
Acara malam itu berjalan lancar sesuai dengan apa yang Fii harapkan. Impian Fii memiliki Mia akan segera tercapai, hanya mimpi Ray yang semakin menjauh.
Setelah acara itu selesai, mereka berjalan kembali pulang. Namun bukanya balik ke penginapan, justru mampir di salah satu cafe yang baru buka.
Mencoba mencicipi beberapa menu hidangan yang disajikan, Fii terlihat begitu bahagia. Setelah selesai mencoba menu baru di cafe tersebut, Fii menanyakan Ray sesuatu.
"Ray, cerita dong gimana awalnya kamu kenal Alisa sampai bisa sebegitu mencintainya," singkat Fii penasaran.
"Iya bener itu, kisah yang itu kan kita belum pernah tau," sahut Fendi.
"Buat apa sih bahas begituan? Lagian gak ada romantis-romantisnya juga," jelas Ray.
"Ayolah kawan, biar tuntas aja penasaran kami. Dari beberapa wanita yang kau kenal, cuma Alisa wanita yang kamu perjuangin dengan hebatnya, Ray," balas Fii kembali.
Ray melamun sejenak kemudian tersenyum.
"Nah loh senyum-senyum sendiri, pasti teringat kenangan masa lalu kan?" sahut Fendi.
"Em, begini ceritanya, semua terjadi ketika awal aku masuk kuliah," ujar Ray membocorkan sedikit kenangan yang ia miliki.
(FLASH BACK)
Langkah kaki Ray telah sampai di salah satu universitas tinggi berniat mengasah otak untuk terus berfikir.
"Akhirnya kesampaian juga kuliah di sini." Turun dari angkutan umum.
Berjalan memasuki halaman luas kampus baru,
melihat gedung tinggi dan mewah membuat perasaan Ray sedikit senang bisa terus melanjutkan pendidikan.
"Nasib bener dah bisa masuk di sini." Masih memandang bangunan megah.
Ray adalah salah satu siswa paling beruntung diantara siswa lainnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan.
Tinnnnnnnnnnn....
(Suara klakson mobil mengejutkannya dari belakang).
Ray menoleh kebelakang melihat mobil tersebut.
Seorang lelaki berkacamata hitam dengan mobil sport mewah bak pangeran memandang dari balik kaca mobilnya.
"Bisa minggir gak? Jangan halangi jalan ku! Dasar anak kampung."
Ray yang baru masuk dan tak ingin membuat keributan hanya minggir ke sisi kiri membiarkan laju mobilnya kembali.
"Anak konglomerat ini pasti, keliatan dari tengil gayanya. Belum pernah ngerasain apem aja bangga kali," batin Ray kembali berjalan.
Lagi asik berjalan melihat-lihat kiri dan kanan, kembali lagi sebuah mobil mewah berhenti tepat di sampingnya. Pak supir turun dan berlari membuka pintu mobil samping mempersilahkan tuan putri turun.
Rambut panjang menggelora, memiliki alis tebal nan indah, bola mata kebiruan yang sendu, serta memiliki tubuh yang cukup ideal di antara wanita lainnya. Tanpa sadar tersenyum dengan sendirinya ketika melihat gadis tersebut. Namun gadis itu hanya bersikap datar dan tak menghiraukan senyumannya.
"Kalau sudah pulang langsung hubungi bapak ya neng Lisa," ujar pak supir padanya.
__ADS_1
"Iya Pak, nanti aku kabarin. Oh iya pak, jangan lupa beri tahu ayah kalau Alisa bakal buktikan bahwa Lisa bisa memenuhi impian ayah."
Hari dimana Ray mengetahui pertama kali nama tersebut.
"Alisa. Nama yang sesuai dengan paras indah yang ia miliki," batin Ray tersenyum semringah.
Berjalan melewati, wangi aroma tubuh Alisa kala itu membuat Ray menghirup nafas sedikit panjang.
"Sungguh Maha karya Tuhan yang luar biasa telah menciptakan mahkluk seindah kamu," cetus Ray melihatnya berjalan semakin menjauh.
"Alisa, jika ada kesempatan untukku, akan ku raih hatimu. Aku pastikan itu," lanjut Ray masih memandangnya.
Alisa berbalik arah, tanpa membalas senyuman dalam sekejap kembali menatap lurus ke depan. Ray yang masih berdiri tegak, terus tersenyum dalam haluan hidupnya.
"Tuh kan bener, dia ini jodohmu, Ray," batin Ray menerka memangku dagu.
"Ah tapi yang beginian mah hanya ada di sinetron, mana mungkin lelaki biasa seperti ku bisa memiliki hati seorang putri," lanjutnya bermain dengan pikiran sendiri.
"Tapi ya kalau Tuhan memaksa dia berjodoh dengan ku, ya aku ikhlas sih," pekik Ray kembali berjalan mencari ruangan baru mengeleng-gelengkan kepala sendiri.
Mencari ruang demi ruang, melewati banyak senior tak membuatnya gugup sedikitpun. Meski berulang kali mendapat perlakuan jahil salah memasuki ruangan, akhirnya Ray menemukan ruang kelas miliknya.
"Permisi."
Ray sedikit terlambat beberapa menit menuju ruangan miliknya karena mendapatkan sikap jahil dari beberapa senior ketika ia menanyakan ruangan kelas miliknya.
"Kamu Ray?" ujar dosen tersebut.
"Halangan apa? Datang bulan kamu?"
Penghuni kelas tersebut tertawa melihat Bu dosen sedikit meledeknya. Ray tersenyum tanpa berkata sedikitpun.
"Untuk kesan pertama saya maklumi, selebihnya tidak ada dispensasi!" Tegas dosen kembali.
"Terimakasih, Bu." Mencari tempat duduk.
"Mau kemana?" tanya dosen kembali padanya.
"Duduk, Bu," jawab Ray polos.
"Kenalin dulu nama kamu baru duduk. Temen-temen yang lain sudah duluan memperkenalkan diri, hanya kamu yang belum."
Ketika Ray berdiri di samping meja Bu dosen dan ingin menyebutkan nama,
"Loh itu kan sang putri? Kalau jodoh memang gak kemana, ada aja jalannya," batin Ray menyadari keberadaan Alisa yang satu ruangan dengannya.
"Kok melamun?" tegur Bu dosen berdiri begitu dekat.
"Maaf, Bu."
Setelah memperkenalkan diri, mempersilahkan Ray duduk di tempat yang di tunjukan.
"lah, anak konglomerat tengil juga di sini?" batin Ray duduk di sebelah.
__ADS_1
"Dari kampung ya?" cetus anak konglomerat.
"Iya, dari kampung, tapi otak boleh di coba."
"Sombong bener lu, yakin bisa di coba tuh otak?"
"Coba aja, jangan nyesel kalau gak mampu mengimbangi," pungkas Ray tanpa niat ingin mengetahui namanya.
Tanpa terasa jam mata pelajaran pertama usai. Ketika hendak keluar ruangan, Lelaki tersebut menarik bahu Ray.
"Dari awal tadi gua liat lu belagu bener ya, lu belum tau gua siapa?"
"Aku gak ada waktu untuk urusin kau siapa, jadi gak penting mau kau dewa sekali pun," balas Ray menatap.
Perkelahian kala itu tak terelakan, seluruh teman kelas yang ada di ruangan dengan senang menyaksikan acara yang Ray suguhkan.
Bruakkkk......
Bruuuuk.....
Bruekkkkk....
Ketika kondisi keduanya amat babak belur, Ray yang berada di atas anak konglomerat tersebut menekan tubuh yang tergeletak lemah.
"Ingat wajah ku baik-baik kalau masih penasaran," jelas Ray kembali melepaskan satu pukulan.
Seseorang meraih tangannya dari belakang dengan maksud menghentikan. Sialnya, Ray mencoba melepaskan genggaman tersebut tanpa menoleh kebelakang. Karena terlalu keras, justru hentakan tangan Ray mengenai dan membuat pingsan orang tersebut. Saat menoleh ke belakang, ia baru mengetahui bahwa korban tersebut ialah Alisa.
Perkelahian itu selesai dan yang kalah ialah Alisa. Sebab baik Ray maupun anak konglomerat, keduanya sama-sama mengalami luka babak belur, sedangkan Alisa pingsan tak berdaya.
Mereka berdua menjalani sidang di ruang kantor. Perlakuan para dosen pembimbing terlihat berbeda ketika menginvestigasi keduanya.
"Nak Aldo lain kali tolong emosinya di kendalikan ya, kami tidak ingin ayah kamu kecewa dengan Universitas ini," ucap salah satu dosen begitu lembut.
Saat itu Ray mengetahui bahwa Aldo adalah nama
pemuda tersebut meski nama itu tak terlalu penting baginya.
"Kamu ini, mau jadi jagoan di kampus iya? Biar hebat di liat orang banyak gitu? Bukanya bersikap bagus sekolah yang bener karena beasiswa, malah membuat keributan di hari pertama masuk," pekik dosen lainnya menceramahi Ray.
"Pak, tapi aku kan..."
"Tapi apa? Kamu gak liat Alisa menjadi korban dari ulahmu itu? Masih anak baru kemarin sore udah sok mau jadi jagoan. Apa kerja orang tuamu?" lanjut dosen kembali.
"Dagang, Pak," balas Ray menjahili.
"Dagang apa? Dagang emas?"
"Aku nengok bapak ini ah, kalau jadi malaikat izrail udah tak cekek duluan kau pak," batin Ray melirik dosen tersebut.
***
Sampai disini dulu kak, besok lanjut lagi...Jangan lupa Fav bila suka agar selalu tau update terbaru, ahehehhee....lanjut....
__ADS_1