Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 29


__ADS_3

Kembali ke Ray yang masih berdiam diri terbaring di kamar. Hanya itu yang bisa ia lakukan, sesekali melamun bermain dengan pikiran kacau menghadapi kenyataan.


"Langkah dan mimpi kita yang searah,


mengapa tak sepaham? Aku bertahan dengan rasa ini untukmu, namun bayangmu kian meredup bersama rasa percaya yang telah hilang. Mimpi itu perlahan pudar untukku, berjalan hampa di tengah kesadaran."


Perusahaan memberikan Ray waktu libur bekerja untuk beristirahat. Hal yang membosankan baginya, karena dalam kesendirian pikiran itu terus berlarut-larut sedih.


Sore hari pukul 17:47


Kriingg...


Kringg...


"Yo, Fen." Ray menjawab panggilan telepon Fendi.


"Assalamualaikum, bukan yo."


"Iya maaf, waalaikumsalam. Kenapa?"


"Mau kabarin aja, aku sama Fii lembur ini ada tugas tambahan di kantor, kemungkinan larut malam kembalinya, jadi baik-baik di kamar ya anak tampan."


"Perhatian kali kau, sayangnya aku gak ada sepupu cewek, kalau ada udah ku kasihkan ke kau Fen."


"Akal-akalanmu itu, udah gitu aja ya, Assalamualaikum"


Tut...tut...tut...(panggilan di tutup)


"Em, makin suntuk lah ini, sendiri bengong di kamar seharian penuh," hela Ray melihat langit-langit kamar.


"Keluar ajalah sendirian malam ini, cari hiburan sedikit, biar isi kepala gak lumpuh," lanjut Ray berdiri dan beranjak dari kasur menuju kamar mandi berbenah diri.


Ketika usai berbenah diri,


"Keluar sendiri ya malam hari ini? ah mungkin kurang begitu menyenangkan gak ada kawan bercanda ria," pikir Ray menatap cermin.


Tanpa sebuah rencana, tanpa tujuan arah.


Ray berjalan dengan sendirinya menuju ke sebuah bar terdekat.


Suara keramaian dari berbagai macam jenis manusia berkumpul menjadi satu. Melihat mereka semua menikmati pesta, segera Ray mencari tempat duduk memesan beberapa jenis minuman.

__ADS_1


"Dengan minum ini setidaknya bisa mengurangi stres."


Glek...Glek...Ahhh.


Sendirian hanya di temani beberapa botol minuman di meja, raut wajah Ray tak ceria sedikitpun. Menghisap rokok menarik nafas membuang asap begitu nikmatnya.


Eiissss...huuuuu...(Hela nafas)


Seorang wanita datang menghampirinya. Bukan hal yang aneh bila beberapa ular mendekati mencoba menggapai mangsa.


"Sendirian saja ni, boleh gabung?" ujar wanita tersebut berada di samping.


Ray tak menghiraukannya, bahkan niat untuk memandang wanita tersebut tidak ada dalam pikirannya. Tetap melamun menunduk sesekali menatap lurus ke penari malam.


"Kok diem aja sih tampan?" ujar kembali sang wanita merangkul Ray duduk di sebelah meski Ray tak menyuruhnya.


"Aku lagi gak pengen di ganggu, sebaiknya kamu cari pasien lain," jelas Ray kembali meminum minuman.


Glek...Glek...Ahhhh


"Suitt..." Siul Ray ke pelayan bar menambah beberapa botol minuman di meja yang kian habis.


"Tapi aku tertariknya sama kamu. Apapun masalah kamu, aku jamin kamu bakalan lupa segalanya nanti."


"Aku harus bilang berapa kali? Malam ini aku ingin sendiri." Kembali meminum.


Glek...Glek.


"Kamu tau kan apa yang aku bilang?" ujar Ray kembali menoleh ke arah wanita tersebut.


Pandangan Ray mulai sedikit buram karena


terlalu banyak minuman yang ia habiskan malam itu. Belum lagi lampu disco berkelap kelip membuat suasana semakin larut dalam kegelapan.


"Mas Ray?" ucap wanita tersebut terkejut.


"Kamu siapa, kenapa tau namaku?"


Bicara Ray mulai tak normal seperti biasa, semakin larut dalam keadaan yang amat memabukkan.


Sedikit mengerutkan alis, Ray menatap wajah wanita itu. Cukup lama memandang sebelum akhirnya ia tertawa nyengir.

__ADS_1


"Yuli...Yuli." Menatap ke depan penari, menoleh kembali tertawa kecil.


"Yuli, kamu itu dimana-mana selalu ada ya," lanjut Ray masih tertawa menghisap kembali rokok di tangan.


"Kok kamu bisa ada di sini mas, kamu lagi ada masalah ya?"


"Gak, gak ada masalah apa-apa, kepengen aja minum-minun kayak gini."


Erggghh......(Sendawa).


"Kalau kamu ada masalah yang berat, ceritain dong mas ke aku, siapa tau aku bisa bantu.


Karena aku tau kamu bukan pemuda pemabuk seperti ini," ujarnya merangkul mengasihani Ray.


"Gak usah sok tau," balas Ray menghempasakan tangan tersebut.


"Kamu sendiri ngapain di sini ha? Jadi biduan malam, iya?" Ray kembali tertawa.


Hahahha...hah ..Uhuk uhuk uhuk.


Yuli hanya menggelengkan kepala melihat kondisi Ray malam itu.


"Aku kerja di sini untuk menyambung hidup di kota mas, jangan kamu pikir aku cewek rendahan."


Layaknya seorang pemabuk, Ray terus mengomel tak berhenti berbicara kepada Yuli. Yuli tetap berada di sebelah menuangkan Ray minuman lebih banyak. Entah apa yang ada di pikiran Yuli malam itu.


Gleek...Ahh


"Keparut kamu Aldo, jangan senang dulu kamu seolah-olah berhasil merebut Alisa dariku," umpat Ray menggenggam keras gelas di tangan.


Glekk..glek..


"Apa masalah kamu ada hubungannya sama si Aldo mas?"


"Asal kamu tau Yuli, dia lelaki murahan yang telah mengambil keuntungan atas kesedihan yang ku alami. Pelayan," ujar Ray memangil langsung membayar minuman.


Ray mulai beranjak berdiri bermaksud meninggalkan Yuli. Namun belum seberapa jauh ia melangkah,


Gedebruukk..


Ray terjatuh di lantai karena mabuk teramat parah, bahkan tak sadar apa saja yang sudah ia bicarakan dengan Yuli.

__ADS_1


***


Sampai sini dulu, masih lanjut selepas makan siang kak. Hehehe makasih...


__ADS_2