Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 126


__ADS_3

"I-ibu, Mas."


"Kenapa dengan ibu?"


"Ibu, ibu sudah gak ada!"


Mendengar peryataan Alisa kehilangan sosok ibu tercinta, kabar tersebut cukup mengejutkan Ray. Kematian secara mendadak, tak mengira akan pergi secepat itu.


"Inalillahi, Aku langsung kembali malam ini, jaga diri dan kondisi kandungan kamu."


Ray menutup panggilan Alisa, bergegas menuju kamar mengemas pakaian.


"Kenapa terlihat buru-buru, Ray?" ujar Eka.


"Maaf pestanya gak bisa ikut, mertuaku meninggal. Aku harus cepat kembali berada di sisi Alisa," jelas Ray merapikan pakaian.


"Inalillahi."


"Ray, biarkan kami ikut mengantarmu." Putra berdiri menghampiri.


"Aku tidak ingin merepotkan siapapun, biar sendiri aja," balas Ray berdiri menggendong ransel.


"Tapi, Ray..."


"Maaf untuk semuanya, jaga diri kalian baik-baik, kita pasti bertemu kembali," lanjut Ray bergegas menuju mobil langsung menancap laju kendaraan.


Disisi lain Tomi.


"Selamat malam, Nona," sapa Tomi melihat Novi berdiam diri terduduk menatap gemerlap bangunan kota dari bilik jendela.


"Tomi," lirihnya membalas tatapan Tomi singkat berbalik arah kembali.


"Sudah dua hari ini Nona terus melamun, apa sebenarnya yang anda lamunkan?"


"Emm, gak ada apa-apa kok."


Tomi yang melihat butiran obat di atas meja sebelah tempat tidur Novi tak berkurang sedikitpun, begitu juga dengan piring berisi makanan, mencoba memberi simpati akan dirinya.


"Nona, kenapa makan malam dan obatnya masih tersisa?"


"Saat ini aku lagi gak ingin apapun," singkat Novi.


Bagi Tomi, mendapatkan kepercayaan Novi adalah langkah yang bagus. Semua bermula saat ia mengetahui jika diam-diam Novi mengindap sakit kronis satu ginjal tak berfungi (gagal ginjal).


Keluarga Deny serta Novi hanya mengetahui jika Tomi lah yang mendonorkan ginjal untuknya. Meski sebenarnya, ginjal tersebut bukanlah milik Tomi melainkan milik salah satu anggota Deki.


(Flashback seminggu sebelumnya)


"Tumben sekali Nona hari ini berangkat kerja tidak bersama Leon?" ujar Tomi di dalam mobil mengantar Novi.


"Hari ini dia tidak masuk kerja."


"Loh, emangnya pergi kemana, Non?"


"Saya tidak tau."


"Bukankah dia calon Non ya? Masak iya ijin tidak masuk kerja gak beri alasan apapun?"


"Bukan urusan kamu juga kan dia mau pergi kemana?"


"Maaf, Non."

__ADS_1


"Jika bukan karena ayah memaksa, kamu tidak perlu repot mengantarku," gumam Novi.


"Aku hanya menjalankan kewajiban Non. Kebaikan dari beliau menyelamatkan nyawa ini, tidak akan pernah sanggup aku membalasnya. Hanya dengan cara menjaga keselamatan Nona seperti inilah yang bisa aku lakukan. Keselamatan Nona di atas keselamatan diriku sendiri."


"Bodoh sekali mempertaruhkan nyawa hanya untuk orang lain. Apa begitu tak berartinya nyawa kamu sampai bisa berkata seperti itu?"


"Tidak masalah meski seribu tahun lagi Nona baru bisa mempercayaiku," jelas Tomi tersenyum menatap Novi.


"Kenapa senyum?"


"Hanya membayangkan sesuatu, Non."


"Apa?"


"Pasti Leon lelaki yang cukup tangguh, dia bisa memenangkan hati Non yang begitu liar."


"Kamu pikir aku binatang buas apa."


"Bukan seperti itu juga konsepnya, Non."


"Terserah kamu saja!"


Setibanya di kantor ketika turun membuka pintu mobil mempersilahkan Novi, Tomi melihat wajah Novi sangat pucat lelah.


"Nona baik-baik saja kah? Kelihatanya lagi kurang sehat."


"Jangan sentuh, Aku baik-baik saja," pekik Novi berdiri dengan tubuh gemetar.


Novi yang memegang dadanya sesekali mual, tetap bersikeras berjalan masuk. Tak berapa jauh dari mobil...


BRUKKK


"Non!" Tomi berlari menghampirinya.


Satpam kantor yang juga melihat, segera datang menghampiri.


"Kenapa dengan bu Novi, Pak?" seru satpam.


"Gak tau ini tiba-tiba jatuh jatuh pingsan. Tolong bantu angkat ke mobil, biar segera di bawa ke rumah sakit."


"Baik, Pak."


Didalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Jika aku biarkan seperti ini saja, nyawamu sudah pasti lewat," batin Tomi melirik Novi yang belum sadarkan diri.


Hari demi hari yang telah dilalui, rasa kebencian Tomi yang ingin membunuh Novi, berubah menjadi ambisi ingin memiliki. Paras serta fisik sempurna yang Novi miliki, mampu membenamkan kebencian Tomi secara perlahan.


"Tapi jika hidupmu berakhir secepat ini, terlalu indah untuk gadis sepertimu mati muda. Lebih baik menjadi istriku setelah aku berhasil menguasai seluruh harta ayahmu," pikir Tomi kembali.


"Halo," lanjut Tomi menelpon teman yang berprofesi sebagai dokter.


"Ha, kenapa Tom? Tumben menelpon pagi begini?"


"Kamu dimana? Kekasihku jatuh sakit dan sekarang kami menuju ke rumah sakit milikmu."


"Kebetulan aku disini, cepatlah bawa kemari."


"Oke."


Setibanya di rumah sakit, Tomi membiarkan Irfan memeriksa penyakit yang Novi derita tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada Deny.

__ADS_1


Setelah selesai memeriksa Novi...


"Gimana Fan?"


"Kondisi fisik kekasihmu cukup lemah, salah satu ginjalnya tak berfungsi seperti seharusnya. Terlalu berbahaya jika membiarkan terus seperti itu."


"Emang seberapa bahayanya penyakit itu?"


"Cukup berbahaya dan harus segera di tangani dengan cepat. Satu-satunya cara yaitu harus transplantasi ginjal," jelas Irfan.


"Apa tidak ada cara lain?"


"Kronis yang ia idap dan jika di biarkan terus menerus seperti itu sudah pasti tidak bisa di tangani dengan cara biasa. Pencucian darah tidak akan membuahkan hasil apapun."


"Baiklah, kalau begitu akan saya cari pendonor secepatnya. Tapi tolong, katakan kepada keluarganya nanti jika pendonor itu adalah aku, berapapun yang kau pinta akan ku bayar."


"Sedang bermain peran?" ujar Irfan penuh tanya.


"Terlalu panjang jika di jelaskan sekarang, intinya ikuti saja apa yang aku kataka."


Dengan wajah senyum menatap Tomi, Irfan menggelengkan kepala.


"Oh iya Tom, cari pendonor yang sehat fisik jauh dari penyakit. Jangan asal sembarang pilih," lanjutnya.


"Akan aku bawa beberapa anggota ayah kesini. Nanti kau sendiri yang tentukan mana yang layak untuknya," balas Tomi bergegas pergi.


Proses transplantasi selesai, keluarga Novi pun tiba usai Tomi memberi kabar tersebut. Hanya menguping di balik ruangan kamar membaca situasi yang ia lakukan.


"Dimana anak saya?" ucap Deny cukup panik.


"Tenang Pak, operasinya sudah selesai. Semuanya berjalan lancar, tidak ada hal apapun yang perlu di takutkan," jelas Irfan menenangkan keadaan.


"Mana Tomi? Kenapa dia tidak segera memberiku kabar?"


Mendengar teriakan Deny terlihat marah, Tomi memulai aktingnya berjalan santai keluar ruangan dengan tubuh lemah.


"Akhirnya kamu keluar juga," kecam Deny berniat memukul.


"Tahan Pak, sabar." Irfan menghentikan laju Deny.


"Kenapa Dokter menghalangi? Tanpa meminta ijin dariku, dia langsung memberi keputusan. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada putriku?"


"Tapi Pak, jika dia tidak mengambil tindakan dengan cepat, nyawa putri bapak semakin dalam bahaya. Dia rela mendonorkan satu ginjalnya demi menyelamatkan putri bapak," jelas Irfan cukup meyakinkan Deny.


"Apa?" Deny melirik lambat menatap Tomi.


"Ma-af jika aku lancang, Tuan. Aku hanya ingin menyelamatkan sebisa mungkin," lirih Tomi berjalan tertatih menyandarkan satu tangan di dinding.


"Ka-kamu melakukan itu?" Ekspresi wajah Deny terlihat heran.


"Ayah," sahut istri mengelus punggung Deny.


"Sekali lagi maaf, Tuan." Terus berjalan melewati dirinya hendak menuju halaman luar.


"Ayo, mustahil kamu tidak akan bersimpati," batin Tomi menerka pikiran Deny.


"Tunggu!"


Deny menghentikan langkah Tomi dan Tomi terdiam masih membelakangi Deny.


***

__ADS_1


Sampai disini dulu kak, makasih terus mengikuti karya batagor ini. Berhubung iklan belum masuk, Kita lanjut...


__ADS_2