Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 69 (Dibalik Revolver berdarah)


__ADS_3

Sisi lain 6 jam sebelumnya ketika ayah Alisa berselisih dengan Aldo di sebuah restauran.


***


"Selamat malam Om dan Tante."


"Kamu, kenapa bisa ada disini? Bukankah seharusnya kamu berada di-"


"Penjara bukan, Om?" lanjut Aldo tersenyum ringan.


Ayah Alisa terdiam sejenak memikirkan bagaimana cara Aldo bebas.


"Jangan heran begitu Om, hal yang wajar jika aku bisa bebas dengan cepat."


"Yasudah, kami tidak ada keperluan apapun denganmu, kami permisi," jelas ayah Alisa.


"Tunggu sebentar dong, mau kemana sih buru-buru begitu, Om? Sebaiknya kita duduk terlebih dahulu untuk membicarakan bisnis bersama," lanjut Aldo menghentikan langkah ayah Alisa.


"Saya tidak akan pernah mau berbisnis dengan orang licik seperti kamu!" pekik ayah.


"Baik jika Om tak ingin mendengarkan penjelasan saya terlebih dahulu. Tinggal saya bilang saja ke pak Robi kalau anda telah menolak membicarakan bisnis denganku."


"Robi? Kenapa kamu kenal dengan beliau?" ujar ayah semakin bingung.


"Seorang mafia dan pengusaha terbesar, siapa yang tak mengenal beliau, Om? Siapapun pasti telah mengenal dirinya. Aku datang menemui Om disini karena permintaan dari beliau untuk mengajak Om kembali bekerja sama."


"Oh jadi sekarang kamu masuk kedalam bisnis tersebut, ya ya saya tau sekarang." Ayah Alisa mulai memahami situasi.


"Hidup yang kujalani saat ini jauh lebih menyenangkan dan menantang. Perlu Om ketahui bahwa, Aldo yang sekarang berbeda kelas dengan yang dulu. Satu hal lagi, Om tau sendiri kan kalau sahabat Om itu orangnya begitu nekad dan tak suka penolakan?"


"Aku tidak perduli lagi dengannya, sampaikan padanya kalau dengan lantang aku menolak. Lebih baik sekarang kamu pergi!" Bentak Ayah mengusir.


"Kenapa takut seperti itu Om? Takut jika masa lalu Om di ketahui keluarga?"


"Ayah, kenapa ini? Apa ada sesuatu yang Ayah sembunyikan selama ini?" sahut Ibu.


"Iya Tante, sebenernya pak Robi dan Om dulunya sedang menjalankan..."


Plak (Tamparan keras Ayah Alisa).


"Lebih baik kamu pergi sekarang, jangan berani sesekali mengancam. Sedikitpun Saya tidak gentar menghadapi Robi!"


"Cuih, orang tua sialan, berani sekali menentang ku," batin Aldo menatap Ayah Alisa penuh benci.


"Ayo Bu, sebaiknya kita tinggalkan orang gak penting ini. Mendengarkan ucapan darinya hanya membuang-buang waktu saja," lanjut Ayah berlalu menggandeng tangan Ibu.


Mendapatkan perlakuan yang tidak begitu menyenangkan, Aldo segera menelpon beberapa anggota bermaksud menghabisi nyawa ayah Alisa.

__ADS_1


"Sudah tau kan apa yang harus kalian lakukan? Orang tua itu telah menolak mentah-mentah permintaan dari Bos besar untuk menguasai proyek gelap yang sangat menggiurkan tersebut," pekik Aldo kepada anggota.


"Baik Tuan, akan segera kami lakukan perintah tersebut."


"Ingat, jangan sampai gagal!" Menutup telepon pergi meninggalkan area lokasi.


Ayah dan Ibu Alisa yang tak ingin mengambil resiko, berjalan cepat menuju parkiran mobil. Ketika hendak memasuki mobil,


Duaar...!!


Suara tembakan dari Revolver 44 yang berisikan 7 amunisi, satu diantaranya menancap tepat di dada langsung melumpuhkan ayah Alisa.


"Ayah, tolong tolong." Teriak sang istri melihat suami telah di bunuh dengan sengaja.


Dalam sekejap suasana area sekitar ramai dibanjiri kerumunan. Tak lama setelahnya polisi beserta ambulance tiba bersamaan di lokasi tersebut segera membawa korban yang masih bernafas tipis untuk memberikan perawatan intensif ke rumah sakit.


Belum sampai di rumah sakit, nyawa ayah Alisa tak lagi tertolong.


"Halo, Tuan. Kami telah berhasil menjatuhkan target tersebut."


"Bagus, cukup bagus," balas Aldo menerima telepon dari anggota.


"Lihat Alisa, lihat baik-baik, mulai dari sini, penderitaan akan dirimu di mulai. Sakit dan hancur hati yang selama ini kualami atas perlakuan darimu, akan kamu rasakan juga," batin Aldo tersenyum picik.


Setelah berhasil, Aldo langsung menelepon sang paman sembari menyetir mobil di perjalanan.


"Halo Paman, Aku berhasil melenyapkan dirinya."


Robi Wicaksono adalah Bos mafia terbesar yang berkedok menjadi pengusaha lahan. Menjalankan bisnis pelacuran terbesar serta bandar narkoba tingkat Asia.


Beliau adalah kerabat dekat dari ayah Alisa semasa muda ketika merintis bisnis yang sama. Keduanya saling tercebur kedalam bisnis ilegal tersebut. Namun ayah Alisa berhasil menghentikan bisnis tersebut demi menjadi pribadi yang lebih baik.


Robi yang tak terima karena telah ditinggalkan oleh sahabat lamanya tersebut, berusaha terus merangkul agar kembali bekerja sama.


Putus komunikasi yang begitu lama membuat ayah Alisa tak mengerti jika Robi adalah adik dari almarhum ayah Aldo. Bukanlah perkara sulit bagi Robi jika hanya membebaskan Aldo dari penjara.


Setelah Aldo menceritakan semua kepada pamannya, dendam serta kecewa Robi semakin meningkat akan ayah Alisa. Sekarang Aldo telah menjadi tangan kanan Mafia besar tersebut.


Ray serta Alisa yang baru tiba di rumah sakit, langsung menuju ruang jenazah ayah Alisa.


"Ibu," lirih Alisa berlari langsung mendekap sang ibu yang penuh haru.


Tak sanggup menatap jenazah sang ayah, berulang kali membuat Alisa jatuh pingsan. Mia dan Erlin terus mencoba membantu menenangkan histeris dirinya berulang kali walau tak berhasil.


"Siapa bajingan tersebut yang telah berbuat hal sekejam ini!" pekik Ray menatap tubuh ayah.


Fendi dan Fii yang mengetahui Ray sedang mengecam, hanya bisa menepuk bahu untuk bersabar.

__ADS_1


"Akan ku balas sekalipun dengan nyawa," lanjut Ray melirik Alisa.


Dengan pandangan penuh kebencian, Ray beranjak keluar ruangan bermaksud menemui Aldo. Hanya Aldo yang ada di pikirannya saat itu. Ray yang menuduh Aldo bukan tanpa sebab, karena yang ia tau hanya Aldo yang sanggup berbuat hal sekejam itu.


"Ray, tunggu." Fendi dan Fii mengejar menghentikan lajunya.


"Aku yakin cukup tau siapa di balik ini semua," jelas Ray menatap serius.


"Sabar Ray, Aku tau apa yang kamu rasakan, tapi bukan dengan begini caranya. Apa yang bakal kamu lakuin hanya akan membuat masalah," ujar Fendi meyakinkan kembali.


"Bajingan itu harus ku beri pelajaran!"


"Kita akan berusaha membantu sekeras mungkin, tapi bukan dengan hal ceroboh. Kita harus menyelidiki sebaik mungkin agar mengetahui siapa sebenarnya yang tega telah membunuh ayah Alisa," sahut Fii.


"Sebaiknya kamu tenangkan dulu emosi kamu Ray, karena itu bisa menjerumuskan dirimu sendiri," sambung Fendi menuntunnya duduk di kursi depan ruangan.


Menutup wajah dengan kedua telapak tangan, sesekali meremas kepala karena rasa kecewa tak bisa melindungi keluarga Alisa.


"Kamu gak bersalah sedikitpun atas apa yang terjadi Ray, ini semua sudah takdir dari sang Kuasa. Sekarang hanya berdoa yang bisa kita lakukan untuk beliau," lanjut Fendi merangkul.


"Terimakasih telah mengingatkan ku, emosi telah menguasai pikiranku. Jika kalian tak menghentikan langkahku, mungkin entah hal buruk apa yang bakal aku lakukan," balas Ray menatap dengan tetesan air mata.


Fendi dan Fii yang mengerti kondisinya saat itu, tak kuat menyembunyikan simpati kesedihan.


"Aku harus tegar. Ya, Aku harus tegar demi Alisa." Mengusap tetesan air mata yang mengalir di pipi segera bangkit kembali menuju ruang jenazah menemui Alisa dan Ibu.


Begitu pilu dan sedih yang Alisa alami membuat tubuhnya lemah tak berdaya hingga tertidur di bahu Mia.


"Ibu, sebaiknya istirahat, ikhlas dan pasrahkan semua kepada yang Kuasa, Bu," ujar Ray menghampiri ibu yang berada di sebelah jasad ayah.


"Ibu masih ingin menemani Ayah kamu disini," lirih dengan nada terbata-bata wajah sendu berurai air mata yang telah habis tak tersisa.


Bingung tak tau harus berkata apa tuj menenangkan hati sang Ibu, Ray berdiri terdiam masih menatap Ibu memeluk jenazah Ayah. Kemudian berjalan menghampiri Mia Erlin yang berada di sebelah Alisa.


"Sudah semakin larut malam, sebaiknya kalian kembali. Aku akan merawat Alisa sendiri."


"Kami tidak keberatan sama sekali Ray, Alisa membutuhkan kami dan kami akan selalu berada disisinya," balas Mia.


"Bener, kami juga akan selalu ada di sisimu, kawan," sahut Fendi berdiri sejajar dengan Fii memandang Ray.


Menoleh kearah Alisa yang masih memejamkan mata tertidur bersandar di bahu Mia, Ray berjalan mendekati menggenggam tangan Alisa.


Dreet...(Nada pesan).


"Turut berduka cita sedalam-dalamnya dari lubuk hati yang paling dalam." Pesan singkat Aldo.


"Brengsek!" kecam Ray penuh kesal menggenggam ponsel sekuat mungkin.

__ADS_1


***


Sampai disini dulu kak, tanpa banyak kata makasih lanjut...


__ADS_2