Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 105


__ADS_3

"Rama kamu sudah bangun ya?" ujar seorang lelaki terlihat seperti wanita.


"Gomez," sapa Rama.


"Kamu belum makan ya? Kalau sekarang kamu ke kantin pasti sudah kehabisan," ucapnya memberikan sepotong roti.


"Makasih, Aku jadi bisa makan," jawab Rama menerima roti.


"Kalorinya setara makan siang nih. Mana isinya karbohidrat semua lagi. Di rumah nanti harus sit up 200 kali nih," pikir Rama memandang roti tersebut.


"Aku kagum sama kamu Rama. Sudah selalu juara kelas, badan kamu bagus, tampan gak sombong dan atletis lagi. Keren banget," ujar Gomez duduk di sebelah Rama.


"Ah sudah ah."


"Kamu sendiri juga populer sebagai cowok di kalangan cowok yang suka cowok," balas Rama.


"Sebenarnya ada satu orang lagi yang sama denganmu di kelas ini," cetus Gomez.


"Ah itu ya, Gio..." sahut Melly.


JEDER!!! (Pintu terbuka dengan keras menghentikan laju bicara Melly, serentak memandang ke pintu kelas).


"Dia kan cewek yang tadi pagi!" lamun Rama memandang sang wanita berjalan perlahan menghampiri dirinya.


"Ah sama kamu saja. Jawab aku, Gio ada disini atau tidak!" pekiknya duduk di atas meja menarik dasi Rama mendekatkan wajah.


"Eh, itu..."


"A-aku Gio," sahut seorang lelaki dari belakang.


"Cowok yang tadi pagi ngintip para cewek di lapangan toh," batin Rama menatap lelaki tersebut.


"Aku jatuh cinta lihat sosokmu yang elegan waktu kelas olahraga. Jadi intinya, kamu hobi liat kakiku ketika pakai celana pendek," ujar wanita tersebut berjalan membaca kertas di tangan kemudian duduk di atas meja menopang sebelah kaki.


"Kalau begitu sekarang kamu akan ku panggil, pangeran ************!" Merobek kertas surat di tangannya.


"Tidak," lirih pria culun berkacamata tersebut.


"Ririn, ayo balik." Beranjak pergi bersama pengawalnya.


"Apa-apaan dia?" ketus Rama memandangnya menghilang dari pandangan.


"Dia satu-satunya siswi seangkatan kita yang paling pandai di sekolah ini dan anaknya cantik banget, Rama. Tapi sikap dan kelakuannya berbeda jauh dengan kamu," ujar Gomez.


"Satu lagi, dia paling benci sama cowok," sahut Melly.


"Hoi, masih hidup kah?" pekik seorang siswa mendekati Gio yang sujud menutup wajah meratapi nasib.


"Semua cowok yang berani mendekat akan di beri julukan dan di tolak mentah-mentah. Makanya dia di juluki putri sadis. Nama aslinya Rina, dia putri tunggal pewaris pemilik Sastra Group," ujar Melly kembali.


"Rina?" batin Rama kemudian berdiri menuju pintu luar kelas.


"Rama, kamu mau kemana?" ucap Gomez.


"Rina, jadi itu namamu?" batin Rama memandang Rina berjalan di lorong sekolah.


Sekejap Rina membalikan badan menoleh menatap Rama, kemudian berpaling melangkahkan kakinya kembali.


Disisi lain Ray.


"Kamu lagi sibuk gak?" ujar Novi menghampiri Ray yang sedang merokok di halaman kantor.

__ADS_1


"Gak, Bu." Bergegas berdiri.


"Temani aku ke taman, bisa?" pinta Novi lembut.


"Taman? Lagi mencari apa, Bu?"


"Jangan banyak bertanya. Bisa atau tidak?"


"Baik Bu, bisa."


Tanpa banyak berkata apapun, keduanya langsung menuju taman. Setibanya di taman,


"Bang pesan dua ya," ucap Ray memesan minuman menoleh melihat Novi masih termenung duduk di bangku taman.


"Ini bang minumannya."


"Oke." Berjalan menghampiri Novi.


"Ini Bu, biar seger," lanjut Ray.


Novi memandang sinis tajam.


"Novi," jelas Ray kembali.


"Makasih," singkat Novi.


"Ah, seger bener." Menyeruput minuman perlahan duduk di sebelah.


"Oh iya, kenapa kamu terlihat murung begitu?" lanjut Ray membuka pembahasan.


"Kamu lihat mobil hitam di belakang mobil kita gak?" balas Novi.


"Tadi malam dia datang terkapar lemah terjatuh di hadapan rumah. Tanpa pikir panjang ayah langsung mempekerjakan dia. Sekarang tugas dia menjaga dan mengawalku dari kejauhan. Bete tau," pekik Novi.


"Bukannya bagus ya? Kan kemanapun kamu pergi bakal selalu aman."


"Dari dulu selalu aja di anggap dan di perlakukan seperti anak kecil," gumam Novi mengaduk jus dengan sedotan.


"Sebesar apapun dan sehebat apapun kamu, di mata orang tuamu, kamu tetaplah anak perempuan mereka yang lucu, Novi."


"Iya tapi kan Ray..."


"Tidak ada kata tapi bagi mereka yang selalu tulus menyayangi putrinya," jelas Ray menyeruput minuman.


"Kenapa sih gak ada yang bisa ngertiin aku," gerutu Novi berdiri berjalan.


Ray yang kebetulan menoleh sisi belakang melihat seseorang sedang mengincar nyawa Novi, langsung bergegas menarik tangan Novi menjatuhkan tubuhnya.


"Novi awas."


DOR!!


"Aw," lirih Novi berada dalam dekapan Ray.


Mengetahui tembakannya meleset, penembak misterius tersebut melarikan diri. Pengawal Novi yang juga melihat kejadian tersebut dari sedikit kejauhan, dengan cepat menghampiri langsung bergerak mengejar pelaku yang telah melarikan diri.


Suara keras tembakan tersebut merubah suasana yang tadinya cukup tenang dan damai menjadi panik. Pengunjung lainnya saling berlarian menyelamatkan diri bergegas meninggalkan area taman.


"Kamu tidak apa-apa?" lanjut Ray.


"Aku baik-baik saja, Ray," balas Novi masih berada dalam dekapan Ray.

__ADS_1


"Lebih baik kita segera bergegas menuju mobil," jelas Ray berdiri menggandengnya.


Dreeet........


"Ayah nelpon," ketus menoleh menatap Ray di dalam mobil.


"Halo, Yah."


"Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang?"


"Gak Yah, Aku baik-baik saja. Jika Ray telat sedikit saja menarik tubuhku, gak tau apa yang bakal terjadi."


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tadi barusan Tomi memberi kabar ke ayah kalau kamu jadi target pembunuhan. Memangnya kamu ada berbuat apa dengan orang lain sampai seperti itu?"


"Aku gak ada menyakiti siapapun Yah. Bahkan sampai saat ini aku gak memiliki musuh sedikitpun."


"Yasudah biar nanti ayah suruh Tomi yang cari tau. Sebaiknya kamu kembali ke kantor, jangan pulang sebelum ayah kirim pengawal."


"Yah, Aku bisa pulang sendiri."


"Jangan bantah perkataan ayah."


"Tapi Yah..."


Tanpa perdebatan, Deny langsung mengakhiri panggilan tersebut.


"Selalu saja terlalu berlebihan," pekik Novi melihat panggilan tersebut usai.


"Orang tua mana yang gak khawatir jika anak mereka dalam keadaan bahaya?" balas Ray menyetir mobil menatap lurus jalanan.


"Tapi kamu kan tau Ray, Aku bukan anak kecil lagi."


"Harus kita ulangi perdebatan sebelumnya?"


Novi menunduk membolak-balik ponsel dalam genggaman tangannya.


"Sebaiknya sekarang kita kembali ke kantor," jelas Ray.


"Aku bosen Ray di kantor terus, sesekali aku juga ingin menikmati kebebasan di luar walau hanya sehari. Rutinitas yang ku jalani dari dulu sampai sekarang itu terus membuatku bosan. Kamu ngerti kan?"


"Terus kamu ingin kemana? Kamu tau sendiri jika bahaya seperti tadi bisa terulang kembali."


"Aku ingin pergi ke suatu tempat yang belum pernah Aku kunjungi." Menyadarkan tubuh menatap jalanan.


"Emangnya kamu ingin pergi kemana?" balas Ray sesekali mencuri pandangan.


"Ke jepang."


"Oh, bagus tuh. Negeri sakura sekaligus negeri 1000 kartun."


"Pergi ke sana bareng kamu!" pekik Novi.


"Oh gitu," jawab Ray mengangguk.


"What???" Ray menghentikan laju mobil ketika ia menyadari celoteh Novi.


TIN...........!!!!!!


***


Sampai disini dulu kakak, makasih tetap mengikuti, ngasih gift, komen, vote dan like juga. kita lanjut setelah pulang dari kopi membeli warung. kikikiki....

__ADS_1


__ADS_2