
Obrolan di rumah sakit saat itu usai ketika ayah Suci menelponnya, seperti menyuruh ia melakukan sesuatu.
"Iya, kamu hati-hati ya di jalan," ucap Ray tersenyum kembali.
Membalas senyuman Ray, Suci lanjut berjalan meninggalkannya yang masih berada di depan pintu kamar inap.
Tak begitu jauh darinya, Suci berbalik arah kembali menatap, "Aku masih menantikan mimpi kamu loh, berjuang lah," ujar Suci melambaikan tangan tersenyum indah.
Kata-kata perpisahan kembali itu membuat pikiran Ray terombang ambing seperti kapas.
"Kok bisa gini ya?" tanya Ray dalam hati membalas lambaian tangan Suci.
Setelah semua urusan di rumah sakit selesai, Ray beranjak bergegas menaiki angkot, karena sepeda motor yang ia miliki mengalami kerusakan cukup berat.
"3 wanita? Apakah Aku melanggar hukum?" batinnya bercanda dengan diri sendiri ketika berada di dalam angkutan umum.
Satu hal yang tak begitu pasti, suka dan cinta kadang tak terlihat memiliki perbedaan.
Keduanya akan terasa sama ketika sang hati dilanda api asmara.
Keesokan paginya..
Dreeettttt...
Getar nada ponsel di jam 9 pagi.
"Adakah yang lebih menyakitkan dari terbangun ketika jam masih menunjukan pukul 9 pagi?" pekik Ray menatap layar.
"Alisa?" sambung Ray mengusap-usap mata kemudian membuka isi pesan tersebut.
"Sudah bangun belum, masih niatkah hidup hari ini?"
***
Alisa ialah wanita yang begitu dewasa dengan beragam pemikirannya. Dia wanita yang baik, memiliki alis tebal, rambut lurus, bola mata kebiruan yang indah, serta memiliki tubuh ideal di antara wanita lainnya.
Alisa adalah anak satu-satunya dari pengusaha market terbesar di kota yang tak begitu jauh dari tempat tinggal Ray. Seorang putri dari Bapak Surya Wijaya dan Ibu Nirmala Sari.
__ADS_1
Mereka saling mengenal semasa kuliah, masa yang begitu indah dalam hal mencintai. Hubungan yang mereka jalani cukup terbilang lama, dan untuk sebuah perasaan Alisa tak pernah bermain-main ketika memberikan hati.
Tawanya yang tak mengenal putus asa, rajukannya akan hal-hal kecil, itu menjadi daya tarik dalam dirinya. Namun di balik itu semua, ia sedikit egois apapun tentang kehidupan Ray.
Seperti ketika seharian penuh mereka liburan bersama. Bahkan ketika larut malam Ray harus menemani Alisa sampai tertidur lelap meski hanya lewat panggilan telepon dan hal itu berulang-ulang kali terjadi.
Alisa tau itu bukan dunia Ray, menghabiskan waktu hanya untuk berpacaran. Karena dalam prinsip kamus hidup Ray, itu sama seperti jenis penjajahan model baru.
****
Ketika Ray melamun dengan pikirannya, pesan Alisa kembali mengejutkan.
"Kamu sibuk gak Mas, kita jalan yuk?"
Berfikir sejenak kemudian membalas, "Hari ini kebetulan Aku sedikit sibuk, harus selesain novelku secepatnya."
"Itu lagi? Apa yang kamu harapkan dengan menulis novel, Mas? Menulis novel tak menjanjikan masa depan yang cerah dalam hidupmu."
Ray terdiam tak menghiraukan pesan darinya, sembari tangan mengambil pulpen di meja terduduk melanjutkan menulis sebuah cerita.
Dreettttt....(Pesan Alisa kembali).
Membaca isi pesan tersebut, Ray sedikit menghela nafas panjang kemudian membalasnya.
"Aku mengenal novel lebih dulu di bandingkan kamu Alisa. Meski saat ini terlihat tak bercahaya bukan berarti gelap. Lihatlah dengan hati kecil mu, kamu akan mengerti ketika masuk ke dalamnya."
Untuk kesekian kalinya Alisa berusaha merubah arah hidup Ray, meski ia tau jiwa Ray takkan pernah sempurna. Meski begitu Ray tetap mencoba selalu bertahan dan membiarkan semuanya berlalu.
"Yasudah kalau begitu Aku mau tidur saja." Pesan Alisa mengakhiri.
"Wanita, indah secara fiksi, berbahaya secara fakta," umpat Ray meletakkan handphone kembali menulis.
Pukul 16:00 sore, setelah selesai menulis beranjak keluar rumah mencari udara segar berniat mengunjungi ke rumah sahabatnya, Putra. Hal itu menjadi pilihan ketika dirinya butuh hiburan.
Mengeluarkan the doctor (Sepeda motor) dari garasi, bergegas menuju ke rumah Putra.
"Saat ini ialah jam-jam dimana penjual gorengan tebar pesona," batin Ray berniat mencari cemilan.
__ADS_1
Setibanya di lokasi, Putra terlihat sibuk memainkan gitar serta menulis lirik lagu yang ia ciptakan.
~Maafkan diriku yang telah pergi, diriku kan selalu menyayangimu.~
Sebuah lirik yang ia nyanyikan dengan iringan gitar merdu.
"Musisi yang kurang di perhatikan menpora ya begini nasibnya," ujar Ray mulai mengusik menjahili.
"Eh Rahul, tumben nongol, masih hidupnya kau?" balasnya singkat.
Mulai terduduk di samping Putra, "Masih lah, doamu jelek sekali ngatno."
"Kok keliatan beda cuaca wajahmu saat ini, lagi demam apa gimana?" tanya Putra penasaran.
"Sedikit masalah dengan Alisa sih," singkat Ray mengambil sepotong bakwan dan meletakkan makanan di atas meja halaman rumah.
"Masalah apalagi dengan lisa?"
Dengan mulut mengunyah penuh isi makanan, cuek menjawab, "Biasa lah, sifat penjajahannya gak pernah hilang."
Putra tersenyum sejenak kemudian menunjuk makanan di atas meja kecil yang Ray bawa.
"Halal ini kan?" ujarnya memegang bakwan.
"Gila aja, ya halal lah, di cari melalui cucuran keringat murni dan di besarkan sepenuh hati kok," pekik Ray meregangkan kepala.
"Kau pikir Malika," balas Putra mengunyah.
"Bukan, malin kundang yang betol."
Melihat Ray memejamkan mata, menghela nafas sedikit keras. Putra mengerti akan rasa cemas dirinya terhadap Alisa.
"Kalau cinta dan sayang kenapa harus ada masalah serumit itu?" sambung Putra melanjutkan menulis lirik lagu miliknya.
***
Sampai di sini dulu kak. Sub, komen, apalah itu semua namanya bila suka alur cerita ini ya kak, makasih tetap membaca kisah ini.
__ADS_1
lanjut...