
"Demi dewa, egois Alisa semakin tajam ketika dia gak bisa merubah ku seperti yang ia mau. Dulunya sih gak begitu amat, tapi kini dalam tiap detik sifat Alisa berubah terus, mungkin karena negara api mulai menyerang," ketus Ray menatap Putra kembali.
Obrolan itu menjadi hiburan tersendiri ketika pikiran Ray jenuh akan satu hal. Memikirkan sesuatu yang teramat berat terkadang tak sejalan dengan inginnya.
"Oh iya, kapan rencana show kau di mulai?" tanya Ray balik.
"Mungkin akhir tahun nanti, tapi jauh di luar kota sana sih. Kita gak mungkin bisa bertemu, cukup doakan saja acara nanti lancar," pungkas Putra.
"Pasti lah Aku doakan. Terus, kapan kau berangkat?" lanjut Ray.
"Mungkin minggu depan, soalnya ada beberapa masalah sedikit yang harus di urus dulu disini."
Ray menepuk bahu Putra, "Sukses terus, ingatlah satu hal kawan, kopi manis gula kenapa gawang bola kiper wasit pinalti."
"Apa-apa aja cakapmu itu, kantongin gilamu itu."
Matahari kala itu perlahan mulai terbenam mengakhiri percakapan sore hari. Kemudian Ray mengambil ponsel di saku celana kanan berniat mengirim pesan ke Alisa.
"Jangan memintaku merubah jalan hidupku, karena semua itu bukan Aku, bukanlah diriku." Pesan singkat ke Alisa ketika hendak balik ke rumah.
Perbedaan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Karena terkadang perbedaan bisa membuat dua hati menjadi satu. Bukan karena Ray tak menyayangi Alisa, melainkan karena ia ingin Alisa mengenal dirinya lebih dari siapapun.
Menjalani sebuah hubungan harusnya meniru sikap air dan api. Ketika wanita bersikap panas akan egonya, lelaki harus bisa menjadi air untuk meredam segala kobarannya, hal itu berlaku untuk sebaliknya.
~Orang pun datang dan akan kembali, kehidupan kan jadi, klik (Nada dering ponsel Ray seketika menjawab panggilan dari Alisa).
"Maafin atas sikap ku selama ini Mas, Aku tau Aku salah. Semua Aku lakukan hanya karena tidak ingin ada wanita lain yang mampu membuat kamu bahagia selain Aku, Mas."
__ADS_1
"Kamu tidak akan pernah bisa untuk merubahku Alisa, seperti merubahku menjadi power rangers. Tapi, kamu bisa menjadi penyebab untukku berubah kelak."
"Miss you," lirih Alisa.
"I know, you want kiss me?" jahil Ray kembali.
"Em, maybe next time," jawabnya singkat.
Menutup panggilan dari Alisa ketika melihatnya ceria kembali. Perlahan berdiri tegak menghadap senja, menjalani takdir yang telah mempertemukannya dengan Alisa.
Setibanya di rumah, Ray berniat memasukkan sepeda motor.
"Jangan di masukin dulu motornya," ucap Ibu.
"Lah, kenapa Bu, kan sudah mau maghrib." Menatap Ibu bingung.
"Em, minyak makan?" jawab Ray menebak.
"Cocok, ini uangnya." Memberikan uang bermaksud menyuruh membeli ke warung terdekat.
"Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?" tanya balik ke Ibu.
"Iya kembaliannya ambil saja."
"Cocok," pungkas Ray menyengirkan senyuman.
Seusai dari membantu rutinitas sang ibu, Ray kembali masuk kedalam kamarnya langsung membuka baju yang ia kenakan.
__ADS_1
ketika hendak mengambil pakaian di dalam lemari, ia melihat coretan tanggal di samping kaca lemari miliknya.
"Masih ada rupanya, udah lama juga," ujar Ray mengusap lembut tanggal itu.
****
17 febuari 2018 adalah hari pelepasan masa muda milik Enda, saat itu juga dia bukan lagi lelaki yang berstatus milik negara (menikah).
Putri Ayu adalah wanita yang akan mendampingi dirinya kelak. Ia adalah wanita pertama yang telah menemani Enda dari masa SMA sampai saat ini.
Dengan memakai jas hitam bak mafia lengkap dengan dasi juga sepatu yang mengkilap, Ray merasa kepercayaan diri Enda bertambah.
Belum lagi di tambah paras dari sang istri yang terlihat anggun begitu mempesona, sekejap mampu membuat seluruh pandangan tertuju kepada kedua mempelai itu.
Ketika sesi pemotretan telah selesai, Enda menghampiri untuk sekedar berbincang-bincang saling menyapa di meja makan para tamu undangan. Tak lama setelahnya, Putra juga bergabung bersama.
Membicarakan banyak hal serta mengingat-ingat kembali kenangan lucu masa lalu, membuat percakapan itu sendiri semakin seru. Meski lama tak bertemu, namun kekacauan di dalam percakapan mereka bertiga tak bisa di hindari.
"Beruntung kamu memiliki pendamping seperti dia. Aku melihat kau seperti mendapatkan sebuah anugerah," ujar Ray kepada Enda membuka percakapan.
"Siapa dulu calon lakinya, kalau yang lain mah lewat," jawabnya membusungkan dada.
"Jangan senang dulu, ada tapi nya ini," balas Ray melirik.
****
Sampai sini dulu kak, makasih tetap mengikuti, maaf jika masih banyak kesalahan dalam menulis.
__ADS_1