Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 54


__ADS_3

"Baik pak, akan saya ceritakan semua yang saya ketahui," ujar Ray menceritakan semua hal yang telah menimpa Yuli.


"Apa benar jika saudari Yuli sebelumnya telah bertemu dengan Aldo?" tanya Pak Anton.


"Benar Pak, tapi saya tidak mengetahui dengan pasti jika kedua pelaku tersebut itu orang suruhan Aldo," jawab Yuli.


"Apakah sebelumnya anda terlibat atau terjadi perdebatan dengan Aldo?"


"Hanya berdebat masalah kecil saja Pak, tidak ada perdebatan begitu hebat," singkat Yuli.


Ray yang mendengar jawaban Yuli terkesan menutupi perseteruannya dengan Aldo, sedikit terlihat kesal.


"Kamu yakin atas apa yang kamu ucap? Aku melihat jelas mereka bertemu dengan Aldo," sahut Ray sedikit menekan nada.


"Baik saudara Ray tenang dulu. Mohon jangan menekan korban karena kita tidak bisa memvonis Aldo begitu saja dalam kasus ini," jelas Pak Anton.


"Saya hanya menjawab yang saya ketahui Pak, tapi mungkin ini tidak ada hubungannya dengan Aldo," lanjut Yuli.


Mendengar peryataan tersebut, curiga Ray semakin menguat penuh tanya tentang apa yang Yuli sembunyikan darinya.


"Terima kasih atas kerja samanya, pembahasan kita sampai disini dulu dan kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Sekali lagi terima kasih," ujar pak Anton menutup pembicaraan di kantor polisi.


Meski pemberian kesaksian telah selesai, masih ada hal yang terus menggangu pikiran Ray.


"Masak iya seorang pelaku kejahatan melakukan kejahatan tanpa alasan semata?" batin Ray memandang Yuli berjalan keluar dari ruangan interogasi menuju mobil.


"Mas maafin aku yang tak berani memvonis jika Aldo adalah dalang di balik semua ini. Aku gak punya cukup bukti akan hal itu," ujarnya berjalan disebelah Ray.


"Gak ada lagi yang perlu di bahas, lebih baik kamu masuk kedalam. Aku akan mengantarmu pulang untuk beristirahat," pungkas Ray menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju penginapan, Yuli tertunduk diam. Sikapnya tersebut semakin membuat rasa penasaran Ray kian tinggi. Namun Ray tak ingin menekannya lebih jauh, sebab apa yang baru Yuli alami tersebut berhasil menjatuhkan mental dirinya.


Ray membaringkan kepala di kursi mobil untuk menghilangkan sejenak penat dalam pikirannya malam itu. Fii fokus menyetir mobil dan Fendi melamun menatap jalanan.


Setibanya di penginapan Yuli.


"Makasih mas untuk semuanya, makasih juga udah mengantar ku pulang," ujar Yuli ketika hendak keluar mobil.


"Tidak perlu berterima kasih, itu hal yang wajar. Sebaiknya kamu cepat beristirahat agar kondisi kamu kembali pulih," balas Ray tersenyum datar.

__ADS_1


"Jika ada yang membuatmu khawatir, berdoalah. Dia akan memberikanmu petunjuk ketenangan," lanjut Ray memalingkan pandangan darinya.


"Udah kan?" sahut Fii bergegas melanjutkan laju mobil.


Yuli berjalan masuk kedalam ruangan kamar miliknya untuk berbenah diri. Meski mencoba untuk tetap tenang, tetap saja rasa gelisah dalam hatinya tak kunjung padam.


"Maafkan aku yang telah berbohong kepadamu Mas, Aku bingung harus berbuat apa. Karena jauh di dalam lubuk hatiku, Aku masih ingin memilikimu," lirihnya menundukkan kepala di atas meja.


"Membuatmu kembali bahagia itu memang tujuanku, tapi aku masih belum bisa merelakan jika bahagiamu itu kembali mendapatkan Alisa," lanjutnya berdiri melepas seluruh pakaian menghadap cermin.


"Andai kamu tau jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam ini, mungkin kamu akan berpaling dari Alisa dan memilihku." Mengambil handuk berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Ray yang masih dalam perjalanan.


"Tadinya aku berfikir takdir alam sedang berdiskusi dengan takdir Tuhan, berdebat untuk merubah alur kisah ku. Namun karena besarnya rasa sayang ini ke Alisa, tanpa aku sadari tingkat ego tinggi ini telah kembali," batin Ray termenung menatap bahu jalanan dari balik kaca mobil.


"Aku lupa akan satu hal, cinta itu butuh pengorbanan dan engorbanan yang ku lakukan untuk merebut kembali Alisa telah berakhir di sini," lanjut lamun Ray menatap gemerlap cahaya gedung-gedung kota.


"Ray, jangan melamun terus seperti itu. Kau boleh menikmati kesedihan itu dan resapi seluruh gelisah dalam dirimu. Tapi kau juga harus ingat bahwa masa depan hidupmu lebih membutuhkanmu dari siapapun," ujar Fendi melihat Ray termenung.


Mendengar ungkapan Fendi dengan cepat Ray menghapus genangan air mata yang berlinang tanpa sadar terjatuh dengan sendirinya.


mencari alasan.


"Memang begitulah gayamu itu, Ray," ucap Fendi kembali memalingkan pandangan.


"Kalian besok ikut anterin aku gak?" lanjut Ray menatap mereka berdua.


"Pastilah kami ikut anterin kau ke stasiun dulu. Habis itu barulah kami hadir di acara Alisa," sahut Fii.


"Sayangnya kami cuma bisa antar sampai stasiun Ray, gak bisa ikut sampai ke kampung. Padahal kami juga ingin main-main ke rumahmu, Ray," sahut Fendi.


"Lain kali pas ada waktu nanti kan masih bisa Fendi. Lagian di kampung ku gak ada janda."


"Aku udah lama gak kenal janda lagi Ray. Setelah hatiku di culik Erlin, wanita lain gak memiliki kesempatan mendapat perhatian dariku," jelas Fendi.


"Jangan banyak cakap, masih di tolak aja kok belagu," pekik Fii.


"Tunggu aja tanggal mainnya," balas Fendi angkuh.

__ADS_1


"Nikahin, bukan mainin, jelas?" ketus Fii kembali.


"Salah aja aku ya."


"Kau lahir aja udah salah, bukannya secara normal tapi di dowload," lanjut Fii.


"Ada waktu kosong gak kau?" singkat Fendi membalas Fii.


"Kenapa rupanya?"


"Gelud kita yok di lapangan itu."


Fendi dan Fii terus meributkan hal yang tak seharusnya di permasalahkan. Terlihat berisik selalu bertengkar, namun keduanya cukup paham jika perdebatan tersebut hanya sebatas ucapan.


Merasakan sakit di sekujur tubuh serta luka perih di perut, Ray mencoba tertidur bermaksud menghilangkan sejenak sakit yang ia alami.


"Ray, Ray bangun, kita udah sampai ini," ucap Fendi menyenggol.


Membuka mata perlahan merasakan kantuk begitu berat, berdiri berjalan menuju kamar tidur dengan bantuan Fendi juga Fii.


"Makasih buat kalian berdua. Salahnya belum gajian, kalau udah gajian tadi pasti ku belikan permen," ujar Ray berbaring.


"Udah tau keadaan seperti itu, masih aja suka bercanda. Buruan istirahat kau biar cepat pulih," balas Fendi perlahan menutup pintu kamar.


Berbaring di tempat tidur tak bisa membuat mata Ray terpejam dengan cepat, sebab pikirannya masih terjebak memikirkan rahasia apa yang telah Yuli sembunyikan darinya.


"Kenapa gak bisa tidur sih? Ayo dong tidur," lirihnya mengelus kepala.


Dreeettt..(Nada getar pesan ponsel).


Mengambil ponsel di saku kiri, kemudian Ray membuka pesan tersebut.


"Jaga diri kamu baik-baik ya Mas. Aku selalu berdoa agar hidup kamu jauh lebih bahagia. Maaf jika aku gak bisa menepati janji berbagi hidup denganmu."


Pesan singkat Alisa memberi isyarat tentang perpisahan untuk yang terakhir kali. Ray yang tak mampu lagi berfikir, mengabaikan pesan tersebut.


"Pening udah, pening, pening, pening!" Mencampakkan ponsel ke sembarang arah.


***

__ADS_1


Sampai di sini dulu kak ceritanya, terimakasih telah Fav komen apalah itu semua namanya demi mendukung karya ini kak, lanjut..


__ADS_2