Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 113


__ADS_3

"Sekarang wajah yang mulia Rina pasti merah padam! Kalau cowok yang melindunginya sampai keluar darah bicara begitu, dia pasti bakal takluk," lanjut Rama berjalan menjauh.


"Untung aku sempat baca novelnya bang Ray, pasti bisa! Meski berbohong ke panutanku dalam hal cinta, itu tidaklah masalah. Sekarang tinggal bikin Rina makin suka samaku," jelas Rama penuh percaya diri.


Terus berjalan menuju taman sekolah berfikir mengatur siasat baru.


"Berikutnya aku perlu nomor ponselnya. Meski belum pernah meminta nomor wanita, sepertinya bukan suatu masalah yang sulit. Setelah berhasil membuatnya jatuh cinta, baru akan ku beri pelajaran!" pekik Rama kembali terduduk di ayunan taman.


"Rama! Apa sebenarnya yang kau inginkan dari Rina?" ujar seorang perempuan dari belakang tubuhnya.


"Eh." Menoleh sedikit demi sedikit.


"Rini?" cetus Rama.


"Kenapa wajahnya terlihat begitu marah? Bicaranya juga berbeda dengan yang sebelumnya," pikir Rama.


"Dari dulu, nenek moyangku telah turun temurun bekerja melayani keluarga Rina. Sudah ratusan tahun kami melayaninya."


"Berarti dia anak buah setianya Rina, sial! Bagi Cinderella, Rina bukanlah ibu tiri yang kejam, tapi majikan buat di layani. Habis sudah riwayatku, Aku tertipu sama pembawaannya yang mirip Cinderella," batinkm Rama berdiri menatap Rini.


"Silahkan kalau mau tertawa. Aku hanya ingin memberi pelajaran ke wanita itu bagaimana rasanya di perlakukan seperti para korbannya," ujar Rama menunduk kembali duduk.


"Tidak masalah, mau diteruskan?" balas Rini berjalan mendekati Rama.


"Kalau perlu biar aku bantu," bisik Rini lembut.


"Sebenarnya apa yang ada di kepala anak ini? Aku masih belum bisa percaya dengannya, siapa tau ini jebakan," pikir Rama kembali melirik.


Setelah mengetahui sikap asli Rini, bel sekolah berbunyi, segera kembali menuju kelas.


"Rama, kalau mau ke kelas bukan dari situ," ucap seseorang menghentikan langkah Rama di lorong sekolah.


Gadis tersebut berjalan mendekati sembari membawa buku pelajaran siswa.


"Ketua kelas?"


"Kamu masih belum hafal sekolah ini ya? Apa perlu aku buatkan peta?" sambungnya tersenyum.


"Aku jadi tidak enak," balas Rama membantu membawa buku tersebut.


"Terimakasih. Oh iya, sudah kewajiban ketua kelas untuk membantu anak baru bukan? Kalau buat kamu apapun pasti aku bantu," jelas Melly ceria.


"Baiklah, sekarang lewat sini," lanjut Melly.


"Ah, sebaiknya aku coba ke Melly saja dulu," batin Rama berjalan mengikuti Melly sembari mengeluarkan ponsel.


"Em, Melly. Kalau tidak keberatan boleh aku minta no..."

__ADS_1


Melihat layar ponsel tak ada satupun kontak cewek.


"Anjir!!! berat banget ternyata minta nomor cewek," batin Rama memejamkan mata.


"Kenapa, Rama?" tanya Melly bingung.


"Maaf, Aku ke kelas duluan," ucap Rama berlari meninggalkan Melly sendiri.


"Eh! Kita bareng saja!" Teriak Melly.


Sesampainya di dalam kelas dengan cepat Rama menghampiri Gomez.


"Gomez! Aku punya tebakan untukmu. Kalau kita kasih nomor ponsel ke orang, pasti daftar kontak kita bisa dilihat orang itu. Benar atau salah?" Memegang kedua pundak Gomez.


"Kayaknya sih salah."


"Benarkah? Tidak bohong? Kalau bohong besarnya jadi maling nanti!" Masih memegang kedua pundak Gomez.


"Kenapa serius banget sih?"


"Soalnya aku belum pernah minta nomor cewek," batin Rama berjalan menuju kursi meja.


"Tapi syukurlah, daftar kontak ku tidak akan ketahuan meskipun nanti dia memiliki nomorku," lamun Rama menopang dagu ke atas meja.


"Enaknya pas momen apa ya minta nomor Rina agar gak gugup," pikir Rama menatap Melly berbicara dengan ketua osis di pintu masuk kelas.


"Kau kan ketua kelasnya disini! Tidak adil sekali kalau kelas 3B ini selalu mendapat perlakuan khusus."


"Aku sih mau aja kalau tidak ada kegiatan ekskul," jawab Melly.


"Ada apa ini, Melly?" sahut Karin menghampiri perdebatan mereka.


"Petugas piket kebersihan hari ini kurang satu orang, jadi mereka ingin mencari penggantinya selama seminggu," singkat Melly.


"Jika aku unjuk diri, sepertinya akan bagus untuk reputasi ku," batin Rama.


"Apa aku saja? Aku belum ada kegiatan ekskul apapun," sahut Rama berdiri mengangkat tangan kanan.


"Mau? Kamu yakin?" balas Melly.


"Iya, demi ketua kelas," jelas Rama seketika wajah Melly merah merona.


Selepas pulang sekolah, seluruh siswa yang bertugas piket kebersihan berkumpul diarea halaman sekolah.


"Peluang emas memang gak bakal kemana," batin Rama melirik melihat Rina memegang sapu berdiri di halaman tak begitu jauh darinya.


"Rama? Kamu benar-benar ikut? Senangnya, untung aku ikut jadi panitia kebersihan," sapa Rani.

__ADS_1


"Ah biasa saja." Tersenyum menatap Rina.


Rina berbalik arah pergi menjauh.


"Anjir, gua gak dianggap!" gumam Rama dalam hati.


"AYO MULAI BERSIH-BERSIH." Teriak salah satu anggota panitia.


Setelah menuju satu ruang kelas bawah.


"Buat apa aku disini! Wah kebetulan, apa mungkin ini takdir kali ya? Oke tidak harus begitu, tapi setidaknya beri komentar dong!" gerutu Rama sendirian di dalam kelas mengelap jendela kaca.


"Aku jadi uring-uringan karena nomor ponsel, kalau mereka tau pasti mereka bakal cap aku lelaki pecundang. Cewek mana sudi pacaran denganku. Cuma bisa mimpi bikin cewek tergila-gila padaku." Terduduk di atas meja.


"Maaf ya Rama."


Menoleh kearah suara tersebut, "Melly?"


"Kamu jadi repot gara-gara aku ya?"


"Eh, gak kok. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Melly."


"Tidak apa, Aku juga sadar kok. Aku selalu bikin repot orang lain. Berbeda dengan kamu yang suka membantu tanpa banyak omong."


"Tunggu, sebentar sebentar. Kalau cuma berdua begini, berarti ini peluang emas ku. Terus dia sengaja tunggu sampai aku sendirian begini ya?" batin Rama melihat Melly berjalan kemudian duduk mendekat di kursi.


"Ketua kelas."


"Rama. Sebagai ucapan maaf serta rasa terimakasih padamu, bagaimana kalau nanti kita pergi nonton bioskop? Tapi hanya berdua," ujar Melly menunduk tersipu malu.


"Ke bioskop? Bioskop itu bukannya duduk bersebelahan, bersenggol tangan, menonton film horor terus dia menjerit dan refleks meluk aku? Habis itu mampir di kafe bahas film di sana terus bahas hubungan kita? Itu bukannya kencan ya?" batin Rama cukup senang.


"Gawat, Aku hampir lupa tujuan utamaku," lanjut pikir Rama.


"I-itu maaf kalau sekarang..."


"Iya-ya, kamu pasti sibuk banget. Maaf ya aku mengajaknya mendadak banget." Bangkit berdiri.


"Enggak kok."


"Selamat bekerja ya, Rama." Tersenyum imut langsung pergi keluar kelas.


"Sebentar, jangan bilang aku ini populer? Ini berarti aku populer kan? Aku populer! Terimakasih Melly, kau sudah membuat pedeku melambung tinggi," ketus Rama begitu senang kemudian berbalik arah.


"A-aa-a!!!!" Terkejut melihat Rina sudah berdiri di belakang tubuhnya.


***

__ADS_1


Sampai disini dulu ya kak, babnya masih bahas kecebong anyut nih, semoga terhibur yak. Nah besok baru ray dkk masuk ke bab panasnya. Hehehehe...lanjut.


__ADS_2