Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 121


__ADS_3

Maaf sebelumnya jika ada beberapa Instansi terkait atau beberapa nama yang masuk kedalam alur cerita ini yang mungkin kurang sesuai di mata pembaca ya kak, tanpa menjelekkan pihak manapun, semua ini hanya sebatas imajinasi author saja.


Lanjut.....


***


"Kalau yang sebenarnya terjadi disini semua aku ceritain ke Alisa, pasti akan membuatnya semakin khawatir," pikir Ray terdiam sejenak.


"Maaf karena lupa memberi kabar, ada sedikit halangan yang terjadi di sini," jelas Ray kembali pada Alisa.


"Masa sih sampai segitunya? Hanya menyisihkan sedikit waktu buatku aja masa iya gak bisa mas?"


"Maaf. Gimana kabar kamu sama ibu di rumah?"


"Semua baik-baik saja, Mas."


"Kalau Rama?"


"Dia juga baik-baik saja, Mas. Jadi, kapan kamu akan kembali?"


"Ketika urusan disini selesai, secepatnya aku kembali."


"Yasudah kalau gitu, intinya jangan melakukan hal yang bisa membuat kamu dalam bahaya, Mas."


"Iya, Aku pasti baik-baik saja."


"Ingat satu hal mas, firasat seorang istri begitu kuat kepada suami. Jadi tolong dengarkan nasihat aku agar kamu gak menyesal di kemudian hari."


"Iya sayang. Love you."


"Love you to, yaudah tetep hati-hati disana." Menutup panggilan telepon.


20 menit setelahnya.


"Ini ya tempatnya?" ujar Ray ketika sampai di bangunan sekolah yang cukup tua dengan halaman depan di tanami ubi serta tanaman lainnya hampir menutupi seluruh bangunan sekolah.


"Serem bener."


Ray segera masuk kedalam halaman bangunan tersebut, melewati rerimbunan semak pohon dengan mobil sembari melihat sisi kanan kiri yang teramat sepi.


Lampu sorot berkedip dari kejauhan pertanda rombongan Eka telah menunggunya di area tersebut. Segera Ray memberhentikan mobil di pojok bangunan bergegas turun menghampiri.


"Keren Kapten keren."


"Jangankan 10 orang, kalau dalam keadaan terdesak aku bisa membunuh 20 penjahat dalam sekaligus."


"Keren!!!!!!!!!!"


Terdengar suara-suara kecil bersahut-sahutan dari sedikit kejauhan.


"Sudah pasti kelakuan mereka bertiga," ketus Ray terus berjalan mendekati suara tersebut.


"Yoo," sapa Ray mengangkat sebelah tangan ketika sampai.

__ADS_1


"Akhirnya sampai juga dengan selamat," sahut Putra.


"Selamat datang di markas kami, semoga terhibur," sahut Eka, Jhon dan Ricko bersamaan merapikan beberapa senjata pesanan mereka yang baru tiba.


"Oke," balas Ray melirik seisi ruangan dalam memperhatikan markas tersebut.


"Minum?" tanya Lucy mengintip dari ruang dapur.


"Makasih, nanti saja," jawab Ray masih mengamati ruangan tersebut.


"Terlihat seram dan menakutkan ya?" ujar Lucy kembali.


"Bisa di bilang begitu, tapi apa tempat ini gak pernah di ketahui orang lain?" sambung Ray.


"Kejadian demi kejadian terus terjadi di sekolah ini hingga akhirnya seluruh kegiatan mengajar di tiadakan. Dari kasus pembunuhan seorang guru kepada murid dan beberapa murid bunuh diri itu bukanlah hal baru lagi disini," jelas Putra.


"Polisi tidak memburu kalian sampai ke tempat ini?"


"Kau lihat sendiri bukan? Bangunan sekolah yang cukup tua ini di kelilingi pemukiman warga-warga yang kurang mampu. Mereka selalu melindungi keberadaan kami disini," pungkas Lucy.


"Mereka melindungi dan mendukung apa yang kalian lakukan?" pekik Ray menoleh ke arah putra.


"Hal yang lumrah karena tindakan serta apa yang kami lakukan sangat membantu keberlangsungan hidup mereka," jelas Putra.


"Nah kalau yang ini buatan Jerman, bisa di sesuaikan keinginan penembak. Mau itu dibuat ringan ataupun berat," ujar Eka menunjukan Rheinmetall MG3 kepada Jhon dan Ricko.


"KEREN!!!"


"Kalian gak mungkin bisa gunain senjata ini, cuma aku yang bisa," sindir Eka.


"Senjata-senjata canggih seperti itu kalian dapat dari mana?" tanya Ray pada Putra menunjuk arah Eka.


"Kami memesan beberapa senjata via online secara ilegal ke beberapa website negara luar seperti, FN FALL, Rheinmetall, Uzi Submachine, M4 Carbine, M429 machine gun dan beberapa jenis senjata lainnya," jelas Putra merapikan beberapa kantong berisi sembako lengkap dengan lembaran uang tunai.


"My name is Jhon, Jhon Rambo. Haha..ha..ha," pungkas Jhon bergaya seperti aktor ternama Sylvester Stallone menggunakan M429 machine gun lengkap dengan amunisi yang melingkari tubuhnya.


"RAMBO, Please help me now!!" Teriak Ricko terbaring di lantai.


"Pasti kau berfikir dari mana uang kami bisa membeli semua ini?" lanjut Putra menatap fokus Ray.


"Ha itu, kalian melakukan kriminal karena faktor ekonomi, tapi kalian tau kalau membeli alat tempur seperti ini bukanlah sedikit nominalnya."


"Hasil rampokan yang kami peroleh sedikit demi sedikit kami sisihkan untuk membeli alat-alat itu. Semakin hari tangkapan kami semakin besar seiring dengan kemajuan alat yang kami dapatkan sekarang," jelas Putra melemparkan minuman botol plastik ke arah Ray.


Glek....Glek...ah..(Menenggak minuman tersebut).


"Kapan rencana kalian berhenti melakukan kriminal seperti ini?" tanya Ray kembali.


"Berhenti?" kejut Putra kemudian menggelengkan kepala.


"Selama keadilan tidak pernah ada, selama itulah kami tetap seperti ini," lanjut Putra memantik api menghisap rokok.


"Keadilan seperti apa? Bukankah mereka para orang kaya juga memiliki hak untuk ketenangan hidup yang mereka impikan?"

__ADS_1


"Kami ingin warga kecil mendapatkan kebahagiaannya kembali. Kau lihat sendiri bukan apa yang terjadi pada desa kita? Begitu juga di desa lainnya yang lebih dahulu merasakan penderitaan. Sudahlah, kita tidak akan pernah menemui jalan keluar ketika membicarakan masalah ini. Jika apa yang kami lakukan terasa berat untukmu, cukup hargai keputusan kami," jelas Putra.


"Kami juga tidak memaksa kau harus bergabung bersama kami," sahut Lucy menggambar sesuatu di atas mejanya.


"Maaf, maaf. Tapi bagaimana ceritanya kalian bisa datang menolong Indra dan lainnya sedang Budi belum sempat memberi tahu kalian?"


"Kejadiannya bermula dari seminggu yang lalu, kami mengetahui keadaan desa kita sedang tidak baik-baik saja saat melihat sepasang suami istri terkapar tak berdaya di tengah jalanan desa yang berada tak jauh dari pasar pagi," lirih Putra menunduk.


"Suami istri? seminggu lalu?"


"He'em." Putra mengangguk.


(Flash back)


Pukul 04:27:02


"Yo, kita cari pisang."


"Asik pisang aja di kepalamu," pekik Putra melirik Eka sembari mengendarai mobil yang melaju lambat.


"Yang lebih penting itu berbelanja semua jenis kebutuhan pokok kita selama sebulan, paham!" jelas Lucy sedikit menaikan nada bicara.


"Iya, paham," jawab Eka menunduk.


"Paham apa?" sahut Lucy kembali.


"Intinya pergi ke pasar membeli PISANG!" jelas Eka sumringah.


PELETAK!!!!


"ANJIR," lirih Eka.


"HEH." Lucy memangku tangan.


"Kapten, penyamaran kami sudah sempurna belum?" ujar Ricko dan Jhon memakai kumis topi dan kacamata serta janggut palsu.


"Whoaaa, KEREN!!!!"


"Ladies and gentleman, please welcome to the jungle," seru Ricko menunjuk Jhon menurunkan sedikit pandangan kacamata.


"TO-TO-TOLONG."


Terdengar lirih suara ketika mereka lagi asik di dalam mobil. Suara kecil yang begitu samar menghentikan laju mobil mereka secara mendadak.


SHIITT..........BRUAK...!!


"SA-SAKIT," lirih Jhon beradu kepala dengan Ricko sedikit terpental.



***


Sampai disini dulu kak, kritik saran untuk author agar lebih baik dalam membuat alur di persilahkan, vote gift apalah itu semua namanya juga boleh, kita lanjut setelah bakwan dan kopi selesai di babat otor yak...

__ADS_1


__ADS_2