Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 99


__ADS_3

"Iya iya, Tante percaya kamu lelaki yang baik."


"Makasih, Tante."


"Oh iya Ma, kalau begitu Novi lanjut masuk kantor dulu ya, ada berkas yang harus segera di selesaikan," sahut Novi berdiri.


"Sibuk bener kelihatanya putri ama ini, gak ada waktu istirahatnya. Padahal kamu itu bos di kantor." Menyentuh lembut kedua sisi pipi Novi.


"Ma,.. kan mama sendiri yang bilang kalau Novi harus profesional ngerjain sesuatu," ujar Novi memeluk.


"Iya sayang, yasudah kamu hati-hati ya."


"Iya mama, muah. Dah mama." Mencium pipi Ibunda langsung berjalan menuju luar halaman.


"Tante, pamit pergi," sambung Ray menyalim tangan.


"Hati-hati."


"Om mana, Tante?"


"Sudah pergi aja gak apa-apa. Om lagi istirahat di kamarnya. Dia tuh kalau sudah istirahat gak ingin dan gak ada yang berani ganggu."


"Oh gitu. yasudah, mari tante." Berjalan menyusul Novi.


Disisi lain Robi yang telah sampai di kediaman miliknya.


"SIAL!!!!!!!!" Teriak terduduk memangku kepala.


"Kenapa bisa dia hidup kembali? Bagaimana mungkin usahaku selama ini gagal?" pekik Robi mencampakkan tubuh ke sofa mendongak menutup wajah.


"Sayang? Ada apa ini? Kenapa terlihat kesal seperti itu?" sapa sang Istri mendekati.


"Tadi aku bertemu Leon di rumah Deny."


"Apa kamu bilang? Leon?" Terkejut mendengar peryataan Robi.


"Iya sayang."


"Kenapa dia masih hidup?"


"Justru saat ini aku sendiri masih bingung."


"Sayang, bukannya kamu dulu telah memastikan bahwa Leon sudah mati?"


"Bukan hanya aku, tapi seluruh media juga mengonfirmasikan bahwa tidak ada satupun korban yang selamat dari insiden itu. Kamu sendiri juga tau bukan?"


"Pahadal tinggal sedikit lagi kita bisa mendapatkan bagian wilayah Hendra untuk memperluas wilayah kekuasaan kamu, Sayang."


"Istriku, sebaiknya kamu sembunyikan dulu hal ini dari Risty. Aku khawatir jika dia mengetahui masalah ini, justru akan membuat rencana kita semakin gagal."


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan menyelidiki terlebih dahulu. Kemudian memikirkan cara membunuhnya. Kali ini aku sendiri yang akan melihatnya dan memastikan kematiannya di hadapanku."

__ADS_1


"Yasudah sebaiknya kamu mandi dulu, ganti baju, terus langsung makan."


"Iya, kalau begitu aku tinggal dulu," singkat Robi berlalu.


Setibanya Ray dikantor bersama Novi.


Ray berlari sigap membukakan pintu mempersilahkan Novi turun dari mobil.


"Ingat, anggap saja hal seperti tadi tidak pernah terjadi. Satu lagi, jangan pernah bermimpi menikahi ku," pekik Novi berlalu pergi memasuki kantor.


"Sabar Ray, sabar. Setidaknya kamu masih memiliki hati yang baik, Novi." Mengelus dada memandang Novi berjalan menjauh.


"Enak ya jadi supir ini. Sudah Bosnya cantik, wangi, kemana-mana berdua terus, apa gak awet muda," sahut Fendi bersama Fii menghampiri Ray dari belakang.


"Gak seperti yang kalian pikirkan." Menoleh menatap belakang menyandarkan tubuh ke mobil.


"Kenapa gak ceria gitu? Bukannya tadi pagi masalah udah kelar?" sahut Fii.


"Terlalu rumit di jelaskan, kalian gak mungkin bisa ngerti," balas Ray datar.


"Sepele kali kau ah. Biar begini juga tamatan sarjana aku," balas Fii.


"Ingat Ray, kalau ada masalah ceritain, jangan makan sendiri," gumam Fendi.


"Intinya dalam enam bulan ke depan mungkin hartaku bisa membeli Negara ini," lanjut Ray menundukkan pandangan memantik api menyalakan rokok di tangan.


"APA? NEGARA?" Fendi melirik Fii.


"Fen, Negara," seru Fii kembali tertawa.


"HAHA..HA..HA."


Ray terdiam tak menunjukan eksperi apapun meski melihat dan mendengar jelas kedua kerabatnya terbahak bersaut-sautan.


"Ah udah ah sakit perutku beneran, gokil kau Ray gokil," ketus Fendi.


"Haduh..." Fii menyentuh bahu Ray.


"Gini ya saudara, setiap orang yang hidup itu pasti memiliki impiannya masing-masing. Tapi ya gak kayak gini juga," lanjut Fii menyengir menggelengkan kepala.


"Ya udah lupain, kenapa harus di bahas?" balas Ray menghela asap rokok.


"Kau udah makan belum?" Fendi mengeluarkan dompet.


"Udah tadi di rumah Novi," singkat Ray.


"Gaya kali ngeluarin dompet, macam ada isinya aja," pekik Fii.


"Kalau gitu kami masuk dulu Ray, ada beberapa laporan berkas baru yang belum kelar," sambung Fii kembali.


"Yo, semangat."


"Oke."

__ADS_1


Disisi lain Aldo yang baru tiba di lokasi tujuan mereka.


"Jadi ini lokasinya?" Menuruni mobil membuka kaca mata.


"Iya," jawab Bowo singkat.


Aldo berjalan mengitari pemukiman tersebut di temani beberapa anggota lainnya. Para warga desa yang telah mengenali Bowo, langsung menghampiri coba menghadang kembali.


"Mau apa kesini lagi? Pergi kalian!" kecam salah seorang warga.


"Kami datang kesini secara baik-baik, bukan bermaksud untuk mencari keributan," balas Aldo.


"Sudah berapa kali kami katakan, jangan pernah berniat memiliki daerah kelahiran kami!" Bentak seorang warga lainnya.


"Saya cuma mau bilang, coba bayangkan andai bapak-bapak semua mau menjual seluruh lahan ini kepada kami, pasti akan untung besar. Nilai yang akan kami bayar bukalah sedikit. Dari total seluruhnya bisa kalian lihat total investasi lahan ini berkisar Triliun," jelas Aldo kembali.


"Tidak ada namanya untung besar jika berurusan dengan makelar tanah," gumam seorang warga lagi.


"Mana mungkin kami berniat membohongi, lebih baik bapak-bapak tanda tangani dulu berkas ini." Aldo mengambil berkas dari tangan Alfred langsung menyodorkan ke para warga.


Terlihat keyakinan para warga mulai sedikit goyah mendengar iming-iming yang Aldo janjikan. Saling berunding satu dengan lainnya namun belum juga menemui kesepakatan.


"Gimana ini?"


"Serius segitu nominalnya?"


"Jangan termakan rayuan mereka!"


"Tapi coba kalian bayangkan, hidup kita bakal jauh lebih mewah jika menerima tawaran tersebut."


"JANGAN PERCAYA!!"


Terdengar suara keras cukup lantang dari arah belakang kerumunan.


"Siapa lagi ini, berani sekali menggangu," pikir Aldo menatap lurus arah belakang kerumunan.


Mendengar teriakan tersebut, para warga memberi ruang jalan untuknya mendekati Aldo.


"Teryata kalian belum jera juga ya? Masih berani kembali kesini menampakkan wajah busuk kalian?" pekik Tama berdiri tepat di hadapan Aldo.


"Lancang sekali orang tua satu ini, dia belum tau siapa aku," batin Aldo memandang sejajar.


"Tama, coba lihat dulu ini," sahut seorang warga mendekati menunjukkan berkas di hadapannya.


"Lihat baik-baik Tama, tawaran ini bakal berguna untuk membangkitkan ekonomi seluruh warga desa," lanjutnya memegang lembut bahu Tama.


Dengan tatapan masih menatap Aldo, Tama mengambil berkas tersebut. Tanpa melihat isi berkas perjanjian tersebut, langsung merobek-robek menjadi potongan kertas kecil.


"Kau pikir bisa membodohi kami? Jangan terlalu yakin akan kemampuanmu anak muda. Lebih baik kau kutip potongan ini dan pergi. Ingat, jangan pernah berniat kembali," jelas Tama menepuk bahu Aldo.


***


Sampai disini dulu ya kak, makasih tetap mengikuti kisah ini. Ntar kita lanjutkan kembali setelah pariwara berikut ini. Jangan lupa buat yang belum fav di fav agar gak ketinggalan update terbarunya kak.

__ADS_1


__ADS_2