
"Kenapa keliatan kesel gitu mukamu?"
"Biasa bang, sedikit konflik negara ini," singkat Rama menutup pintu mobil.
"Gimana sekolahnya? Lancar?"
"Gitulah bang."
"Oh iya, besok kau ikut gak?"
"Mau kemana?"
"Pulang nengok rumah di kampung."
"Sekolahku?"
"Iya juga sih. Yaudah kau sekolah aja, biar abang sendirian yang ke kampung."
"Kak Lisa gak ikut?"
"Janganlah, Abang gak mau kakakmu kecapean. Tengok sendiri kan dia sedang hamil."
Setibanya di rumah.
"Kak." Rama menyalim tangan Alisa berlalu masuk ke dalam.
"Rama kenapa mas? Kok lesu bener kelihatannya." Alisa berdiri menyambut di depan pintu.
"Gak tau, paling kena hukum di sekolah karena bandel," singkat Ray.
"Em masak iya begitu?"
"Iya mungkin aja sayang." Mencium kening Alisa.
"Kamu senduri gimana hari ini kerjanya, Mas?"
"Alhamdulilah lancar seperti biasa," balas Ray berjalan menuntun Alisa masuk bersama.
"Oh iya sayang, besok aku berencana lihat rumah di kampung."
"Sendirian? Aku ikut ya mas."
"Kamu fokus aja sama yang disini sayang." Menyentuh perut Alisa.
"Tapi mas..."
"Cuma sebentar doang kok, paling satu malam aja di sana."
"Kamu gak ada niat macam-macam disana kan?"
"Maksudnya?"
"Ya kali aja kamu punya wanita simpanan di kampung." Alisa memanyunkan bibir.
"Ada sih." Membuka pintu kamar.
"Tuhkan bener firasat aku."
"Ada ayam maksudnya sayang. Udah ah jangan mikir yang aneh-aneh terus." Melepas pakaian kemudian mengenakan handuk.
"Bawaan ini mungkin mas, jadi lebih sensitif cemburu ke kamu." Alisa mengelus perutnya.
"Sejak kapan kehamilan bisa jadi penyebab cemburu?" pekik Ray.
__ADS_1
"Kamu gak bakal tau mas karena kamu gak akan pernah hamil."
"Iya deh iya." Berjalan masuk kamar mandi.
Setelah berbenah diri dan menyantap makan malam bersama, berdua terduduk di ruang tamu.
"Mas, ada hal yang ingin aku tanyain ke kamu."
"Kelihatannya serius bener sayang? Hal apa itu?"
"Tapi aku takut kamu marah," lirih Alisa menyandarkan tubuh ke dekapan tubuh Ray.
"Sejak kapan aku pernah marah ke kamu sayang?" balas Ray mengelus rambut Alisa mencium lembut keningnya.
"Sepertinya aku mulai bosan dengan keadaan mengurung diri seperti ini, Mas. Wajar gak sih menurut kamu jika aku mulai merasa bosan dengan rutinitas yang begini-begini terus?"
"Menurut aku sih hal wajar, apalagi ini kehamilan pertama kamu sayang. Nah terus apa yang ingin kamu lakuin tuh?"
"Aku juga bingung mas harus lakuin apa, cuma ya kayak ingin aja melakukan sesuatu kesibukan apa gitu biar gak jenuh pikiran ini."
"Kenapa kamu bingung, bukannya perusahaan logiatik yang ayah tinggal kemajuannya perlahan pasti semakin pesat sayang?"
"Memang sih mas, tapi kamu aja gak ingin mencapuri perusahaan itu, masak iya aku yang handel? Lagian om Sukma juga udah bagus memanagement tuh perusahaan."
"Kan judulnya kamu bosen tadi dirumah aja sayang, kalau kamu kan tau yank dari awal menikah memang sedikitpun aku gak berniat mencampuri harta peninggalan ayah. Makanya lebih baik bersusah diri mencari pekerjaan sendiri. Tapi kalau jujur menurut aku sih lebih baik kamu fokus aja sama kandungan kamu sayang, jangan kecapean dengan rutinitas dulu."
"Iya sih mas, rasanya seperti ada yang beda aja. Dulunya aku sibuk berkarir dan sekarang gak melakukan kegiatan apapun."
"Tapi ya sesekali kalau mau main ke perusahaan ayah ya gak apa-apa juga sih, itung-itung sekalian kamu refresing."
"Mas," lirih Alisa mengusap lembut bibir Ray.
"Masih jam segini, tetangga belum pada tidur," pekik Ray menjahili Alisa.
"Dih, emang dikira aku mau ngomong apa coba?"
"Mas," lirih Alisa kembali menyentuh memutar-mutarkan jari tangan ke penutup lingkaran roda sepeda di dada Ray.
Ray berdiri melepas dekapan Alisa, kemudian mengangkat menngendong tubuh Alisa menuju kamar.
"Jangan bablas loh mas."
"Kisi-kisi aja kok sayang, gak yang lakuij pilkada kok," jelas Ray.
Setelah bercanda liar di dalan kamar, keduanya mengistirahatkan tubuh hingga pagi menjelang kembali.
"Mas, kamu beneran mau sendirian ke kampung?" ujar Alisa menemani Ray sarapan pagi.
"Iya sayang, lebih baik sendiri aja biar ibu ada yang nemenin disini."
Setelah selesai menyantap sarapan pagi, Ray bergegas pamit mengantar Rama bersekolah seperti biasa.
"Ini, nanti pulang naik ojek atau apalah," lanjut Ray memberikan uang saku pada Rama ketika sampai di depan gerbang sekolah.
"Oh iya satu lagi, titip kakak jangan sampai kenapa-kenapa sama kandungannya," jelas Ray kembali.
"Siap Bos!"
Ray melanjutkan kembali perjalanan menuju kampung halaman dengan sebuah mobil, memacu laju kendaraan mempersingkat waktu.
(Flash back seminggu sebelumnya)
"Boleh aku meminta sesuatu?" tanya lembut Ray menuju kantor bersama Novi.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Aku berencana berziarah ke kampung halaman. Meski seorang lelaki, kerinduan ku pada orang tua gak mampu tuk menahannya."
"Jika tentang itu, Aku pasti akan mengabulkannya," jelas Novi.
"Makasih ya."
(Flash back Off)
Terus melanjutkan perjalanan memakan waktu hampir 6 jam lamanya hingga akhirnya Ray tiba. Bingung ketika turun dari mobil melihat lorong panjang kampung halaman sangat sunyi. Terlihat dari sampah-sampah berserakan, rumah sedikit berantakan serta bercak-bercak darah berceceran di beberapa dinding rumah para warga.
"Ya Tuhan, ada apa lagi ini?" Berjalan menyusuri beberapa rumah warga.
"A-a-ah..." Suara lirih terdengar di balik pohon besar.
"Siapa itu?" pikir Ray berjalan menghampiri pohon tersebut.
"Budi?" Terkejut melihat tubuhnya bersimbah darah.
"R-R-Ray." Bersandar mengulurkan tangan.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?" Menopang tubuh Budi.
"Lap-lap..."
"Jangan paksakan berbicara!"
Melihatnya dalam keadaan terluka, Ray segera membawa masuk ke rumah. Setelah membersihkan beberapa luka serta membaringkan tubuh tersebut, Budi perlahan mulai mengatur pernafasan meski lebam di wajah serta sekujur tubuh masih terlihat cukup parah.
"Ray," lirih Budi menggenggam tangan Ray.
"Siapa yang telah berbuat seperti ini?"
"Ini sudah ketiga kalinya kami melakukan perlawanan dan..."
"Dan apa?"
"Kami tak sanggup lagi melawan para bajingan tersebut yang...uhuk."
Ray memberikan minum.
"Mereka merampas secara paksa seluruh tanah milik warga yang sangat merugikan penduduk desa ini," jelas Budi.
"Bajingan!" Kecam Ray mengepal tangan.
"Beberapa warga yang ketakutan lebih memilih mengurung diri, sedang aku, Indra, Ilham, Diki dan para lelaki lainnya mencoba menghalau mereka, meski akhirnya kami tak sanggup bertahan."
"Kenapa tidak melapor ke pihak berwajib?"
"Uang mengatur segalanya, meski tidak semua anggota berwajib seperti itu, tapi mereka semua terlihat tak bergerak sedikitpun. Keberadaan mereka seperti angin, tak terlihat meski ada," pekik Budi penuh amarah.
"Dimana yang lainnya sekarang?"
"Mereka semua disekap dalam sebuah gudang padi dekat persawahan, hanya aku yang berhasil melarikan diri. Petinggi bajingan itu berniat akan mengadakan eksekusi di sebuah lapangan terbuka besok pagi."
"Bangsat!"
"Mungkin ini sudah takdir kita berada di era para bajingan bebas berkuasa menggunakan uangnya," lirih Budi memejamkan mata.
"Lebih baik kau istirahat aja." Melepaskan genggaman tangan Budi.
"Ray tunggu, kau mau kemana?" lanjut Budi bermaksud menghentikan langkah Ray.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu ya kak, ayo panas panas indomienya jangan lupa. Ingat, gadak filosopi2 kopi, semua kopi enak, mereka aja yang berlebihan. Lanjut...