Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 106


__ADS_3

"ASTAGA, hampir aja," lanjut Ray membenarkan posisi parkir mobil di tepi jalan.


"Tadi kamu bilang apa?" Memiringkan badan menatap Novi begitu jelas.


"Pergi ke jepang bareng kamu!" jelas Novi juga memiringkan badan ke kanan.


"Kenapa harus aku?"


"Gak ada alasan bagiku untuk mengajak lelaki selain kamu!"


"Bukannya kemarin kamu bilang gak bakalan berharap denganku meski aku terlihat sama seperti Leon?"


"Ray, kamu ngerti gak sih perasaan perempuan? Kenapa untuk memahami hal seperti ini saja kamu gak bisa sih? Aku capek harus terus berpura-pura kalau aku gak jatuh hati padamu," peki Novi terlihat cukup kesal.


"Tapi Alisa..."


"Aku tau kamu sudah memiliki Alisa, terus kenapa sedikit saja perasaan kamu gak bisa hadir untukku walau hanya sedikit, Ray, kenapa?"


"Perlu kamu tahu Novi, Alisa ialah wanita paling tegar yang pernah aku kenal di banding wanita lainnya. Meski berulang kali aku melakukan kesalahan di masa lalu, ia tetap menerimaku apa adanya. Jika kamu berada di posisi Alisa, mungkin kamu akan pergi jauh meninggalkanku ketika mengetahui seperti apa hidupku di masa lalu," jelas Ray tersenyum kembali menghadap jalanan.


"Aku tau rasa ini salah dan harusnya gak pernah hadir kembali. Mungkin sebaiknya aku pergi menyusul Leon," lirih Novi.


"Terus jika kamu berkata seperti itu, kamu berharap aku akan datang meminta kamu jangan berbuat gila dan berkata akan menikahi kamu, gitu?" lanjut Ray menatap kembali Novi.


"Maaf, kini aku sadar kalau kehadiranku dalam hidupmu sebuah kesalahan."


"Bukan seperti itu..."


"Cukup! Sebaiknya kita kembali ke kantor, lupakan perdebatan ini dan anggap gak pernah terjadi apapun." Bentak Novi.


"Kumat lagi kan?" pikir Ray ketika ingin melanjutkan perjalanan.


Tok...tok...tok. (Kaca mobil)


"Bang."


"Kenapa Bang?" Membuka kaca mobil.


"Uang parkirnya, Bang."


"Nih."


"Oke Bang. Terus-terus lagi oke."


"Apa kubilang, bener kan? Kemarin bilangnya gak berharap lah, gak mau sama kamu, gak berharap lebih lah, nyatanya sekarang apa? Aku gak bisa pura-pura terus Ray. Apaan begitu," gumam Ray dalam hati sembari menyetir mobil menuju kantor.


Disisi lain Aldo.


"SIAL!!!!!!" Menendang ban mobil.


"Kalau saja tidak ada lelaki tadi, pasti nyawamu telah melayang," kecam Aldo menatap foto putri Deny.


"Sabar Tuan, lain kali mungkin berhasil," sahut Alfred.


"Siapa sih laki-laki yang ikut campur itu, sok pahlawan," pekik Aldo.


(Flashback 1 jam sebelumnya)


"Halo Tuan, target menuju ke taman mutiara."


"Good, nice info," singkat Aldo menutup panggilan.

__ADS_1


"Buruan ke taman mutiara, target berada di sana," lanjutnya memberi perintah pada Erick di dalam mobil.


"Siap, Tuan."


(Flashback Off)


"Mobil siapa itu menuju kemari?" ujar Erick.


Siiiitt...........


Seorang pemuda menggunakan setelan jas hitam turun dari mobil, melepas kacamata berjalan menghampiri Aldo yang mengumpat kegagalan atas misinya.


"Kamu Aldo bukan?"


Alfred dan Erick yang bersandar di mobil berjalan menghadang pemuda tersebut.


"Aku kesini bukan sebagai musuh," lanjutnya kembali.


Aldo menyentuh pundak Alfred dan Erick yang menutupi tubuhnya, memberi kode jika semua baik-baik saja.


"Iya, Aku Aldo."


"Salam kenal, Aku Tomi putra Deki," jelas Tomi menyodorkan tangan.


"Deki yang kamu maksud itu kerabat pamanku bukan?" tanya Aldo masih menebak.


"Bukannya paman Robi telah memberitahukan kamu kalau kita akan bekerja sama?" jelas Tomi kembali.


"Kenapa kamu bisa tau pamanku?"


"Cukup sederhana sih, karena mereka berdua yang menjadi sutradara, sedang kita hanya aktor," singkat Tomi.


"Baiklah, jika kamu masih belum yakin sebaiknya kamu hubungin pamanmu," lanjut Tomi menarik uluran tangannya yang tak di sambut Aldo.


"Ok." Mengeluarkan ponsel menghubungi Robi.


Klik...


"Halo Aldo. Gimana, kamu sudah berhasil menghabisi nyawa putri Deni?"


"Maaf Paman, Aku gagal karena seorang pemuda berhasil menyelamatkan nyawanya."


"Siapa pemuda yang berani menghalangi kamu? Habisi saja dia, kamu sudah menandai wajah pemuda tersebut bukan?"


"Maaf Paman, Aku gak melihat wajahnya karena dia mendekap putri Deni membelakangiku."


"Sebaiknya kamu pikirkan lagi apa yang harus kamu lakukan Aldo, jangan sampai kamu gagal kembali."


"Baik Paman."


"Yasudah kalau begitu..."


"Sebentar Paman."


"Ha?"


"Saat ini seorang pemuda telah menghampiriku. Dia bernama Tomi dan mengaku sebagai putra Deki," lanjut Aldo melirik menatap pemuda tersebut yang bersandar di mobil.


"Jadi kalian sudah bertemu?"


"Tunggu dulu, jadi dia beneran putra kerabat Paman?"

__ADS_1


"Iya Aldo, Aku berfikir kalian tidak akan bertemu dalam waktu dekat. Tapi siapa sangka kalian telah bertemu secepat itu," jelas Robi.


"Kemarin Deki memberiku kabar kalau Tomi berhasil masuk menjadi bagian dari keluarga Deny. Kemampuannya dalam berakting sudah tidak di ragukan lagi bukan?"


"Bukannya Paman, Deki dan juga Deny itu sahabatan sudah lama ya? Pasti saling tahu keluarga masing-masing kan? Bagaimana mungkin Deny gak mengetahui kalau Tomi putra Deki?"


"Tomi adalah putra Deki dari istri keduanya yang menetap tinggal di London. Yang mengetahui jika Deki beristri dua hanya aku, Aldo."


"Pantas saja sekarang semua terlihat lebih masuk akal," batin Aldo.


"Yasudah kamu lanjut berkenalan dulu dengannya dan saling kerjasama. Ingat, jangan pernah ada kata gagal kembali."


"Baik Paman."


Mengakhiri panggilan tersebut dan berjalan menghampiri Tomi.


"Maaf untuk yang tadi." Aldo mengulurkan tangan.


"Santai saja," balas Tomi menyambut uluran tangan Aldo.


"Ah, ini kartu namaku lengkap dengan nomor ponsel di bawahnya. Saat ini kita belum bisa berbicara terlalu lama, Aku khawatir jika Deny mengirim anggota untuk membatasi ruang gerakku," lanjut Tomi.


"Baiklah jika begitu," singkat Aldo.


Setelqh perkenalan tersebut, Tomi berjalan memasuki mobilnya, ketika hendak pergi ia membuka kaca mobil tersebut.


"Oh iya, tembakanmu tadi cukup bagus. Maaf karena aku hanya menyaksikan dari kejauhan tanpa memberimu kabar sebelumnya. Dari sini biarkan aku mencari informasi tentang seluruh keluarga Deny." Tomi berlalu pergi.


"Jadi sekarang kita mendapat rekan baru ya, Tuan?" sambung Alfred mendekati.


"Begitulah."


"Bukanya ini menandakan bahwa kita terlihat gak mampu menyelesaikan perintah si Bos ya, Tuan?" sahut Erick.


"Jangan berfikir seperti itu dulu, kita belum mengetahui siapa Tomi sebenarnya. Meski bekerjasama kita juga harus mencari tau tentangnya untuk berjaga-jaga kalau nantinya dia berkhianat."


"Siap Tuan," sahut Alfred Erick bersamaan.


Kembali ke sisi Ray yang tiba di kantor.


Ray turun dari mobil bergegas segera membukakan pintu Novi.


"Kamu sudah boleh kembali pulang," singkat Novi.


"Kok sudah boleh pulang? Aku gak sedang di pecat kan, Bu?"


"Gak kok, kamu masih bekerja di sini. Aku menyuruhmu kembali hanya karena kerja kamu hari ini sudah selesai dan Aku gak ada jadwal pergi kemanapun.


"Tapi kan gak enak saja Bu sama karyawan lainnya," jawab Ray mengiringi Novi berjalan.


"Yasudah kalau begitu kamu temani Herman jaga pos sekarang."


"Kan aku supir, Bu."


Novi menghentikan langkah kaki, menoleh ke sisi kiri menatap Ray, "Kamu sendiri yang bilang bukan kalau gak enak sama karyawan lainnya? Yasudah buruan sana, jangan membantah!" Kembali berjalan memasuki kantor.


"Tau gitu bagus pulang tadi," batin Ray menuju pos satpam.


***


Sampai disini dulu ya kak , om, tante dan abang. Maaf jika masih ada kesalahan dalam penulisan juga alur. Kita telah sampai di 60% keseluruhan alur ya minna san, tetaplah malas menulis dan rajinlah membaca. Lanjut...

__ADS_1


__ADS_2