Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 57


__ADS_3

Setelah melihat kepergian Aldo, Alisa terduduk tersenyum tipis. Fendi segera menghampirinya untuk bergegas menyusul Ray.


"Alisa kamu harus segera menemui Ray di stasiun kereta, dia berencana pergi ke kampung halaman karena tak sanggup menyaksikan pernikahanmu hari ini. Kemungkinan terburuknya, Ray gak akan pernah kembali kesini."


Mendengar kabar tersebut, tanpa pikir panjang, Alisa langsung bergegas masih lengkap dengan pakaian pengantin yang ia kenakan.


"Alisa, mau pergi kemana kamu!" Bentak Ayah.


Tak menghiraukan ucapan sang Ayah, Alisa menyeret Fendi untuk segera mengantarkannya menemui Ray.


"Buruan Fendi, keburu mas Ray pergi."


"Sabar Alisa sabar," balas Fendi berjalan menuju mobil bersama Fii, Mia dan Erlin yang juga ikut menemani menuju stasiun kereta di mana Ray berada.


"Udah Yah, biarkan Alisa memilih kebahagiaannya," ujar sang Ibu mengelus lembut lengan Ayah yang masih berdiri menatap Alisa serius.


"Buruan Fendi di kebut, Aku harus memberi tahu mas Ray kabar ini," lanjut Alisa ketika berada di dalam mobil.


"Sabar Lisa, bahaya kalau tidak hati-hati bisa celaka nanti," jawab Fendi menyetir mobil.


Melihat waktu semakin menipis, pikiran Alisa semakin kacau, berfikir akan terlambat ketika sampai di stasiun.


Melewati beberapa halangan akhirnya sampai di stasiun kereta api. Alisa segera turun dari mobil berlari mengerjar Ray meninggalkan Fendi, Fii, Mia juga Erlin yang masih di dalam mobil.


"Mas Ray, Mas, kamu di mana," teriak panik berlari ke depan melihat arah kanan dan kiri mendengar peringatan suara kereta.


"Mas Ray."


Hingga akhirnya Alisa melihat Ray dari kejauhan yang hendak menaiki gerbong kereta.


(Flash back off)


"Jadi begitu mas ceritanya kenapa aku bisa sampai di sini menemui kamu," ujar Alisa memeluk sisi kanan Ray.


"Terus kamu akan ikut aku pergi ke kampung halaman?"


"Kalau aku jawab iya, apa kamu keberatan, Mas? Bukannya nanti aku bakal jadi calon istri kamu juga?" balasnya tersenyum lepas.


"Orang tua kamu?" tanya Ray kembali mengerutkan alis.


"Mereka udah tau jika aku pergi mengejar kamu."


Perlahan Ray kembali tersenyum sesekali mencium kening Alisa penuh mesra. Tak berapa lama Alisa mulai memejamkan mata masih mendekap. Pelukan darinya membuat pikiran bahagia Ray kembali utuh.

__ADS_1


"Terima kasih telah mengembalikan dirinya disisi ku. Tak ada kekuatan apapun yang lebih hebat dari tiap bait doa dalam sujud," batin Ray berterima kasih pada sang Ilahi.


Menyandarkan kepala, Ray ikut memejamkan mata membiarkan semua berjalan seperti seharusnya. Belum tertidur pulas, mendadak bangun ingin pergi ke toilet. Sedikit menggeser pelan sandaran kepala Alisa yang bersandar di bahunya masih tertidur.


"Bentar ya sayang, jangan bangun dulu," bisik Ray lembut berdiri dari tempat duduk berjalan perlahan.


"Mas terdakwa kawin lari ya? Lihat si mbaknya masih pakai gaun pengantin begitu. Pasti hubungannya gak di restui orang tua, kasihan sekali ya," ujar salah seorang wanita berkaca mata berpapasan dengan Ray melirik Alisa yang masih tertidur.


"Bukan kok, ini tadi dia lagi mandi terus selendang dia aku ambil. Nah jadinya dia gak bisa balik lagi ke kayangan, terus nguber aku," balas Ray.


"Ngaco kamu Mas, cerita seperti itu hanya ada di dongeng," balas perempuan tersebut.


Tak menjawabab lagi hanya tersenyum memicingkan kedua mata di hadapan wanita berkaca mata tersebut menahan sesak di kantung kemih yang ia rasakan.


"Yasudah maaf menggangu waktunya," lanjut sang wnaita berlalu pergi.


Dengan cepat Ray berjalan menuju toilet. Tak lama setelahnya kembali duduk di kursi kereta.


"Mas," lirih Alisa.


Meski mata terpejam, udara dingin membuat pori-pori kulit halusnya menggigil.


Kereta berhenti di stasiun pertama, sedang tujuan mereka di stasiun berikutnya. Melihat Alisa menggigil, sebagai seorang lelaki Ray tau betul apa yang harus ia lakukan.


"Kamu tunggu sebentar ya sayang, Aku akan cari sesuatu yang hangat untukmu," bisiknya mengecup kening Alisa yang masih tertidur.


"Nah itu dia toko baju yang ku cari, pasti jaket untuk Alisa juga ada di sana," batin Ray menenggak minuman.


Berjalan menuju toko, ketika sampai langsung memilih beberapa pakaian ganti untuk Alisa.


"Yang ini cakep keliatannya, tapi ukuran Alisa berapa ya?" Memegang pakaian wanita.


"Main tebak aja lah, sapa tau pas," lanjutnya mengambil beberapa pakaian lengkap untuk Alisa termasuk pakaian dalam.


"Berapa Mbak totalnya?"


"Total semuanya Rp.1.350.000," jawab kasir.


"Ini Mbak." Menyerahkan uang pembayaran.


"Beruntung sekali pasti istri mas di rumah ya. Punya suami yang sangat pengertian plus cakep lagi seperti mas ini," ujar kasir.


"Beruntung gimana, Mbak?"

__ADS_1


"Ya pengertian sampai seluruh pakaian lengkap di beliin mulai dari bawah sampai atas. Jarang loh ada lelaki yang mengerti pasangannya seperti ini," lanjutnya kembali.


"Bisa aja kamu Mbak," balas Ray nyengir.


"Ini kembaliannya, Mas."


"Terima kasih, Mbak."


Melanjutkan perjalanan kembali ke gerbong kereta, seketika melihat jam di tangan.


"Waduh gawat, bisa ketinggalan ini." Mempercepat langkah.


Tin, gejes gejes gejes. (Suara kereta berjalan).


Mendengar suara peringatan kereta akan berjalan kembali, sekejap membuat Ray panik karena Alisa masih berada di gerbong kereta.


Berlari dengan cepat, namun semua sia-sia karena kereta telah berjalan kembali. Ray kembali menikmati resah tersebut.


"Sial, sial, sial!" umpatnya memangku kedua tangan di pinggul melihat kereta semakin menjauh.


Terlalu asik berkeliling membuatnya lupa jam perjalanan kembali kereta. Ray berjalan kembali terduduk di bangku stasiun dan hanya bisa menikmati hari kesialan yang terus terjadi tanpa memberinya waktu berhenti. Menunduk sembari kedua tangan menutup wajah.


"Ayah pernah bilang padaku, lelaki itu gak boleh gampang menyerah mudah depresi," lirih suara wanita yang tidak asing berada di depan Ray.


Mendengar suara tersebut, perlahan Ray membuka mata mengangkat pandangan melihat kearah lurus.


"Alisa?"


Bangkit terus memeluk Alisa di stasiun persinggahan yang kebetulan saat itu tak begitu ramai pengunjung.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya tadi kamu tertidur ketika aku keluar meninggalkanmu?" tanya Ray bingung melihat keberadaan Alisa.


"Maaf tadi meninggalkanmu, Aku pergi mencari ini untukmu," lanjut Ray menunjukan bingkisan ke Alisa.


"Kamu tuh mas, bertindak semaunya sendiri. Kenapa gak coba bangunin aku? Kalau tadi aku masih berada di gerbong itu gimana?" gumam Alisa sedikit manyun.


"Melihatmu tertidur pulas, satu kebahagiaan tersendiri dalam hidupku. Aku akan menjaga tidurmu dari perbuatan jahat, siapapun itu. Jadi, jika Aku membangunkan tidurmu, itu adalah perbuatan jahat," balas Ray menyentuh lembut kedua sisi pundak Aliisa.


"Hilih, alasan," sindir Alisa menjahili.


"Tapi beneran, kenapa kamu bisa berada di sini?" lanjut Ray masih bingung sembari mengajak Alisa duduk terlebih dahulu memberikannya sebotol minuman penyegar.


"Jadi begini Mas ceritanya."

__ADS_1


***


Yak betol, sampai disini dulu langsung gak lanjut lagi kak. makasih lanjut...


__ADS_2