Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 112


__ADS_3

"Ternyata sekolahku itu sama seperti di surga ya," cetus gadis tersebut menatap kosong pandangan.


"Ini bukan surga, kau masih hidup tau."


"Mumpung aku sudah mati, sekalian aja curhat. Dari dulu takdir memang selalu jahat padaku," lanjut gadis tersebut.


"A-pa apa-an wanita ini?" batin Rama.


"Hoi, Rini," lanjut Rama.


"Tapi sekarang, Aku sudah tidak bisa beli roti lagi, aku tidak sanggup lagi," lirih Rini mengangkat selembar potongan kertas.


"Eh, Aku yang disuruh beli?" gumam Rama.


"He,em," ucap Rini mengangguk pasrah.


"Kenapa jadi aku yang harus beli?" batin Rama menggerutu kemudian menyelinap di antara para siswa yang mengantri saling bersikutan.


Setelah berjuang akhirnya mendapat cukup banyak makanan.


"Buset, banyak bener!" pekik Rama membawa makanan kembali menemui Rini yang masih tergeletak.


"Wahh, ini pasti mimpi. Sama seperti mimpi yang di liat sailor moon sebelum mati," ujar Rini mengusap mata.


"Ini aku yang beli, tauu!"


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam dan tujuh." Rini menghitung seluruh roti.


"Kamu titisan Hanoman, ya?" lanjut Rini masih menatap Rama.


"Heeehhhh?"


Perlahan Rini berdiri kemudian berjalan pelan membawa roti tersebut.


"Kamu membeli semua Roti itu untuk Rina bukan?" ucap Rama menghentikan langkahnya.


"Kabur....kabur," ketus Rini berjalan kembali cukup tergesa-gesa.


Dengan cepat Rama mendahului jalannya. Membentangkan tangan kanan ke tembok menghentikan lajunya.


"Tunggu!" ucap Rama sedikit keras.


"Ma-af, Aku minta maaf. Maaf, maaf banget." Rini terlihat polos begitu ketakutan hingga memejamkan kedua mata.


"Karena kau sudah ceria lagi, sekarang waktunya bayar budi pakai tubuhmu," pekik Rama menjahili mencubit pipi Rini.


"Me-apm-awh." Rini meneteskan air mata.


Melihat Rini ketakutan seperti itu membuat Rama segera menarik tangan yang menghalanginya.


"Maaf, Aku cuma bercanda. Aku pasti tidak akan membuat masalah kok. Serius, nanti biar aku yang akan jelasin ke dia," lanjut Rama mengangkat kedua tangan.


"Benarkah?" Memasang wajah imut.


Rama dan Rini berjalan bersama menuju sebuah gudang belakang sekolah.


"Kau ini sama seperti cinderella, selalu di kerjain sama ibu tirinya yang kejam," batin Rama melirik Rini berjalan menunduk pilu.


"Sebagai penyayang wanita, Aku tau betapa sakitnya perasaan itu," pikir Rama kembali.


Setibanya di depan gudang kosong, Rama membiarkan Rini berjalan sendiri gudang tersebut, sedang ia menguping pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


"Lambat! Kamu sengaja ingin bikin aku mati kelaparan ya?"


"Maaf."


"Anak TK yang baru sekolah saja bisa berjalan lebih cepat dari kamu."


"Maaf."


"Kamu bego banget sih!"


"Maaf."


"Bagian mananya yang terlihat seorang putri?" pekik Rama dalam hati mengintip dari sela pintu melihat Rina makan begitu banyak.


"Uhuk-uhuk." Tersedak makanan.


Seketika Rini keluar berlari dengan cepat berniat membelikan minum untuk Rina.


"Kamu baik-baik saja?" ujar Rama bersandar di depan pintu menatap Rina.


"Eh, kenapa kamu disini!"


"Yo." Mengangkat tangan menyapa.


"Rini, Ri-ni. Pasti dia kabur lagi," panik Rina menoleh kanan kiri.


"Dia pergi membelikan minuman untukmu," sahut Rama berjalan mendekati.


"Mau apa kamu kesini?"


"Cuma mau nyapa sambil lihat bagaimana keadaanmu saja."


"Ajaib bener lambung ni cewek!" lanjut batin Rama.


"K-amu sendiri bagaimana soal itu," ucap Rina berpaling muka.


"Ah, soal tanganku? Masih terasa sakit ketika dibawah pergi mandi sama ganti baju aja sih," jawab Rama menunjukan tangan terbalut kain.


"Sebetulnya masih perih banget njir!" jerit Rama dalam hati.


(Flash back)


"Itukan Rina, ngapain sendirian menunggu di situ," ujar Rama melihat Rina berdiri termenung di bahu jalan.


"Eh, ada Gio juga?" lanjut Rama memperpendek jarak menguping mereka dari balik pohon jalanan.


"Sepertinya kamu terlihat terburu-buru, ada kencan dengan Rama?" pekik Gio memandang serius Rina.


"Kamu kan pangeran..."


"DIAM!!!!!!


"Wah, padahal julukannya cocok banget. Kamu tidak suk..."


Gio menghentikan laju bicara Rina dengan menarik rambut panjang miliknya.


"Jadi surat dari aku di robek, tapi kalau Rama di terima? Enak ya jadi orang ganteng," ketus Gio.


"Ini bukan masalah muka, lepaskan aku!" Bentak Rina.


"Kau pikir kau ini cantik banget apa? Bisanya cuma merendahkan orang lain terus?" Gio mengambil gunting di saku celana bermaksud memotong rambut panjang Rina.

__ADS_1


Melihat keadaan seperti itu dengan sigap Rama lngsung meraih gunting yang telah di arahkan Gio ke rambut Rina.


"Aku sudah yakin, kalau yang begini pasti akan terjadi. Habisnya kau judes banget, Rina," pekik Rama menggenggam erat satu sisi ujung gunting tajam tersebut.


Melihat tangan kiri Rama bercucuran darah, Gio yang panik langsung berteriak dan lari menjauh.


"Tidak luka kan?" ucap Rama kembali tersenyum memandang Rina di belakang.


"Ha-rusnya aku yang tanya begitu," pekik Rina.


"Ini bukan apa-apa, yang penting kamu selamat."


"Sakit banget anjir, sakit banget parah, apa aku pingsan aja!!!!" batin Rama berbalik arah menggenggam tangan kiri yang terluka lengkap dengan wajah cukup konyol.


"Tapi dengan begini, dia pasti akan jatuh hati padaku dan tidak kejam seperti sikapnya ke cowok lain. Pasti berhasil menjatuhkan harga dirinya yang tinggi," pikir Rama menghela nafas santai.


Berbalik arah kembali menatap Rina, "Mukamu jangan cemberut begitu, akan lebih cantik jika tersenyum."


Dengan santai Rama berjalan pergi meninggalkan Rina yang melamun berdiam diri.


(Flash Back Off)


"Sebenarnya kemarin aku juga gak ingin melibatkan mu," gumam Rina.


"Nah bagus, harga dirimu jadi makin tersindir. Ini semua bagian dari rencana agar mentalmu takluk duluan," batin Rama cukup senang.


"Parah banget," cetus Rama.


"I-ya aku minta maaf!"


"Eh, bukan maksudku bukan seperti..."


"Aku kembali," sahut Rini.


Segera ia memberikan minuman untuk Rina.


"Eh, ini untukku?" ucap Rama ketika Rini juga memberikan sebotol minuman untuknya.


"He'em." Rini mengangguk.


"A-aku jadi terharu, Cinderella," batin Rama kembali.


"Rini memang selalu merendah kepada siapapun. Dirinya yang mudah takut menjadi kebiasaan buruknya," pekik Rina.


"Kenapa mukamu begitu?" lanjut Rina menatap Rama.


"Kalau baik samaku itu wajar karena Rini memang bekerja untukku," tambahnya kembali.


"Ah, Aku juga tidak bisa selalu berbuat baik kepada orang," balas Rama berjalan mendekati Rina.


"A-pa maksudmu?"


"Daripada selalu bergantung kepada Rini, ada baiknya jika kau lebih mengandalkan aku," jelas Rama memegang lembut pipi Rina kemudian langsung pergi meninggalkan gudang tersebut.


"APAAN SIH COWOK ITU!!!!! Teriak keras Rina terlihat kesal dari dalam gudang.


"Sip! 1-0," batin Rama mengepal tangan sejajar dada.


***


Sampai disini dulu ya kak, alur santai masih bersama sih kecebong anyut yak... Dukung kisahnya ketik reg, ah udalah lanjut.

__ADS_1


__ADS_2