Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 66


__ADS_3

"Ayo main sini, ikut gabung," teriak Fendi ke para wanita yang sedang berjemur.


Para wanita hanya melambaikan tangan memberi isyarat jika nanti akan segera ikut bergabung.


"Cowok begini bertiga, enaknya ngapain ya?" cetus Fii dengan tubuh berendam menyisakan bagian kepala.


"Gimana kalau main siapa paling lama menahan nafas dalam air?" sahut Fendi.


"Itu mainan jaman dulu Fen, yang lain dong," jawab Fii.


"Main korban tenggelam gimana?" ujar Fendi kembali.


"Itu mah kalau korbannya cewek baru seru, next," balas Fii singkat.


"Ray, ada saran gak?" ucap Fendi menatap Ray yang masih berenang ke kanan dan kiri mengitari mereka.


Huuuuu.......(Hela nafas berdiri menyibakkan rambut).


"Dulu pernah coba sampo lain, tapi sekarang jadinya begini dan begini," jelas Ray berpose seksi.


"Serius dikit napa Ray," sahut Fii.


"Main pukul semangka mata tertutup aja mau gak? Main di ujung sana," lanjut Ray menunjuk pinggiran.


"Semangka dari mana?" tanya Fendi bingung.


"Lari kau ke depan sana terus kau cari habis tuh beli, banyak toko buah itu," pungkas Ray kembali menyelam.


Fendi beranjak naik ke permukaan air, berlari kencang mencari buah semangka beserta tongkat pemukul. Setelah memakan waktu kurang dari 20 menit ia kembali.


Hu...ha..hu....ha....hu...(Nafas tipis Fendi).


"Kalian mau ngapain sih?" pekik Erlin melihat kumpulan lelaki ketika berada tepat di depan mereka yang lagi berjemur.


"Mau main game, ikut gak?" jawab Fii.


"Main game apa?" tanya Erlin kembali.


"Ray jelasin," ujar Fii.


"Setiap tim akan berpasangan, 1 pemukul dan 1 pengarah jalan. Tim yang berhasil memecahkan buah semangka akan di traktir makan minum biaya penginapan serta di belikan sepasang pakaian khas daerah sini. Pemukulnya lelaki, pengarahnya wanita," jelas Ray tersenyum memicingkan mata.


"Lah pasti yang kalah ada 2 pasangan, terus cara bayarin pemenangnya gimana?" sahut Mia.


"Patungan dong untuk yang kalah. Masing-masing hanya boleh melakukan 1 kali percobaan dengan batas waktu 20 menit. Gimana, pada setuju gak?" lanjut Ray kembali.


"Aku sih yes, gak tau ya mas Fii mas Ray," sahut Fendi mendekap tangan merentangkan kedua kaki.

__ADS_1


"Gimana say? seru ni kelihatannya," sahut Alisa ke Mia juga Erlin.


Setelah para wanita saling berdiskusi...


"Oke deh kita setuju, sesuai pasangan masing-masing tapi kan?" tanya Alisa kembali pada Ray.


"Iya dong, pasti itu. Jadi sekarang kita udah ada 3 tim ini. Aku dengan Alisa, Fendi berpasangan dengan Erlin, terus Fii dengan Mia. Nah sekarang tinggal kita tentuin siapa tim pertama yang akan bermain lewat hom pim pang ala iyum gambreng," sambut Ray.


Setelah saling menyepakati, mulai berkumpul membentuk lingkaran.


Hom pim pang gambreng...


"Fii dan Mia tim pertama," ucap Ray.


Hom pim pang gambreng...


"Fendi dan Erlin tim kedua, berarti aku dan Alisa jadi tim terakhir. Ingat, keputusan juri tidak dapat di ganggu gugat," jelas Ray kembali sebagai wasit.


Fendi mulai menutup mata Fii, sedang Ray meletakkan semangka yang berjarak 20 meter.


"Untuk tim yang belum mendapat giliran, boleh menganggu tim yang sedang bermain agar lebih menantang," jelas Ray kembali.


"Ingat, cukup dengar suara ku jangan dengar suara lain," pekik Mia berbisik ke Fii kemudian berjalan menuju semangka.


"Udah pada bersiap ambil posisi? Putar putarkan Fii dulu Fen. Bersiap....mulai." Memulai permainan setelah Ray memberi isyarat.


"Kanan...kanan...terus...kanan," ucap Fendi, Erlin dan Alisa mengacaukan konsentrasi Fii.


"Jangan, balik balik, putar kiri jangan kesitu," balas teriak Mia mengarahkan Fii yang menuju air laut.


"Ya terus, terus bang terus." Erlin menirukan nada bicara Mia.


"Jangan!" Teriak Mia.


Jebuur....


Ray dan Fendi membuat keributan dengan gelak tawa yang cukup kuat ketika melihat Fii tercebur ke dalam air pantai. Fii yang tercebur perlahan membuka mata karena sedikit susah bernafas menelan asinnya air laut.


"Apes bener," ketus Fii menghampiri kembali.


"Dengerin suara aku makanya, jadi kalah deh," pekik Mia.


"Lihat sendiri tadi kan? Udah pusing di puter puter, suara makhluk begitu banyak, ya jadi gak fokus aku," jawab Fii menunduk menapakkan kedua tangan di pinggul.


"Oke next, tim berikutnya bersiap-siap," ujar Ray kembali.


"Gitu aja cemen, tengok aku pasti berhasil," sindir Fendi menatap Fii.

__ADS_1


"Lihat pembalasan dariku ya Fendi. Belum kau coba iyalah banyak gaya. Nih ya rasakan sensasinya," bisik Fii ketika hendak memutarkan tubuh Fendi.


"Jangan kuat-kuat lah, Aku tadi kan gak banyak mutar-mutarkan sih," lirih Fendi dengan mata tertutup.


"Ah mana ada itu. Mata balas mata kalau nyawa ya di balas nyawa!" kecam Fii.


"Udah kayak mau perang di timur tengah aja kau bah," balas Fendi.


"Udah diem kau tinggal nikmati aja susah kali," pungkas Fii.


Erlin telah bersiap berdiri di posisi belakang semangka sebagai pemandu Fendi. Berdoa terus berharap agar dirinya dan Fendi berhasil memenangkan permainan kala itu.


"Oke baiklah ladies and gentleman, ready, gas!" Ray kembali memulai permainan tim ke 2.


"Ya terus, kiri sedikit, terus." Arahan Erlin.


Seperti biasa, tim pengacau bercampur aduk membuat kebisingan.


"Jangan, balik, balik, nah terus kiri," sahut Mia, Alisa, Fii dan Ray secara bergantian.


Namun konsentrasi yang cukup bagus dari Fendi membuat para penggangu semakin berusaha lebih kuat untuk menggagalkannya.


"Iya terus, terus pokoknya terus aja, jangan belok, terus, Aku mau kamu nikahin kalau kamu berhasil Bang!" Teriak Erlin begitu keras.


Fendi berhasil fokus mendengarkan suara Erlin, terus melangkah maju membuat jarak semakin dekat.


"kiri, kiri, kanan, kanan." Berusaha menghalaunya.


"Yes dikit lagi, maju lagi bang Fen, maju lagi, terus jangan belok-belok," lanjut Erlin kembali sedikit melompat-lompat girang.


Teriakan keempat penggangu semakin mengeras karena Fendi hampir sampai di posisi yang sangat tepat untuk memukul.


"Iya terus Fen terus, nah pas itu terus lagi," sahut Fii sembari tertawa bermaksud mengecoh.


Mendengar arahan dari suara Fii, sejenak Fendi berhenti melangkahkan kaki berfikir kembali penuh tanya.


"Mana ini yang bener, Beb, mana dong?" ujar Fendi kebingungan dengan tongkat pemukul menjurus ke depan.


"Iya terus aja, terus maju dikit, terus loh terus," jawab Erlin keras.


"Iya terus mas Fendi ku sayang, ahahah," sahut Fii kembali membuyarkan konsentrasi.


"Nanti nyebur ini gak?" gumam Fendi.


"Cepetan jalan lagi, keburu waktu habis lo sayang," pekik Erlin mulai emosi.


****

__ADS_1


Sampai disini dulu kak, jangan lupa beristrirahat di hari yang panas ini. Makan juga biar kuat baca novelnya. lanjut....


__ADS_2