
"Maaf karena bersikap yang tak pantas seperti ini. Terimakasih telah melakukan yang terbaik untuk putriku," lanjut Deny.
Tomi berbalik arah melihat Deny membungkuk padanya. Dengan cepat, Tomi menghampiri.
"Tuan, jangan membungkuk seperti itu. Tolong angkat kepala Tuan," balas Tomi membantu Deny menegakkan pandangan.
"Tapi, Saya malu dan meresa bersalah besar telah menyakiti perasaan kamu."
"Tidak usah di pikirkan, Tuan. Aku tidak sedikitpun merasa sakit hati. Bagiku, Novi sudah seperti adik sendiri yang harus aku lindungi dalam hal apapun"
"Terimakasih atas ketulusan hatimu," ujar Deny memeluk Tomi.
"Bagus, bagus dan sangat bagus, teruskan seperti itu," batin Tomi sedikit gembira akan langkah tepat yang ia pilih.
"Lebih baik sekarang, baik Tuan maupun Nyonya segera menjenguk Nona di dalam. Aku akan menunggu disini," pungkas Tomi.
"Ah, baiklah kalau begitu kamu tunggu disini, jangan pergi kemanapun, tunggu disini sebentar."
"Siap, Tuan."
"Ayo mah, kita masuk."
Setelah Deny dan sang istri masuk, Irfan menghampiri Tomi terduduk di sebelah.
"Bukannya perempuan itu kekasihmu? Lantas kenapa kau memanggil tuan dan nyonya?" ucap Irfan.
"Belum menjadi kekasih, cuma pasti bakal menjadi istriku," balas Tomi tertawa kecil wajah penuh optimis.
"Aku jadi bingung," pekik Irfan.
"Gak perlu memusingkan hal yang gak perlu. Cukup kamu turutin apa yang ku pinta dan biarkan aku bermain dalam mimpiku."
"Cuma bingung aja sih, lagian ayahmu sendiri juga tajir sangat berkecukupan, terus kenapa mau kerja menjadi pesuruh begitu."
"Begini Irfan." Tomi merangkul begitu dekat.
"Beliau yang tadi itu kerabat dekat ayah, persaingan secara diam-diam di antara mereka melibatkan ku harus ikut campur di dalamnya. Apa yang kulakukan saat ini, semuanya demi sebuah rencana, rencana yang paling indah yang akan aku wujudkan dalam dunia nyata," lanjut Tomi.
"Dari tadi bahasamu itu mimpi kenyataan mimpi dunia nyata, apa sih."
"Sudahlah, intinya aku bakal jadi orang yang paling berada di titik puncak tertinggi, walau dengan cara licik sekalipun," balas Tomi tertawa kecil.
"Iblis telah memilihmu sebagai calon penerusnya," sindir Irfan.
"Hidup akan terasa lebih sempurna ketika kita sanggup memberikan begitu banyak warna."
Ketika dalam perjalanan kembali ke rumah, Deny menceritakan semua yang ia tau kepada Novi. Setelah mendengar peryataan dari sang ayah, sikap serta kepercayaan Novi pada Tomi mulai berbeda hingga akhirnya keduanya terlihat begitu dekat.
Sulit bagi Novi jatuh hati pada Tomi, namun usaha Tomi takkan pernah berhenti sebelum dirinya berhasil mencapai apa yang ia impikan.
(Flashback Off)
***
"Apa ini semua ada hubungannya dengan Leon?" lanjut Tomi berjalan mendekat berdiri di samping tempat tidur Novi.
"Tomi, boleh aku tanya sesuatu?"
"Dengan senang hati apapun itu, pasti akan aku jawab."
__ADS_1
"Apa kamu pernah merasa seperti terabaikan?" lirih Novi menunduk menggenggam selimut.
"Terabaikan?"
"He'em."
"Memangnya siapa yang telah mengabaikan kamu, Non? Wanita secantik, seanggun dan sebaik kamu masak iya ada lelaki yang sanggup mengabaikan?"
"Tapi emang beneran ada."
"Leon?" jelas Tomi menerka.
Novi mengangguk terus menundukkan pandangan sesekali mendongak menatap langit-langit kamar.
"Dari pertama Leon tidak masuk kerja dan sampai saat ini, tak sekalipun ia menanyakan kabar diriku." Menoleh memandang kembali jendela kamar.
"Kalau itu bisa jadi mungkin dia ada satu kesibukan yang membuatnya begitu sibuk, Nona."
"Contohnya?"
"Ya mungkin lagi asik dengan wanita lain," singkat Tomi.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?"
"Kalau dia mencintai nona, sesibuk apapun keadaanya pasti akan selalu menyisihkan sedikit waktu untuk memberi kabar bukan? Terkecuali nona bukanlah prioritas utama dalam hidupnya."
"Begitu ya?" rintih Novi.
"Wajar sih jika aku bukan prioritas utama dalam hidup Ray, karena dia telah memiliki Alisa," batin Novi kembali menunduk.
"Itu hanya gambaran singkat saja non. Daripada memikirkan hal yang seperti itu, lebih kamu nona memikirkan bagaimana cara agar menjaga kesehatan diri sendiri," jelas Tomi mengambil piring berisi makan malam menyerahkan ke Novi.
"Aku masih belum ingin makan, lagian aku bukan anak kecil yang harus di suapin di perhatiin setiap kali ingin makan bukan?"
"Yasudah kalau begitu inginnya kamu nona. Jangan lupa makan terlebih dahulu terus minum obatnya setelah itu langsung istirahat," lanjut Tomi berjalan menuju luar kamar Novi.
"Tomi."
"Iya, Non." Berhenti di depan pintu berbalik arah.
"Makasih atas kebaikan dirimu. Selama ini kamu selalu berbuat baik padaku meski aku gak pernah mempercayaimu," ucap Novi penuh penyesalan.
"Yak ini dia yang telah lama aku nantikan. Terruslah seperti itu nona manis dan biarkan aku menunggu waktu yang tepat untuk membalikkan telapak tangan ini. Ketika tiba saatnya, semuanya akan jadi milikku," pikir Tomi.
Tak menjawab ucapan Novi, memicingkan mata, tersenyum ceria saat memandang Novi seketika berbalik arah kembali.
Kembali ke sisi Ray yang telah tiba.
Blekk (Menutup pintu mobil)
"Alisa, sayang," teriak Ray mempercepat langkah masuk kedalam rumah.
"Mas..." lirih Alisa menahan tangis berdiri mendekap tubuh Ray.
"Sayang...." lanjut Ray mengelus lembut sesekali mencium kepala Alisa.
Alisa menceritakan semua yang terjadi pada Ray tentang apa yang telah menimpa sang ibu.
(Flash back)
__ADS_1
Siang hari di ruang tamu sebelum ibu Alisa meninggal.
"Ibu, mau kemana rapi bener cantik lagi," sapa Alisa terduduk santai di ruang tamu.
"Biasalah, namanya juga ibu-ibu sayang. Kamu kan tau kalau sekarang ibu aktif dalam kegiatan arisan untuk menghibur menikmati hari tua ibu."
"Iya, Alisa tau. Tapi inget loh bu jangan terlalu kecapean, ntar yang ada penyakit ibu kambuh lagi."
"Kamu gak perlu khawatir sayang, ibu baik-baik aja kok. Lihat ini," balas sang ibu memutar tubuh sisi kanan dan kiri dengan anggunnya.
"Emm iya deh iya. Bagi Alisa, yang penting itu ibu dah gak banyak pikiran yang buat ibu terus sakit-sakitan," lanjut Alisa berdiri memeluk ibu.
"Iya sayang. Yasudah kalau begitu ibu pergi dulu ya, kamu baik-baik dirumah, kandungan kamu tuh udah makin besar loh."
"Iya ibu bawel kesayangan Alisa," jelas Alisa mencium kedua pipi sang ibu.
Tin....Tin....
"Nah itu temen-temen ibu sudah pada datang, muah," jelas ibu juga mencium kedua pipi Alisa.
Setelah berpamitan, pergi menuju tempat arisan.
Setibanya di lokasi arisan...
"Halo selamat datang sayang," sapa ibunda Risty pada ibu Alisa.
"Emm, makin awet muda kamunya," balas ibunda Alisa.
"Mari masuk," lanjut ibunda Risty mempersilahkan para ibu-ibu arisan.
Aldo yang tak mengetahui jika ibunda Alisa berada dirumah sang tante, terdiam bertatap muka.
"Kamu? Dasar pembunuh!" kecam ibunda Alisa kembali mengingat hal mengerikan yang pernah ia alami bersama sang suami.
"Ngapain dia disini? Apa mungkin mereka telah lama berteman? Kenapa bisa ribet seperti ini," batin Aldo membalikkan pandangan.
"Loh, kalian sudah saling mengenal jeng?" sambut ibunda Risty sedikit bingung.
"Dia pembunuh suamiku!"
"Apa benar begitu, Aldo? Jawab tante!"
"Aku gak pernah membunuh siapapun, Tante."
"Bohong! Kamu pembunuh....."
Bruakkk.....
"Jeng...kenapa jeng, bangun jeng."
Ibu Alisa yang telah mengindap penyakit jantung setelah kepergian sang suami, harus merenggut nyawa setelah shock bertemu Aldo.
Senyuman yang selalu beliau tunjukkan, tak sedikitpun dapat menghapus kenangan indah pada sang suami. Tak mampu menghapus ingatan keji yang telah merenggut nyawa sang suami, mengharuskan nyawanya ikut terenggut.
(Flash back Off)
Sebulan kemudian...
"Kamu yakin sayang?" ucap Ray di meja makan menatap Alisa menggenakan pakaian lengkap petinggi kantoran.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu kak, maaf untuk sementara Ray dan kawan-kawan update agak telat yak. Aldo, Robi dan Tomi lagi gangguin kesibukan author di RL. lanjut...