
"Lihat, lihat anak ku, lihat! Puas kamu ha puas! karena kamu anak ku celaka, kenapa diam? Jawab!" ujar sang ayah memandang Ray menunjuk Alisa yang terbaring.
"Ayah sudah, sabar Yah sabar, istighfar
Yah," bujuk sang Ibu mencoba menenangkan emosi suami.
Erlin dan Mia hanya memalingkan pandangan, tak sanggup melihat Ray menghadapi kenyataan pilu.
Sedang Fendi dan Fii merangkul membangkitkan Ray kembali. Sedang Aldo tersenyum bahagia melihat Ray mendapatkan kecaman dari Ayah Lisa.
"Aldo, Aldo, kamu di mana," lirih Alisa kembali mengigau menyebut nama Aldo.
Perasaan Ray hancur seketika mendengar ucapan yang keluar dari bibir Alisa, "Kenapa bukan namaku yang dia sebut dan cari?"
Mendapati wajah hancur lengkap dengan kecewa melihat kenyataan pahit yang Ray alami, Mia dan Erlin bergegas keluar ruangan. Penuh haru tak sanggup melihat air mata Ray terus berlinang.
"Iya Lisa, ini aku, Aldo. Aku di sini Lisa," ujar Aldo berada di samping tubuh Alisa.
Perlahan membuka mata, sedikit demi sedikit pandangan Alisa mulai terlihat lebih jelas.
"Ibu, Ayah, Aldo. Apa yang terjadi padaku?" tanya Alisa menoleh.
"Alhamdulillah ya Allah." Kembali sang Ibu memeluk putri kesayangannya itu.
"Kamu tenang ya sayang, jangan mikirin hal-hal yang bisa membuat kepalamu terasa sakit," sahut sang Ayah lembut.
"Kamu lanjut istirahat dulu ya, biar cepat pulih. Aku mau keluar bentar mau urus semua administrasi," jelas Aldo.
Aldo langsung berjalan keluar ruangan, berpapasan dengan Ray, "Kamu lihat sendiri posisinya bukan?Kalau tidak ingin melihat Alisa menderita, sebaiknya jangan ingatkan hal-hal yang bisa membuat kepalanya sakit dan kembali menjalani masa kritis. Itu pun kalau kamu menyayanginya," bisik Aldo lanjut berjalan.
Ray yang hanya mampu berdiri menatap Alisa dari pintu ruangan, mengepal tangan sekeras mungkin, menyesali takdir hidup sebesar-besarnya.
Fendi dan Fii terus mengelus dada Ray kala itu bermaksud menenangkan hatinya.
"Alisa, ini aku, Ray."
Tak sanggup menahannya, kata itu terucap begitu saja dari bibir Ray ketika mendekati Alisa.
__ADS_1
"Ray? siapa? Ibu dia siapa," ujar Alisa memandang Ray bingung.
Sang Ibu kembali menangis rintih, memeluk tanpa menjawab pertanyaan Alisa.
"Dia bukan siapa-siapa, dia yang telah membuat kamu celaka. Kehadirannya disini hanya ingin meminta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatannya kepadamu sayang. Iya kan?" Tegas sang ayah menatap Ray penuh kebencian.
"Maaf," balas Ray lemah.
Hanya kata itu yang bisa ia ucap sembari berbalik arah berjalan kembali di bantu Fendi dan Fii.
Hidup terasa mati, itu yang mereka lihat pada kondisi Ray.
Kembali di tempat rawat, Ray memandang kosong menunduk kebawah.
1 Hari setelahnya, Alisa sudah bisa kembali untuk dirawat dirumah, begitu juga dengan Ray.
Belum bisa melakukan perjalanan jauh mengharuskan Alisa menginap di rumah Mia.
Orang tua Mia dan Alisa saling mengobrol memohon ijin agar anaknya menginap untuk beberapa waktu.
"Aduh, sakit bener." Memegang perban di kepala.
"Jangan di paksain dulu Lisa," singkat Mia.
"Kepalaku sakit bener, Mia."
Alisa yang pulih masih mengingat jelas ingatan tentang Mia, Erlin, Aldo dan kedua orang tuanya. Sedang ia tak mengenal atau mengingat sedikitpun tentang Ray, Fendi juga Fii.
Karena bingung akan kejadian yang baru terjadi, Alisa menanyakan kembali sosok pemuda yang bernama Ray.
"Kamu tau Ray itu siapa, Mi? Aku belum mengenalinya sama sekali dan gak mengingatnya sedikitpun Tapi tadi, dia menghampiri menatapku penuh cemas."
"Sudah jangan di bahas, lebih baik kamu beristirahat saja," jawab Mia memalingkan pandangan.
"Iya bentaran lagi aku istirahat," balas Alisa datar melihat Mia menyembunyikan sesuatu darinya.
Terdiam sejenak,..
__ADS_1
"Ambilkan tas aku dong Mi, aku mau ambil ponsel beri kabar Aldo, pengen tau dia sedang apa di sana."
"Ini, jangan lama-lama main ponsel, siap itu lekas istirahat tidur." Tegas Mia keluar menutup pintu.
Ketika membuka tas kecil mengambil ponsel, Alisa mendapati sepucuk surat kecil.
"Ini surat apaan ya?" gumamnya membolak-balik surat di tangan.
Penasaran, Alisa langsung membukanya.
***
(Isi surat tersebut).
~Hari ini adalah hari dimana seorang ibu begitu sangat bahagia mendapatkan seorang putri yang amat cantik. Harapan dari kebanggaan seorang Ayah telah terpenuhi.
~Dan kamu tahu? Dibalik kehadiran seorang putri cantik yang telah lahir turun ke bumi ini, ada seorang pemuda biasa yang sangat beruntung bisa mendapatkan cinta darinya.
Kini sang putri dan pemuda biasa itu membangun taman impian mereka sedikit demi sedikit. Tawa sang putri yang bisa memalingkan dunia melengkapi kekosongan di hati sang pemuda itu.
Rajukkan sang putri selalu menjadi butiran cinta baru dalam hidupnya. Saat ini, sang pemuda itu hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun untuk kekasih tercinta.
Ray Al karim
Nama pemuda yang takkan pernah di lupakan sang putri, begitu kata sang putri ketika meminta di belikan coklat.
-12 Oktober 2018-
***
Tanpa sadar air mata Alisa terjatuh dengan sendirinya selepas membaca isi surat tersebut meski ia tak mengingat sedikitpun tentang Ray.
***
Sampai di sini dulu kak.
Like, komen, share Fav apalagi itu gas ajalah semuanya bila suka dengan author yang ini. Eh novel maksudnya makasih. Nanti lanjut lagi...
__ADS_1