Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 90


__ADS_3

Setelah tiba di lokasi, Novi dan Ray berjalan menghampiri tim yang sedang bertugas.


"Siang, Bu," sapa pekerja yang bertugas.


"Siang."


"Untuk sementara hanya ini yang bisa kami temukan." Memberikan proyektil serta beberapa bukti lainnya seperti pistol serta alat pakai sabu yang berada di dalam badan kapal.


"Bagaimana dengan jasad korban?"


"Kami menemukan jasad korban mengapung di lautan. Saat ini jasad korban telah diamankan dan secepatnya akan dikirim ke ruang autopsi."


"Bisa jelasin kronologisnya?"


"Dari hasil penyelidikan yang kami lakukan beserta para polisi yang bertugas dapat disimpulkan bahwa, telah terjadi perampokkan pengkhianatan atau diantara kelompok satu dengan lainnya tidak menemui kesepakatan hingga akhirnya saling membunuh."


"Adakah kesimpulan lainnya?" tanya Novi kembali.


"Untuk sekarang hanya itu yang bisa kami simpulkan. Oh iya, kapal milik korban tersebut adalah kapal ilegal yang beroperasi di perairan Asia. Mereka telah lama menjadi target pihak kepolisian. Menurut kabar yang beredar, mereka adalah gerombolan yang bekerja di bawah pimpinan para Mafia narkoba."


"Masuk akal sih. Kenalin, Ini kriminolog di perusahaan kita," jelas Novi melirik Ray.


"Johan."


"Akbar."


"Kristian."


Menyambut uluran tangan mereka.


"Ray."


"Dimana Ruli?" lanjut Novi menoleh sisi kanan kiri.


"Setelah menemukan ponsel milik korban, dia pergi untuk menganalisa di ruang digital miliknya," jawab Kristian.


"Baiklah jika begitu kami pamit untuk kembali menyelidiki kasus ini," sahut Johan.


"Terimakasih atas usaha keras kalian," singkat Novi.


Johan beserta Akbar juga Kristian berlalu pergi meninggalkan Novi dan Ray.


"Sekarang antar saya ke suatu tempat," lanjut Novi menatap Ray kembali.


"Kemana?"


"Jalan saja, nanti kamu juga tau."


"Baik, Bu," jelas Ray menuju mobil.


Melanjutkan perjalanan kembali sebelum terhenti di sebuah mall tuk membeli sesuatu.


"Berhenti sebentar, ada sesuatu yang harus saya beli," pinta Novi menghentikan laju mobil tersebut.


Ray berjalan mengikutinya masuk. Setibanya di dalam membeli beberapa peralatan belajar lengkap, serta pakaian juga makanan yang cukup banyak.


"Ini semua untuk siapa, Bu?"


Novi diam melirik Ray sinis.


"Novi," sahut Ray kembali.


"Nanti kamu juga bakal tau," singkat Novi.


Kembali memilih mengambil barang-barang yang ia butuhkan langsung meletakkan di meja kasir.


"Siang Ibu, udah ini aja belanjanya? Ada yang ingin di tambah kembali?" sapa kasir.


"Udah itu aja."


"Untuk pembayarannya ingin melalui apa Ibu? Apa sebelumnya sudah punya card member?"


"Pakai ini aja." Memberikan salah satu kartu ATM.


"Sebentar ya Bu."


Setelah mengemas semuanya.

__ADS_1


"Terimakasih, selamat berbelanja kembali."


Melanjutkan kembali perjalanan sampai akhirnya tiba di suatu pondok panti. Baru menghentikan laju mobil, gerombolan anak-anak yang kurang beruntung tak merasakan kasih sayang dari kedua orang tua berlarian menghampiri Novi.


"Kakak...."


"Kak Novi...."


"Bunda..."


Bermacam-macam jenis panggilan sayang anak-anak tersebut pada Novi.


"Hay...." sahut Novi tersenyum ceria.


"Ini kakak ada oleh-oleh buat kalian semua, baris yang rapi satu-satu ya," lanjut Novi kembali membagikan beberapa barang.


"Wah ada robot, makasih kak." Mencium pipi Novi.


"Yey dapat boneka barbie." Memeluk Novi serta menciumnya.


"Kakak, roti kesukaan aku mana?"


"Nah yang ini buat Bagas." Memberikan roti pancake.


"Eh Ibu, udah sampai disini kok gak bilang-bilang?" sapa pengurus panti ke Novi.


"Iya bik, habis udah kangen kali akunya ke mereka."


"Kita juga kangen kok sama kakak," sahut anak-anak tersebut bersamaan.


"Yasudah kalau begitu kita masuk kedalam ya, saatnya belajar bersama biar kesayangan kakak makin pandai," ujar Novi kembali penuh kasih sayang.


"Kenapa wajahku memerah begini?" batin Ray melihat Novi sekejap mengalihkan pandangan.


"Kakak-kakak, Om itu siapa? Pacarnya kakak ya? Kok diem aja kak?" pekik salah satu dari mereka menarik lengan Novi.


"Masih kecil kok udah tau pacar, Arya? Siapa yang ajarin itu?" tanya Novi lembut.


"Kemarin aku di kasih tau Kak sama Bima."


"Gak boleh begitu ya. Tugas kamu belajar dulu yang bener ya sayang. Salam dulu sama sih om ini," lanjut Novi.


"Loh kok malah takut? Om gak gigit kok," sahut Ray ketika Arya berlindung di dekapan Novi.


Bermacam jenis sifat anak-anak tersebut dari yang pemalu, penakut juga pemberani. Ada juga anak-anak yang kurang beruntung karena memiliki kekurangan fisik. Melihat mereka tetap tersenyum dalam keadaan seperti itu, membuat hati Ray bersimpati.


"Om, Om. Kok hidungnya beda sama punyaku?" ujar seorang anak lelaki memegang hidungnya yang pesek berdiri di depan Ray.


Ray langsung berjongkok mengimbangi tinggi sang bocah.


"Ini dulunya kejepit pintu, jadinya seperti ini. Nama kamu siapa?"


"Aku Bima om. Kata Kakak, Aku paling bandel disini."


"Kenapa Bima bandel?"


"Karena aku suka usilin mereka Om." Menunjuk ke gerombolan anak-anak wanita.


"Kamu ini, masih kecil gak boleh nakal ya." Tertawa ringan mengusap kepala Bima.


"Om, Kak Novi cantik kan?" bisiknya pada Ray.


"Em, cantik."


"Om suka gak?"


"Semua cowok suka kok sama kak Novinya."


"Om cocok deh kelihatannya kalau sama si kakak," cetus Bima kembali.


"Bima, jangan yang aneh-aneh, buruan masuk," pekik Novi.


"Iya Kak." Berlari menyusul masuk bersama rombongan anak-anak panti.


"Hah anak-anak jaman sekarang ada aja," gumam Ray berjalan menyusul.


Ketika di dalam ruangan, terduduk Ray memperhatikan Novi yang sedang memberi pelajaran berhitung sekaligus bernyanyi.

__ADS_1


"Membahagiakan sebuah hati dengan tindakan langsung, lebih baik daripada 1000 kepala yang hanya menunduk berdoa tak melakukan apa-apa," batin Ray menatap anak panti bermain serta belajar bersama Novi begitu ceria.


"Nah sekarang kakak sudah siapin nih buku bergambar dan alat-alat tulisnya," lanjut Novi membagikan peralatan melukis.


"Kak, kita gambar apa ya?"


"Em apa ya? Ah Kakak ada ide. Kalian gambar om Ray aja ya, gimana?"


Mendengar peryataan tersebut, Ray menaikan satu alis sembari menunjuk diri sendiri.


Novi tersenyum mengangguk.


"Ya Kak, sulit pasti," sahut Melati.


"Gak mesti harus sama, cukup kalian gambar aja sebisa mungkin, kan kita seru-seruan," jelas Novi.


"Yaudah deh kak, Melati coba."


"Bima, ngapain kesitu?" lanjut Novi melihat Bima memperhatikan Ray begitu dekat.


"Gimana, udah cakep belum?" pekik Ray menyodorkan wajah begitu dekat ke Bima.


"Sip om mantap," singkat Bima kembali berjalan menuju meja belajar miliknya.


Bermain bersama anak anak panti membuat waktu berputar begitu cepat. Tertawa bersama melihat hasil gambaran mereka akan diri Ray membuatnya cukup senang berada di tempat tersebut hingga sore berlarut menjelang malam.


"Anak-anak, belajar dan mainnya sampai disini dulu ya, sekarang kalian mandi dan kakak akan siapin makanan spesial buat adik-adik kakak yang cantik dan tampan ini," jelas Novi.


"Baik kak." Serentak berlalu menuju ruangan kamar.


"Bu, Ibu bermalam disini?" ujar pengurus panti.


"Gak kok, mungkin kita sedikit pulang larut," jawab Novi merapikan tempat belajar dengan Ray.


"Ray, maaf ya. Mungkin hari ini kita pulang sedikit larut malam," lirihnya mendekati Ray.


"Dari apa yang kamu beli tadi itu udah cukup bukti bahwa kita bakal pulang larut. Lagian mana ada beli kembang api untuk di pakai siang hari. Tapi ya demi membuat mereka senang, gak apa-apa. Nanti aku tinggal kabarin Alisa," jelas Ray.


"Makasih ya."


"Sama-sama."


"Oh iya aku sama bibi mau ke dapur dulu siapin makan malam. Kalau kamu lelah istirahat aja dulu di ruangan itu." Menunjuk salah satu ruangan.


"Siap," singkat Ray berjalan menuju ruangan tersebut.


Memperhatikan seisi ruangan, berjalan menuju sofa sekedar membaringkan tubuh. Ketika hendak berbaring, panggilan telepon berbunyi.


"Siapa lagi ini." Mengambil ponsel di saku.


"Alisa?" Melihat panggilan di layar ponsel yang retak akibat korban kekejaman tangan Alisa, segera mengangkat panggilan tersebut.


"Iya sayang."


"Kamu dimana mas, kok jam segini belum pulang?"


"Baru aja tadi mau kabarin kamu, eh udah nelpon duluan. Aku lagi di..."


Ceklek...


"Kalau kamu mau mandi, baju kamu di mobil ya. Ray. Tadi aku beliin," sahut Novi muncul kemudian menutup pintu kembali.


"Suara siapa itu Mas? Mandi? Jangan bilang kalau kamu baru selesai melakukan hal gila!"


"Gak sayang enggak. Itu tadi lagi..."


"Sekalian jangan pulang!" Bentak Alisa menutup panggilan tersebut.


"Sayang, halo sayang."


Tut....


Tut...


Tut...


***

__ADS_1


Sampai disini dulu kak, makasih buat yang uda fav dan tetep pantau alur ini, kalian luar biasa...hehehe.


Lanjut...


__ADS_2