Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 8


__ADS_3

Melihat situasi yang sangat mendesak, raut wajah Ray sedikit memperlihatkan aura gelisah bingung tak tentu arah.


Jika ia beralasan pergi ke kamar mandi secara diam-diam hanya untuk melihat pemberitahuan pesan di ponsel itu, Alisa pasti akan curiga dan mulai menunjukan taringnya.


"Kenapa enggak di buka Mas pesan masuknya? Siapa tau ada hal yang penting loh Mas," ujar Lisa dengan senyum minim.


Yang ada di dalam kepala Ray saat itu hanyalah, siapa yang mengabarinya di situasi yang tak tepat seperti itu? Juwita atau Suci.


Lisa tak pernah tau Ray berhubungan dengan wanita lain. Sebab dalam menjalin hubungan mereka saling percaya untuk menjaga privasi masing-masing tanpa mencampuri segala urusan satu dengan lainnya.


"Bagaimana jadinya kalau Alisa tau kontak di ponsel sekarang ini seperti kos-kosan wanita? pasti gawat. Belum lagi sifat cemburu dia itu kadang melewati batas tingkat provinsi," tanya Ray dalam hati melirik ke langit bangunan.


Dengan nafas panjang Ray mengambil ponsel di saku kanan, perlahan mengintip dan membukanya.


Diiringi detak jantung yang semakin kencang, sedikit demi sedikit ponsel mulai naik ke permukaan keluar dari saku. Penuh lirikan tajam Alisa memfokuskan satu pandangan harap cemas ingin mengetahui sang pengirim.


Seketika Ray langsung menarik membaca pesan tersebut dan,.


"Astaga," cetus Ray menggelengkan kepala.


Jelas sudah isi pesan itu terlihat di matanya, membuat dirinya begitu menyesal telah melihat dan membaca.


"Selamat anda mendapatkan hadiah mobil dengan kode 22789 dengan nomor pengirim 082165100000."


Ternyata bukan Wita atapun Suci yang mengirim pesan ke ponsel Ray ketika sedang bersama Alisa, melainkan makhluk dari bumi lain yang mencoba mencari pemasukan uang dengan niat penipuan.


"ALHAMDULIAAHHH, Aku telah berhasil mendapatkan sebuah mobil, nanti bisa kita pakai jika suatu saat ingin pergi berlibur jauh. Kamu mau kan sayang?" ujar Ray tersenyum lega menoleh kearah Alisa.


"Ih kamu ini Mas, sudah tau itu hanya bohongan, malah di percaya. Mana mungkin Mas ada yang seperti itu. Kalau kamu mau mobil ya datang ke showroom dong, temui kasirnya, terus tinggal pilih deh mau yang mana. Gitu," jawab Alisa menggelengkan kepala.


"Pilih kasirnya?" singkat Ray.


"Ya mobilnya lah Mas, kamu ini emang pantang di lepas dikit ya."


Tertawa kecil, Ray menyambungnya, "Lah kan kamu sendiri barusan bilang temui kasirnya, habis itu baru langsung pilih."


"Yasudah pilih sana kasirnya, bila perlu ibu-ibu penjual apapun di pinggir jalan borong sana semua, " gerutu Alisa memanyunkan bibir.


Melihat raut wajah Alisa yang musam, Ray tersenyum mencoba sedikit merayu sembari mengelus lembut kepala Alisa, "Rajukanmu akan hal-hal kecil, selalu ku cinta selama Aku masih hidup."


"Entah, gak tau dan gak mau tau!" tegas Alisa melepas genggaman tangan.

__ADS_1


"Iya iya maaf, kalau di maafin ntar janji deh kita beli bakso bakar pak parno. Gimana, setuju?" balas Ray menaikan dan menurunkan kedua alis, dengan cepat membuat Alisa kembali tersenyum.


"Mas, kemarin ayah dan ibu nanyain kamu tuh, kapan kamu halallin Aku?" tanya Lisa dengan nada lirih.


"Emang kamu haram, kok di halallin?"


"Canda mulu kamu ah Mas, serius dikit dong," lanjutnya mencubit pinggul Ray.


"Iya nanti Aku nikahin kamu ketika Aku mendapat lotre besar ya Nak."


"Tuh kan bercanda lagi, serius gak sih jalanin hubungan kita, kalau kamu gak serius, Aku mundur ini?" tanya lisa kembali memanyunkan bibir.


"Sabar ya sayang. Bukan Aku bermaksud gak serius, tunggulah penghasilan ku sedikit membaik agar selalu bisa membuatmu bahagia di masa depan," ujar Ray menggenggam telapak tangan Lisa menenangkan hatinya.


"Aku bukan wanita penggila harta Mas, yang kuinginkan hanya cintamu."


"Halah pasir, pasir sayang pasir," ucap Ray tertawa terbahak-bahak.


"Yasudah kalau gak percaya," balas Alisa dengan wajah konyol mengejek.


Alisa yang saat itu sedikit kesal, kembali tersenyum ketika berhasil membalas jahil Ray. Keduanya saling berbalas jahil hingga tak terasa acara di kantor saat itu selesai.


Tak lama setelah mengantarnya, ia pamit untuk segera kembali ke rumah. Setibanya di rumah, berbaring di tempat tidur sambil bermain facebook.


Dari semua aplikasi media, hampir rata-rata Ray memilikinya. Sedang asik bermain sosial media, ia melihat sebuah postingan status yang kurang tepat atau mengganjal menurut sisi pandangnya.


"Semua lelaki sama saja, mereka brengsek!"


Tanpa berfikir lama, Ray langsung menanggapi hal itu.


"Kalau lelaki seperti yang kamu ucapkan, apakah ayah kamu termasuk juga seperti itu, mbak?" tanya Ray dalam komentar.


Dua menit setelahnya wanita itu membalas,.


"Kamu ada urusan apa? kenapa ikut campur? Lebih baik diam! Kamu gak tau apa-apa, jangan sok tau segalanya deh."


Mendapati hal itu, Ray hanya tersenyum sendiri di dalam kamar sembari membalasnya kembali.


"Saya hanya meluruskan mbak, karena di dalam kata-kata mbak itu gak cocok. Masak iya semua lelaki seperti yang mbak pikir? Kalau mbak bilang semua, itu pembunuhan karakter namanya."


"Perduli amat, ini kan akun-akun Aku, kenapa kamu urusin? Lagian ni ya, memang seperti itu faktanya. Kalau lelaki bersikap baik, pasti ada sesuatu yang dia mau atau dapatkan. Kamu juga begitu kan?" tuduhnya masih berbalas komentar.

__ADS_1


Ray berhenti membalas komentar itu kemudian beralih mengirim ke pesan pribadi.


"Ketika ada masalah dalam hubungan dengan lelaki, tidak seharusnya seperti itu mbak, malah kamu terlihat gak punya harga diri, padahal harga diri wanita itu gak terbeli dan gak akan bisa di ukur dengan apapun. Jika dia pergi meninggalkanmu, yakin saja pengganti yang lebih baik pasti sudah di persiapkan di depan, depan gang misalnya."


Tak berhenti sampai disitu, pesan pribadi itu adalah jembatan awal bagi mereka untuk saling mengenal.


Semua masalah ia ceritakan sampai telinga Ray sedikit berasap karena terlalu lama mendengar curhatan hati.


Wanita itu bernama, Ezza Fitria Ningsih.


Berusia seumuran dengan Ray, berambut panjang, memiliki wajah yang oval, berkumis tipis, paras yang begitu ia banggakan ketika Ray menulusuri foto-foto pribadi di akun tersebut.


Hingga akhirnya meminta nomor telepon Ray dengan alasan untuk sharing bercerita keluh kesah. Ezza berfikir, Ray adalah lelaki yang cukup dewasa dalam berfikir bijak, sesuai untuk tempatnya bercerita.


Ketika sudah saling berbagi kontak telepon, Ray sedikit berfikir tentang Ezza. Apa yang Ezza lakukan hanyalah wujud dari rasa kesepian, karena tak ada seorang pun yang mampu menang melawan sepi.


"Kenapa bisa seperti ini? sudah sama seperti drama di film-film ini. Awalnya betengkar lalu berteman, terus ujung-ujungnya pasti jadian," pikir Ray mulai berdiri mengambil handuk berjalan menuju kamar mandi sembari bernyanyi lagu naluri lelaki.


"Mau mandi kau Bang?" tanya Rama singkat.


"Gak, cuma mau mancing ikan. Ya mandilah."


"Ngapain mandi, nanti kotor lagi."


"Sengaja mandi, biar gantengnya luntur."


"Ganteng modal nyuap aja bangga kali."


"Gak sekalian kredit?" singkat Ray langsung menutup pintu kamar mandi.


"Jangan lupa jatahku nanti malam Bang, uang pajak kebersihan beresin tempat tidurmu," teriak rama sedikit keras.


"Bising kali anak muda," sambut Ray menggantungkan handuk.


"Terlepas dari benar dan salah tentang menjaga sebuah hati, bisa mengenal mereka adalah kisah lain yang tak pernah ku sesali," batin Ray menatap genangan air dalam bak.


***


Terimah kasih telah membaca kak, ikutin terus ya jika suka. Tinggalkan saran komentar lemari kulkas mangga batu apalah itu semua serta fav juga ya.


Terimakasih kak, kita lanjut..,

__ADS_1


__ADS_2