
"Kamu gak tau Ray betapa sayangnya ayahku pada Leon."
"Kalau begitu kita hanya perlu bilang jika semua yang terjadi hanya salah paham, Bu."
"Terus kamu berfikir semuanya selesai semudah itu? Perlu kamu tau Ray, jika hati ayahku sedang tidak baik, kemungkinan terburuk apa yang akan ia lakukan di luar nalar."
"Tapi mana mungkin aku bisa menikah dengan kamu, Bu. Kamu tau sendiri jika aku sudah memiliki Alisa dan saat ini Alisa sedang mengandung buah cinta kami," balas Ray panik.
"Kamu pikir aku senang jika menikah denganmu? Jangan karena kamu begitu sempurna memiliki rupa serta gestur yang sangat mirip dengan Leon terus berfikir kalau aku cinta sama kamu," jelas Novi bermain peran.
"Terus apa yang harus aku lakukan, Bu?"
"Saat ini ayahku sedang membuat acara di rumah. Beliau memintaku untuk segera membawa kamu ikut merayakan acara tersebut."
"Ya Tuhan," ucap Ray mendongak mengangkat kedua tangan menutupi wajah.
"Kamu tidak perlu takut, Aku juga gak ingin menikah denganmu. Kita hanya perlu berpura-pura menjalani hubungan dan ketika waktunya tiba tinggal berpisah," jelas Novi menekan nada suara sedikit keras.
Mendengar peryataan Novi, Ray mencoba berfikir tenang tak ingin menimbulkan masalah baru.
"Yaudah kamu tunggu di depan, Aku mau beres-beres sebentar sebelum kita berangkat ke rumah," ucap Novi kembali.
Setelah keluar ruangan, Ray terduduk di halaman parkir mobil sekedar berjemur di bawah terik matahari.
"Ibu?" Melihat panggilan ponsel.
"Halo mak, Assalamualaikum."
"Waalaikum'salam."
"Ada apa mak?"
"Ada apa? Sombong amat anak muda satu ini sekarang ya."
"Maaf mak, bukan gitu. Maksudnya tumben tengah hari udah mainin ponsel."
"Tumben pulak kau bilang. Kalau gak di telepon duluan gak bakal mau kau nelpon ke kampung."
"Maaf lagi mak, pening kepalaku karena kesibukan di kota ini. Belum lagi masalah datang terus silih berganti gak ada habisnya."
"Masalah apa rupanya? Itu karena lupa sama orang tua kandungmu, makanya rumit hidupmu di sana."
"Ampun mak, jangan di kutuk dulu ya. Tapi beneran emang lagi banyak masalah yang terjadi, sampai lupa beri kabar ke kampung kalau Alisa sudah hamil," jelas Ray.
"HAMIL??????"
"Pala terkejut gitu, kan kalau pasangan suami istri dan istrinya hamil itu hal wajar, Mak."
"Pala terkejut pala terkejut, kepala kau itulah. Kabar gembira gitu bisa-bisanya lupa ngasih tau."
"Maaf ketiga kalinya Tante."
"Suka kaulah panggil apa. Jangan lupa jaga baik-baik istrimu. Salam buat mertuamu di sana."
"Iya Bu, sehatkan kabar Ibu ayahku di sana?"
__ADS_1
"Sehat, tapi akhir-akhir ini ayahmu sering ngamuk setelah berdebat sama rombongan orang-orang gitu."
"Berdebat gimana?"
"Kemarin ada beberapa orang kayak preman datang terus menawar semua lahan disini. Nah sebagai orang yang paling di hormati disini, Ayahmu menolak dengan lantang bersama para warga."
"Terus?"
"Ya gak berapa lama gerombolan itu pergi setelah ayahmu mengancam."
"Keren, itu baru jagoan," jelas Ray tertawa kecil.
"Keren pulak kau bilang. Ibu takut kalau terjadi apa-apa sama ayahmu. Kemarin ayahmu maju di baris paling depan, Nak."
"Udah jangan khawatir Bu, jagoan pasti menang tuh."
"Ray, sudah siap berangkat?" sahut Novi menghampiri.
"Siapa itu?" tanya Ibu.
"Bos di tempatku kerja."
"Oh, yaudah kamu bagus-bagus di sana, sehat-sehat jangan lupa selalu sholat biar di permudah langkahmu," ujar Ibu.
"Iya yang di kampung juga ya. Salam buat semuanya karena belum bisa pulang kampung."
"Iya gak apa-apa gak pulang, yang penting mentahannya aja kirim kesini."
"Aman. Yaudah Bu Assalamualaikum."
Setelah menutup panggilan.
"Jadi wanita kok payah senyum, kapan lakunya?" batin Ray menutup pintu berlari masuk bangku kemudi.
Novi terdiam di sepanjang perjalanan sesekali mencuri pandangan. Sikapnya yang labil atau mudah berbalik arah dalam waktu yang sangat singkat, membuat Ray tak mampu menebak arah hati wanita tersebut.
Saling berdiam diri hingga akhirnya tiba di kediaman Novi.
"Ingat, kita hanya perlu berpura-pura. Jangan pernah berfikir kalau perasaanku padamu bakal sama seperti ke Leon!" Tegas Novi ketika mobil memasuki halaman rumah.
"Baguslah kalau begitu," pikir Ray.
"Iya Bu."
Novi menoleh menatap Ray sinis.
"Iya, Novi."
Masih tetap memandang Ray sinis mengerenyitkan alis.
"Kok masih terlihat salah?" pekik Ray kembali.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu bisa berpura mesra."
"Tapi kan ayahmu tau kalau aku ini Ray, bukan seperti Leon yang dia kenal dahulu," lirih Ray mengusap wajah.
__ADS_1
"Yasudah terserah kamu. Berhasil atau gak nya itu tergantung kamu. Aku gak perduli."
"Tunggu." Menarik tangan ketika hendak keluar mobil.
"Apa lagi?"
"Biar aku yang buka, kamu ingin mesra bukan?" Menyengirkan senyuman langsung turun berlari menuju pintu mobil Novi.
Ketika hendak membukakan pintu untuknya, Ray melihat Ayah Novi telah berdiri menanti menatap mereka yang baru tiba.
"Kau belum tau aja masa laluku seperti apa. Hal mudah jika hanya untuk menaklukan tingkah liarmu," batin Ray membuka pintu mengulurkan tangan mengedipkan mata.
"Mesra bukan?" bisik Ray lembut.
Meski terlihat bingung, uluran tangan Ray tersambut dengan pasti oleh Novi dan ia terus menatap Ray penuh tanya.
"Jangan terlihat heran seperti itu, nanti ayahmu curiga," lanjut Ray menatap lurus pandangan berjalan bersama saling bergandeng tangan.
"Heh, dasar cowok, paling pintar ambil kesempatan," balas Novi memalingkan pandangan.
"Kenapa wajahmu memerah?" pekik Ray.
"Berhenti meledek!"
"Romantis sekali pasangan paling serasi tahun ini," sapa Ayah menyambut.
"Ayah," sapa Novi menyalim tangan.
"Om," sahut Ray mengikuti.
"Kedatangan kalian sudah saya tunggu dari tadi, Ayo masuk."
"Mama, Ma..." lanjut Ayah memanggil ibunda Novi.
"Iya Yah."
"Kamu itu dari mana saja, ini loh anak kita udah sampai sama calon lelakinya," lanjut Ayah.
"Ayah, ingat...Jangan terlalu memaksakan pikirannya kembali," pekik Novi berharap sang Ayah tak memberikan Ray tekanan lebih.
"Ini beneran kamu?" sahut Ibu Novi memegang pipi Ray.
"Ma, tadi pagi kan sudah kita bahas," sahut Novi.
"Iya Sayang. Karena begitu senangnya, Mama jadi gak bisa kendaliin diri."
"Maaf om, Tante. Kalau boleh tau nama om dan tante siapa ya?"
"Oh iya, kemarin belum memperkenalkan diri ke kamu ya. Perkenalkan, nama om Deni Sofyan dan ini istri om, namanya Marinka Nastasia."
"Tante kayak bukan orang indo om? Tapi kok lancar bahasa indo ya?"
"Tante kamu ini dari Rusia, dia sudah puluhan tahun menemaniku disini dan takkan ada yang pernah bisa menggantikan dirinya." Merangkul Ibunda Novi.
"Pantesan Novi kayak bule," pikir Ray melirik Novi.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu ya kak, cuma mau bilang makasih. Kritik dan sarannya ditunggu agar author satu ini bisa lebih baik dalam membuat alur kak. Kita lanjut...