
Tak lama dari pertemuan malam itu yang berakhir dengan kepergian Ezza, Ray dan kawan-kawan kembali pulang beristirahat.
29 Desember 2018.
Wahai pemuda-pemudi bangsa ini penerus generasi masa depan, bangun lah, bangun lah." Bunyi nada ringtone ponsel pukul 6:45 wib.
"Aaahhhhh...... "
Terbangun Ray membuka mata mendapati Kaki di kepala, kepala di kaki.
Dalam satu ranjang, mereka tidur bertiga.
Tak terbayang seperti apa kondisi pagi itu.
Belum lagi di tambah Fendi dan Fii saling memeluk kaki.
"Jangan pergi, jangan tinggalin aku," gumam Fendi mata masih terpejam.
Ketepllakkk!!
Pukulan super Hamehameha Ray mendarat ke bokong mereka berdua serentak membangunkan lelapnya tidur.
"Bangun, mau jadi apa bangsa ini memiliki generasi malas bangun pagi kayak kalian gini," ucap Ray berdiri mengambil handuk bergegas mandi.
"Ahhh.....heehh...iya," jawab mereka bersama.
20 menit berlalu.
"Astaga, gak bangun juga? sudah jam 8 ni!" lanjut Ray kembali setelah berbenah diri sedikit berbohong perihal waktu.
Fendi dan Fii terkejut langsung terbangun dari tidur bergegas membereskan diri hingga mandi bersama.
"Kok gak di bangunin, parah bah," gumam Fendi beranjak.
"Gak di bangunin, gak di bangunin pala otak kau itu. Kalau ada dewa jashin udah di cabut nyawa kalian tadi," balas Ray berdandan tampan maksimal di depan kaca.
Dewa Jashin (Dewa pencabut nyawa di salah satu serial anime favorit Ray).
1 jam berlalu, setibanya sampai di kantor.
"Selamat pagi semuanya, persiapan kita semakin dekat. Mohon di cek kembali semua sarana dan pastikan acara ini berjalan lancar," jelas pak Taufiq pagi itu mengawali brefing.
Divisi 6 & 7 bergegas mengecek dan mempersiapkan kembali semua perlengkapan yang di butuhkan.
Setibanya di gudang sarana.
"Gimana rasanya punya banyak wanita? Ada kepuasan seberapa besar sih dalam hidupmu itu, Ray?" sindir Aldo ketika mempersiapkan sarana event tahunan bersama.
"Jangan terlalu mudah menyimpulkan sesuatu," balas Ray singkat.
"Tenang saja gak usah panik, Aku gak bakal beri tau Alisa tentang kau dan Yuli karena itu tindakan pria pecundang." Menatap Ray sinis.
"Kalau pun kau beri tau Alisa, itu bukan jaminan dia langsung pergi meninggalkanku, Al," balas Ray kembali penuh percaya diri.
"Tapi ya Ray...."
"Hoi hoi hoi, Bisik-bisik apaan ni ha? Ada masalah apa sama Ray? Ngancam apa dia Ray?" sahut Fendi menghampiri merangkul Aldo.
"Gak ada apa-apa Fen, santai aja, cuma bahas sejenis makanan ringan," sambung Ray mendinginkan suasana.
Aldo langsung berdiri beranjak meninggalkan mereka berdua. Entah apa yang ada dalam benaknya hanya dia dan Alam yang tau.
__ADS_1
Tak begitu banyak aktivitas yang berubah. Hanya menjalani rutinitas seperti biasa hingga jam kerja usai.
***
Disisi lain Alisa.
"Makasih ya Bu uda ijinin aku berangkat menemui mas Ray."
"Kamu gak takut nak sendirian pergi kesana? Apa gak sebaiknya kamu kabarin Ray dahulu?"
"Aku mau buat kejutan untuk mas Ray Bu,
jadi gak beri dia kabar. Lagian aku sudah kasih kabar Aldo kok Bu. Bahkan Aldo udah menyiapkan tempat untuk aku beristirahat disana nanti."
"Tetao saja seorang ibu akan mengkhawatirkan anaknya, Lisa."
"Iya Alisa paham. Terus segala sesuatu yang aku butuhkan di sana, Aldo bilang akan selalu membantuku. Bahkan dia juga mengatur jadwal agar aku bisa bertemu mas Ray di pesta akhir tahun nanti, Bu."
Melihat kebahagiaan terpancar di wajah sang putri, seorang ibu hanya mampu pasrah. Meski dengan berat hati dan penuh cemas, kedua orang tua Alisa membiarkannya pergi menemui cinta sejati.
Selepas pamit dengan kedua orang tua penuh emosi dan menguras air mata, Alisa pergi menuju bandara pesawat melewati 2 jam perjalanan hingga tiba dengan selamat di kota tujuan. Ketika sampai langsung menelpon Aldo.
"Halo, Aku baru sampai ini Al di bandara."
"Kamu tunggu di sana jangan pergi emana-mana ya, ini aku uda di jalan kok," jawab Aldo memacu laju Kendaraan.
Menempuh jarak yang tak begitu jauh dari bandara, Aldo sampai di lokasi tempat Alisa menunggu.
"Hai." Alisa melambaikan tangan ke Aldo yang baru tiba.
"Maaf telat dikit Lis," balas Aldo tersenyum kemudian membawakan ransel pakaian Alisa berjalan kembali menuju mobil miliknya.
"Lama gak bertemu kamu makin cantik," lanjut Aldo sedikit malu.
"Gak semudah itu ya. Dari semenjak kita di universitas yang sama semasa kuliah dulu ketika aku mengenalmu lalu jatuh hati, sampai sekarang gak pernah ada wanita yang mampu memenangkan hati ku, Lis." Memandang lurus di tengah keramaian.
ALisa terdiam menunduk tak mampu menyalahkan keadaan atas perasaan Aldo padanya.
"Eh, maaf maaf, kok jadi bahas itu sih, anggap saja itu angin lalu, Ok?" sambung Aldo senyum jahil menatap Alisa.
"Gak apa-apa kok Al. Suka dengan seseorang itu kan hak kamu, ga ada yang salah dengan itu. Yang salah itu kita memaksa seseorang yang kita suka berbalas rasa."
Sesampainya di mobil, masuk ke dalam bergegas melanjutkan perjalanan.
"Tapi beneran Lis, apa gak sebaiknya kamu kabarin sih Ray dulu?" ucap Aldo mengalihkan pembicaraan.
"Jangan dulu ah, aku mau liat expresi lucu wajahnya nanti ketika terkejut melihat kedatanganku. Seperti adegan peri di film gitu Al, tiba-tiba udah nongol aja," ujar Alisa tersipu dengan wajah memerah terlihat begitu bahagia dengan lamunanannya.
"Iya deh yang kasmaran itu. Aku lapar ni, singgah makan dulu gimana? Lagian sudah mau malam juga," ucap Aldo kembali memegang perut.
"Boleh deh, sama aku juga lapar ini."
Setibanya di lokasi makan malam, ketika asik menyantap hidangan...
"Lis..."
"Ia Al.."
"Em, ada yang mau aku omongin serius ini ke kamu."
"Ya sudah bilang aja Al, emang mau ngomong apa sampek segitu seriusnya?"
__ADS_1
"Tapi kamu jangan marah ya, ini penting banget Lis, aku gak sanggup menahannya," lanjut Aldo dengan raut wajah serius menahan kegelisahan.
"Iya Al bilang aja, apaan sih aku jadi penasaran."
"Sebenernya ini udah dari tadi mau aku omongin ke kamu, cuma aku takut kamu marah kecewa dan sedih. Kamu jangan marah ya."
"Kalo kamu ulang-ulang lagi tapi gak buruan bilang, aku beneran bakal marah ni Al, bener," ucap Alisa sedikit kesal.
"Aku mau bilang, aku ingin, pergi ke toilet gak sanggup nahannya, kamu jangan kemana-mana.
Ha...ha...ha, serius amat sih ibu ini." Tertawa terbahak beranjak berdiri meninggalkan meja.
"Emm kampret emang, buruan gih," umpat Alisa tersenyum melihat kelakuan jahil Aldo.
***
1 Jam sebelumnya.
"Boring ni ga ada kegiatan udah kayak burung dalam sangkar," pekik Fendi di ruang tamu terbaring terlentang.
"Sama, keluar yok? Bakar SPBU kek,
ngopi kek atau apa gitu kek. Masih pada lajang gini ndekem aja serasa narapidana," sahut Fii.
Ndekem (berdiam diri)
"Mau kemana coba? Tujuan juga ga ada kan?" sambung Ray memegang ponsel melihat episode kelanjutan anime favorit.
"Bentar lagi kan petak muka mu itu Ray, karton aja yang kau tengok, kayak anak kecil aja," sindir Fendi kembali.
"Wahai pendekar cinta yang malang, bedain kartun sama Anime. Kartun itu karakternya gak bisa Gede, segitu-segitu aja. Contohnya Doraemon dan Sinchan, dari jaman penjajahan sekolah dasar dulu sampai sekarang, ya Nobita ama Sinchan gedenya segitu doang. kalau anime bisa gede, menikah terus punya anak lagi. Karakter juga berkembang terus. Anak-anak mah gak bakal paham fergusso sang penabur harapan," ujar Ray panjang lebar menceramahi Fendi mencari pembelaan diri.
"Iya lah iya lah, ayok lah keluar mas Ray, oh mas Ray, nanti adek tiuum mas Ray lah. Keluar ya mas ya," ketus Fendi merengek menirukan seorang wanita manja.
"Iya deh iya, oh iya ada ni satu tempat makan enak, ya sudah beres-beres ayok," ucap Ray beranjak mengganti pakaian.
"Saatnya kita bilang, apa Fen?" Fii berdiri di kursi berpose pahlawan kebenaran.
"SE....LAMAT," sahut Fendi bergegas.
Menghibur diri dengan cara berjalan bersama, itu adalah hal yang jarang mereka lakukan. Sebab padatnya jadwal aktivitas yang mereka lalui bersama sering membuat tubuh kekurangan daya stamina begitu banyak.
Tak heran begitu senangnya jika ada kesempatan berjalan-jalan walau sekedar mengitari kota. Hal itu seperti kebahagiaan mendapatkan sebongkah berlian.
Cafe / tempat makan yang Ray maksud ialah Cindelaras. Tempat dimana saat itu Alisa dan Aldo sedang makan bersama.
30 menit setelah berhias diri.
"Mas opo kurang tampan, opo kurang macho opo kurang meneh iki sayang." Fendi berirama.
"Udah jangan banyak tingkah kau di situ, ayok cepat menuju landasan dan mengudara," sahut Fii memakai sepatu.
"Yosha, udah wangi, udah rapi, udah kece, udah udah, ya udah melulu," balas Ray bergegas menyalakan mobil perusahaan.
Ketika di dalam mobil,.
"Perhatian-perhatian, pesawat tempur segera lepas landas. Mohon pegangan tangan, kaki dan kepala semua di ikat. Jika ada sesuatu yang terlihat membahayakan, tolong segera lapor ke pihak berwajib." Fendi menirukan pramugari.
"Udah jangan banyak cakap, ready kapten Ray? Lets go." Teriak Fii.
***
__ADS_1
Sampai di sini dulu man teman, makasih buat yang udah mampir dan mendukung kisah ini tetap berlanjut. jangan lupa komen Fav jika suka alur ini.