
"Aku lagi cari sapu baru."
"Te-rimakasih, Rina." Berbalik arah kembali membelakanginya.
"Ekspresi! Ekspresi mukaku masih terlihat kegirangan!" batin Rama menepuk lembut pipi.
"Cewek yang barusan bukan anggota kebersihan kan?" cetus Rina.
"Em, dia cuma mau bicara sebentar tadi. Eh, jangan bilang kamu dengar ya?"
"Enak ya jadi orang populer?"
"Eh, eh, eh, kenapa ini? Kok suaranya kayak emosi? Cemburu ya? Imut banget," pikir Rama singkat.
"Percuma kalau bukan dengan orang yang kusuka," gumam Rama.
"Masa? Jadi maunya sama siapa?"
"Kamu," jelas Rama menatap Rina serius.
"Nah, mau apa sekarang? Si ganteng Rama yang populer ini baru saja memintamu menjadi pacarnya," lanjut Rama dalam hati.
"Bagaimana? Aku sih mau pacaran denganmu, Rina," ujar Rama kembali tersenyum manis memicingkan mata.
"Terimakasih." Rina membalas senyuman tersebut.
"Terimakasih? Terimakasih? Selamat Rama, kau sudah berhasil, ini puncaknya," pikir Rama.
"Ba-baguslah, kalau begitu mau berbagi nomor ponsel? Nanti ku hubungi," sambung Rama.
"Ok."
"Eh? Eh? Tujuanku bisa tercapai semudah ini? Gila apa karena aku ganteng banget?"
"Ah, tapi maaf. Sekarang ponselku lagi di perbaiki," sambung Rina memotong laju pikiran Rama.
"Lagi di perbaiki? Disaat begini kenapa ritmeku jadi berantakan?" gumam Rama dalan hati berjalan mendekati Rina.
"Yasudah jika begitu adanya," balas Rama memegang kedua tangan Rina.
"Selesai bersih-bersih ini, Aku akan menuliskan nomorku di sini," seru Rina menunjuk sebuah laci meja.
"Akhirnya," batin Rama.
"Kalau begitu tunggulah setelah selesai," jelas Rina berlalu pergi meninggalkan Rama melamunkan hari bahagia miliknya.
Tak lama setelah tugas piket selesai, Rama berjalan menuju ruangan yang telah di janjikan demi sebuah nomor ponsel.
"Ah, dia bilang disini tadi." Membuka laci meja.
"Mantab." Mengambil sebuah amplop surat langsung membacanya.
"Lihat di luar jendela."
Rama berjalan menuju jendela kaca segera melihat kebawah halaman sekolah. Rina tersenyum kemudian menunjukan sebuah tulisan besar, "AKU MENOLAK!" Berjalan pergi keluar gerbang sekolah.
"JANGAN MAIN-MAIN WOI." Teriak Rama mendapat ejekan Rina.
"Kau kurang beruntung," sahut Rini berdiri di belakang Rama.
"Mau apa kau kesini? Silahkan kalau mau tertawa."
"Kamu terlalu naif," pekik Rini.
Rama berbalik arah menatap Rini.
"Kalau dari awal kamu percaya denganku, mau nomor ponsel ataupun kencan, semuanya bisa kau dapat," jelas Rini kembali.
"Ke-kencan?"
Rini merebut selembar surat dari genggaman Rama, kemudian mengambil pena dalam sakunya sembari menuliskan sesuatu.
"Ini," lanjut Rini memberikan nomor ponsel.
"Nomor ponsel siapa ini?"
"Itu milikku," jelasnya berjalan keluar ruangan kelas.
"Haruskah aku mempercayainya?" pikir Rama memandang nomor tersebut.
__ADS_1
Seminggu kemudian.
"Ikut kelas tambahan sebulan penuh???"
Para siswa saling meributkan masalah yang terjadi di dalam kelas.
"Itu baru saja di putuskan oleh para guru di ruang rapat. Kalau sampai ada satu anak saja yang nilainya jelek, maka satu kelas tersebut harus ikut kelas tambahan," jelas Melly sedikit panik.
"Astaga!"
"Hancurlah sudah."
"Kenapa mereka bisa menerapkan sistim seperti itu? Sial."
Siswa saling bersaut-sautan mendengar peryataan Melly atas peraturan baru pihak sekolah.
"Aahhhh," lirih Melly menghela nafas.
"Ba-bagaimana ini? Kita bakal susah, Rama," tambahnya melirik Rama.
"Iya juga sih, kita harus belajar ekstra kayaknya," jawab Rama dengan santai.
"Kalau Rama sih pasti bisa," lanjut Melly kembali.
"Enggak juga kok, orang yang santai ya cuma ini, yang kayak begini," balas Rama menunjuk Gomez.
Gomez tak memperdulikan hal tersebut, ia masih sibuk memotong-motong meja menggunakan pisau kecil.
"Kau sama sekali gak khawatir ya sama tesnya, Gomez?" sindir Rama lembut.
"Hem, yang penting kita sudah berusaha," singkat Gomez.
"Waktu ujian semester satu kemarin, rata-rata nilai ku tiga semua. Mudah-mudahan kali ini bisa naik jadi 4," lanjut Gomez cukup serius penuh semangat.
"Astaga!!! Ternyata ini anak goblok banget," batin Rama terkejut.
"Gomez, jika seperti itu, kita sudah pasti masuk kelas tambahan," sahut Melly.
"Malasnya masuk kelas tambahan ya Tuhan," lirih Gomez menunduk.
"Kita harus mulai belajar sekarang juga," ujar Rama memegang pundak Gomez.
"Buang pikiran jorokmu itu!" gerutu Gomez.
Ketika jam istirahat sekolah tiba, Rama mengajak Gomez ke ruang perpustakaan.
"Yak, pertama kita cari tau dulu sejauh mana pemahaman kamu." Meletakkan beberapa buku di hadapan Gomez.
"Percuma kalau baru mulai sekarang," lirih Gomez menempelkan wajah di meja.
"Kenapa kau bisa masuk sini ya? Padahal sekolah ini kan diatas rata-rata, belum lagi nilai lolos masuk sekolah ini cukup tinggi," cetus Rama.
"Itu salah satu dari tujuh keajaiban sekolah" sambut Gomez mengacungkan jempol.
"Yang enam lainnya apa?"
"Ajaib banget kamu bisa satu sekolah samaku," lirih seorang wanita di meja belakang Rama.
"Itu salah satu dari tujuh keajaiban sekolah," jawab lembut rekan wanita tersebut.
"Terus enam lainnya apa?" cetus sang wanita berucap kata yang sama.
"Kenapa percakapannya bisa sama seperti ini?" batin Rama melirik belakang.
"Eh...."
"Eh?"
"Ha-hai, kebetulan banget ini. Lagi belajar buat ujian nanti ya?" salam Rama pada Rina juga Rini.
"Aku cuma bantu Rini belajar saja. Kalau isunya benar, bisa-bisa aku juga ikut kelas tambahan," pekik Rina khas dengan sifat angkuhnya.
"Serius? Padahal mukanya kelihatan pintar, tapi ternyata nilainya hancur," batin Rama memandang Rini.
"Kita senasib ya, Rini. Aku juga di bantu sama Rama," sahut Gomez.
"Wah, Aku baru tau kalau kamu bisa mengajari orang," sindir Rina.
"Ya setidaknya aku rajin belajar," jawab Rama mendongakkan pandangan.
__ADS_1
"Kamu masih saja percaya diri, padahal sama yang sederhana saja bisa tertipu. Semoga tidak salah langkah lagi ya," lanjut Rina.
"Kalau berani bicara seperti itu, mau sekalian taruhan?" balas Rama berdiri mendekati meja Rina.
Rina terlihat cukup bingung melihat tatapan Rama begitu serius.
"Kali ini kita adakan lomba. Aku dan Gomez atau kamu dan Rini yang nilainya nanti lebih tinggi selepas ujian. Kalau aku yang menang, kita kencan," jelas Rama membungkukkan sedikit badan menatap Rina begitu dekat.
"Ra-Rama?" pekik Gomez.
"Buat apa taruhan begitu?" ucap Rina memalingkan pandangan.
"Takut kalah?" sindir Rama.
"Bukan itu maksudku! Lagipula apa untungnya bagiku jika ikut taruhan dengan kamu?"
"Kalau kamu yang menang, bebas mau kasih julukan apapun untukku. Nanti akan ku tempel di punggung terus kupakai sampai lulus sekolah."
"Kayaknya seru, tapi belum cukup jika hanya dengan itu. Kalau aku menang, kau harus bayar makan siang ku sampai aku puas setiap hari!" jelas Rina.
"Boleh saja," sahut Rama penuh percaya diri.
Rina bangkit berjalan bersama Rini menuju luar ruangan.
Seketika berhenti, "Jangan salahkan aku kalau nantinya aku yang menang!" kecam Rina.
"Rama, kayaknya aku gak yakin nih," ucap Gomez mulai gugup.
"Tenang saja," balas Rama menenangkan Gomez.
"Kalau waktu itu omongannya benar, sekarang bukan dua lawan dua, tapi tiga lawan satu," pikir Rama menatap Rini berjalan menjauh.
Bel pelajaran usai, Rama bersantai duduk di halaman sekolah sembari menunggu jemputan datang.
"Kalau di pikir-pikir, ini pertama kalinya aku akan menelpon wanita. Apa gak apa-apa jika Rini jadi yang pertama?" pekik Rama menatap kontak Rini di ponsel.
"Tapi kalau enggak ku telpon, mana bisa diskusi soal lombanya," pikirnya kembali.
Dreet.....
Dreett.....
"Eh? Dia telpon duluan? Angkat gak ya? Masak iya pertama kalinya aku di telpon wanita harus dari Rini?"
Dreet......
Dreet....
"Ah bodo amatlah," lanjut Rama mengangkat panggilan tersebut.
"Halo."
"Lama banget ngangkatnya?"
"Ya sebagai cowok aku harus siap-siap dulu. Soal lombanya, kau bisa bantu aku kan?"
"Mustahil. Kamu bebas mau memutuskan apa saja, tapi aku punya perhitunganku sendiri. Jangan biarkan dia hidup, tapi jangan di bunuh."
"Kenapa begitu? Emangnya kita lagi bahas..."
Tut...
Tut....
Tut...
"KENAPA?" kesal Rama ketika Rini mematikan panggilan tersebut.
Disisi lain Ray yang baru selesai mengurus semua keperluan kerja bergegas menjemput Rama.
"Kecebong anyut pasti curhat lagi ini." Berhenti di depan sekolah melihat Rama terduduk menyendiri.
Tin.....
Rama menoleh kemudian berjalan menghampiri Ray yang telah menunggunya di dalam mobil.
***
Sampai disini dulu kak, kecebong kita skip, lanjut fokus ke masalah yang tak kunjung berakhir..terimakasih, kita lanjut.
__ADS_1