
Mendengar peryataan tersebut, Novi mendadak berdiam diri sebelum akhirnya menghela nafas tersenyum tipis.
"Saya hampir pernah menikah. Dulu saya mempunyai kekasih yang saling mencintai. Menjalin hubungan hampir lebih 3 tahun lamanya kemudian memutuskan untuk menuju jenjang yang lebih serius dan akhirnya kami bertunangan. Ketika seminggu lagi menuju acara pernikahan, semua sudah di persiapkan dengan matang, maut menjemput tunangan saya. Pesawat yang ia naiki saat itu terjun bebas menabrak bukit pegunungan."
"Maaf ya Bu, saya tidak bermaksud lancang seperti tadi," ucap Fendi menundukkan pandangan.
"Gak apa-apa, kejadian itu sudah hampir 2 tahun lamanya. Mulai dari kejadian itu, Saya belum bisa membuka hati untuk lelaki manapun. Maaf ya malah jadi curhat seperti ini, harusnya gak pantes ya," lirihnya menghapus linangan air mata tersenyum paksa.
"Ini, Bu," sahut Ray memberikan selembar tisu yang ada di meja miliknya.
"Makasih. Oh iya apa ada pertanyaan lagi?" ucap Novi kembali tersenyum lebar.
Fendi dan Fii menggelengkan kepala sedang Ray masih melamun menatap Novi dan cukup yakin jika ia sedang menangis dalam senyuman.
"Kamu terlalu indah buat bersedih," cetus Ray langsung menutup mulut.
"Alamak keceplosan," batin Ray memicingkan mata.
"Hah, apa Ray?" kejut Novi menatapnya.
"Gak Bu, cuma terharu mendengar kisah yang cukup sedih." Melirik ke arah Fendi dan Fii yang menunjuk-nunjuk kearah Ray rendah seakan mereka mendengar jelas apa yang ia ucapkan.
"Oh iya, kalian berangkat kemari naik apa?" tanya Novi.
"Kami kemari nebeng sama Ray, Bu," sahut Fendi.
"Oh begitu, bagus kamu tuh, masih mudah sudah punya mobil, Ray," seru Novi kembali.
"Bukan mobil saya Bu, tapi mobil mertua."
"Mertua?" Terlihat sedikit bingung.
"Iya, Bu."
"Kamu sudah menikah, Ray?" tanya Novi kembali terlihat sedikit cemas.
"Sudah, Bu," balas Ray datar.
Melihat ekspresi darinya begitu cemas, membuat pikiran Ray semakin bingung.
"Sebenarnya ini cewek kenapa ya?" batin Ray melamun.
"Kami belum menikah, Bu," sahut Fendi dan Fii bersamaan.
Novi hanya menyengirkan senyuman mendengar ungkapan Fendi juga Fii. Hal itu semakin membuat Ray penasaran tentang apa yang belum ia mengerti.
"Selamat ya." Novi kembali mengulurkan tangan.
"Iya, Bu." Menyambut tangan tersebut masih bingung.
"Oh iya, ini kunci mobil untuk kamu bawa sebagai inventaris kalian selama bekerja disini."
"Makasih, Bu," sahut Ray menoleh kearah Fendi mengangkat kedua bahu.
"Yasudah, berhubung jam istirahat siang tiba, kalau begitu interview kita selesai sampai disini," jelas Novi.
"Interview model apa begini? Ini namanya ngasih kerjaan, bukan kami yang cari kerja," batin Ray.
__ADS_1
"Kamu sibuk Ray hari ini?" ujar Novi kembali.
"Gak begitu sibuk, kenapa Bu?"
"Saya mau minta tolong anterin saya ke suatu tempat, bisa?"
"Bisa bisa aja sih, Bu."
"Beneran kamu bisa?"
"Iya, Bu."
"Yasudah kalau begitu tunggu saya di ruang lobby ya."
"Siap, Bu." Berjalan keluar ruangan bersama Fendi serta Fii.
Menuju ruang lobby bawah dengan lift.
"Enak kali kau Ray, rejeki nomplok ah bisa dekat Bos terus," pekik Fendi.
"Jangan ngaco ah, justru aku bingung ini. Kok dia terlihat baik kali sama kita."
"Bukan kita tapi kau. Kalau ga ada kau mungkin kami gak diterima kerja disini," sahut Fii.
"Ya justru itu aku bingung, kenapa dia baik kali. Masak iya hanya gara-gara nolongin dia dari jambret kemarin mendapat perlakuan istimewa kayak gini sih?"
"Sebentar, Aku mau ketik reg spasi bingung dulu," pekik Fendi kembali.
"Serius dikit batagor, bukan mode bercanda aku," gumam Ray.
"Kenapa harus bingung coba? Tadi kan udah jelas terlihat kalau dia suka kau, belum lagi dia terkejut kalau tau kau udah menikah, Eduardo," jelas Fendi.
"Mana kutahu, mungkin itumu besar," singkat Fendi.
"Nih sekali lagi ngaco jebol pintu ini ku bikin Fen."
"Yaudah jebolin situ."
"Janganlah, belum gajian kok."
"Jangan di pusingkan, intinya saat ini kita sedang ketimpa duren," singkat Fii.
"Em, ya gini kalau disuruh sekolah belajar yang bener malah sibuk main layangan," ketus Fendi melirik Fii.
Lift terbuka berjalan menuju ruang lobby.
"Kenapa rupanya?" tanya Fii.
"Nih ya, jangankan ketimpa duren, ketimpa kelapa aja orang-orang pada takut, kelapa itu bulat loh. Kau gak liat duren itu tajam berduri? Kalo ketimpa kau, em, remuk payah bilang lah udah." Fendi menggeleng-gelengkan kepala sementara Ray hanya nyengir mendengarnya menjelaskan detail ke Fii.
"Ingin ku berkata kasar ah. Ampuni diri ini Tuhan yang telah lalai menjual isi kepalanya," ujar Fii berjalan memegang kepala Fendi.
"Itu hanya istilah Fendi, istilah. Dulu kan udah kubilang jangan kau jual isi kepalamu itu, suatu saat pasti ada fungsinya, malah kau jual," lanjut Fii kembali.
"Ray, Aku salah apa sih?" Fendi menoleh menatap Ray.
"Hahahaha."
__ADS_1
Terduduk bersama di ruang tunggu.
"Ini anak dari tadi ketawa aja," pekik Fendi kembali melihat Ray terbahak.
"Kalian itu sama aja, bagai pinang di belah dua pakai batok kelapa, sulit." Masih terbahak.
"Liat Fen, seneng kali dia kan mau jalan sama yang uwuw," jelas Fii.
"Oh pantes lah dari tadi ngakak aja dia kuliat, baru sadar aku."
"Jangan cakap aneh-aneh, media masa sedang kekurangan berita panas akhir-akhir ini," ucap Ray melihat kanan kiri perlahan duduk di lobby.
"Buatlah yang panas-panas Ray." Fendi merangkul Fii berjarak menatap Ray.
"Apa? Bakar rumah?"
"Halah sok polos, jijik kali akulah," gerutu Fendi.
"Mbak." Fii tersenyum mengangguk-angguk menatap pegawai yang lalu lalang.
"Ini pun udah mulai kumat." Fendi mencekik Fii.
"Sakit goblok," ketus Fii.
"Ingat udah mau nikah," lanjut Fendi.
"Bukan urusanmu itu, Aku kan laki. Ya gak Ray?"
"Mana tau aku, belum pernah nengok kok," singkat Ray.
"Ya gak gitu jug..."
"Ray, udah bisa berangkat sekarang?" ujar Novi menghampiri.
"Bisa Bu," balas Ray langsung berdiri.
"Kalian tunggu aja dimana gitu, nanti kabarin aku, Ok?" singkat Ray langsung bergegas pergi mengikuti Novi dari belakang.
"Ini pakai mobil saya." Novi memberikan kunci kendaraan pribadi miliknya.
"Yang itu ya," lanjutnya menunjuk ke satu arah.
"Siap Bu."
Bergegas menuju mobil tersebut, menghampirinya yang sedang berdiri di depan perusahaan, segera turun membukakan pintu untuknya.
"Kamu tau alamat ini?" Menunjukkan sebuah alamat melalui chat ponsel miliknya.
"Tau, Bu."
"Jangan panggil Bu ketika berada di luar kantor, panggil Novi saja."
"Iya, Novi."
"Panggil Ibu ketika di kantor ataupun berhadapan dengan klien saja."
"Iya bu, eh Novi."
__ADS_1
***
Sampai disini dulu kak, makasih telah mengikuti sampai sejauh ini. Semoga selalu menghibur ya kisahnya, jangan lupa fav komen apalah itu semuanya bila suka ya kak, kita lanjut...