
"Maaf, Leon yang dimaksud siapa ya bik?"
Mengabaikan pertanyaan Ray, masih menatap kosong wajahnya.
"Bik?" Melambaikan tangan cukup dekat ke wajah.
"Bik...?"
"Maaf Tuan tadi saya melamun mengingat Den Leon, soalnya wajah Tuan mirip sekali dengan beliau, persis gak terlihat beda."
"Leon siapa bik?"
"Den Leon itu calon suami non Novi yang kabarnya telqt meninggal dunia, Tuan."
"Oh jadi namanya Leon," batin Ray mengetahui hal tersebut.
"Pantesan sikap Novi begitu beda padaku," batin Ray mengangguk.
"Tapi beneran ini bukan Den Leon?" ujar bibi kembali.
"Saya Ray bik, baru masuk bekerja di perusahaan milik keluarga Novi."
"Semoga non Novi bisa kembali bahagia dan ceria seperti dulu lagi," ucapnya memohon doa tersenyum menatap Ray.
"Emang Novi yang sekarang gak terlihat bahagia ya bik?"
"Sangat jauh berbeda, Tuan. Dulunya si non itu wanita yang sangat ceria. Setelah kehilangan sih Aden, ketika kembali dari bekerja, sih non hanya mengurung diri terus di dalam kamar. Non melakukan kesibukan tersebut agar bisa bangkit dan melupakan kenangan tentang den Leon, tapi tetep gak berhasil, Tuan."
"Jangan panggil Tuan, panggil Ray saja, terus Bik?" Mulai timbul sedikit rasa penasaran.
"Kemarin saya sempat ragu bahwa non Novi cerita kalau dia bertemu dengan lelaki yang sangat mirip sekali dengan den Leon. Saat itu si non bingung harus bersikap apa."
"Terus bik?"
"Non bilang lelaki itu menolongnya dari pencopet. Perasaan bahagia si non kembali semangat, tapi..." ujar bibi berfikir.
"Tapi kenapa?"
"Ketika sih non mengingat den Leon yang sudah di kebumikan, sih non kembali menangis mengingat bahwa yang telah mati takkan pernah hidup kembali."
"Jadi lebih masuk akal sekarang kenapa dia terkejut ketika tau kalau aku telah menikah," batin Ray kembali.
"Terus bik?"
"Apanya yang terus, Bik?" Novi muncul di samping Ray menatap sang pembantu.
Tanpa menjawab peryataan Novi, pembantu tersebut langsung pergi meninggalkan Ray bertatap muka dengan Novi.
"Maaf," ujar Ray bangkit mendekati Novi.
__ADS_1
"Pertemuan saya sudah selesai, kita kembali ke kantor."
"Siap."
Melanjutkan perjalanan kembali, segera menuju kantor, tak lama kemudian mereka sampai.
"Makasih untuk hari ini, sebaiknya kamu pulang untuk beristirahat," jelas Novi ketika hendak turun dari mobil.
"Ini Bu." Menyerahkan kunci mobil.
"Ini untuk inventaris kamu kerja dan mengantarku ketika ada keperluan mendadak."
"Terus nanti Ibu pulang gimana?"
Diam sembari menunjuk ke arah satu mobil sport bewarna pink yang terparkir sendirian di halaman kantor.
"Oh, baik Bu."
"Yasudah sampai bertemu kembali esok," singkat Novi turun berjalan memasuki kantor.
"Para musafir cinta kemana ya? ah," ucap Ray keluar dari mobil menoleh kanan kiri.
"Widih, enak bener ya jalan-jalan," ucap Fendi merangkul Ray dari belakang.
"Jalan-jalan apaan, cuma main kerumahnya doang."
"Mantab bener bisa main ke rumah dia, hayo ngapain tuh di dalam kamar?" lanjut Fendi kembali.
"Gak ada, cuma nyantai aja di sana itu tuh," sahut Fii menunjuk suatu tempat.
"Terus selama di rumah Novi bahas apa ajalah kau?" seru Fendi kembali.
"Ya gak ada Fen, cuma duduk nunggu dia ada urusan aja sama keluarganya."
"Kalau bohong ku pukul dia ini ya?" ucap Fendi mendekap Fii.
"Iya loh, cuma nemenin aja. Udah ayo buruan pulang, nih bawa mobil itu," jelas Ray berjalan sembari melemparkan kunci mobil ke Fendi.
"Ray, ini mobil kan tanggung jawabmu," pekik Fendi.
"Terus aku harus nyetir dua mobil secara bersamaan gitu?"
"Oh iya lupa." Fendi masuk ke dalam mobil.
Berlalu pergi untuk kembali pulang ketempat masing-masing.
Dilain sisi Novi yang masih berada di kantor.
"Sore Bu," sapa pelayan berselisih dengan Novi.
__ADS_1
"Sore kembali. Oh iya, tolong beritahu Elly untuk segera menemui saya di ruangan." Berjalan kembali menuju ruang kerja pribadi.
"Baik, Bu."
Ketika sampai di ruangan terduduk di sofa.
"Kenapa aku terus memikirkan kamu Ray? Seandainya kamu tahu perasaan aku padamu seperti apa saat ini. Hanya dengan melihat wajahmu cukup membuatku merasakan kembali rasa sakit juga senang. Aku tau kamu bukan dia, tapi perasaanku terus memaksa menganggap kamu dan dia tidaklah berbeda. Bukan wajah saja yang sangat mirip, kalian juga memiliki sifat yang sama gak beda," lirih Novi berbicara sendiri begitu depresi.
"Kenapa harus seperti ini, Tuhan? Apa salahku," lanjutnya menutup wajah memasrahkan takdir.
"Dalam situasi seperti ini, hatiku tak bebas untuk mencintai kamu. Hidupku saat ini bagaikan mimpi kosong tak memiliki arti sedikitpun," lirihnya memandang kenangan foto bersama Leon di ponsel.
"Permisi Bu," ujar Elly memasuki ruangan.
"Kalau hanya berdua jangan panggil seperti itu."
"Maaf say, udah kebiasaan. Oh iya, kamu manggil aku ada masalah apa?" Elly perlahan duduk di sebelah Novi.
Melihat Novi bersedih, Elly cukup paham apa sedqng di alami sahabat karibnya tersebut dan tau harus berbuat apa menenangkan hatinya.
"Kamu pasti mengingat Leon ya? Aku tadi juga terkejut melihat Ray memiliki wajah yang sama seperti Leon. Kalau kamu ingin cerita, ceritain aja semuanya padaku say. Sebagai sahabatmu dari kecil, pasti aku akan selalu ada untukmu," jelas Elly memeluk Novi.
"Aku gak tau harus berbuat apa saat ini. Aku sadar jika Ray bukan Leon, tapi aku gak bisa pungkiri kalau perasaan cintaku ke Leon yang dulu timbul kembali pada Ray. Hanya melihatnya saja membuatku senang apalagi jika aku memilikinya, Elly," lirih Novi kembali menangis dalam dekapan Elly.
"Kalau begitu kenapa kamu gak berterus terang aja tentang apa yang kamu rasain padanya?"
"Berterus terang tentang apa?"
"Ya kalau kamu suka dan cinta padanya sayang." Elly melepas pelukan tersenyum menatap Novi kemudian memeluk kembali.
"Aku belum begitu tau apa aku mencintai Ray atau hanya karena dia memiliki kesamaan seperti Leon, Elly. Jika aku menceritakan semua padanya juga gak akan merubah apapun."
"Kenapa seperti itu?"
"Ray sudah menikah Elly, Aku gak ingin jadi perusak hubungan rumah tangga mereka. Aku wanita dan aku tau betul seperti apa sakit ketika orang yang kita sayang di rampas orang lain," lanjut Novi terus menangis.
"Ray sudah menikah?" tanya Elly heran.
Novi mengangguk atas pertanyaan darinya.
"Terus kamu bakal pasrah kehilangan Leon untuk kedua kalinya?"
"Dia bukan Leon, Elly."
"Tapi kita gak tau kan soal insiden yang menimpa Leon? Apa kamu bisa pastikan jasad itu beneran Leon atau orang lain?" pekik Elly sedikit keras padanya.
"Kamu tau sendiri jika pesawat yang Leon naiki saat itu hancur lebur, terus kejadian itu terjadi dua tahun yang lalu. Bisa aja kan Leon selamat tapi mengalami lupa ingatan dan menghilang meski pihak penerbangan menyatakan tak ada satupun korban selamat dari tragedi tersebut," lanjut Elly kembali.
"Cukup Elly cukup! Kepalaku semakin pusing, cukup." Menangis semakin keras dalam dekapannya.
__ADS_1
***
Sampai sini dulu ya kak, jangan lupa pada mandi ya.. jangan lupa juga Fav komen vote tips apalah itu semua untuk terus dukung author recehan opak satu ini ya kak, berhubung ada kesibukan dikit lanjut besok ya..