Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 80


__ADS_3

"Ngapain dari sana kau Ray?" ujar Fendi depan mobil.


"Gak ada, istirahat aja, panas kali cuaca."


"Anggap aja latihan loh," sahut Fii.


"Latihan apa panas-panas?"


"Latihan di neraka. Hahaha."


"Gak ada otak. Ayo lanjut masuk mobil," pekik Ray.


"Mau kemana lagi kita ini?" lanjut Fii ketika berada di dalam mobil.


"Cari makan yok, udah mulai lapar," sahut Fendi.


"Samalah, gimana Ray?" ucap Fii.


"Bolehlah, tempat biasa aja ya."


"Oke."


Membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai di lokasi langganan tersebut.


Setibanya di lokasi.


"Ini bang daftar menunya," ucap pelayan.


"Aku pesan ini aja mbak," jelas Ray.


"Aku yang ini sama ini," sahut Fendi menunjukan menu tersebut.


"Aku sama aja kayak dia ini dek," ujar Fii menunjuk Fendi.


"Ditunggu ya bang." Pelayan berlalu pergi.


"Ah, selanjutnya muter kemana lagi ini cari kerjaan?" cetus Fendi menundukkan wajah di meja makan.


"Belum tau lah ini mau kemana lagi," sahut Ray mengambil ponsel membukanya.


"Loh gimana sih kerja kalian? Udah berapa hari ini masak cari supir sama office boy aja serumit itu. Terus mau berapa lama lagi saya nungguin? Pekerjaan saya bukan sekedar mengurusi hal sepele seperti ini loh?" ujar seorang wanita sedikit keras di belakang meja Ray.


Fii yang berada di depan langsung melirik mengangkat kedua alis kearah Ray. Mengerti maksud tersebut dengan sigap langsung berdiri menghampiri.


"Permisi mbak, maaf lancang. Saya mendengar mbak sedang mencari pekerja ya?" ucap Ray berdiri di sebelahnya.


"Yaudah." Mematikan panggilan tersebut.


"Iya, kenapa?" Menoleh menatap Ray.


"Novi?"


"Ray?"


"Kamu sedang mencari pekerjaan?" lanjut Novi.


"Iya, tempat lama kami bekerja tutup karena alasan tertentu, Novi."


"Tapi kalau aku liat, pekerjaan ini mungkin terlalu rendah untuk penampilan kamu, Ray."


"Apapun itu selagi halal, gak masalah kok."


Melihat Ray berbincang hangat begitu akrab, Fendi serta Fii langsung menghampiri.


"Salam kenal mbak, Aku Fendi temannya Ray." Mengulurkan tangan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Novi." Menyambut uluran tangan Fendi.


"Fii," sambung Fii nyengir langsung menyalim tangan Novi.


"Kalau pada gak keberatan, besok datang aja ke alamat ini ya," jelas Novi memberikan kartu identitas pada Ray.


"Makasih ya," balas Ray mengambil kartu tersebut.


"Aku juga terimakasih sama kamu karena kejadian tadi pagi, Ray."


Ketika hendak berdiri, kaki jenjang Novi menabrak kursi, saat hendak terjatuh Ray langsung menangkap tubuhnya.


"Aduh, maaf ya Ray."


"Iya gak apa-apa kok," balas Ray menatap Novi sembari tangan mengusap lengan baju karena noda lipstik miliknya.


"Jadi kotor begitu baju kamu," jelas Novi bermaksud mengusap baju yang Ray kenakan.


"Gak apa-apa, hanya noda kecil."


"Yasudah kalau begitu aku lanjut duluan ya, ada sesuatu yang harus ku lakukan. Maaf ya," singkat Novi kembali senyum menatap Ray berlalu pergi.


Melambaikan tangan rendah ketika Novi berbalik arah masih berjalan lurus.


"Cobaan apalagi ini, Tuhan." Fendi mengelus wajah Ray.


"Asem, bau kali tanganmu. Buruan balik ke meja," gumam Ray meninggalkan Fendi serta Fii yang masih berdiri melihat Novi berjalan menjauh.


"Ini pesanannya, selamat menikmati," ujar pelayan meletakkan hidangan di meja.


"Makasih mbak."


"Oh jadi karena dia tadi makanya kau datang ke kos terlambat, Novi toh pelakunya," pekik Fendi perlahan duduk.


"Jangan aneh-aneh." Menyantap hidangan santai.


"Wanitaku tetap Alisa. Udah buruan makan, jangan ngaco terus."


"Eh tapi..."


"Ngomong tapi lagi ku tinggal pulang kalian ini," jelas Ray menatap Fendi.


"Iya iya, gitu aja marah," sahut Fendi lanjut menikmati hidangan.


"Mau secantik apapun seorang wanita belum tentu memiliki daya tarik. Jika seorang lelaki telah memegang komitmen tuk setia, takkan ada satu wanitapun yang mampu membuatnya berpaling," batin Ray tersenyum melahap makanan.


"Hah, hah, tengoklah, senyum-senyum sendiri kau kan? Pasti karena bayangin Novi?" ujar Fendi menunjuk.


"Bukan, asik dia aja yang ada di kepalamu dari tadi," singkat Ray.


"Yah wajar lah, siapa yang gak bakal tergoda sama Novi coba? Apalagi kau mantan terpidana kasus pemberi harapan palsu wanita. Hahaha," jelas Fendi kembali tertawa meledek.


"Kampret kau memang."


Setelah selesai makan siang bersama di sebuah cafe.


"Jadi udah bisalah kita pulang ini kan? Ngantuk mau istirahat dulu. Persiapan untuk besok," cetus Fii meregangkan tangan.


"Iyalah, mau kemana lagi," sahut Fendi menguap.


"Ya udah ayok, urus ya Fendi, masih banyak pesangon itu kan?" sahut Ray berdiri nyengir.


"Ya banyak kali lah, masih lajang kok, duit gak pernah abis untuk beli apapun," sambung Fii.


"Aku lagi, Aku lagi," lirih Fendi membuka dompet.

__ADS_1


"Baru ini pun disuruh bayar, dah ngeluh. Ayo gerak Ray," gumam Fii berjalan menuju mobil.


Melanjutkan perjalan mengantar Fendi juga Fii ke penginapan, tak lama setelahnya langsung kembali ke rumah.


"Sayang," sapa Ray berjalan masuk ke kamar.


"Mas, kamu sudah sampai?" Alisa menghampiri membantu melepas dasi Ray.


"Wajah kamu terlihat lebih ceria Mas, senyum-senyum terus aku lihat. Lagi senang ya?" lanjut Alisa melepaskan kemeja yang Ray kenakan.


"Iya, besok aku akan interview kerja, Sayang."


Plek (Kartu pengenal identitas Novi terjatuh dari kantung kemeja Ray ketika Alisa melepasnya.


"Ini apaan Mas." Alisa mengambil melihat-lihat kartu nama tersebut.


"Oh, dia itu yang memberi tahu kalau di tempatnya bekerja sedang ada lowongan. Ah..." Membaringkan badan di kasur.


"Mas, kamu gak sedang main gila kan?"


"Maksudnya?" Menoleh menatap Alisa.


"Kenapa ada lipstik wanita di baju kamu ini?"


"Itu tadi dia jalan mau jatuh, terus aku tolongin, Sayang." Kembali menatap langit kamar.


"Terus aku harus percaya dengan penjelasan kamu seperti ini?"


"Terus aku harus jawab apalagi? Memang seperti itu kejadiannya. Intinya aku gak ada main wanita diluar sana."


"Enak ya jadi laki Mas, tinggal ngomong singkat aja terus berasa kayak lagi gak ada masalah apapun."


Alisa masih berdiri menatap Ray sembari menggenggam kemeja putih tersebut.


"Kan emang kita lagi gak ada masalah, Sayang." Terbangun Ray duduk di ranjang.


"Terserah kamu mas, Aku capek," pekik Alisa berjalan keluar kamar mencampakkan kemeja tersebut ke arah Ray.


"Malah ngambek, orang memang gak ada apa-apa, terus aku harus jawab apalagi?" gerutu Ray membolak-balik kemeja tersebut.


"Tidur ajalah, paling entar reda deru ragunya sendiri" lanjut Ray berbaring kembali memejamkan mata.


Tak lama kemudian...


"Lisa...." Teriak ibu dari luar begitu keras terdengar hingga ke telinga Ray.


Mendengar suara tersebut, Ray segera bangkit melompat langsung keluar kamar masih menggenggam kemeja tersebut.


"Sayang..." Mendekati Alisa yang terjatuh dari tangga.


"Mas, sakit," lirih Alisa mencekam lengan Ray merintih.


"Tahan ya sayang."


Ray angsung membopong Alisa menuju mobil di temani Ibu.


Alisa yang terus merintih kesakitan di sekitar area perut, membuat gelisah pikiran Ray menjadi-jadi.


"Lisa, Nak, tahan ya sayang," ujar Ibu mengelus kepala Alisa di pangkuan.


"Bu, sakit," rintih Alisa mengisak tangis.


"Mas....." lanjut Alisa menghela nafas tak beraturan terus menjerit.


***

__ADS_1


Sampai disini dulu ya para rakyat omnivira, jangan lupa Fav komen apalah itu namanya semua untuk mendapatkan grand prize langsung dari keluarga masing-masing. Makasih kak kita lanjut...


__ADS_2