Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 70


__ADS_3

Malam telah berlalu, pemakaman ayah telah selesai. Kebahagian yang kian sirna merasakan kehilangan sang ayah perlahan mulai bangkit kembali.


Suasana duka yang masih menyelimuti keluarga tersebut, Aldo hadir lengkap dengan membawa beberapa anggota yang menemani dirinya.


Di dalam ruang tamu kediaman keluarga Alisa.


"Turut berdukacita atas wafatnya beliau, semoga pelaku bisa secepatnya tertangkap," ujar Aldo mengulurkan tangan ke arah Ray juga Lisa.


Menahan kesal ingin langsung memukul wajah Aldo ketika tersenyum licik, Alisa memegang lengan kiri Ray menatapnya sembari menggelengkan kepala.


Alisa mengerti jika Ray begitu ingin menghajar Aldo habis-habisan meski tak ada bukti bahwa Aldo pelaku tersebut, Ray cukup yakin. Mengingat kembali suasana kala itu sedang berduka, jika Ray membuat keributan besar, maka hal buruk yang baru pasti akan terjadi.


"Maaf karena kehadiran diriku membuat suasana menjadi tegang seperti ini." Aldo menarik uluran tangannya kembali.


"Berhenti berpura-pura seperti orang bodoh. Suatu saat kebenaran itu pasti akan terungkap," pekik Ray menatap sinis Aldo.


"Tunggu tunggu, jangan bilang kau menuduhku, Ray?" Tertawa kecil menggelengkan kepala.


"Akui saja. Apa harus aku melakukan hal yang sama yang telah menimpa ayahku?" balas Ray kembali menggesekan gigi.


"Mas, cukup Mas," lirih Alisa bernada tipis.


"Kamu tenang sayang, Aku gak akan melakukan hal yang bodoh," lanjut Ray mengelus kepala Alisa tersenyum tipis.


Ray menatap kembali kearah Aldo berdiri bersama para anggotanya, "Lebih baik sekarang kamu pergi karena emosi diri ini tak terkendali melihat wajah busukmu. Aku harap kau mengerti."


"Ok, baik, Saya akan pergi," jawab Aldo berbalik badan meninggalkan suasana duka kala itu.


Melihatnya perlahan semakin menjauh, terduduk kembali bersama Alisa. Kerumunan yang tadinya ramai telah berlalu. Dalam sekejap hanya meyisahkan beberapa saja diantaranya Fendi, Fii, Mia dan Erlin yang senantiasa selalu menemani.


Alisa berjalan menghampiri sang Ibu.


"Bu, sebaiknya istirahat saja dulu ya, tubuh Ibu begitu lelah, Lisa gak ingin Ibu sakit." Menggenggam kedua tangan ibu yang terduduk menundukkan pandangan.


"Ibu baik-baik saja Lisa, Ibu kuat," balas Ibu tersenyum menghapus linangan air mata.


Alisa kembali memeluk sang Ibu yang berusaha tampil tetap tegar.


"Begitulah seorang ibu, badai besar sekalipun mampu ia hadapi meski tubuhnya terlihat lelah," batin Ray menatap Alisa yang masih memeluk ibu.


Alisa menuntun Ibu berjalan menuju kamar untuk beristirahat. Sedang Ray berdiri terdiam memikirkan cara tuk membuktikan firasatnya jika Aldo adalah orang yang telah membunuh sang ayah.


"Tapi bagaimana caranya? Apa yang harus ku lakukan agar bisa membuktikan kalau Aldo adalah dalang pembunuhan ayah," pikir Ray menggigit jari terduduk di sofa.

__ADS_1


"Jangan terus melamun seperti itu, gak baik. Jika ada yang menggangu pikiranmu, katakan pada kami," ujar Fendi berdiri di hadapan Ray.


Mendongak keatas, menunduk kembali, "Aku baik-baik aja, cuma sedikit khawatir akan Alisa."


"Dari dulu begitulah sifatmu, selalu menanggung semua beban sendirian." Fendi berlalu kembali melanjutkan kegiatan mengangkat gelas serta piring kotor ke dapur.


Ray melamun menatap kosong kearah Fii yang membantu menyapu ruang tamu.


"Pasti ibu tau dengan siapa ayah berseteru sebelumnya," batin Ray.


"Tapi gak mungkin aku menanyakan hal tersebut di saat suasana masih seperti ini," pikir Ray kembali terduduk.


"Yang sabar dan tabah atas musibah yang terjadi." Kerabat-kerabat ayah mengulurkan tangan menepuk bahu Ray berpamitan.


"Terimakasih telah hadir, Pak."


"Kami kembali dulu," ucap kembali salah satu rekan bisnis ayah.


"Hati-hati, Pak."


Suasana sekitar telah sepi, tanpa terasa matahari tenggelam menutup sinarnya.


"Kalian gak pulang?" lanjut Ray menatap Fendi dan Fii yang telah selesai membantu membersihkan ruangan.


"Kami sepakat akan menemani kau supaya bisa membantu menghilangkan gelisah dalam pikiranmu," sahut Fii.


"Terimakasih telah perduli padaku, tapi kalian juga butuh istirahat. Seharian kemarin kalian berdua berdiri tegak mendampingi sampai semuanya selesai."


"Gak apa-apa, jangan terlalu mempermasalahkan hal itu. Ingat gak ketika dulu kita pernah bertukar minum dari satu gelas ketika pertama kali makan malam?" lanjut Fendi.


"Iya, ingat," singkat Ray.


"Saat itu kita telah sepakat menjadi saudara meminum dari satu gelas secara bergantian," jelas Fendi kembali.


"Suka, duka, tawa, tangis, senang dan susah akan kita lalui bersama, bahkan akan selalu saling melindungi meski nyawa ini taruhannya," sahut Fii mengepal tangan.


"Iya, iya. Yasudah sebaiknya kalian mandi berbenah diri dahulu, lepas itu kita makan bersama," pungkas Ray menyandarkan kepala di sofa merentangkan kedua tangan menatap langit-langit ruangan.


Tak lama setelahnya, Mia dan Erlin keluar dari kamar Alisa menuruni tangga berjalan menghampiri Ray.


"Kami pamit kembali dulu ya," ujar Erlin.


"Apa gak sebaiknya makan bersama dulu? Fendi dan Fii lagi berbenah diri, siapa yang mengantar kalian?"

__ADS_1


"Makasih tawarannya, tapi kita gak apa-apa kok pulang berdua, sudah biasa," sahut Mia.


"Yaudah kalau begitu terimakasih telah menemani Alisa," balas Ray berdiri.


"Udah seharusnya begitu, jangan terlalu asing kali," lanjut Erlin kembali.


"Hati-hati," singkat Ray terduduk kembali ketika Mia dan Erlin berlalu pergi.


Di sisi lain, Aldo telah berbincang-bincang dengan sang paman dalam ruangan pribadi.


"Sekarang gimana perasaanmu, sudah cukup puas?" ujar Robi.


"Belum paman, penderitaan mereka baru dimulai. Aku ingin membuat mereka jauh menderita lebih dalam lagi."


"Kamu itu, sama seperti ayahmu semasa hidup. Jika menginginkan sesuatu harus benar-benar sampai puas."


"Biar mereka tau atas rasa sakit yang ku alami, Paman."


Tok tok tok.


"Permisi, Bos," ujar salah satu anggota memasuki ruangan khusus.


"Ada apa?"


"Tahanan wanita yang kita kumpulkan telah cukup untuk segera kita kirim ke negara tetangga mengingat banyaknya permintaan pasar."


"Segera kirim mereka dan pastikan semua administrasi telah selesai sesuai kesepakatan."


"Baik, Bos." Berlalu pergi meninggalka Aldo dengan Robi.


"Biasalah, para wanita muda yang segar cukup bagus diminati pasar saat ini," cetus Robi memantik api menghidupkan rokok.


Huuuuu.... (Menghela nafas berisi asap rokok).


"Perdagangan ilegal seperti ini bukankah beresiko cukup besar, Paman?"


"Kalau resiko itu tergantung seberapa hebat kita bermain, Aldo. Selagi kamu punya uang, hukum sekalipun bisa kamu beli. Ingat, uang mengatur semuanya dan hanya dengan uang, kamu bisa meraih kebahagiaan sepenuhnya." Tersenyum tipis menatap Aldo.


Mendengar peryataan tersebut, Aldo semakin optimis akan jalan kebenaran yang ia tempuh.


***


Done ya kak, sampai disini dulu sementara, jangan lupa fav komen apalah itu semua, mau beri beras boleh, pisang boleh juga boleh kak, yang paling utama itu tetap memantau mengikuti alur ini kak, makasih. Kita lanjut...

__ADS_1


__ADS_2