
"Malah tidur, mau lah pecah piring di dapur ini," gerutu Alisa melihat Ray berbaring memejamkan mata.
"Iya iya ampun," sahut Ray bangkit.
Bersamaan keluar dari kamar menghampiri Ibu yang sedang menyantap makanan di meja.
"Bu..." ucap Alisa memeluk mencium pipi Ibunda.
"Pada rapi begini mau kemana?" balas Ibu meminum segelas minuman hangat.
"Mau keluar ajak Alisa jalan-jalan Bu, sesekali nyenengin Alisa pas lagi ada waktu luang," sahut Ray mengambil potongan semangka diatas meja.
"Oh, bagus itu."
"Ibu mau ikut?" tanya Ray kembali.
"Gak ah, Ibu mentahnya aja," balas Ibu tertawa ringan.
"Aman itu Bu, pergi dulu ya," lanjut Ray menyalim.
"Hati-hati di jalan."
"Iya Bu."
"Lisa jalan dulu Bu," sahut Alisa mensalim.
"Iya."
"Dah Ibu." Melambaikan tangan berjalan keluar menuju mobil.
Dihalaman depan rumah.
"Silahkan masuk Tuan Putri." Membukakan pintu mobil untuk Alisa.
"Em, paling pinter deh," singkat Alisa masuk kedalam mobil.
"Mereka gak kamu ajakin malam ini mas?" lanjut Alisa bermaksud mengajak Fendi serta Fii.
"Aku ingin malam ini cukup berdua bersama kamu sayang," jelas Ray menyalakan mobil berlalu pergi.
"Tumben bener begini mas. Terakhir kali kamu romantis tuh semasih pacaran kayaknya," pekik Alisa kembali.
"Kan kamu tau sendiri kesibukan kerja ku seperti apa, Sayang."
"Makasih ya Romeo." Menggenggam tangan kiri Ray.
Setibanya di tempat lokasi tujuan tersebut.
"Tutup mata dulu dong pakai ini," ujar Ray didalam mobil mengambil sehelai kain penutup mata.
"Mesti pakai begituan, Mas?"
"Iya dong."
"Malu ah."
"Kenapa malu?"
"Ya kan bukan anak kemarin sore lagi," gumam Alisa manyun.
"Please," pinta Ray memohon.
"Iya deh iya."
Langsung turun dari mobil menutup mata Alisa berjalan menuju tempat yang telah ia persiapkan.
"Mas ini mau kemana sih? Masih jauh ya?"
"Udah kamu ikutin aja," balas Ray menggandeng tangan Alisa.
"Iya deh iya, ikutin aja kata laki aku ini."
"Nah berhenti disini, kita sudah sampai."
"Udah boleh di buka penutupnya?"
"Sabar dong." Menghidupkan hiasan pernik lampu kecil.
__ADS_1
"Nah sekarang udah bisa di buka sayang," lanjut Ray kembali.
Meski tak begitu mewah, kejutan yang Ray beri untuk Alisa mampu membuatnya sangat bahagia.
"Mas, ini?"
"Maaf telat ucapin ke kamu kemarin ya sayang, tapi doa gak pernah mengenal kata telat bukan?"
"Makasih ya mas." Memeluk Ray erat.
Memberikan sedikit kejutan di hari ulang tahunnya yang hampir saja Ray lupakan. Ketika berjalan pulang dari interview kerja, menyiapkan segala sesuatu untuk Alisa seorang diri.
"Kamu seneng sayang?"
Alisa mengangguk penuh haru kembali memeluk Ray.
"Sini duduk dulu." Menuntun Alisa mendekati meja.
"Mas, maaf."
"Kenapa minta maaf?"
"Kemarin aku berfikir kalau kamu lupa hari ulang tahunku," lirih Alisa menunduk.
"Gak apa-apa kok. Lebih baik sekarang kamu tiup terus kita nikmati hidangan malam ini."
"Iya mas."
Menikmati keindahan malam bersama menghilangkan segala letih pertikaian banyak hal yang telah mereka alami.
Disisi lain Aldo yang telah menunggu seseorang di sebuah pelabuhan.
"Kenapa lama sekali mereka!" Bentak Aldo ke para anggota.
"Mungkin lagi ada sedikit halangan, Tuan," jelas Erick.
Gedleng (Menendang kaleng kosong minuman).
"Sabar Tuan."
"Nah itu sepertinya mereka," sahut Alfred menunjuk ke satu titik lautan sebuah kapal menghampiri.
"Buruan cek," lanjutnya menyuruh anggota memastikan persenjataan juga narkoba.
"Aman, Tuan," sahut Erik mengangkat jempol.
"Nih." Aldo melemparkan uang tunai di dalam koper hitam.
"Oke Bos," ucap kurir asing tersebut langsung mengecek uang di dalam.
Ketika fokus mengecek uang tersebut, Aldo mengeluarkan pistol mengarahkan kepada kurir tepat di kepala.
Dor....!!
Dor...!!
Setelah mengetahui tanda dari Aldo, Alfred dan Erik juga ikut membantu menghabisi kurir lainnya yang hanya berjumlah empat orang dengan cepat tanpa sempat melakukan perlawanan.
Dor....!!!
Dar...!!
Dor...!!
Dar...!!
"Ambil kembali uang tersebut beserta semua barang yang ada, buruan cabut," jelas Aldo menunjuk.
"Tapi Tuan, mayat mereka?"
"Buang kelautan." Bergegas berjalan menuju mobil.
"Halo Bos, kami selesai," lanjut Aldo menutup panggilan telepon memberikan tanda.
Transaksi tersebut berhasil setelah Aldo dan pihak berwajib saling sepakat memberikannya jeda waktu 10 menit. Ketika Rombongan Aldo pergi meninggalkan lokasi, pihak berwajib memasuki area kembali menjaga pelabuhan.
Setibanya di markas langsung berjalan menuju ruangan bawah tanah milik Robi.
__ADS_1
"Permisi Paman," sapa Aldo menghampiri.
"Aldo, ponakan ku yang sangat hebat. Gimana transaksinya, lancar?"
"Sstt...." Menoleh memanggil Erik dan Alfred untuk segera membawa dan membuka hasil rampasan yang cukup banyak.
"Wow, luar biasa, bagus sekali," ujar Robi berjalan mendekati 10 koper hitam yang berisi kokain, 5 koper heroin serta 7 koper ekstasi.
Menghirup dalam aroma jenis masing-masing narkoba tersebut, membuat Robi tertawa senang. Belum lagi di tambah senjata api rampasan yang cukup mematikan didapat seperti, AK-47, Desert Eagle Mark, Uzi Submanchine Gun dan M4 Carbine yang setiap paket berisi 20 item.
"Malam ini kita akan adakan pesta besar. Untuk kalian semua wahai pengikut setiaku, pakailah barang ini sampai kalian puas. Hahaha," jelas Robi terbahak.
"Tapi Paman, apa semua akan baik-baik aja walau mereka tau kita telah mengkhianati mereka?"
"Aldo, Aldo, mereka pikir mereka siapa? Kamu jangan takut. Kekuatan mereka belum sebanding dengan kita," jelas Robi angkuh.
"Perlu kamu tau Aldo, sebelum kamu bergabung, insiden pesawat yang menelan begitu banyak korban dua tahun silam, itu adalah ulahku bekerja sama dengan pihak penerbangan untuk melenyapkan semua bukti tuduhan kasus penangkapan atas diriku. Hahaha," lanjut Robi kembali.
"Hebat Paman, kamu hebat."
"Sekarang semuanya bersiap-siap untuk melanjutkan pesta. Jangan lupa amankan hasil itu," sahut Robi menunjuk hasil rampasan.
"Siap, Bos." Membereskan semua barang hasil rampasan.
"Paman, ada hal sebentar yang harus aku lakuin," lanjut Aldo.
"Butuh pengawal?" balas Robi menawarkan.
"Gak perlu Paman, cuma sebentar aja, lupa tadi jika ada pesanan Ibu."
"Oh, yaudah sampaikan salam ku pada Ibumu. Ingat ketika selesai langsung kembali ya."
"Siap Paman."
Kembali ke Ray yang telah usai menikmati acaranya dengan Alisa tanpa terasa satu jam berlalu.
"Apa ada hal lain yang ingin kamu pinta dariku, Sayang?"
"Ini semua udah lebih dari cukup kok mas, Aku gak ingin apapun lagi." Mengelus tangan Ray.
"Beneran?"
Tersenyum mengangguk menatap Ray.
"Yaudah kalau begitu kita kembali aja. Oh iya Ibu kita beliin apa ya sayang?"
"Apa aja deh mas, makanan juga bisa," jawab Alisa.
"Yaudah kamu tunggu sebentar di mobil, Aku ke kasir dulu."
"Iya mas. Buruan jangan lama-lama."
"Iya sayang." Berjalan menuju kasir.
"Berapa mbak semuanya?"
"Ini total semuanya Pak."
"Kalau begitu saya pesen lagi tahu seafood sambal kacang sama morning fritatta ya mbak di bungkus aja."
"Sebentar ya mas."
Setelah beberapa menit selesai memesan makanan untuk Ibu.
"Ini mas pesanannya udah selesai. Ini total semuanya."
"Ini mbak," balas Ray emberikan uang tunai ke kasir.
"Terimakasih Pak, sampai bertemu kembali."
"Sama-sama."
Ray berjalan santai menuju luar untuk menghampiri Alisa yang sedang menunggunya di parkiran mobil.
"ALDO!!" pekik Ray menatap Aldo dari kejauhan menarik tangan Alisa dengan sigap mempercepat geraknya.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak, berhubung cuaca ujan deras, buat mie goreng dulu gais, mantab. Fav komen like dan lainnya masih di terima ya kak.