Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 20


__ADS_3

Suara tangisan kecil terdengar di telinga Ray, "Hiksss...hikss...hikss."


Mendengqr itu, Ray menoleh ke arah kanan bawah pohon beringin yang indah. Dari kejauhan terlihat samar dengan pikiran kosong berjalan menghampiri suara tangis tersebut.


Hanya berjarak beberapa meter darinya, ia mendongakkan wajah seorang gadis berlinang air mata.


"Alisa?"


"Mas...."


Dengan sigap Alisa berdiri langsung mendekap erat tubuh Ray dan Ray membalas pelukan eratnya.


"Maafin aku, maafin aku," lirih Ray memejamkan mata masih memeluk erat tubuh Alisa.


Alisa terus menangis melepaskan segala kesedihan yang saat itu bercampur aduk dengan rindu begitu dalam.


"Maafin aku, besarnya sayang ku padamu, membuat ego dan emosi menguasai pikiran ini," lanjut Ray mengecup kening.


Ciuuuuuttttt.....!!!


Jedarrrrr...!!!


Jebom....!!


Jeder...!!


Jebommm..!!


Suara keras pesta kembang api bercorak indah di langit malam itu menandakan tahun telah berganti saat Ray dan Alisa berpelukan mesra menyisahkan sebuah kenangan baru tentang arti tangis dan tawa.


Menikmati pesta event tersebut dengan berkeliling area lapangan serta bergandeng tangan, Ray dan Alisa bagaikan dua sejoli dilanda kebahagiaan.


Kesedihan atas apa yang terjadi sebelumnya seketika hilang di telan bumi. Namun di sisi lain malam itu tak semua manusia merasa bahagia.


Yuli dan Aldo memperhatikan dari sedikit kejauhan. Kebahagiaan yang Ray dan Alisa rasakan, berbanding lurus dengan perasaan yang Yuli alami juga Aldo.


***


"Jadi wanita itu yang bernama Alisa ya mas?" tanya Yuli ke Aldo.


"Iya Yuli, harusnya aku yang bersama dengannya malam ini, bukan si cowo brengsuk itu."


"Jangan bilang dia cowo brengsek dong mas, dia masa depan ku, kok kamu bilang seperti itu?"


"Iya maaf, aku kebawa emosi tadi. Seperti hati ini terbakar api cemburu," gerutu Aldo.


"Apa aku samperin aja ya?" balas Yuli bergegas ingin menghampiri.


Aldo seketika menarik tangan dan menghentikan langkahnya, "Jangan, sabar dulu. Aku gak mau cara murahan seperti ini untuk memisahkan mereka berdua," jelas Aldo menatap.

__ADS_1


"Terus kapan lagi mas? Momennya uda pas ini. Kalau aku bumbui sedikit saja lewat perkataan ku, aku jamin bakal pisah mereka," balas Yuli juga menatap wajah Aldo serius.


"Aku tau perasaan kamu karena aku juga merasakannya, tapi coba kamu bayangin sedikit.


Alisa tau aku menyukainya, dia juga tau kalau aku melakukan segala cara agar bisa memilikinya. Dan apa yang bakal dia pikirkan nanti kalau tiba-tiba kamu muncul di saat Ray masih bersama dengannya? Jelas saja Ray memiliki rencana mudah untuk membantah peryataanmu."


"Terus sampai kapan mas kita diem begini? Aku belum ada rencana lain, memangnya kamu ada solusi apa?" Yuli memalingkan pandangan.


"Kamu tenang dulu, redain dulu emosi kamu.


Aku akan memikirkan caranya," pungkas Aldo.


"Lebih baik kita party aja dulu, kita lupai deh segalanya di Bar sana, gimana?" lanjut Aldo kembali mengajak Yuli pergi menghabiskan malam bersamanya.


Berjalan ke arah berlawanan meninggalkan acara itu dan menuju ke suatu Bar.


"Aku ikut aja deh, tapi kamu gak ada niat macam-macam kan?" tanya Yuli kembali pada Aldo


"Gak lah, aku hanya milik Alisa." Tegasnya meyakinkan.


***


"Em, ikut yuk, ada yang mau aku kenalin ke kamu nak," ujar Ray tersenyum menatap Alisa.


"Siapa mas?"


"Ada deh, dokumen rahasia negara ini gak boleh di bocorin dulu."


Melihat Alisa tersenyum riang kembali, Ray terus mengelus kepala pujaan hati sembari berjalan menghampiri si kembar berbeda yang lucu.


"Woii," sapa Ray melambaikan tangan kearah Fii dan Fendi.


"Enak lah harusnya sibuk kerja malah cemewew cikiciw," sahut Fii menggoda saat Ray menghampiri mereka berdua.


cemewew cikiciw (pacaran/bermesraan)


"Cantik kali nyoya Ray ini malam, gak nyesel mbak dapet lanangan model begini kan?" sambungFendi dengan jahil.


lanangan (lelaki/pria)


Tak banyak kata, Alisa hanya tersenyum melihat tingkah kocak mereka berdua menjahili Ray.


"Kenalin dulu, kakak kalian ini nanti," ucap Ray mengenalkan Lisa.


"Aisa, Fendi."


"Alisa, Fii."


"Udah kau kasih makan anak orang kan? Jangan kasih makan angin aja," pekik Fendi menjahili Ray.

__ADS_1


"Jangan ragukan lagi, tengok sendiri lah kakak mu ini, kan ceria bahagia berseri-seri wajahnya," balas Ray menunjuk Alisa.


"Apaan sih mas, malu aku tuh," sahut Alisa nyengir mencubitnya.


"Indah kali bola mata mbak ini kayak pelangi, gak punya saudara kembar mbak?" lanjut Fii memperhatikan Alisa.


"Abang ini bisa aja becandanya. Gak ada bang, kalau ada pasti udah Lisa kenalin ke abangnya," balas Alisa mulai terbiasa dengan canda mereka.


"Sebelum seindah pelangi, bola matanya pernah sebasah hujan," sahut Ray merangkul bahu Alisa.


"Halah, sekarang aja gaya-gayaan, sebelumnya tadi kayak mana Fen?" ucap Fii.


"aiki idi irisin bintir, kiliyin hindil dili simia yi. (aku ada urusan bentar,kalian handel dulu semua ya)." Fendi menirukan dengan bibir manyun kecil mengulangi perkataan Ray yang dia ingat.


"betul itu, pake mata sembab lagi," sambung Fii kembali melirik Ray.


Ahaaha..ahahha.


Tertawa bersama mereka membuat waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah hampir jam 02:11 malam.


Ray pamit untuk mengantar Alisa kembali meninggalkan wasiat kepada Fendi dan Fii untuk


membereskan sarana pekerjaan sebelum pulang beristirahat.


Di perjalanan pulang mengantar Lisa...


"Makasih ya mas, udah percaya kalau aku dan Aldo gak ada hubungan apa-apa. Aku sadar semua salah ku karena gak memberitahu kamu kalau datang kesini diam-diam."


"Iya sama-sama sayang. Aku juga minta maaf karena gak bisa meredam emosi."


Sesampainya di depan halaman penginapan Lisa.


"Mas mampir bentar kan? Aku masih rindu banget sama kamu mas, karena besok kan aku sudah kembali lagi ke orang tuaku," ucapnya Lirih.


Ray bingung apa yang harus ia jawab. Disatu sisi ia juga ingin lebih lama bersama Alisa. Dilain sisi ia juga sangat ngantuk berat.


Tanpa berfikir lama Ray mengiyakan keinginan Alisa mampir masuk ke dalam kos tersebut. Membuatkan minuman teh hangat sembari berbincang-bincang dengan di ruang tamu malam itu.


"Mas kamu tau gak? Kemarin seharian aku hanya nangis terus karena telepon dariku gak kamu angkat," ujarnya bersandar di sisi kiri bahu Ray ketika duduk bersama.


"Iya maaf, kan uda di bilang kalau lagi campur aduk perasaan ku liat kamu sama Aldo."


"Mas janji ya gak bakal ada wanita lain di hati mas," tanya Alisa kembali menatap begitu dekat.


Ray terdiam melihat bibir tipis Alisa begitu dekat malam itu.


"Iya, aku gak pernah kepikiran untuk mencari wanita lain sela,..


Lisa menghentikan ucapan Ray dengan mencap berbagi warna lipstik.

__ADS_1


***


Sampai sini dulu Rome picisan, nanti di lanjut lembali. Makasih dah mampir masih niat membaca.


__ADS_2