Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 102


__ADS_3

"Iya benar, hanya mereka satu-satunya pesaing yang bisa memuluskan rencana kita," lanjut Deki.


"Tapi mereka terkenal cukup licik dan sangat amat licik. Bagaimana jika mereka mengkhianati kita nanti?"


"Kamu tidak perlu cemas seperti itu Robi, serahkan saja padaku."


"Apa yang ingin kamu lakukan bersama mereka?"


"Begini, Aku akan membuat mereka menekan pemerintahan untuk menjatuhkan harga-harga pasar yang selama ini menguntungkan Deny dan Edo. Ketika mereka mengalami keterpurukan yang sangat cukup besar, kita akan datang membantu mereka tapi dengan jaminan surat wasiat tersebut kita yang pegang," jelas Deki membuat Robi terperangah.


"Saham kita berempat saat ini cukup seimbang sama besar kekuatannya, bagaimana jika itu tidak berhasil?"


"Pertama, minyak yang di kelola Deny saat ini akan kita jatuhkan dengan minyak ilegal luar yang jauh lebih murah dalam segi harga. Kedua, Sastra Group akan bermain di pusat sebagai penyuplai minyak ilegal tersebut. Kita hanya perlu menjadi petunjuk serta penggerak untuk Sastra Group."


"Gila kamu memang Deki, pikiranmu memang sangat gila, Aku setuju denganmu."


"Untuk saat ini fokus kita hanya itu dulu. Setelah berhasil, kita akan lanjut ke tambang yang Deny kelola," jelas Deki kembali.


"Iya iya iya. Satu lagi, setelah berhasil mendapatkan seluruh saham Hendra, kita akan kembali merebut saham Sastra Group bukan?" lanjut Robi menyengirkan senyuman licik melirik Deki.


"Haha..haha..ha." Tawa Deki menunjuk rendah Robi.


"Tos dulu dong, bukti kita telah sepakat untuk hal ini," ucap Robi mengangkat minuman di gelas.


Ting....


"Setelah berhasil merebut semuanya, sebaliknya aku yang akan menjatuhkanmu, Deki." Masih menatap Deki yang sedang menikmati minuman dalam gelas di genggaman tangan.


"Oh iya kalau begitu pertemuan kita sampai disini dulu, ada sesuatu yang harus aku lakukan," ucap Robi bangkit berdiri.


"Baiklah kalau begitu. Oh iya satu lagi, pertemuan kita selanjutnya akan lebih serius dari ini," balas Deki berdiri menyodorkan tangan.


"Akan aku nantikan itu." Menyambut uluran tangan Deki.


Setelah Robi usai melakukan pertemuan secara diam-diam dengan Deki, segera kembali menemui Aldo yang telah menunggunya di ruang pribadi.


Setelah sampai di lokasi.


"Paman," sapa Aldo berdiri.


Berjalan tersenyum mempersilahkan Aldo duduk kembali.


"Gimana? Ada hal baru apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Begini Paman, waktu pembantaian yang kami lalukan seminggu lalu, sepertinya kondisi di sana telah kembali tenang. Apakah tidak sebaiknya kami segera kembali ke sana?"


"Tidak usah, ada hal yang lebih penting untuk kamu lakukan nanti. Urusan kamu yang kemarin biarkan Bowo yang kembali menjalankannya."


"Kenapa seperti itu, Paman? Apakah aku terlihat gagal?"


"Bukan, bukan seperti itu. Justru aku melihat potensi di dalam dirimu jauh lebih besar untuk mengatasi masalah yang sangat besar ini. Bakat dalam dirimu selalu membawa kamu menuju ke tempat yang lebih tinggi," ucap Robi terus memuji Aldo.

__ADS_1


"Begitu ya," balas Aldo mengangguk.


"Kamu hanya perlu menunggu tugas baru yang jauh lebih besar dariku nanti."


"Baiklah paman jika kamu berkata seperti itu, akan ku ikuti," singkat Aldo.


"Yasudah kalau begitu sebaiknya kamu kembali saja untuk beristirahat, kapan waktunya tiba akan saya beritahu."


"Baik, Paman."


Disisi lain Ray yang sedang berada di sekolah mengurus segala kepentingan Rama.


"Terimakasih selama ini telah mendidik adik saya pak, sekali lagi kami ijin pamit. Maaf jika ada kesalahan yang pernah adik saya perbuat," ujar Ray berdiri menjabat tangan kepala sekolah.


"Sama-sama pak, kami juga turut berduka cita atas musibah yang telah terjadi kepada keluarga Rama," balas kepala sekolah.


"Mari pak."


"Mari."


Terlihat kesedihan di raut wajah Rama akan perpisahan sekolah tersebut. Ray cukup mengerti seperti apa rasa berpisah dengan beberapa teman yang sangat dekat.


"Jalani takdirmu yang baru," ucap Ray pada Rama melanjutkan perjalanan kembali.


Di pertengahan jalan, mencari tempat penginapan untuk beristirahat karena matahari telah terbenam, berniat melanjutkan perjalanan kembali esok pagi.


Keesokan harinya setelah melanjutkan kembali perjalanan dan tiba di kota, Ray langsung mengurus semua kebutuhan Rama, seperti mendaftarkan Rama ke sekolah yang baru. Setelah semua urusan untuknya selesai, kembali menuju rumah Alisa.


"Gak sebesar rumah lainnya kok Dek," sahut Alisa mengelus kepala Rama.


"Satpamnya masih di cari, tapi belum ada yang daftar," sahut Ray menutup bagasi mobil.


"Ada wifinya Bang?" bisik Rama.


"Itu." Menunjuk ke sudut tembok.


"Alisa, Ray, kok gak kabarin kalau kalian sudah sampai?" sapa Ibu berdiri di depan pintu masuk.


"Ibu." Alisa menghampiri mensalim diikuti Ray juga Rama.


"Kenapa Ibu gak istirahat aja di kamar?" kata Alisa sembari mengelus punggung ibu.


"Ibu baik-baik saja, jangan terlalu memikirkan seperti itu," jelas Ibu.


"Oh iya ini siapa namanya lupa Ibu," lanjut Ibu kembali.


"Rama Tante." Menyalim tangan.


"Kondisi Ibu akhir-akhir ini sedang tidak baik, jangab terlalu memaksakan diri," ujar Alisa menuntun ibu masuk.


"Ibu beneran gak apa-apa nak," lirihnya berjalan masuk.

__ADS_1


Jauh setelah kehilangan sosok seorang suami, ibu Alisa sering mengalami kelelahan akibat sakit yang ia derita terus berlarut-larut.


"Ini kamarmu," ucap Ray membukakan pintu kamar untuk Rama.


"Yaudah Bang, Aku beres-beres dulu," balasnya menutup pintu.


Setelah menghantarkan Rama, Ray kembali menuju kamar miliknya.


"Mas, kenapa melamun?" ujar Alisa menghampiri.


"Gak kok, cuma lagi kepikiran sesuatu aja, Sayang."


"Kalau ada masalah sebaiknya kamu cerita mas, jangan di pikirin sendiri," seru Alisa menggenggam tangan Ray.


"Aku masih kepikiran kejadian kemarin saja."


"Sabar ya mas, kamu pasti kuat kok," balas Alisa.


"Yaudah kalau begitu kamu istirahat dulu, pasti kecapean seharian ini," tambah Alisa kembali menidurkan tubuh Ray.


Disisi lain keluarga Deny.


Pukul 19:39


Ceklek...


"Permisi Non, makan malamnya sudah siap. Tuan dan nyonya sudah menunggu," ujar Bibi.


"Suruh duluan saja ya bik, nanti Novi nyusul kalau sudah lapar."


"Iya Non." Menutup pintu kembali.


Novi berjalan ke sisi jendela kamar, menatap pandangan luas dari ketinggian rumah.


"Kamu lagi apa ya di sana, sudah seminggu ini gak ada kabar darimu."


Kreek (Membuka jendela kaca).


"Leon, andai saat ini kamu tau bahwa ada sesosok lelaki yang sangat mirip denganmu, mungkin kamu akan sangat terkejut," batin Novi mengelus lengan merasakan sejuk angin malam menoleh menatap bahu jalanan.


"Siapa itu?" pekik Novi melihat seseorang berjalan tertatih-tatih dalam sekejap tersungkur di pintu pagar depan halaman rumah.


Brukk... (Suara tubuh terjatuh)


"Hoi, kenapa kau tertidur di situ! Ini bukan panti asuhan ataupun hotel penginapan!" Bentak salah seorang pengawal menghampiri.


"Hoi, bangun!" lanjut pengawal membuka gerbang menyepak tubuh seorang lelaki yang tersungkur.


Melihat para pengawal masih berdiri di balik gerbang mencoba mengusir lelaki yang terkapar tersebut, Novi bergegas keluar kamar bermaksud menghampiri memberitahukan pada sang ayah.


***

__ADS_1


Sampai disini dulu kak upnya, maaf agak telat. kondisi author lagi baling..makasih telah mengikuti, terlebih buat yang fav, gift, vote, komen, like, ataupun lainnya..kita lanjut.


__ADS_2