
"Sayang, mana yang bener ini Beb Erlin, ayo dong lebih keras," ujar Fendi.
"Yaudah terus aja loh, tinggal terus aja pun."
Fendi yang sedikit bingung mulai memantapkan diri untuk maju berjalan lurus lebih cepat. Namun langkah yang kian cepat justru membuatnya tergelincir jatuh.
Brugggg......
Seketika suasana hening melihat Fendi yang tergelincir malah memegang sepasang semangka Erlin.
Mendapati posisi Fendi yang berada di atas dirinya dengan tangan memegang semangka miliknya, Erlin terdiam menutup mulut.
"Loh, kok semangka yang ini sedikit berbeda?" cetus Fendi dengan mata masih tertutup.
Sedikit meremas semangka Erlin, membuat Erlin tak kuasa menahan kenikmatan dan sesekali Erlin terlihat mendesis.
"Kok lembut bener," lanjut Fendi masih *******-*****.
"Aa," lirih Erlin.
Mendengar suara itu Fendi langsung membuka mata. Tangan sebelah kiri melepaskan penutup bola mata, sedang tangan kanan masih menempel di semangka Erlin. Sontak terkejut langsung terduduk ke belakang ketika mendapati posisi seperti itu.
Wanita yang begitu super konyol, kini hanya terdiam ketika hal itu menghampiri dirinya.
"M-m-m-ma-ma-maaf ya Beb, Aku beneran gak tau tadi dan gak sengaja," ujar Fendi menunddukan pandangan.
Wajah Erlin kian memerah dan malu atas apa yang terjadi. Fendi yang menyadari atas kesalahan dirinya langsung bertindak seperti Hero.
Melihat kekasih pujaan hati terdiam atas kejadian itu,.
"A-a-ku akan melamarmu besok dan dalam sebulan akan menikahi kamu. Bukan karena aku terpaksa untuk menikahi, namun karena aku tak ingin membuatmu bersedih," jelas Fendi memejamkan mata berdiri separuh badan tepat di hadapan Erlin.
Erlin yang begitu senang akan peryataan dari Fendi, sekejap langsung memeluk tubuh Fendi. Ray, Alisa, Mia dan Fii yang tadinya terdiam melihat kejadian tersebut, mulai kembali bersemangat penuh gembira.
"Mantap Nak, teruskan bakat itu," sahut Ray menepuk tangan begitu cepat.
"Yeee.......hore," ucap Alisa bersamaan dengan Mia bahagia melihat sahabatnya akan di sunting.
Fii berlari menghampiri Fendi langsung mendekap ketika pelukan Erlin usai.
"Ef-f-fi-i.....Sa-sa-ki-it Safei," ujar Fendi kesulitan berbicara mendapat dekapan kuat.
"Maaf Fen, seneng kali aku liat kau akhirnya berani mempersunting Erlin," balas Fii melepas dekapannya.
"Ya karena aku mencintai Erlin dan aku gak ingin melihatnya bersedih. Apalagi dengan kejadian seperti tadi, pasti itu membuat beb ku sedih," jelas Fendi melirik Erlin.
Erlin berdiri untuk menghampiri Alisa dan Mia. Sedang Ray menghampiri Fendi dan Fii yang masih terduduk.
"Tarik Fii," ketus Ray melirik Fii.
"Semongko," sahut Fii bernada kecil menyengirkan senyuman.
__ADS_1
"Menang banyak dia Fii. Tengok lah senyumannya itu, pasti mimpi basah nanti malam si Fendi. Pengen kena gampar senyum liciknya itu," balas Ray pelan masih mengusil.
"Udah pasti itu Ray, pake di remas segala lagi tadi, main bener aktingnya, padahal udah tau kalau yang dia pegang itu, ah sudahlah," sambung Fii masih bernada tipis.
"Pakai acara bilang, kok lembut ya, alibi," pekik Ray.
"Memang lah kalian berdua ini, otak otak mesum," jelas Fendi tertawa sembari mendorong mereka berdua.
kemudian Ray berdiri melanjutkan pemberitahuan.
"Tim 1 telah gagal dan tim ke 2 juga gagal, jadi kalian pasti udah tau lah siapa pemenangnya? lanjut Ray melihat sisi kanan kiri.
Mendengar ucapan Ray membuat mereka berlima bingung melihat apa yang Ray ucapkan.
"Ya gak ada lah, kami pun pasti susah ini," jelas Ray kembali membuat suasana tawa pecah seperti semula.
Fendi, Fii juga segera bangkit.
"Tim selanjutnya, ayo bersiap-siap," sahut Fendi mengambil alih juri.
"Iya ayo buruan, kita mau lihat lord Ray bisa gak memenangkan pertandingan ini," pekik Fii.
"Iya deh iya." Langsung mengambil posisi sebagai pemukul dan Fendi mulai menutup mataku.
"Ayo say, semangat," cetus Mia ketika Alisa melangkah berjalan.
"Ok say," balas Alisa.
"Kanan mas, kanan kamu, kiri sedikit, iya begitu, terus maju maju, kiri mas, nah maju terus," ucap Alisa begitu semangat.
Seperti biasa, peran pengacau tetap seperti biasa.
Hanya berjalan pelan sesekali terjatuh karena dampak pusing begitu kuat.
Bangkit kembali melangkah ke kanan kiri hingga memakan waktu 10 menit lebih.
"Ya terus pertahankan, waktu tersisa tinggal 5 menit lagi." Fendi sebagai wasit memberi peringatan waktu.
"Ayo dong mas, agak maju, terus," ucap Alisa kembali.
"Jangan mas, kiri kamu mas," sahut Mia.
"Iya mas, kiri lagi nah terus," sahut Erlin membuat Ray salah memilih arah.
Terus melangkah ke depan dengan percaya diri, meski tak melihat.
Mia dan Erlin membuatnya berjalan menuju keramaian tempat kumpulan orang lain.
Brugggg.....
(Menabrak seseorang terjatuh hingga terjatuh).
__ADS_1
"Aw..." lirih suara wanita merasakan sakit.
Ray mengira hal itu sama seperti Fendi yang menabrak Erlin.
"Alisa sayang, kamu gak apa-apa kan?" ujar Ray langsung membuka mata.
"Yuli?"
"Loh, Mas Ray?" balasnya beranjak berdiri.
Fendi, Fii, Mia, Erlin dan Alisa yang melihat Ray menabrak seseorang, langsung bergegas menghampiri.
"Mas kamu gak apa-apa?" ujar Alisa sembari menoleh ke arah Yuli.
"Yuli, kamu bisa di sini?"
Yuli tersenyum menatap mereka berdua. "Aku dengar kalian berdua udah menikah ya? Selamat ya atas pernikahan kalian kemarin, maaf karena aku menghilang gak bisa ikut hadir."
"Gak apa-apa kok Yuli, tapi kabar tentangmu saat itu?" lanjut Alisa bingung.
Hal yang membingungkan karena Yuli sempat di vonis kritis akan kecelakaan yang ia terima dari Aldo.
"Panjang kejadiannya Lisa, intinya aku senang bisa melihat cinta kalian berdua bersatu," balasnya menyodorkan tangan.
Uluran tangan Yuli di sambut Alisa lengkap dengan senyuman saling menatap.
"Honey, ada apa ini, kamu gak apa-apa?" ucap seorang pemuda menghampiri merangkul Yuli dari belakang tubuhnya.
"Gak apa-apa kok sayang, oh iya kenalin ini calon suami aku dan kita telah bertunangan."
"Kamu sudah bertunangan? Bagus tuh," sahut Ray merangkul Alisa.
"Nah sayang, mereka adalah teman-teman ku dahulu, jadi semuanya baik-baik saja," jelas Yuli memperkenalkan.
"Hardi."
"Ray."
"Alisa."
Saling menyebut nama dan bersalaman.
Melihat suasana baik-baik saja, Fendi beserta Fii, Mia dan Erlin juga mendekati tuk saling mengenalkan diri.
"Oh iya kami berdua pamit ya, ada urusan yang harus kami lakukan. Semoga kita bisa bertemu kembali ya," singkat Yuli menggandeng tangan Hardi beranjak pergi melambaikan tangan.
"Ketika dia bukan wanita terbaik dalam menjalani takdir hidup, dia juga bukan wanita terburuk yang terus bertahan dalam garis kesalahan takdir itu," ucap Ray memandang Yuli bersama Hardi bergandengan tangan melangkah menjauh.
***
Sampai di sini dulu ya kak, mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam membuat alur, apapun itu intinya belajar lebih baik, jangan lupa Fav komen vote apalah itu semua namanya bila suka alur ini kak, makasih. Kita lanjutmmm
__ADS_1