
Keesokan paginya.
"Apa yang mereka lakukan?" pekik Ray melihat sekelompok lelaki dari sisi jendela rumah menyebarkan selembaran kertas secara berserakan.
Tak lama setelahnya gerombolan tersebut berlalu pergi. Tak ingin mengulur waktu yang ada, dengan cepat Ray mengambil lembaran tersebut.
"BRENGSEK!" Kecam Ray membaca isi pengumuman tersebut.
Kertas itu berisikan wajah Indra, Ilham, serta petinggi desa yang akan di eksekusi secara umum dengan alasan pemberontak.
"Ray, kenapa terlihat begitu cemas?" ucap Budi berjalan mendekati.
"Sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai." Memberikan selembaran kertas tersebut dengan cepat bergegas menuju tempat yang tertera.
"Tetaplah berfikir tenang, jangan gegabah, Ray."
Melihat Ray pergi tergesa-gesa, Budi segera mengikutinya dengan persiapan yang cukup tenang.
Setibanya sampai di lokasi tersebut, Ray langsung memperpendek jarak.
Dengan tangan terikat rantai tertunduk sejajar, para sandera bersiap menerima eksekusi di saksikan para penduduk desa yang tak bisa berbuat apa-apa.
"Lihat ini baik-baik para sialan! Nasib kalian akan sama seperti mereka jika berani melawan kami!" seru pemimpin gerombolan tersebut.
"Bajingan!" gumam Ray berdiam diri dalam kerumunan warga.
Budi yang berhasil menyusul Ray, menepuk bahu sembari menggelengkan kepala bermaksud mencegah perbuatan sia-sia. Budi juga memberikan sebuah pisau untuknya jika keadaan semakin mencekam.
"Hoi, bawa mereka satu persatu ke hadapanku." Teriak pemimpin tersebut.
"Siap, Bos." Berlari mendekati para sandera menuntunya berjalan.
"Indra!" batin Ray.
Ray yang cukup terkejut melihat Indra tersenyum menatap kerumunan warga dengan wajah babak belur, lengan kanannya kian bergetar tak berhenti.
"Ayo cepat." Menyepak Indra membuat tubuhnya bertekuk lutut.
"Gimana sekarang? Sudah menyesal dengan apa yang kalian lakukan?" Pekik sang pemimpin.
Tak membalas perkataan sang pemimpin, justru wajah Indra terlihat menyepelekannya.
"Masih bisa tersenyum menjijikan seperti itu?" lanjut sang pemimpin menapakkan kaki di atas kepala Indra.
"Bajiangan sepertimu, takkan pernah bisa hidup dengan damai. Setidaknya akan ku tunggu walau di akhirat!" pekik Indra kembali tersenyum.
"Omong kosong!"
Bruakkkk!!!
Mendapat sepakkan membuat tubuh indra tersungkur lemah.
"Ayo bangun," lanjut anggota memaksa indra kembali bertekuk lutut.
"Ucapkan salam terakhirmu sebelum kau mati akibat perbuatan konyolmu sendiri. Haha..haha," seru eksekutor menodongkan pistol tepat di hadapan Indra yang menunduk lemah.
Ketika hendak menembakkan pistol tersebut...
__ADS_1
"AYAAH!"
"Hem, siapa itu?" pekik pemimpin melirik kerumunan warga yang terdiam menyaksikan eksekusi.
"LEPASKAN AYAHKU!"
Terdengar rintihan keras seorang gadis kecil dari kejauhan.
"AYAH!!!!!"
Menangis begitu kuatnya berlari, terjatuh, bangkit kembali terjatuh lagi bangkit dan berlari kembali.
"Mungkinkah?" panik Ray menduga jika anak tersebut buah hati Indra.
Budi yang mengetahui hal itu langsung berlari menuju gadis kecil tersebut dengan cepat menghentikan lajunya.
"AYAH.....AYAH JANGAN PERGI, AYAH!!!"
Cucuran air mata seorang gadis kecil membuat seluruh penduduk desa tak sanggup membendung perasaan sedih.
"Hana!" Teriak Indra melihat putri kecilnya menangis histeris.
"Hoooh, kisah yang sangat harmonis sekali bukan? Dengarlah wahai anak buahku, jika ada dari mereka yang mencoba melewati garis tersebut, kalian bebas menghabisi nyawa siapapun!" jelas sang pemimpin kembali mengambil langkah sedikit menjauh bersiap menembak.
"AYYYAAAAAAAAAAAH."
DORRR!!!
GEDEBRUK!!!!!! (Tubuh Indra tersungkur menerima luka timah besi).
"HANA!" Teriak Budi memintanya berhenti berlari.
"Haha...haha...haha...haha.." (Para bajingan tertawa saling bersaut-sautan).
"A...Ayah....A...yah." Berhenti tepat di depan tubuh Indra.
"Ayah, Ayah bangun, ini Hana, Ayah bangun yah, kita pulang yah, Ayah, Ayah," lirih Hana memeluk tubuh Indra berlumuran darah.
Dengan nafas mulai melemah, Indra tersenyum tipis tak sanggup berucap meski hatinya ingin sekali menyapa sang putri.
"Ayah...Jangan pergi, Hana cuma punya Ayah, Hana gak ingin Ayah pergi menyusul Bunda," lanjut Hana mengelus lembut pipi Indra membasahi wajah indra dengan air mata sucinya.
Melihat adegan tersebut, tentu saja sang pemimpin berniat membuat hal yang lebih keji.
"Hoooh, kalau begitu sekalian saja matilah bersama ayahmu!" pekik pemimpin itu kembali mengangkat pistol mengarah ke tubuh Hana.
Dengan wajah sendu yang pilu, Hana melirik menatap benci wajah sang pemimpin.
"Kalian apakan ayahku! Kembalikan ayahku!"
"Masih kecil sudah berani menantangku? Kamu bisa apa?" ejek sang pemimpin menurunkan pistol mendekatkan wajahnya menatap Hana.
"Cuihhh!" Meludahi wajah pemimpin tersebut.
PLAKK!!!! (Tampar keras sang pemimpin membuat tubuh mungil Hana terkapar).
"Berani sekali, dasar anak tidak tau diri!" Mengangkat kembali pistol menodongkan ke arah tubuh hana.
__ADS_1
"SIAL!!" Ray berlari menuju Hana bermaksud melindungi tubuhnya.
DORR!!!!
Suara tembakan terdengar cukup keras membuat Ray menutup mata mendekap tubuh mungil Hana.
"Ray........" pekik Budi terlambat menarik tubuh Ray yang berlari kencang.
"KETUA!!!" Teriak para gerombolan.
"Loh, Kok, Aku selamat?" batin Ray membuka mata tidak merasakan sakit di tubuhnya.
"Kamu gak apa-apa?" lanjut Ray melepas dekapan Hana kemudian menoleh ke belakang melihat pemimpin tersebut justru tersungkur bersimbah darah.
"Siapa yang melakukan ini!!" Teriak salah satu anggota bangkit berdiri menghujani tembakan ke atas membubarkan kerumunan warga.
Warga yang panik akan hal tersebut, berlarian berlalu lalang meninggalkan lokasi eksekusi.
Tak lama kemudian...
DORR!!!!
DORR!!!
Dua anggota komplotan tersebut kembali tewas. Melihat kesempatan itu, Budi tak menyiakan peluang yang ada, dengan sigap mengambil beberapa pistol dari tangan komplotan yang telah terbunuh.
"Ray..." lanjut Budi melemparkan pistol ke arah Ray.
"Selamatkan dia dan bawa pergi dari sini ke tempat yang aman. Aku akan pergu menyelamatkan mereka," jelas Budi menyuruh Ray membawa Indra juga Hana menuju rumah kosong, sedang ia bermaksud membebaskan tahanan lainnya.
"ITU MEREKA, HABISI!" Teriak salah satu komplotan melihat pembunuh pemimpin mereka bersembunyi di area atas gedung.
Baku tembak antara kedua komplotan tersebut tak terelakan lagi.
Ray yang berhasil membawa Indra serta Hana ke tempat yang lebih aman mencoba memberikan pertolongan seadanya.
"Ha-ha....hana," lirih Indra ketika Ray menyandarkan tubuhnya yang masih bernafas lemah.
"Ayah..." balas Hana mendekap memeluk tubuh Indra.
Tak lama kemudian, Budi berhasil menyusul.
"Ray, bantu aku," ujar Budi berdiri di depan pintu menopang tubuh Ilham diikuti sandera lainnya.
Dengan sigap Ray membantu para sandera tersebut, menyediakan tempat membaringkan beberapa tubuh yang lemah.
"Siapa mereka?" tanya Ray bingung melihat kedua komplotan yang sedang bertarung berbalas tembakan.
"Siapapun mereka, terimakasih karena telah menyelamatkan Indra dan lainnya," jelas Budi.
"Tunggulah disini," lanjut Ray berdiri menuju pintu luar.
***
Sampai disini dulu ya kak, terimakasih buat yang masih tetap ikuti kisah ini, ntar lebaran otor give indomie goreng rasa cendol dawet yak. Satu lagi, otor lagi iseng-iseng kedepannya tiap bab bakal buat quotes sendiri. Kita lanjut...
__ADS_1