungnya.
"Cuihh!!" (Nurman meludahi wajah Robi).
"BAJINGAN!!!" Robi bersiap menampar Nurman.
PLAK!!!!!!!
"Cepat katakan siapa yang berani menyuruhmu mengkhianatiku!" Mencekam pipi Nurman menghempaskan kembali.
"Heh, selamanya kau akan tetap menjadi pecundang, Robi," cibir Nurman.
"Siapa yang berani membayar kau melakukan jebakan tersebut?" lanjut Robi mengambil kursi terduduk di hadapan Nurman sembari memantik api kecil membakar cerutu.
Shuuuuu...uuu.... (Menghela nafas rokok ke wajah Nurman).
"Seharusnya kamu tau bukan, apa yang bakal terjadi bila mencoba mengkhianati!" Kembali Robi menyepakkan kaki ke arah kepala Nurman yang menunduk.
"Sebagai kepala petugas yang bertanggung jawab di pelabuhan, penyelundupan bukanlah sesuatu yang begitu rumit bagimu, tapi buktinya apa? Sekarang semuanya berantakan, PAHAM!" umpat Robi memaksa Nurman kembali mendongakkan pandangan.
"Robi, Robi, bajingan seperti kau hanya tinggal menunggu waktu saja. Hari sial itu pasti akan tiba," balas Nurman.
"Brengsek!" Menodongkan pistol ke arah kepala Nurman.
"Kenapa? Ingin membunuhku? Bunuh saja. Aku lebih baik mati daripada harus tunduk terus mengikuti bajingan licik sepertimu," jelas Nurman menantang.
DOR!!!!
__ADS_1
GEDEBRUK!!!! (Tubuh Nurman terhempas ke belakang).
"Singkirkan mayat ini dan buang sejauh mungkin. Satu lagi, ini adalah contoh hukuman bagi para pengkhianat yang membangkang mencoba menentang perintah dariku," pungkas Robi memandang para anggota.
"Siap, Bos," sahut anggota bersamaan langsung mengemas jasad Nurman.
"Aldo, ada tugas tambahan yang harus kau selesaikan." Bangkir mulai berjalan kembali.
"Apa itu Paman?" Perlahan mengikuti.
"Cari tahu siapa orang yang telah membuat Nurman berkhianat." Berjalan terus menuju halaman luar kantor pribadi.
"Bagaimana jika itu kemauan atas dirinya sendiri, Paman?"
"Aku cukup lama bekerjasama dengannya, dia tidak mungkin berkhianat padaku jika tidak ada seseorang yang mendalanginya. Mungkin juga ada satu tekanan dari pihak ketiga yang memaksanya melakukan itu."
"Kalau paman berfikir seperti itu, baiklah akan aku coba cari tau secepatnya."
"Memang seperti itu seharusnya. Yasudah kalau begitu aku tunggu kabar baik darimu," singkat Robi masuk ke dalam mobil.
Disisi lain Ray yang tiba dirumah sakit.
Ketika sampai di rumah sakit, Indra yang sudah tak sadarkan diri dengan cepat mendapat pelayanan terbaik dari pihak rumah sakit.
Pukul 19:18.
"Gimana keadaan teman kami, Dokter?" ucap Budi berdiri menghampiri Dokter yang baru keluar dari ruang rawat Indra.
"Alhamdulillah."
"Apakah pasien korban dari perampokan?" tanya Dokter kembali.
"Ada sedikit perselisihan saja dokter, sampai terjadi hal seperti ini," jelas Budi.
"Om, Ayah mana om?" lirih Hana menarik tangan Budi mendongak menatapnya.
"Ayah baik-baik saja, berkat doa kamu ia selamat. Sebentar lagi kita sudah bisa menjenguknya," balas Budi lembut perlahan jongkok memeluk Hana.
Mendengar jika semua baik-baik saja, cukup membuat pikiran Ray kembali sedikit tenang.
"Hana!"
"Bunda." Hana berlari menuju sang ibu yang baru tiba di rumah sakit.
"Sayang," lirih memeluk erat Hana.
"Bunda, Om Budi bilang ayah baik-baik saja. Nanti kita jenguk ayah ya bunda, sekarang ayah lagi bobok," jelas Hana tersenyum mulai ceria.
Dibandingkan dengan gadis kecil seumuran dengan Hana yang baru menginjak usia 6 tahun, Ia cukup tegar mendapati cobaan yang hampir saja merenggut kebahagiaan dalam hidupnya.
__ADS_1
"Syukurlah. Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Maafin bunda ya. Bunda janji gak akan pergi tinggalin Hana dan ayah sendirian lagi," lirih sang ibu menahan tangis kembali mendekap Hana.
"Maksudnya pergi? Bukannya Hana sempat terucap hanya memiliki Indra saja?" bisik Ray pada Budi.
"Sebelum Indra dan lainnya tertangkap, ia berseteru dengan sang Istri. Orang tua yang terlalu ikut campur serta tidak menaruh sikap percaya kepada Indra, membuat keretakan dalam rumah tangganya semakin parah. Sang istri yang tidak terima akan perlakuan Indra menentang orang tuanya tersebut, pergi memilih tinggal bersama orang tua dalam waktu yang cukup lama," balas Budi berbisik.
"Oh." Mengangguk mulai memahami hal tersebut.
"Pergi gak harus selalu tentang meninggal," jelas Budi masih berbisik.
"Jenguklah pasien ketika jam makan malam tiba, saat ini biarkan ia istirahat dahulu. Permisi," sahut Dokter berlalu pergi.
"Terimakasih," balas Irma perlahan duduk memangku Hana.
"Mau kemana, Ray?" tanya Budi melihat Ray berbalik arah.
"Aku ada janji dengan mereka."
"Biarkan aku juga ikut."
"Sebaiknya kamu temani saja Hana dan istri Indra disini, kasian mereka jika hanya berdua."
"Tapi aku juga ingin bertemu dengan mereka, Ray."
"Setelah pertemuan nanti, kita bakal selalu bisa bertemu dengan mereka."
"Tapi, Ray..."
"Bukankah Indra, Ilham juga sahabat yang penting? Jika bukan kau, siapa lagi?"
"Baiklah kalau begitu, hati-hati. Kabari jika sesuatu terjadi," balas Budi memeluk.
"Geli ah dilihatin istri Indra, dikira homo nanti," bisik Ray kembali pada Budi.
"Ini scene terbaik jika dalam alur sebuah film, biarkan saja," balas Budi santai kemudian melepas pelukan.
"Dah, gadis manis," lanjut Ray melambaikan tangan pada Hana yang tersenyum menatapnya kemudian berjalan memasuki mobil segera menuju tempat yang telah kami ia sepakati dengan Eka, Putra.
Dreet......
Dreet......
"Alisa?" Melihat panggilan masuk segera mengangkat.
"Iya Sayang." Mengangkat panggilan sembari menyetir mobil.
"Mas, kamu baik-baik saja bukan? Semalaman kamu gak ada kabarin aku loh, kemana kamu mas?"
__ADS_1
***
Sampai disini dulu para Sadmaker (ceritanya julukan fans Romeo) edisi otor narsis. Terimakasih tetap stay terus, jangan lupa sarapan dengan nasi, kemarin otor coba sarapan pake senyuman, eh jam 10 pagi dah kelaperan. Kita lanjut...