Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 95


__ADS_3

"Fii, udah jangan terus memojokkan seperti itu, kita gak bakal tau apa yang dirasakan dia karena kita belum pernah merasakan posisi itu," sahut Fendi mencoba menenangkan Fii.


"Bukanya kami gak mau mati bersama kau Ray, tapi aku masih perduli sama Alisa juga anakmu. Kita bukan jiwa muda lagi yang bebas melakukan apapun tanpa berfikir. Jangan sifat gila kita aja yang kita pentingkan sedang sifat gila orang lain kita kantongi," ketus Fii menyandarkan tubuh ke jendela mobil.


"Kalau tadi kita semua belum ada hal yang harus di pikirkan, Aku paling depan maju membunuh bajingan itu. Mana mungkin aku bisa membiarkanmu mati, Ray," lirih Fii mata berkaca.


"Udalah, akhiri perdebatan ini. Semua yang kau bilang itu memang benar, Fii. Tapi dalam kondisi seperti ini, Ray juga gak salah. Yang terpenting sekarang itu kita harus hati-hati bersiap untuk menghadapi jika dia menyerang balik," sahut Fendi kembali.


"Maaf karena telah membantuku kalian jadi berantakan seperti ini," pekik Ray.


"Ngomong apa sih kau, mana mungkin kami tinggal diam saat satu diantara kita tersakiti. Kalaupun tadi terjadi hal mengerikan samamu, ku pastikan mati mereka semua," jelas Fendi.


"Sekarang salaman dulu kalian cepat, jangan sampai marah aku ini," lanjut Fendi menoleh menatap Ray seketika juga menatap Fii.


"Terimakasih buat kalian berdua yang telah begitu memperdulikanku. Maaf kalau egois ini kadang tak terkendali," jelaa Ray menghela nafas perlahan.


"Aku juga sama Ray, maaf kalau tadi sedikit keras sama kau," jawab Fii.


Perdebatan kecil di dalam mobil usai ketika saling menempelkan kepalan tangan.


"Nah gitu kan bagus, seperti ini harusnya. Tapi," ujar Fendi bingung.


"Tapi apa?" tanya Fii.


"Gak mungkin kita ngantor pakai baju robek kek gembel gini kan?" jawab Fendi.


"Iya juga sih." Fii menggaruk kepala.


"Shoping lah, apalagi?" Fendi mengambil dompet di saku.


"Ketinggalan pulak isinya ini," lanjut Fendi nyengir.


"Bukan ketinggalan, tapi mang pada melarikan diri takut kenak bacok sama gambar pegang pedang itu," sahut Fii.


"Ray," lirih Fendi.


"Iya nanti ku pinjami, tapi jangan beli yang mahal-mahal. Dana segar bulan ini belum cair."


"Iya iya paham aku."


Setelah membeli beberapa baju, langsung bergegas ke kantor.


Disisi lain Aldo.


"Ingat, jangan buat keributan lagi." kecam Polisi berlalu pergi bersama para warga.


"Tuan baik-baik saja?"


"AHH!" Melepaskan genggaman Alfred menopang tubuh.


"Siapa lagi sih ini, menganggu saja," pekik Aldo mengambil ponsel berdering di saku.


"Paman?" Mengangkat panggilan telepon.


"Halo, Paman."


"Kamu dimana?"


"Ini baru selesai sarapan, ada apa Paman?"


"Temui aku sekarang di tempat biasa, ada yang harus kamu lakukan."


"Baik Paman." Menutup panggilan tersebut.

__ADS_1


"Cabut."


"Dek uang sarapannya?" ujar penjual mendekati.


"AHHHH!" Menendang kursi yang terjatuh tak menghiraukan berlalu menuju ruang pribadi Robi.


Ketika sampai.


"Permisi Paman." Menutup pintu berjalan menghampiri.


"Duduk." Robi mempersilahkan.


"Sepertinya ada hal yang cukup penting, Paman."


"Tadi aku mendapat laporan dari Bowo bahwa ia mendapat kesulitan menghadapi warga desa yang menolak lahan mereka di jual padaku. Aku ingin kamu mengambil alih tugasnya dan pastikan kamu berhasil."


"Desa?"


"Ya, desa ini memiliki potensi yang cukup bagus untuk di jadikan pusat perjudian terbesar."


"Apakah tidak bermasalah dengan ijin setempat, Paman?"


"Aldo, Aldo. Kamu lupa siapa aku? Kepala petinggi aparat di sana sudah dalam kendaliku. Kamu hanya perlu menjalankan tugasmu saja."


"Baik, Paman. Kalau begitu aku akan menanyakan lokasi titik tersebut pada Bowo," jawab Aldo berdiri.


"Ingat, apapun yang terjadi kamu harus berhasil. Satu lagi, beri pelajaran padanya karena gagal menjalankan perintah dariku."


"Baik, Paman."


Meninggalkan ruangan tersebut, segera menemui Bowo yang terduduk gelisah di ruang tunggu.


"Dimana letak desa tersebut?" Berhenti di hadapan Bowo yang menatapnya sinis.


"Aldo. Hanya karena kamu ponakan dari Bos, jalanmu di sini begitu mulus," sindir Bowo memalingkan pandangan.


PLAK.... (Melepaskan cengkraman Aldo).


"Jangan menganggapku seperti bocah. Aku lebih dulu berada disini jauh sebelum kau!" Bentak Bowo menunjuk wajah Aldo.


"Kau itu cacat, mengurus hal seperti itu saja tidak mampu dan sekarang lihat sendiri kan? Aku yang harus membantu menyelesaikan tugasmu. Satu lagi, ikutin perintahku."


"Cuih, sampai kapanpun itu gak bakal pernah terjadi," pekik Bowo.


"Oh, kau ingin membantah? Ok." Mengangkat kedua tangan memberi kode pada Alfred dan Erick untuk menyekap tubuh Bowo ke dinding.


"Arghh, lepasin, lepas bangsat."


"Sebentar," jawab Aldo mengambil rokok langsung memantikkan api.


Uissh....Huu.... (Menghisap menghembuskan asap ke wajah Bowo).


"Ehg, bangsat."


"Ini kan yang kau mau?" lanjut Aldo menyodorkan perlahan api rokok ke arah matanya.


"Kau mau buat apa hah, bangsat, mau apa kau," pekik Bowo panik.


"Kenapa takut begitu? Mana mata kamu yang sok ganas tadi?"


"Jauhkan tanganmu dari wajahku, brengsek!"


AHHHH....... (Teriak Bowo merasakan bara rokok di mata kirinya).

__ADS_1


"Rasakan itu, Anjing!"


"AHH...."


"Terus saja menolak perintahku, sekarang tinggal mata kananmu." Memantikan api menyalakn rokok kembali.


"Ampun, cukup," lirih Bowo mendengkus keras.


"Apa? Kamu bilang apa, Tuan?" tanya Aldo meledek mendekatkan telinga ke bibir Bowo.


"Ampun," lirih Bowo begitu tipis.


"Oh masih menolak." Kembali memegang wajah Bowo menghadap padanya.


"Ampun, Akan aku turuti semua perintahmu," jelas Bowo merasakan sakit darah mengalir di mata kirinya.


"Jika kau mengkhianatiku, hidupmu beserta keluargamu akan ku bantai," pekik Aldo mengecam Bowo.


"Lepaskan," lanjut Aldo memberi perintah.


Bowo jatuh terduduk di lantai memegang mata kiri meringis keras.


"Segera obati lukamu, Aku tunggu di mobil. Cabut." Meninggalkan Bowo yang masih meratapi penyiksaan tersebut.


20 menit kemudian Bowo kembali menghampiri Aldo.


"Nah kalau menurut seperti ini kan mata kiri itu gak bakal hilang tadi," ujar Aldo meledek penutup mata kiri Bowo.


"Cabut," lanjutnya kembali memberi perintah.


Aldo pergi menuju desa yang dimaksud oleh Robi dengan Bowo sebagai petunjuk arah tersebut.


Disisi lain Ray yang sedang berduduk santai di sebuah kantin.


"Ray, kamu di panggil ke ruangan Bu Novi," ujar Elly menghampiri.


Mengangguk tersenyum pada Elly, langsung berdiri menuju ruangan Novi.


"Permisi." Membuka pintu menutup kembali.


"Ibu panggil saya?"


"Duduk."


"Kamu tau apa yang telah kamu ucapkan pada ayahku kemarin?"


"Maaf Bu."


"Kenapa kamu harus menjawab seperti itu?"


"Aku hanya berfikir bagaimana cara agar nyawaku selamat, Bu."


"Kamu pikir ayahku seseorang yang gampang membunuh orang lain?" Novi menaikan nada bicara.


"Maaf Bu." Menundukkan pandangan.


"Sekarang semua menjadi rumit, kamu belum mengenal sikap ayahku seperti apa. Jika dia menginginkan sesuatu, semua yang ia katakan harus terjadi," pekik Novi.


"Contohnya Bu?"


"Bagaimana jika dia menginginkan kamu segera menikahi aku?" jelas Novi menghela nafas.


"MENIKAH?"

__ADS_1


***


Sampai disini dulu kak, makasih dah terus lanjut bacanya. Lanjut kak....


__ADS_2