
"Tapi apa, Ray?" tanya Enda.
"Jangan sampai Ayu merasa ketika mendapatkan kau, dia seperti mendapatkan musibah yang besar," jelas Ray tersenyum receh.
Ketika asik tertawa,.
"Aku udah sold out ini dan Enda juga, terus
kau kapan lagi Ray? untuk 2019 mendatang, lelaki dewasa yang belum menikah bakal di suntik mati oleh pemerintah, ingat itu kawan," sahut Putra menambah percakapan dengan jahilnya.
Dengan santai Ray membalasnya, "Ini masih ngumpulin calon dulu, siapin aja dana segar yang besar nanti."
"Udah macam mucikari kau ya, mau sampai berapa banyak wanita kau kumpulkan? Ingat mereka adalah seorang anak perempuan yang begitu amat di jaga baik oleh orang tua mereka. Kalau tidak ada keseriusan dalam dirimu, lebih baik tinggalkan, jangan menyakiti," cetus Enda berucap bijak.
"Ya karena belum pas aja, terus mau gimana lagi coba," jawab Ray menenggak minuman segar.
Tamu undangan silih berganti,.
"Aku denger si Rina belum memiliki calon pendamping, kau gak ingin deket lagi sama dia?" tanya Enda kembali.
***
Rina ialah temen dekat Ray ketika mereka masih berada di bangku SMA.
Rina Agustina, wanita berparas korea itu terlalu sulit bergaul dengan lelaki. Hal yang wajar karena pemikirannya tentang lelaki tak pernah bisa berfikir positif, belum lagi ketika membicarakan sosok yang pas untuk pasangan hidup.
Mungkin masa itu hanya ada beberapa lelaki saja yang dia kenal, dan diantara lelaki itu termasuk Ray.
Kenaikan kelas 3 SMA adalah masa yang membuat Ray kasmaran kembali. Sebab saat itu Susi datang menghampirinya menyatakan sebuah rahasia kecil dari Rina.
Susi adalah sahabat karib Rina dari kecil hingga mereka duduk di satu kelas SMA yang sama, berbeda kelas dengan Ray, Enda dan Putra. Walau berbeda kelas, pertemanan mereka tetap terjaga dengan baik.
"Dia menyukai mu Ray, jika kamu menyatakan cinta kepadanya, Aku pastikan cintamu akan terbalas," ujar Susi kepada Ray tepat di halaman sekolah.
Mendengar peryataan itu, Ray sedikit bingung cara menanggapinya, karena saat itu ia tak ingin membuat keputusan apapun. Yang ia tau saat pertemanan di bumbui dengan perasaan berharap lebih, maka yang terjadi pasti saling bermusuhan ketika tak bisa berbalas rasa.
Jelas saja hal itu terbukti, Ray mengganggap ungkapan itu hanya sekedar keluar dari perasaan Rina yang mungkin sedang menjalani fase kesepian.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Susi bergegas pergi meninggalkannya seorang diri yang masih terdiam terpaku di halaman sekolah. Pergi karena melihatnya tak berkata sedikit pun tentang peryataan cinta gadis belia.
Dari kejadian itu Rina tak pernah lagi menyapa. Sikapnya berubah jauh menjadi lebih pendiam,
bahkan sampai di hari perpisahan sekolah pun dia masih tetap diam kepada Ray.
Mendapati sikapnya yang berubah, Ray tak menyalahkan Rina sedikit pun, melainkan lebih menyalahkan sikapnya sendiri karena tak bisa menyambut sebuah hati.
***
"Kok jadi bahas Rina, bahas yang lain aja lah," ucap Ray kepada Enda saat melihat biduan panggung menari ulat bulu di pesta pernikahan miliknya.
"Ya kan mana tau, pulak bingung Aku nengok kau, entah yang mana satu, semua di dekati, ingat kurma Ray, ingat," ujar Enda kembali.
"Karma," sahut Putra.
"Oh iya karma," jelas Enda.
"Mungkin dia masih memegang teguh prinsip grup sekolah kita dulu itu bro, ingat gak?" sahut Putra kembali ketika hendak memantik api menyalakan rokok di tangan.
"Oh iya baru inget Aku, grup kita itu kan?" sambungnya kembali.
"Iya loh, masak grup orang lain," tegas Putra.
Enda mengangguk tertawa, "Coca-cola, cowok cakep cowok idola."
***
Cola cola.
Itu adalah nama grup mereka bertiga semasa SMA. Dengan memegang prinsip berhenti mengejar wanita, mengubah prinsip agar di kejar wanita.
Masa itu sedikit lucu karena kedewasaan mereka dalam berfikir belum terlintas. Hanya ngumpul kesana kemari yang mereka tau kala itu. Belum lagi masa itu keadaan sangat mendukung, terlihat begitu populer di kalangan anak remaja, menjadi incaran setiap kaum hawa.
Sebenarnya tidak terlalu tampan, hanya saja lelaki yang lain terlihat pas-pasan masa itu.
***
__ADS_1
"Kejar apa yang kau butuhkan Ray, jangan kejar yang kau inginkan. Begitu seharusnya ketika hendak ingin memilih pasangan hidup," ucap Enda ketika melihat Ray sedikit termenung.
"Permisi bang, kita lanjut lagi ya," ujar seseorang ketika menghampiri Enda.
Seketika obrolan mereka pun berakhir saat Enda melanjutkan kembali kesibukan atas dirinya menjadi pengantin pria.
***
(Flash Off)
"Loh kok melamun, buruan mandi sana," ujar Ibu ketika melihat Ray yang masih termenung mengusap lembut tanggal di kaca lemari bajunya.
"Eh Bunda, iya ini sekalian mau ambil baju ganti."
Setelah selesai berbenah diri sekaligus menyantap hidangan makan malam, Ray kembali masuk kedalam kamarnya menuju tempat peristirahatan sementara (kasur).
Ahgrhh,.
"Begini memang udah paling mantap dah," cetusnya saat membaringkan badan.
"Kapan ya bisa merasakan menikah itu seperti apa rasanya, kalau di pikir-pikir kembali pasti seru ketika menikah dan memiliki generasi penerus," batin Ray mengingat memikirkan perkataan Enda ketika menikah.
Tak lama kemudian,
Ceklek.... (Pintu terbuka).
"Bang udah tidur belum?" tanya Ibu.
"Belum Bu, ini masih nyantai aja, kenapa Bu?
"Gak jadi, ya sudah istirahat lah, ntar Ibu suruh adik mu saja," ucap Ibu kembali menutup pintu kamar.
***
Sampai di sini dulu ya kak, jangan lupa sub, review semua apalah itu namanya untuk dukung terus karya ini kak makasih.
Lanjut...
__ADS_1