
Melewati hari yang melelahkan, kembali Ray menjalani hari yang cerah bersama Alisa.
"Kamu sudah bangun, Mas?" ujar Alisa melihat Ray mengusap mata terduduk di atas ranjang.
"Sudah cantik aja pagi begini," balas Ray melihat Alisa mengeringkan rambut panjangnya di depan cermin.
"Buruan sana mandi, udah bau asem tuh."
"Iya iya, ini mau mandi, ikut nemenin gak?" Bangkit berdiri di samping Alisa.
"Yeh, maunya kamu itu. Mulai nakal ya, makanya buruan nikahin," jelas Alisa.
"Yakan besok pagi kalau enggak kesiangan," balas Ray bergegas masuk ke kamar mandi.
Selesai berbenah diri, melanjutkan perjalanan menuju halte bis yang sedikit jauh dari penginapan.
"Akhirnya ketemu juga," ucap Ray menatap halte tersebut.
Menaiki bis bersama dengan Alisa menuju kampung halaman. Membutuhkan waktu 4 jam perjalanan untuk sampai di lokasi tujuan.
Sesampainya di kampung halaman.
"Assalamualaikum," salam Ray dari halaman rumah.
"Waalaikum'salam," sahut Ibu sembari keluar rumah.
Keduanya langsung mencium tangan Ibu, begitupun dengan Alisa.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ibu.
"Baik Bu, cukup baik," jelas Ray tersenyum.
"Ibu tanya Alisa," jelas Ibu kembali.
"Kan aku anak Ibu sih," pekik Ray.
"Iya tapi yang ini calon mantu Ibu."
"Alhamdulillah sehat Bu. Oh iya, Ibu sendiri gimana kabarnya?" sahut Alisa.
"Sehat juga Nak. Loh barang-barang kalian mana?" ujar Ibu kembali.
"Panjang ceritanya Bu, nanti aku jelasin di dalam," jelas Ray.
"Yaudah masuk dulu beberes di dalam," singkat Ibu menuntun Alisa masuk.
Setelah menceritakan semua yang terjadi dari batalnya pernikahan Alisa dengan Aldo, tertinggal di statiun pemberhentian kereta, menginap di penginapan sampai akhirnya tiba di tempat dengan bis, Ibu mulai memahami semuanya. Tak heran jika Ibu begitu menyayangi Alisa.
Ibu masih terus mengajak Alisa berbincang-bincang di ruang tamu. Sedang Ray berpura-pura tertidur di lantai mendengarkan percakapan mereka berdua.
__ADS_1
"Setelah mendengar semua dari Ray, Ibu akan segera menikahkan kalian berdua Nak," ujar Ibu memegang tangan Alisa.
"Iya Bu, terima kasih telah merestui hubunganku dengan mas Ray."
"Tapi bagaimana dengan orang tua kamu di sana? Mereka udah dapat kabar tentangmu disini belum, Nak?" Ibu mengkhawatirkan kedua orang tua Alisa.
"Kemarin Alisa udah kasih kabar kok Bu dan mereka mengijinkan Alisa pergi kesini."
"Oh yasudah sekarang kalian berdua makan dulu sana, Ibu udah masakin opor ayam." Ibu berdiri mendekati Ray yang berbaring.
"Bangun, gak usah pura-pura tidur, bulu hidungmu itu bergoyang-goyang," lanjut Ibu menyepak Ray lembut.
Mengintip perlahan, tersenyum receh menatap Ibu, "Orang udah tidur beneran juga."
"Lagumu itu, kuping kamu naik turun dari tadi dengerin pembicaraan wanita, makan dulu biar ada isinya." Ibu berlalu pergi menuju ruang makan.
"Kamu ini Mas, nakal bener ya," sahut Alisa tersenyum.
"Gendong, please gendong, Aku lelah," pekik Ray merengek merentangkan tangan ke arah Alisa.
"Ih anak siapa si ini? Ampun bener manjanya," balas Alisa.
Ray bangki langsung berjalan menuju ruang makan bersama Alisa. Tak lama setelahnya sang Ayah pulang dari kesibukannya.
"Loh ada tamu, kenapa gak bilang-bilang Bu?" ujar Ayah berdiri mendekati.
Alisa segera bangkit mencium tangan sang Ayah kemudian kembali duduk di meja makan.
"Pfffffffffff........" Gelak tawa Ayah.
"Sejak kapan mulai berani mau nikah? Kemarin-kemarin sibuk main-main aja kau," balas Ayah perlahan duduk meminum teh yang telah Ibu siapkan.
"Serius ini, bukan main-main," jelas Ray kembali.
"Kalau udah serius yasudah tinggal tentuin tanggalnya aja," balas Ayah kembali.
"Sudah besar anak kita, sudah mikir dewasa dia sekarang, Ibu bangga," sahut Ibu kepada Ayah.
"Iya Bu, asal jangan nyakitin anak orang aja. Kalau nyakitin pas udah menikah, ku libas pakai ikat pinggang nanti," jelas Ayah kembali.
Melanjutkan perbincangan hingga akhirnya memutuskan waktu terbaik untuk segera melamar dan menikahi Alisa. Tak butuh waktu lama, Ayah langsung menelpon keluarga Alisa bercerita membahas dan memberitahukan semua hal tentang pernikahan tersebut.
"Baiklah jika begitu Pak, terima kasih atas kepercayaannya pada keluarga kami," ucap Ayah kemudian menutup telepon sehabis menghubungi keluarga Alisa.
"Nak, orang tua kamu menyerahkan kamu sepenuhnya pada kami disini. Ayah sama Ibu akan segera mempercepat pernikahan kalian agar lebih enak di pandang masyarakat menghindari pandangan miring," jelas Ayah menatap Ray juga Alisa.
Menjelang malam hari, Ray duduk di halaman depan rumah sedang Alisa bersama Ibu di ruang tamu.
"Bang, kok di sini kau?" tegur Rama menghampiri.
__ADS_1
"Iya, Abang masih bingung ini."
"Udah mau nikah kenapa bingung?"
"Iya bingung, nanti malam tidurnya bareng apa gak sama kakak mu."
"Mak, gak ada perakalan Abang ya, mau curi start pulak," pekik Rama.
"Tapi kan bang, hal apa yang udah buat kau tobat sampai bisa jadi seperti ini?" tanya Rama kembali.
"Seperti ini gimana?"
"Ya yang aku tau dulu ada sekitar 346 juta jiwa wanita yang Abang. Kalau nanti udah menikah berarti ya udah habis tinggal tersisa satu," jelasnya.
"Apa-apa aja yang kau bilang itu, macem kos kosan aja aku kau buat."
"Terus pernikahanmu nanti resepsi berapa hari berapa malam lah itu bang?"
"Macem artis lama-lama kau pikir aku, paling cuma 7 hari 8 malam," jelas Ray pandangan lurus menghisap rokok.
"Pokoknya ku bantu sebisa mungkin biar acara abang nanti lancar. Ikhlas aku bang ikhlas, gak pala minta apa-apa aku."
"Yakin ikhlas?" Menoleh menatap Rama.
"Ikhlas bang. Oh iya bang coba liat dulu ini. Bagus gak sih yang model kayak gini?" ujar Rama memberi brosur ponsel dengan tampilan terbaru.
"Bagus sih, keren juga elegan," singkat Ray.
"Kalau di pakai pas pernikahanmu nanti, keren ini bang bisa buat foto-foto biar makin mantap momen nikahan itu, yakan?"
"Katanya ikhlas?" Mengangkat gelas meminum kopi.
"Keadaan memaksa, kan judulnya cuma diskusi kecil, siapa tau rejeki anak tampan," jelas Rama merayu.
"Yaudah, aman itu nanti. Masuk dulu kau kedalam terus liat kakakmu udah ngantuk belum."
"Siap 86 komandan."
Rama berlalu pergi, tak lama setelahnya Alisa menghampiri.
"Mas, kamu belum ngantuk?"
"Belum, ini lagi nikmati udara malam."
"Kok gak pakai jaket? Masuk angin nanti."
"Iya hawa lagi sedikir panas," jelas Ray menepuk lantai menyuruh Alisa duduk di sampingnya.
"Tadi Ibu dan Ayah bilang kalau pernikahan kita diadakan 2 hari lagi, terlalu buru-buru gak sih Mas?" tanya Alisa perlahan duduk di sebelah.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu ya tante, nanti kita lanjut kembali setelah jempol kembali pulih. Lanjut....