
"Jika ingin urusan ini selesai dan ingin kami segera pergi, cepat bayar hutangmu, atau kau ingin aku melakukan hal gila bersama putri..."
Plak.... (Tamparan keras William menghentikan Aldo).
"Jaga mulut kamu!" Bentak William.
Plak.... (Aldo menampar balik William).
"Berani sekali tangan kotormu menamparku? Jangan sampai perlakuan darimu membuatku semakin menggila, Pak tua!" Kecam Aldo bernada tinggi.
"Papa..." Sang Istri perlahan menghampiri suami yang terduduk di lantai sembari membawa berkas.
"Ini kan yang kamu mau? Ambil ini dan cepat pergi dari sini. Jangan sakiti suamiku," lanjut sang Istri memberikan berkas kepemilikan perusahaan pada Aldo.
"Nah kalau langsung begini dari awal tadi kan lebih mudah ceritanya," pekik Aldo mengecek surat kepemilikan tersebut.
"Sekarang kamu pergi dari sini!" Bentak William mengusir.
"Ingat, surat ini hanya mampu membayar separuh hutang kamu ke Robi. Jika dalam tempo sebulan ini sisanya tidak segera kamu selesaikan, Aku akan kembali datang menyita rumah ini. Oh iya satu lagi, beri tahu para pekerja kamu untuk segera mengosongkan tempat tersebut," jelas Aldo.
"Pergi, cukup, pergi sana!" lirih sang Istri menangis.
"Cabut." Memberi perintah pada anggota untuk segera meninggalkan kediaman William bergegas menuju mobil.
Di dalam mobil.
"Selanjutnya kita kemana, Tuan?"
"Kita menuju kantor tersebut untuk melihat apakah tempat tersebut mulai mengosongkan para pekerja."
"Baik, Tuan."
(Flash Off).
***
"Kiri, Bang." Ray turun dari angkutan umum.
"Nih, Bang."
"Makasih Bos."
Berjalan memasuki halaman rumah.
Tok tok tok..
Ceklek...
"Tuan muda, tumben sekali jam segini udah pulang," sqpa mbok Ijah membukakan pintu.
"Iya mbok, ada sedikit masalah di kantor." Berlalu masuk kedalam.
"Ah." Melemparkan tas di sofa terduduk menyandarkan badan mendongak keatas.
Alisa yang hendak ke dapur, menatap Ray bingung.
"Loh Mas, kamu sudah kembali?" ujar Alisa menghampiri.
"Sudah," balas Ray menutup wajah.
"Mas, kamu ada masalah ya?"
"Gak tau alasannya karena apa, pihak perusahaan menutup perusahaan dan memberhentikan semua pekerja," lirih Ray menatap Alisa.
"Ya Allah, kenapa bisa seperti itu, Mas."
"Entahlah sayang, bingung."
"Lebih baik sekarang kamu ganti baju dulu, tenangkan pikiran kamu, Mas."
"Aku baik-baik aja kok, Sayang."
Pemberhentian pekerjaan Ray bukanlah pengaruh besar bagi keluarga Alisa, faktanya bisnis yang di bangun kembali oleh almarhum ayah Alisa perlahan kian membaik. Setelah menikahi Alisa, Ray pernah dipinta oleh sang Ayah untuk melanjutkan bisnis perusahaan logistik tersebut, namun Ray menolak dengan alasan ingin meraih kesuksesan dengan kerja keras diri sendiri.
__ADS_1
"Jangan merasa paling kuat selalu menanggung semua masalah sendirian Mas, Aku ini istri kamu," lanjut Alisa menggenggam tangan Ray.
"Iya maaf."
"Kamu pasti bisa lewati ujian ini Mas, apapun yang terjadi, Aku tetap akan berada di sisimu."
"Tolong rahasiakan ini dari Ibu ya," ucap Ray menundukkan pandangan.
"Sudah Mas jangan terlalu kamu pikirkan, nanti yang ada kamu malah jatuh sakit," jelas Alisa mengusap lembut bahu Ray.
"Iya sayang." Memeluk Alisa sejenak beranjak berjalan menuju kamar.
"Bu," sapa Ray menyalim tangan ketika berselisih dengan di depan pintu kamar.
"Pagi begini sudah kembali, Nak? Kamu sakit"
"Iya Bu, hari ini agak sedikit kurang enak badan."
"Oh, sebaiknya segera istirahat yang cukup. Alisa sudah tau kalau kamu sakit? Sudah berobat ke dokter?"
"Cuma sedikit kecapean aja kok Bu, tidur bentar juga udah pulih. Alisa sudah tau kok kalau aku hanya kelelahan aja, Bu."
"Yasudah kalau begitu kamu segera istirahat ya."
"Iya Bu."
Ray berlalu memasuki kamar menutup pintu membuka baju.
"Kertas apa itu?" batinnya melihat selembar kertas terjatuh di lantai depan kamar mandi.
Berjalan menghampiri, mengambil lipatan kertas.
"Surat?" Membolak-balik lipatan kertas tersebut.
Tanpa berfikir lama langsung membaca isi di dalamnya.
"Alisa hamil? Hanya dalam waktu hampir 2 minggu? Hebat sekali bibit ini," pikir Ray bingung mengetahui hal tersebut.
"Kenapa dia bisa menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku?" batin Ray kembali masih memegang surat tersebut.
"Mas, kamu belum tidur?"
"Apa ini?" Ray menunjukan surat tersebut.
"Maaf Mas, tadinya ingin memberitahukan kamu jika sekarang aku hamil. Tapi setelah kamu cerita masalah kamu di kantor, membuatku berfikir kembali dan gak ingin menambah beban pikiran kamu, Mas."
"Ini kabar gembira buatku yang lagi bersedih perihal kerja, Sayang. Harusnya tidak ada hal apapun yang kamu sembunyikan dariku bukan?"
"Maaf Mas," balas Alisa menundukkan pandangan.
"Em." Berjalan menghampiri Alisa langsung memeluknya.
"Jangan pernah berfikir yang tidak-tidak. Sekarang kamu harus lebih banyak beristirahat dan jangan terlalu banyak melakukan hal-hal yang begitu berat."
"Terus masalah kerja..."
"Hush." Menutup mulut Alisa.
"Masalah kerjaan itu tugas dan kewajiban aku sebagai lelaki. Lagian kalau rejeki juga gak bakal lari. Yaudah kalau begitu aku akan pergi keluar untuk mencari informasi kerjaan yang baru."
"Secepat ini?"
"Iya, setidaknya kabar bahagia tersebut membuat semangatku kembali sayang."
"Tapi kamu baru aja kembali Mas, belum juga istirahat."
"Sudah gak apa-apa, kan aku baik-baik aja."
"Jangan terlalu memaksakan diri, Mas."
Ray langsung mengganti pakaian tak lama setelahnya pergi keluar kembali menemui Fendi dan Fii.
"Ingat, jangan terlalu kecapean." Mencium kening Alisa di depan pintu rumah.
__ADS_1
"Iya Mas, kamu juga selalu hati-hati di manapun itu."
"Papa pergi dulu ya Ray junior. Jangan nakal di dalam sana, jagain mama kamu buat papa," lanjut Ray kembali mencium perut Alisa segera berlalu pergi menuju mobil.
Di dalam mobil.
"Halo, ini aku meluncur kesitu," ucap Ray menghubungi Fendi.
"Yah, jangan lupa beli cemilan apa gitu, lapar ini. Fii ku suruh masak mie gak mau dia."
"Iya, yaudah tunggu."
"Oke yang mulia," singkat Fendi menutup panggilan.
"Semoga aja semua berjalan lancar, terus dapat kerjaan yang baru," batin Ray bergegas menuju tempat kos lama.
"Cari makanan apa ya?" lanjut Ray melihat kanan kiri jalanan.
"Ah, itu ajalah." Melihat penjual bakso bakar segera memarkirkan laju kendaraan.
"Apa cari Bang?" ujar penjual ketika Ray menghampiri.
"Mie ayam ada Bang?"
"Manalah ada Bang, gak Abang tengok ini tulisannya? Bakso bakar," jelasnya.
"Ya Abang udah tau aku dari situ jalan kemari, ditanya lagi cari apa."
"Ya biar mastikan aja kalau Abang gak salah pilih," ujarnya kembali.
"Baksonya masih ada?" tanya Ray datar.
"Ya masih lah Bang, ini kan bakso." Menunjuk dalam steling.
"Kalau masih ada di jaga baik-baik Bang, kalau udah tiada gak ada nanti nyesel," ucapku nyengir.
"Bang, ada waktu luang gak?" bisiknya lembut.
"Kenapa emang?"
"Kalau ada waktu luang, ke situ kita bentar, berantem kita."
"Gitu aja emosi," balas Ray melirik bakso.
"Ya Abang pulak ada-ada aja," lirihnya.
"Kan Abang duluan yang mulai," pekik Ray.
"Jadi beli gak ini Bang? Ribet bener dari tadi ah elah."
"Abang jual, ku beli."
"Mau berapa Bang?"
"200 tusuk."
"Mak, udah kayak Susanna aja bah, 200."
"Ada gak Bang?" ucap Ray kembali.
"Udahlah Abang aja yang jualan, serah lah capek aku udah lah suka ati." Jongkok di bahu jalanan.
"Hehehehe, nih buat segini aja, bakar terus dah tuh baksonya." Memberikan uang.
Tak lama setelahnya.
"Jambret, tolong jambret." Teriak seseorang wanita dari kejauhan.
Menoleh sisi kiri, melihat sepeda motor melaju kencang kearah Ray dengan sigap langsung menerjang jambret tersebut.
Bruakkk......(Sepeda motor berserakan begitu juga dengan kedua pelaku tersebut juga Ray).
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak, lanjut 1 bab lagi..Makasih.