Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 37


__ADS_3

Ceklek....


(Seorang dokter keluar dari dalam kamar tersebut).


"Dok, benar ini kamar darurat atas nama pasien Ray?"


"Iya benar, Ibu ini siapanya pasien ya?"


"Saya bukan siapa-siapanya Dok, hanya teman masa kecil. Kalau saya boleh tau saat ini keadaan pasien seperti apa Dok?"


"Pasien mengalami luka yang cukup serius terutama di area tubuh dalam. Hal ini memaksa pasien harus segera menjalani operasi, namun hal itu tidak berjalan dengan baik."


"Maksudnya dokter?"


"Iya karena saat ini pasien terus mengalami pendarahan yang cukup hebat. Kami membutuhkan darah lebih agar bisa melanjutkan operasi tersebut tapi sayangnya persediaan di rumah sakit tidak mencukupi."


"Ya Allah, kalau boleh tau golongan darah pasien apa, Dok?"


"Golongan darah pasien O, sehingga sedikit menyulitkan untuk mencari pendonor tersebut."


"Tolong ambil darah saya seberapa butuhnya dokter, golongan darah saya sama dengan pasien.Saya bersedia yang penting nyawa pasien bisa di selamatkan, Dokter."


"Baik Bu, ikut saya untuk ke ruang cek up, apakah kondisi tubuh Ibu bisa untuk melakukan donor darah." Berjalan menuju ruang tersebut dan sampai di dalamnya.


"Silahkan berbaring di sini Bu," ujar dokter sembari menyiapkan peralatan tes.


Setelah beberapa saat,.


"Kondisi tubuh Ibu sangat baik, proses ini bisa kita lanjutkan untuk segera mengambil darah Ibu. Gimana, ibu sudah siap?"


"Siap dokter, apapun yang terbaik, mohon lakukan."


Dokter melanjutkan proses pengambilan darah tersebut bersama seorang perawat setelah ia memanggilnya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, proses pengambilan darah tersebut selesai. Operasi Ray pun dilakukan kembali setelah mendapatkan donor darah dari Suci.


Melewati masa yang cukup rumit, akhirnya operasi itu berjalan lancar dan berhasil. Ray masih terbaring lemah dengan mata tertutup seusai menjalani proses rumit akan kesembuhan dirinya.


"Mas, kamu harus kuat, aku sangat senang karena darah kita sudah menyatu. Aku juga berharap kamu bisa hidup dengan bahagia di kemudian hari," ujar Suci menggeggam lembut tangan Ray.


Melihat Ray yang masih menutup mata, Suci tersenyum haru sesekali mengecup mesra kening Ray.


"Aku pergi dulu ya mas, setelah kamu sadar nanti harus bisa lebih menjaga diri. Jangan selalu merasa jagoan ya. Ingat di balik nyawa kamu itu begitu banyak harapan dari orang-orang yang tulus menyayangi kamu," lanjutnya menggenggam mencium tangan Ray.


Suci berjalan keluar mengesampingkan perasaan nya pada Ray. Ia rela melakukan hal itu agar Ray kembali menjalani hidup dengan tenang.


Dipintu keluar kamar, Suci menghampiri dokter, "Dokter, tolong rahasiakan semua ini dari siapapun."


"Tapi Bu-."


"Tolong, Dok." Merapatkan kedua tangan meminta penuh senyuman.


"Baiklah jika itu keinginan Ibu, kami akan merahasiakan indentitas itu."


Ceklek..


Dari kejauhan Fii dan Fendi yang kembali menjenguk Ray melihat Suci keluar dari ruang rawat tersebut. Belum sempat menanyakan sesuatu, Suci telah menghilang dari pandangan mereka berdua.


Dokter keluar dari ruang inap kamar Ray.


"Dokter, kami belum menemukan pendonor darah tersebut, apakah ada saran lain?" ujar Fendi.


"Saat ini pasien sedang istirahat tertidur setelah melewati masa kritisnya," jawab Dokter tersenyum lepas.


"Loh, Dok, operasinya?" sahut Fii terbengong.


"Operasinya berjalan lancar setelah seorang wanita mendonorkan darahnya untuk pasien."

__ADS_1


"Siapa wanita tersebut, Dokter?" tanya Fendi serius.


"Maaf, pendonor meminta untuk merahasiakan identitas aslinya, kalau begitu saya pamit permisi dulu."


Dokter meninggalkan Fendi dan Fii, segera mereka berdua masuk ke dalam kamar Ray.


Tak lama kemudian...


"Lisa...Lis..."


Suara lirih Ray terdengar sembari membuka mata perlahan.


"Ray, Ray, alhamdulilah kamu selamat," sahut Fendi memeluk.


"Aww.... sakit gila, jangan kuat-kuat."


"Ya namanya senang bisa liat kamu gak jadi mati Ray," ujar Fendi menjahili.


Keteplak....(tamparan kecil di kepala).


"Memang lah gak ada akalmu, orang baru lagi baikan," sahut Fii memukul kepala Fendi santai.


Mereka berdua menceritakan semua hal yang terjadi pada Ray dari awal hingga sampai ia melewati masa kritis melakukan operasi.


"Jadi, siapa wanita itu Fen, Fii?" tanya Ray melamun menebak wanita pendonor darah untuknya.


"Entah lah kami juga gak tau siapa," sahut Fii.


"Apa mungkin bidadari turun dari dunia lain berenkarnasi jadi wanita dan menyelamatkanku?" lanjut Ray memegang dagu menunduk.


"Ya bisa jadi. Ternyata masih geser rupanya otakmu itu ya.Tapi yang penting itu intinya dia rela berkorban untuk kehidupanmu yang baru," jawab Fendi merangkul Fii tersenyum lebar melihat Ray telah kembali.


***

__ADS_1


Sampai sini dulu ya kak akak,


Fav, komen, vote bila suka kisah ini ya kak, makasih


__ADS_2