
"Bagaimana mungkin kamu bisa berkata seperti itu? Kamu sadar atas apa yang barusan kamu ucapkan?" pekik Ray terlihat bingung mendapati peryataan cinta Novi.
"Aku juga gak tau sejak kapan perasaan ini muncul untukmu Ray. Ketika bersama kamu, Aku selalu merasakan kebahagiaan hidupku yang dulu hilang telah kembali lagi."
"Tapi kamu tau kan jika aku sudah memiliki Alisa?"
"Justru ketika aku tau kamu sudah ada yang memiliki, perasaan ini ingin merebut semakin kuat. Aku tau kalau rasa ini salah, tapi aku..."
Lirih tangisan Novi menghentikan ucapannya tersebut. Melihat Novi menangis bersedih membuat Ray semakin bingung.
"Aku harus apa?" batin Ray menatap Novi mengisak tangis.
"Nov..." lanjut Ray terhenti berbicara ketika Novi langsung mendekap erat tubuhnya.
Terus menangis semakin kuat melepas semua sesak yang ia alami, perlahan tangan Ray bergerak memeluk mengusap lembut tubuhnya sekedar menenangkan.
"Kamu wanita yang baik, pintar dan juga cantik. Aku yakin jika diluar sana cukup banyak lelaki yang ingin memilikimu. Lelaki yang nantinya bakal memiliki kamu, pasti sangat beruntung," jelas Ray.
"Ta-tapi ka-kamu gak akan pergi menghindar dariku kan Ray? Sekarang kamu telah mengetahui perasaan ku ini dan maafin aku yang.." lirih Novi nada terbata-bata mata berlinang tak sanggup melanjutkan peryataan dirinya.
Ray tersenyum sekaligus mengelus lembut kepala Novi sembari menunggu hujan deras yang tak kunjung reda. Terlalu lelah begitu banyak mengeluarkan air mata membuat Novi seketika tertidur bersandar di bahu Ray.
Melihat Novi bersedih hati tentang apa yang ia alami, memaksa Ray membiarkannya terus seperti itu.
"Kamu gak salah jika memiliki perasaan untukku. Kamu hanya seorang gadis yang masih terjebak dalam keadaan masa lalu. Jika bukan karena cintamu untuk Leon begitu besar, perasaan padaku takkan pernah ada," batin Ray memahami apa yang Novi alami.
2 jam telah berlalu, cahaya bintang malam kembali hadir menyisihkan derasnya cucuran air hujan.
"Em, em..." lirih Novi terbangun mengusap kedua mata.
"Sudah reda ya?" lanjutnya melihat sisi kanan kiri kemudian melihat jam di tangannya.
"Begitulah," singkat Ray.
"Jam 12?" pekik Novi bangkit berdiri terlihat panik.
"Kok kamu gak bangunin aku? Kamu sengaja ya biarin aku tertidur begitu pulas dalam dekapanmu agar kamu bisa mencari kesempatan?" lanjut Novi berjalan pergi meninggalkan Ray sendiri.
"ASTAGA!!!! Tadi nangis-nangis sekarang malah nuduh gak jelas. Apa sih maunya ni anak?" ketus Ray bangkit berjalan mengikuti.
"Eh Ibu, sudah selesai ya kangen-kangenannya?" sapa bibi berdiri menunggu di ruang tamu panti.
"Siapa yang lagi bermesraan bik? Hujan deras tadi, jadi terpaksa berteduh di sana. Lagian kenapa bibi gak datang bawa payung sih?"
"Ya bibi gak tau, kirain lagi kasmaran."
__ADS_1
"Yaudah kalau begitu saya pamit dulu," ujar Novi mengambil tas berlalu pergi masuk ke dalam mobil.
"Lagi bertengkar ya pak?" lanjut bibi ketika Ray menghampiri hendak pamit.
"Gak kok bi, mungkin ayahnya mencemaskan dia, jadinya begitu."
"Oh...kirain lagi bertengkar."
"Pamit ya bi."
Dalam perjalanan pulang, Novi terus diam cemberut tak berkata apapun. Hal tersebut membuat Ray penuh tanya.
"Pasti nih anak malu karena udah blak-blakan seperti tadi," batin Ray melirik.
"Kenapa senyum-senyum? Ada yang lucu?" jelas Novi.
"Gak, gak ada kok." Menatap lurus jalanan.
"Kita balik ke kantor, maaf merepotkan," pekik Novi.
"Kenapa ke kantor?"
"Mobil kerja kamu kan di sana."
"Yaudah kalau kamu memaksa," balas Novi memalingkan pandangan.
"Gengsi bener anak gedongan satu ini." Menggelengkan kepala ketika melihat Novi sedikit tersenyum di pantulan kaca mobil.
Ternyata kedatangan mereka telah di tunggu oleh Ayah Novi yang berdiri depan pintu rumah. Ketika mereka tiba dan turun dari mobil, para pengawal pribadi dengan cepat langsung mendekap tubuh Ray agar tak melakukan perlawanan.
"Loh, kok, kenapa ini?" ucap Ray bingung.
"Diam kamu!" Bentak pengawal menekan separuh tubuh Ray bertekuk lutut.
"Pasti gawat ini. Pasti dikiranya aku orang jahat yang telah menculik anak orang," batin Ray menundukkan pandangan.
"Dia bukan orang jahat, kenapa kalian bersikap kasar? Lepaskan dia!" Tegas Novi kepada pengawal.
"Ayah yang memberi mereka perintah," sahut sang Ayah berdiri di depan pintu istana berjalan mendekati.
"Ayah, dia ini supir pribadi aku, kenapa harus diperlakukan seperti ini?" pekik Novi berjalan mendekati sang Ayah.
"Sekarang sudah jam berapa? Kamu tau kan jika kamu anak Ayah satu-satunya. Kemana saja kalian? Pantaskah seorang anak perempuan bersama seorang lelaki sampai larut seperti ini?"
Mendengar Novi berseteru dengan sang ayah membuat Ray tetap menundukkan pandangan.
__ADS_1
"Habis riwayatku. Tamat udah," pikir Ray.
"Tapi Novi yang memberinya perintah untuk menemani Yah."
"Jangan bilang kalau kamu menyukai seorang supir? Oh Ayah tau sekarang." Mengangguk menggengam tangan di balik punggung.
"Bukan seperti itu Yah. Novi tadi main ke panti dan kami gak ada melakukan hal..."
"Hardi, kemari kamu." Memanggil salah seorang pengawal.
"Iya Tuan."
"Jelaskan kembali padaku apa yang telah kamu lihat."
"Baik Tuan. Saya dengan sangat jelas melihat Nona tertidur pulas bersandar pada lelaki itu, Tuan," jelas pengawal tersebut.
"Sudah jelas sekarang?" tanya sang Ayah kembali menoleh menatap Novi.
"Ayah sengaja mengirim dia untuk memata-matai aku lagi? Aku udah besar Yah bukan anak kecil. Bukankah sebelumnya kita telah sepakat perihal kebebasanku? Tapi sekarang buktinya apa? Ayah telah mengingkari janji tersebut dan semakin membuatku gak nyaman."
"Dimata seorang Ayah, kamu tetaplah seorang anak kecil yang belum bisa menjaga diri. Ayah sengaja mengirim dia membututimu agar tetap bisa menjaga keselamatan dirimu," jelas sang Ayah kembali berjalan mendekati Ray.
"Aku ingin tau, siapa yang telah berani mencoba mendekati dan membawa pulang putriku sampai larut malam begini," lanjut sang Ayah berdiri tepat di hadapan Ray.
"Ayah, dia tidak seburuk yang Ayah pikir."
"Kamu diam atau Ayah akan mengurungmu!"
"Tapi Yah..."
"Diam! Lebih baik sekarang kamu pergi masuk!" Bentak sang Ayah menunjuk dalam ruangan rumah.
"Maafkan papamu ini Nak, padahal kamu belum lahir, tapi kamu bakal menjadi anak yatim," batin Ray memicingkan pandangan masih menunduk.
"Kamu belum tau aku siapa? Berani sekali kamu bermain dengan putriku. Meskipun seorang supir, harusnya kamu tau waktu dan kapan harus mengembalikan putriku," lanjut Ayah Novi mengelus lembut kepala Ray tersenyum sinis.
Ketika beralih menyentuh dagu Ray mendongakkan pandangannya, Ayah Novi cukup terkejut tak percaya mendapati wajah Ray sama dengan Leon.
"Leon?"
"Om," balas Ray tercengir menatap Ayah Novi.
***
Sampai disini dulu rekan-rekan, kopi dah habis. Jangan lupa Fav, vote (kalau gak keberatan) , komen likenya buat dukung author rengginang ini ya. Masih tetap lanjut.....Makasih kak.
__ADS_1