Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 116


__ADS_3

"Aku tidak bisa tinggal diam!" jelas Ray.


"Mustahil bagimu mengalahkan mereka seorang diri, jangan bertindak gegabah. Bukankah kau lihat sendiri kami yang bersatu saja tak cukup menghentikan kebiadaban mereka?"


"Terus apa aku harus diam menyaksikan ini semua terjadi?" Ray terduduk lemas bersandar di dinding rumah.


"Dari sudut manapun kita memandang, tetap saja kalau pisau takkan pernah menang menghadapi sebuah pistol," lanjut Budi memasrahkan takdir.


"Apa yang harus ku lakukan?" batin Ray memegang erat kepala.


"Lebih baik kamu pergi sekarang, Ray. Terlalu lama berada disini hanya akan membuatmu dalam bahaya. Uhuk-uhuk."


"Jangan berkata yang tidak-tidak. Kita bukan lagi anak kecil yang harus lari ketika dihadapkan dengan suatu masalah."


"Heh, dari dulu sikapmu masih sama saja, Ray. Membuatku semakin bersemangat menghabisi para bajingan tersebut," lanjut Budi masih berbaring menatap langit-langit.


"Berapa banyak jumlah bajingan tersebut?"


"Kurang lebih 20 orang bersenjata lengkap. Sudah ikuti saja apa yang ku katakan, lebih baik segera kau tinggalkan tempat ini. Kita bukan aktor laga yang telah di tentukan nasibnya oleh sang sutradara. Bagainana mungkin hanya berdua bisa menang melawan para bajingan itu."


"Sekali lagi kudengar ucapan sinis, kubunuh kau!"


"Gak pun kau bunuh, mungkin nafasku tak lama lagi berhenti."


"Aku sudah muak dengan masalah yang terus datang menghampiri, mungkin takdir akan terus memaksa sampai akhirnya aku mengotori tangan ini," pekik Ray memandang kedua sisi telapak tangan.


"Jangan pernah membenci masalah yang datang menghampiri, cintailah masalah itu sebab ia pasangan hidupmu," balas Budi.


"Entahlah."


"Andai mereka masih berada disini, mungkin kekuatan itu akan sebanding. Sial," pekik Budi memukul lantai.


"Mereka, maksudnya?"


"Apa sebegitu ribetnya masalah hidupmu sampai kau sanggup melupakan persahabatan kecil?" umpat Budi menatap Ray.


"Sahabat kecilku?" pikir Ray mendongakkan pandangan.


"Ah, Aku baru ingat sekarang! Tapi, apa hubungannya dengan semua ini?" lanjut Ray kembali melirik Budi.


"Mereka telah berbeda jauh dari apa yang kau pikirkan, Ray."


"Peryataan darimu semakin membuatku bingung, cepat jelaskan tanpa bertele-tele."


"Eka dan putra telah mengalami banyak perubahan setelah lama tak bertemu. Terakhir kali aku melihat mereka ketika..."

__ADS_1


Budi menutup lembut kedua mata, seakan terlalu berat baginya berucap atas apa yang terjadi dengan Eka juga Putra.


"Karena faktor ekonomi mereka terpaksa menjadi perampok dan sekarang nama mereka telah di cap buronan kelas atas. Atas nama keadilan, mereka membunuh orang-orang kaya tersebut secara brutal, kemudian mengambil seluruh harta korban," lanjut Budi mencekam dahi.


"Kalau benar karena faktor ekonomi, kenapa kalian tidak bisa membantunya?"


"Kami sudah berusaha untuk membantu sebisa mungkin, tapi tetap saja mereka menolak karena tak ingin hidup dari rasa belas kasih."


"Merampok itu justru perbuatan yang sangat menyusahkan orang lain, bukankah kau tau hal itu?"


"Aku paham itu dan mereka juga paham dengan apa yang mereka lakukan. Tapi, ideologi mereka dalam berfikir terlalu rumit bagiku menjelaskan semuanya."


"Terus, dimana mereka sekarang?"


"Kalau aku tau, udah pasti meminta bantuan mereka. Lagian kan udah jelas, sebagai buronan mereka selalu menyembunyikan hawa keberadaannya."


"Sekalipun beberapa orang kaya terlihat tamak, tetap saja mereka punya hak atas apa yang mereka ingin lakukan. Jika nantinya bertemu, aku pastikan membawa kembali mereka ke jalan yang benar."


"Bukankah yang bakal kau lakuin itu sama dengan memaksa kehendak seseorang, Ray?"


"Tapi setidaknya apa yang aku lakukan itu yang terbaik."


"Entahlah, di satu sisi tindakan mereka memang salah, tapi di sisi lain mereka justru banyak membuat bahagia orang-orang yang bertarung nasib melawan rasa lapar," jelas Budi perlahan duduk menunjuk rokok yang tergeletak di sebelah Ray.


"Lihat kondisimu."


"Jangan salahkan aku kalau kau mati," jawab Ray melemparkan rokok tersebut.


"Mati itu bukan di tangan manusia, kenapa harus takut jika akhirnya masa depan manusia tetaplah kematian?" gerutu Budi memantik api.


"Jadi, kapan rencana balik ke kota?" sambungnya menghembuskan asap rokok.


"Dengan keadaan seperti ini mungkin akan sedikit lebih lama tinggal disini."


"Disuruh pergi agar nyawamu selamat malah milih tinggal disini lebih lama, manusia memang makhluk yang aneh dengan beragam pikirannya," sindir Budi.


"Karena manusia adalah tuan di atas pikiran itu sendiri," sahut Ray.


Budi perlahan berdiri bangkit meski tubuhnya tertatih-tatih merasakan luka yang ia alami.


"Apa lagi yang mau kau lakukan, bego!" Beranjak menopang tubuh Budi yang lemah.


"Kau pikir dengan kita bersantai seperti ini bisa menghilangkan rasa lapar?"


"Kenapa gak menggonggong kalau lapar? yasudah berbaring aja kau jangan banyak gerak, biar aku yang masakin."

__ADS_1


"Kau pikir aku anjing pake menggonggong segala? Bodoh, gak enak jadi anjing," gumam Budi.


Setelah membaringkan kembali tubuh Budi, Ray berjalan menuju dapur segera memasak dengan bahan yang ada.


"Masak apa ini?" Membuka lemari pendingin melihat bahan yang ada hanya sebutir telur.


10 menit kemudian.


"Nih makan dulu fried egg with soy sauce and drink water." Meletakkan makanan untuknya.


"Tinggal bilang telur ceplok ribet bener hidupmu," cetus Budi melahap makanan.


"Makan ajalah apa yang ada tuh," jelas Ray terduduk kembali di lantai bersandar di dinding kamar.


"Hoi, kau gak makan?"


"Masih kenyang makan banyak siang tadi."


"Oh gitu, enak ya makan di luaran. Menikmati makanan makanan yang sangat lezat. Beda dengan disini, sekalipun uang ada banyak, tetep aja susah walau hanya untuk sekedar makan."


"Separah itukah keadaan desa ini sekarang?"


"Beberapa hari terakhir seorang warga mencoba berbelanja bahan kebutuhan makanan, tapi sampai sekarang dirinya tak pernah terlihat kembali."


"Kenapa keadaan ini semakin membingungkan?"


"Intinya tempat ini bukanlah tempat yang damai seperti kita bermain dulu." Meletakkan piring makanan yang telah habis dilahap.


Budi menceritakan semua hal yang telah berubah pada Ray hingga sinar matahari larut tenggelam berganti cahaya bulan malam. Budi masih terbaring lemah di tempat tidur, sementara Ray terduduk menatap cahaya bulan dari sisi jendela kamar.


"Ray..."


"Hem?"


"Jika masih ada harapan walau secuil, akan kugapai," lirih Budi menitihkan air mata menahan tangis.


"Menangis lah jika itu mampu melepaskan beban dalam hatimu. Menangis bukan berarti lemah, tetapi itu cara ketika bibir tak mampu berucap."


"HUUAAAAAAA....."


Teriakan serta tangisan yang ia lepaskan, cukup membuatnya tertidur pulas mengingat lelah yang ia alami.


"Haruskah menghubungi meminta bantuan padanya?" pikir Ray memandang kontak Novi.


__ADS_1


***


Sampai disini dulu kak, kritik dan saran bila ada kekurangan author ya kak, makasih, kita lanjut. Tapi sayang cuaca hari ini kembali hujan gais, mie goreng dulu.


__ADS_2