
Melanjutkan perjalanan menuju tempat yang ingin mereka kunjungi malam itu. Semua terlihat biasa saja tak begitu banyak hal yang membedakan.
***
Selesai dari toilet, Aldo berjalan kembali ke meja menghampiri Alisa, "Lama bener Al, aku kira kamu ketiduran di toilet."
"Ya maaf Lis," balasnya singkat.
Kembali duduk bersama dan menikmati hidangan penutup, Aldo terlihat begitu menikmati kebersamaannya bersama Alisa. Sesuatu yang selalu ia impikan dari dulu. Membuka topik pembahasan baru agar dirinya bisa sedikit lebih lama berduaan dengan Alisa.
"Oh iya Lis, gimana tinggal di kota barumu?
Menyenangkan bukan?"
"Emm, ya begitu la Al, mungkin terlihat sedikit aneh karena belum terbiasa aja sama lingkungan yang baru."
"Terus planing ke depan mau lakuin apa Lis?" tanya ia kembali.
"Belum ada kepikiran sesuatu sih, masih menikmati alam bebas dulu. Kamu sendiri gimana Al dengan persiapan event kalian besok, udah kelar belum tuh persiapannya?"
"Persiapan udah kelar sih, ya paling besok pagi tinggal beres-beres doang."
"Semoga lancar ya acaranya besok Al, gak sabar aku tuh pengen buru-buru ketemu mas Ray," ujar Alisa bahagia.
"Amin, makasih Doanya."
***
Setelah sampai di Cafe resto Cindelaras, Ray, Fendi dan Fii segera turun dari mobil mulai berjalan menuju ke dalam ruangan.
"Akhirnya setelah mendaki gunung lewati lembah, sungai gak nampak ngalir karena gelap malam, sampai juga di mari," ujar Fendi meregangkan punggung berjalan santai.
"Emm, akal-akalan kau itu," sahut Fii.
"Sudah jangan ribut terus. Ingat, gak selamanya kucing dan anjing saling bermusuhan," ucap Ray santai.
"Suit suitt, boleh juga nih macan. Cepek limpul cepek limpul!" seru Fendi ketika berpapasan dengan seorang gadis berbody gitar spanyol memperhatikan dapur sang wanita bergeal geol ke kanan dan kiri.
Cepek (100)
Limpul (50)
Dapur (Boking)
"Aku kalau liat budak satu ini, tobat kau tobat. Abang jomblo dek," sahut Fii melirik Fendi kemudian meneriaki gadis tersebut dari kejauhan.
Ray hanya menggeleng melihat ulah mereka berdua. Sesampainya di meja makan, memesan hidangan tak sabar segera ingin menikmati.
Ray sendiri belum mengetahui bahwa Alisa juga berada di tempat yang sama dengannya. Wajar saja karena ruangan luas di tengah keramaian, tak begitu memperhatikan tempat sekitar. Begitupun dengan Aldo dan Lisa yang tak mengetahui keberadaan Ray malam itu.
Sembari menunggu hidangan datang, Ray, Fendi dan Fii mengobrolkan sesuatu hal yang ringan.
"Ray, menurut kau apa itu cinta? Karena di antara kita bertiga ini, yang berhubungan dengan beberapa wanita cuma kau doang," tanya Fii membuka obrolan di meja makan malam itu.
__ADS_1
Fendi dan Fii telah mengetahui bahwa Ray dekat dengan beberapa wanita. Itu bukanlah sebuah rahasia, karena di antara mereka bertiga tak ada rahasia yang harus di sembunyikan.
Bahkan mereka berdua mengetahui jika Ray pernah berhubungan tak wajar dengan Yuli saat Ray menceritakan semua yg ia alami. Namun mereka tidak mengetahui satu hal yang pasti, kemana hati Ray kan berlabuh.
"Cinta itu seperti sinar yang terang bagaikan kilauan cahaya. Sebab cahaya cinta perlahan menyilaukan, Itulah mimpi kehidupan kedua, mimpi itu dari mana datangnya?" sahut Fendi menjahili Fii.
"Kimbeknya anak ini, jones abadi diam aja di boncengan, jatuh kau nanti goyang kali." Fii meliriknya.
"Gila aja jones. Walau keliatan begini, aku berterima kasih kepada barisan para janda Safei. Berguru makanya sama aku, sebulan gocap aja biayanya."
"Udah jangan ribut terus, jadi begini ya aku jelasin dikit. Cinta itu gak tergambarkan oleh sesuatu,
dia ada begitu dekat dengan kehidupan kita, tapi kita gak bisa melihatnya. Merasakan cinta itu berbagai ekspresi. Menangis dan tertawa adalah bagian dari ekspresi cinta itu sendiri. Ketika ada yang bertanya padaku apa itu Cinta? Aku hanya menjawab, You Will Never know," jelas Ray berbicara layaknya sang pujangga.
"Permisi abang-abang ini pesanannya, selamat menikmati." Pelayan meletakkan hidangan di atas meja.
Obrolan berhenti karena mereka bertiga paham betul jika berbicara ketika makan itu hal yang tidak baik.
45 menit berlalu, waktu menunjukan pukul 22:25.
Ketika Ray berdiri berjalan menuju meja kasir,
Lisa dan aldo bangkit dari tempat duduk menoleh ke sisi kanan bertatap muka dengan Ray.
Jari tangan Ray menunjuk rendah ke arah mereka berdua.
"Alisa...? Aldo...? Apa maksudnya ini? Kenapa kalian bisa berduaan? Kamu datang kemari jauh-jauh hanya untuk bertemu dia, Lisa! Bahkan sampai gak memberi ku kabar?" ucap Ray sedikit lantang mengerutkan dahi.
"Mas, jangan berfikir yang enggak-enggak dulu, yang kamu lihat ini gak seperti yang kamu bayangin, Mas," balas Lisa terlihat panik.
"Kamu diam Al, aku gak ada urusan denganmu," tegas Ray memberhentikan penjelasan Aldo.
Alisa terdiam ketika melihat wajah Ray sedikit memancarkan emosi.
"Makasih."
Hanya kata itu yang Ray ucap kemudian bergegas membayar makanan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mas, mas tunggu mas," rintih Alisa menangis pilu memegang tangan Ray dalam sekejap membuat semua mata pengunjung tertuju ke arah kami tersebut.
Ray melepaskan pegangan tangannya dan tetap berjalan menuju mobil tak menghiraukan. Fendi dan Fii yang mengetahui kejadian itu hanya terdiam dan ikut masuk ke dalam mobil.
Dengan penuh emosi Ray memacu kencang laju kendaraan, menghiraukan Fendi dan Fii meski bersamanya.
"Woi woi woi, nyebut woi nyebut, jangan emosi begini bawa mobilnya," ujar Fendi.
"Ray, sadar," sahut Fii.
Yang ada di pikiran Ray malam itu begitu menyesali kenapa harus Aldo dan kenapa bisa bersama Alisa.
Setibanya di penginapan Ray langsung masuk ke dalam kamar. Meletakkan ponsel di sembarang tempat, beristirahat menenangkan pikiran.
Berulang kali panggilan telepon dari Alisa ia abaikan. Semua pesan darinya tak satu pun Ray mencoba untuk membuka dan membacanya.
__ADS_1
30 Desember.
06:15 Pagi.
"Udah bangunnya? Kerasukan apa kau tadi malem ha, bawa mobil kayak mau bunuh diri," ucap Fendi usai mandi pagi.
"Maaf, biasa lah terbawa arus."
Sesampainya di lokasi kerja pagi itu hingga menjelang sore Ray terus memikirkan Alisa.
Bergegas menuju lapangan merdeka, sembari mempersiapkan semua perlengkapan termasuk kembang api.
Ketika berselisih dengan Ray, wajah Aldo terus memunculkan ekspresi senyum licik. Jika tak memikirkan lingkungan kerja mungkin baku hantam tak terhindari.
Setelah usai melakukan persiapan pukul 19:12 malam, Ray berjalan menuju tempat makan malam yang tak begitu jauh dari lokasi.
"Apa aku bertindak terlalu berlebihan terhadap Alisa? Apa aku begitu egois tak mendengarnya memberi penjelasan? Apa sikap ku begitu menyakitinya?" Lamunan Ray ketika menyantap sedikit makanan.
Setelah selesai, Ray memutuskan untuk menghubungi Alisa berniat meminta maaf atas perbuatannya.
Saat Ray menyadari sifat yang ia miliki begitu berlebihan, berkali-kali menghubungi Alisa, namun tetap tak bisa ia hubungi.
"Kring." Nada ponsel ku berbunyi.
"Ibu Alisa? Kenapa menelpon ku?" batin Ray melihat panggilan masuk segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum bu."
"Waalaikumssalam nak. Gimana kabar Alisa? Seharian nomor teleponnya gak bisa ibu hubungi. Dia lagi bersama kamu kan?"
"Dari tadi aku juga gak bisa hubungin Alisa, bu."
"Loh bukanya kemarin dia sangat ingin bertemu denganmu? Dia berhasil kan membuat kejutan untukmu dengan cara diam-diam menemui kamu di sana tanpa memberi kabar nak Ray?"
Terdiam tanpa berkata sedikit pun. Tetes air mata Ray terjatuh tanpa sanggup ia menahannya setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Ray langsung menutup telepon dari Ibu Alisa, bergegas pergi mencari Alisa.
"Aku permisi dulu ada urusan penting, kalian tolong handel semua ya," ujar Ray ke Fendi dan Fii saat itu.
Melihat raut wajah Ray yang begitu panik memikirkan Alisa takut bertindak gegabah,
mereka berdua mengerti dan membantu sebisa mungkin. Menanyakan alamat kepada Aldo dengan mengancam, Aldo memberi tahu di mana tempat Alisa menginap.
Sesampainya Ray di penginapan Alisa, meneriaki namanya dari pintu gerbang, Alisa tak kunjung keluar dari pintu kamarnya.
Malahan yang menemuinya bukan lah Alisa, tetapi ibu kos. Memberitahukan bahwa Alisa pergi menuju tempat pesta kembang api akhir tahun.
"Itu kan tempat event kami," batin Ray bergegas kembali ke lapangan merdeka.
Di Dalam keramaian bercampur aduk bak lautan manusia malam itu, terus mencari hingga pukul 23:50 Ray tak kunjung berhasil menemukan Alisa.
Ia pasrah dan berjalan ke tepi lapangan tertunduk meratapi kegelisahan perbuatan kejamnya kepada Alisa.
****
__ADS_1
Sampai disini dulu kakak...
Makasih terus mengikuti kisah ini.