Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 74


__ADS_3

"Jadi dia sekarang bisnis narkoba?" batin Ray masih mengintip dari lubang kecil.


"Aduh," cetus Ray ketika semut-semut menggigit menggerubung mata kaki.


"Gawat, keceplosan," batinnya menutup mulut mengintip kembali.


"Selagi mereka belum menyadariku disini, lebih baik aku segera pergi. Sekarang aku tau jika Aldo mafia narkoba," pikir Ray beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Setibanya menghampiri Fendi dan Fii yang berada di balik semak pohon.


"Buruan, ayo," bisik lembut mengajak mereka pergi menuju mobil.


"Akhirnya selamat, gak jadi mati aku," pekik Fendi ketika berada didalam mobil.


"Kalaupun kau mati, gak bakal ada yang nangis sedihnya, " sahut Fii menatap Fendi.


"Gila kau, menangis lah para wanita-wanita di seluruh dunia," pekik Fendi.


"Janda termasuk?" lanjut Fii.


"Ya boleh lah dikit-dikit," singkat Fendi.


Ray segera memutar mobil bergegas pergi menjauh.


"Gimana Ray, ada info tentang pembunuhan ayah mertua?" tanya Fii.


"Belum ada info tentang itu." Menyetir satu tangan sembari tangan kanan memegang kepala bersandar.


"Jadi sia-sia kita ini belum dapat info yang jelas?" sahut Fendi.


"Ya gak sia-sia kali juga. Aldo sekarang jadi bandar narkoba," cetus Ray singkat.


"Amak, hebat kali anak itu, maju kemajuan kali dia ku tengok," pekik Fii.


"Berarti dia tadi transaksi narkoba di desa itu, Ray?" sahut Fendi.


"Begitulah."


"Mau di rusaknya generasi penerus bangsa ini? Kita laporkan aja," ujar Fendi kembali.


"Gak ada bukti apapun samaku, kondisinya sulit tadi jadi cuma bisa tau itu aja."


"Terus gimana cara kita buat...ah bingung," sahut Fii menyandarkan tubuh berbaring di bangku tengah mobil.


"Sekarang kita lebih baik kembali dulu sambil memikirkan cara menggagalkan rencana Aldo tersebut. Tindakan dirinya gak bisa di toleransi lagi. Kasian pemuda-pemuda tersebut jika masuk ke dunia hitam," jelas Ray sembari menghidupkan rokok.


"Buka kaca itu Ray, mati kami nanti sesak kenak asap rokokmu," sahut Fii.


Disisi lain Aldo 5 menit sebelum Ray bergegas.


***


"Sebentar lagi aku akan kaya raya sama seperti pamanku dan dengan begitu aku bisa melakukan apapun yang ku mau. Seperti ketika membunuh ayah Alisa dan akan terus membuatnya merasakan apa itu sakit. Hahaha." Terbahak bersaut-sautan dengan para anggota.


Tok tok..


"Permisi Tuan," ucap salah satu penjaga pintu gudang depan menghampiri.


"Ha, kenapa?"


"Tadi aku melihat mobil memutar arah dari seberang sana, sepertinya mobil tersebut telah berhenti lama disitu."


"Goblok, kenapa gak di hampiri tuh mobil dari tadi di pastikan itu siapa!"


"Tapi kan, mungkin aja orang pacaran, Tuan," ujarnya menunduk.


"Pacaran apa ditengah kebun sepi begini dekat gudang tua, ha?"

__ADS_1


"Kan musimnya sekarang begitu, Tuan. Pacaran di kebun-kebun pisang mainin pisang."


"Sekali lagi meledek, pecah kepalamu!"


"Maaf Tuan, tapi mereka belum terlalu jauh, mungkin kita bisa mengejar hanya untuk memastikan siapa mereka. Lagian dengan kondisi jalanan panjang sepi pasti bisa terkejar, Tuan."


"Yasudah kita cabut, kejar mobil itu!"


***


"Ray, kami nginep tempatmu lagi ya? Pasti sampai tempat rumahmu udah jam 1 malam," ujar Fendi.


"Yaudah kalau mau."


"Mobil siapa itu, perasaan cuma kita aja dri tadi," lanjut Ray melirik cahaya silau dari kaca spion mobil.


Fii yang sedang berbaring langsung bangun menoleh kebelakang.


"Ray, kebut Ray, pasti itu rombongan Aldo," ucap Fii menepuk-nepuk bahu Ray.


"Sial!"


Ray memacu laju mobil secepat mungkin, namun kondisi jalanan desa yang tak sebagus jalanan kota membuat laju mobil mereka begitu berantakan.


Hanya berjarak sekitar 100 meter untuk berhasil menyusul.


"Ampuni dosa-dosa ku Tuhan, jangan ambil nyawaku dulu, Aku masih muda belum menikah," ujar Fendi mengangkat kedua tangan.


"Tapi, kalau di pikir-pikir apa gak sebaiknya kita lawan aja, Ray?" sahut Fii mendekat.


"Setiap dari mereka dibekali senjata, dari segi manapun kita melawan, tipis kemungkinan kita berhasil menang," jelas Ray masih memacu mobil.


Bermain kejar-kejaran hingga akhirnya berhasil keluar dari jalanan sepi nan panjang di pedesaan memasuki keramaian kota.


"Bagus Ray, pijak terus gas itu dalam-dalam," sahut Fendi kembali.


"Kau gak takut rupanya? Orang itu ada pistol, kita gak ada," gumam Fendi.


"Ya takut juga sih," lirih Fii.


Masih terus berjalan sesekali melirik spion mobil melihat seberapa jauh jarak antara dirinya dengan rombongan Aldo.


"Udah jangan khawatir. Dalam kondisi seperti ini, mereka gak akan melakukan hal yang bodoh," singkat Ray.


Menyalip truk besar langsung mengambil belokan kiri, memacu terus laju mobil.


"Mereka udah gak terlihat lagi, Ray," ucap Fii menoleh kebelakang.


Disisi lain Aldo bersama rombongan.


"Jejak mereka menghilang, Tuan."


"Sial, sial, sial!"


"Tenang dulu Tuan, mungkin benar apa kata Erik tadi, mungkin bukan siapa-siapa," ujar Alfred.


"Yasudah, lupakan saja siapa mereka. Lebih baik sekarang kita kembali ke markas menghadap Bos."


"Baik, Tuan."


Setelah suasana cukup tenqng berbaur dalam keramaian kota.


"Ray, kau gak lapar? Dari tadi kan gak ada makan siang," ujar Fendi.


"Laparnya sih enggak, cuma agak mengisap aja lambung dalam perut."


"Yok, kita cari makan buat nipu cacing perut," lanjut Fendi kembali.

__ADS_1


"Makan aja tau kau itu, ayok lah," sahut Fii.


Memarkirkan mobil ketika menemukan resto, segera turun langsung memesan menu makanan.


"Selamat menikmati," ujar pelayan resto.


"Makasih, boleh juga mbak ni," ucap Fendi memandang pelayan berjalan menjauh.


"Kalau kau ah, ku kasih tau Erlin baru tau rasa," sahut Fii.


"Iri bilang Bos?"


Selesai menyantap pelipur lapar, kembali berjalan menuju mobil.


"Ah, perut kenyang hati pun senang." Fendi memasuki mobil.


Melanjutkan perjalanan kembali menempuh jarak sekitar kurang lebih 3 jam untuk sampai di rumah.


Setibanya di rumah.


"Bangun bangun. Fen, he, bangun," ucap Ray membangunkan Fendi yang tertidur di samping. Sedang Fii tertidur pulas di bangku tengah.


"Em..." Fendi mengucek bola mata.


"Bangun. Ini kuncinya, bukain pintu gerbang." Ray memberikan kunci pagar.


"Ngantuk kali aku loh, Fii ngapa suruh," cetusnya kembali.


"Bangun gak? Jangan sampai ku tabrakan ini mobil ke gerbang."


"Ya udah tabrakan ajalah, Ray." Fendi memejamkan mata kembali.


"Memanglah, kalau aku jadi Izrail, udah pada tak cabut nyawa kalian," gerutu Ray keluar membuka gerbang rumah.


Memasukan mobil, kembali menutup mengunci gerbang. Berjalan masuk kedalam rumah membiarkan Fendi dan Fii yang tertidur di dalam mobil. Mengambil kunci rumah di tas kecil segera membuka pintu masuk.


Ceklek.


"Sayang?" Melihat Alisa tertidur lelah di sofa ruang tamu berjalan menghampiri.


"Maaf karena membuatmu menunggu seperti ini ya," lanjut Ray mencium kening Alisa.


"Em, Mas." Terbangun mengerenyitkan pandangan.


"Kamu sudah pulang," lanjutnya kembali mulai duduk dengan rambut berantakan, sementara Ray jongkok memandang Alisa begitu dekat.


"Iya, biar aku gendong pindah ke kamar ya, Sayang." Berdiri langsung mengangkat tubuh Alisa.


"Mas, malu ah."


"Kenapa Malu? Hanya ada kita berdua disini."


"Loh, Fendi sama Fii mana? Bukannya seharian bareng kamu?"


"Ada, tuh di mobil depan pada tidur."


"Kenapa gak kamu bangunin terus suruh masuk mas? kasihan mereka loh."


"Biarin ajalah." Berjalan memasuki kamar masih menggendong Alisa di pangkuan depan.


"Eaahh." Membaringkan Alisa di ranjang, berjalan menuju lemari pakaian.


"Mas, kamu seharian ini terlihat sibuk bener, lagi ngerjain apasih?" ujar Alisa memandang Ray melepas baju menghadap cermin.


***


Sampai disini dulu kak, jangan lupa makan siang pake cendol dawet. lanjut...

__ADS_1


__ADS_2