
"Aku sayang sama kamu Novi, kamu tuh udah seperti saudara kandung aku sendiri. Aku gak tega melihat kamu terus menderita begini," balas Elly mengelus rambut Novi.
"Jika aku berada di posisi kamu, Aku akan merebut kebahagiaanku gak perduli sebanyak apapun halangan yang harus ku lalui," jelas Elly menatap Novi.
Melepas dekapan Elly, Novi menghapus linangan air mata. Dengan nada terbata-bata, "Apa aku gak terlihat jahat jika merebut Ray dari istrinya?"
Elly tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya masih menatap Novi.
"Tapi..."
"Gak ada kata tapi. Sekarang lebih baik aku antar kamu pulang supaya bisa langsung beristirahat," ujar Elly menggandeng Novi berdiri.
"Apa benar jika Ray itu adalah kamu, Leon? Aku begitu sangat merindukan hadirmu," batin Novi berjalan bersama Elly keluar ruangan.
"Masih melamun tentang Ray? Dia Leon atau bukan?" pekik Elly kembali.
"Jika kamu ingin terus bersedih, itu pilihan kamu. Tapi sebagai sahabat, apapun caranya demi membuatmu bahagia kembali akan aku bantu," lanjut Elly kembali.
"Aku mohon jangan beri tahu Ray apapun tentang Leon, please... Beri aku waktu untuk berfikir apa yang harus aku lakukan." Menarik tangan Elly menghentikan langkah tersebut.
"Kamu itu selalu aja seperti itu. Ya
udah jika itu keinginanmu akan ku turutin," pungkas Elly kembali tersenyum.
"Makasih sayang." Memeluk Elly sembari tangan Elly lembut tubuh Novi.
Sisi lain Ray yang baru sampai dirumah.
Ceklek....
"Mas..." Mensalim tangan.
"Sayang, kok kamu gak istirahat aja di kamar?"
"Aku udah lumayan enakan kok. Sini aku bawain tas kamu."
"Udah gak apa-apa, biar aku aja. Ibu mana?"
"Baru aja masuk ke kamarnya Mas. Akhir-akhir ini Ibu sering terlihat bermasalah dengan kondisi tubuhnya," ujar Alisa berjalan bersama Ray menuju kamar.
"Udah berobat atau cek ke dokter?"
"Ibu bilang hanya kurang istirahat aja mas. Oh iya gimana hari ini kegiatan kamu mas, lancar?"
"Alhamdulillah berjalan lancar sayang dan besok sudah mulai bekerja."
Ceklek...(Membuka pintu kamar).
"Syukur kalau begitu Mas, kamu udah makan belum?" lanjut Alisa sembari membantu Ray melepas pakaian.
"Udah tadi bareng Fendi juga Fii."
"Mau aku buatin sesuatu? Kopi mungkin?"
"Aku gak ingin apa-apa sayang. Aku cuma ingin kamu duduk disini temani aku." Ray menuntun Alisa duduk di ranjang.
"Bukanya aku selalu nemenin kamu, Mas?"
"Iya juga sih. Aaah." Membaringkan tubuh di ranjang.
"Ngomong-ngomong, kerjaan baru kamu itu apa emangnya, Mas?"
"Supir sayang." Nyengir tertawa receh menatap Alisa.
"Supir?"
"Iya. Kenapa kaget seperti itu?"
"Bukan kaget Mas," balas Alisa tersenyum.
"Terus?"
"Bagus dong kalau jadi supir, impian kamu udah tercapai tuh," ketus Alisa tertawa lembut.
__ADS_1
"Impian? Oh iya, hahaha."
"Tuh kan baru ingat kamunya."
"Tapi tetep aja beda sayang, kalau itu kan balapan mobil jalanan terus punya kelompok-kelompok gitu. Kalau ini kan cuma jadi supir bos doang."
"Bos baru kamu gimana tuh, galak gak mas?"
"Galak sih, cuma banyak yang bilang sebenarnya dia wanita yang baik." Menatap langit kaki bergoyang-goyang.
"Bos kamu cewek?" lanjut Alisa ekspresi wajah berubah.
"Ah." Terduduk Ray.
"Iya sayang. Meskipun dia wanita, bukan berarti aku harus suka ataupun cinta dengannya. Lagian kamu ini cemburunya terus meninggi ya."
"Iya, besok-besok gak cemburu lagi, maaf," singkat Alisa cuek.
"Ih pakai merajuk lagi, jelek tau kalau merajuk. Liat tuh bulu hidung kamu bergoyang-goyang." Memencet hidung Alisa.
"Sakit mas, tau ah." Berbaring menutupkan selimut ke sekujur tubuh.
"Malah tidur. Mandi Sayang, udah mau magrib ini, bau asem."
"Kamu tuh yang bau, mandi sana," gumam Alisa.
"Iya iya," singkat Ray berdiri mengambil handuk kemudian mendekati wajah Alisa yang bersembunyi di balik selimut.
"Ketika seorang wanita yang tepat masuk kedalam kehidupan sang pria, saat itulah hidupnya kian sempurna," jelas Ray mencium kening Alisa berlalu menuju kamar mandi.
15 menit berlalu.
"Ber." Menggigil usai mandi berjalan menuju cermin hanya mengenakan handuk.
"Kamu ngapain sih mas, narsis bener," pekik Alisa.
"Benerin brewok biar mirip bang Rahul Khan." Merapikan brewok berpose kanan kiri.
"Hahahaha..." Terbahak Alisa melihat Ray menahan nafas mengepeskan perut kemudian buncit setelah melepas nafas.
"Buruan ah pakai baju kamu itu, geli tau," jelas Alisa.
"Buat apa pakai baju kalau akhirnya kamu lepas lagi nanti malam."
"Gak usah sok cantik gitu deh mas."
"Mandi sana sayang, malam ini aku mau ajakin kamu dinner di luar." Membuka lemari memilih pakaian.
"Mau kemana emangnya?"
"Rahasia dong, mau tau aja anak kecil."
"Males ah, enakan tidur."
"Emang kamu gak bosen dari bayi tidur terus?" Menoleh menatap Alisa.
"Gak gitu juga konsepnya Ngatno."
"Ya itu," lanjut Ray mengambil pakaian.
"Iya iya, tunggu sebentar ya mas kesayangan." Alisa berdiri mencium pipi Ray berjalan menuju kamar mandi.
Setelah mengenakan pakaian, Ray terduduk santai di ranjang bermain ponsel sembari menunggu Alisa selesai berbenah diri.
Cling (Nada pesan masuk).
"Maaf menganggu waktu kamu, Ray. Sekedar mengingatkan kalau mulai besok mungkin aktivitas kamu cukup padat. Jangan lupa jaga kesehatan istirahat yang cukup."
"Kalau orang kerja pasti padat kesibukannya, kok aneh ya?" gumam Ray membaca pesan Novi.
"Iya, Bu." Membalas pesan tersebut.
Cling.
__ADS_1
"Oh iya satu lagi, maaf kalau seharian tadi ada salah."
"Ini cewek kenapa ya? Kadang terlihat perduli, kadang jaga image, kadang aneh," gerutu Ray kembali.
"Iya bu gak apa-apa kok," lanjut Ray menutup pesan tersebut.
Waktu terus berputar hingga setengah jam telah berlalu.
"Lama bener sayang? Mandi kembang kah?" ujar Ray menatap Alisa keluar dari kamar mandi.
"Kan cewek mas, biasa aja kali."
"Iya lah iya."
"Baju pada gak ada lagi, pakai apa lah ini," pekik Alisa bingung memilih baju.
"Kok baju gak ada sayang? Jadi itu yang numpuk di depan kamu apa? Apem?"
"Iya maksudnya bingung mau pakai yang mana mas. Komplain terus ah."
"Ya habis segitu banyaknya bilang bingung gak ada baju."
"Udah kodratnya suamiku sayang."
Alisa yang sedang memakai baju, melihat Ray begitu sibuk bermain ponsel, "Sibuk bener tuh jari, awas ketukar sama jempol."
"Lagi lanjutin nulis novelku yang dulu-dulu itu sayang."
"Bukannya kemarin-kemarin udah selesai?"
"Belum."
"Emang nulis begitu dapat duit mas?"
"Dapat kok, sebulan sekali baru ada hasil. Kan lumayan buat beli rokok."
"Jadi mas udah dapat lah ya tiap bulan?" Alisa menyisir rambut.
"Alhamdulilah tiap bulan dapat duit sayang. Dapat dari gaji kerja sebelum pengangguran kemarin."
"Em, asem kamu mas."
"Biar asem begini pernah di kejar cewek kota sampai ke desa loh."
"Kumat lah terus," singkat Alisa berhias duduk berhias diei.
"Lah emang bener, dulu ada cewek ngejar aku bilang begini. Mas Ray, Mas Ray, Aku suka kamu. Kamu medok banget. Aroma tubuhmu itu loh Mas, em, apek."
"Crispy garing, wek," ejek Alisa.
"Belum siap juga dandannya sayang? Keburu lahiran kamu itu nanti."
"Lahiran apaan, masih kecil gini."
"Ya sekarang kecil, pas kamu kelar dandan, udah mau lahiran nanti itu, kelamaan nunggu."
"Cerewet bener sih jadi laki? Gak suka ya di bikin nunggu?"
"Iya sayang, suka kok." Tersenyum lebar menatap Alisa.
"Udah lah males, ilang mood aku," gerutu Alisa.
"Aku harus jawab apa biar kamu di ringkus BNN SAYANG?"
"Tuh kan mang bener kamu tuh gak cinta aku. Mana ada suami ingin istrinya di tangkap begitu," gumam Alisa.
"Hehe...hehe...Aku siapa? Dimana aku? Hehe..hehe." Menoleh kanan kiri.
"Cup cup cup, kasihan sekali suamiku ini," sindir Alisa manyun.
"Yok, udah siap ini," lanjut Alisa berdiri.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu ya kak, tanpa banyak kata cukup kita lanjut. Tapi jangan lupa sub biar tetap bisa ikutin cerita ini kak, vote dan tips juga boleh..hehehehe...