
Para dosen membiarkan Aldo meninggalkan ruangan kantor, sementara Ray masih mendekam di dalamnya menjadi pendengar yang sangat baik budi.
"Sial bener dah, lelaki biasa seperti ku mana mungkin bisa menang dari anak konglomerat," batinnya menunduk melihat corak sepatu dosen.
"Pak, saya mengakui kesalahan itu dan saya ingin segera menjenguk Alisa untuk segera meminta maaf," lirih Ray.
"Baik, tapi ingat satu hal, jangan pernah ulangi membuat keributan seperti tadi!"
"Baik, Pak." Beranjak meninggalkan kantor kampus, berjalan mencari ruang rawat Alisa.
"Kalau Alisa gak maafin aku, terus dia visum terus minta bayaran ganti rugi gimana ini, masak iya harus ganti rugi? Isi kantong pas-pasan begini lagi," cetus Ray berpikir kemungkinan buruk akan terjadi.
Sesampainya di pintu ruang rawat Alisa.
"Hai," sapa Ray ketika masuk kedalam melihatnya terbaring.
Alisa menoleh menatap Ray perlahan bangkit mendekati.
"Aku minta maaf ya sudah membuat kamu seperti ini, Alisa."
"Dari mana kamu tahu namaku? Kita belum berkenalan."
"Dari pak supir tadi pagi."
"Sejak kapan kamu mengenal pak Herman?"
"Belum kenal sih, tapi rencana mengenal beliau ada kok, karena dia baik sudah memberitahukan nama kamu."
"Simpan rayuanmu untuk wanita lain. Rayuan kamu tidak berpengaruh untukku."
"Pura-pura galak kamu Alisa, meski sebenarnya hatimu baik. Sebelumnya maaf, Aku kemari hanya untuk meminta maaf darimu. Jika permintaan maaf kurang memuaskan hatimu, besok temui aku di halaman kampus. Apapun yang kamu pinta akan aku kabulkan," singkat Ray berpaling meninggalkan Alisa di ruang rawat kampus.
Sejenak Ray berhenti kembali,
"Oh iya satu lagi, jika ada niat merindukanku, jangan pernah lupakan nama Ray." Tersenyum percaya diri.
Setelah pergi meninggalkan Alisa, ia kembali ke rumah, tak ada hal yang istimewa sampai akhirnya kembali masuk ke kampus.
Keesokan hari.
"Aghrgh..... Menjalani pagi dengan sebuah rencana di kepala memang selalu terlihat indah. Kira-kira hal buruk apa yang menungguku di depan ya?" pekik Ray berjalan memasuki halaman kampus.
Waktu berlalu dengan singkatnya, tanpa terasa mata pelajaran selesai dan jam kebebasan tiba. Seperti biasa, Ray menuju majalah dinding kampus untuk menempelkan puisi sebagai bentuk kesibukannya yang baru.
***
~Mereka bilang seorang bidadari cukup sempurna dalam hal apapun karena bidadari memiliki tempat istimewa di antara makhluk lainnya.
__ADS_1
~Aku tak begitu percaya dengan kisah itu. Karena kemarin pagi aku menemukan bidadari bersembunyi di balik seorang gadis biasa.
***
Setelah selesai menempelkan puisinya,
"Hay, Ray," ujar seorang dosen wanita genit padanya.
Meski di usia yang tak lagi muda, dosen itu betah menyendiri dan belum ingin menikah. Dia lebih menyukai bermain-main dengan beberapa berondong.
Buk Mega Nur yeni namanya. Mungkin Ray masuk di dalam buku daftar target berondong miliknya. Meski sama dengan dosen galak lainnya, Bu Nitalia yang juga belum menikah, namun sisi mereka sebenarnya ialah seorang wanita yang penuh pengertian juga penyayang.
"Iya Bu."
"Tolongin Ibu ke perpus bentar bisa? Ada yang mau Ibu minta bantuan dari kamu Ray," pintanya.
"Pasti hal yang merepotkan ini," gumam Ray dalam hati.
"Bisa Bu, bisa," jelas Ray kembali berjalan menuju ke arah perpus berselisih dengan Bu Nita.
"Siang Bu Nita," sapa Bu Mega.
"Eh, siang juga Bu Mega," balasnya menatap Ray sinis.
"Kenapa dengan anak ini Bu? Dia buat masalah keributan lagi kayak kemarin ya?" ucap kembali Bu Nita menunjuk Ray.
"Salah terus, untung dosen, kalau enggak dosen, ku pacari terus ku tinggal pas sayang sayangnya baru tau rasa," gerutu Ray.
"Gak Bu, cuma bilang, Aku salah Bu udah buat masalah kemarin, gitu Bu."
"Awas ya kalau kamu mikir aneh-aneh, saya hukum kamu bersihin toilet seharian." Kecam BuNita melotot.
Melihat keduanya berseteru, Bu Mega tersenyum memberikan peryataan.
"Gak ada buat masalah kok Bu, saya cuma minta tolong Ray untuk ke perpus bantuin saya, ada barang-barang yang mau saya pindahin."
"Oh ya sudah kalau begitu di lanjut perjalanannya Bu," pungkas Bu Nita melanjutkan perjalanan.
"Apes bener dah, merepotkan sekali pasti," Batin Ray ketika mendengar penjelasan Bu Mega.
Beranjak kembali berjalan ke ruang perpus, Ray melihat Alisa sedang berada di ruang yang sama. Alisa terlihat cukup serius dalam urusan belajar. Ketika Ray ingin menghampirinya, Bu Mega menarik kera baju belakang.
"Mau kemana? Sini ikut Ibu."
"Iya Bu,"
Selesai membantu Bu Mega memindahkan barang-barang ke ruang sebelah, Ray berjalan kembali menuju tempat Alisa berada. Ketika sampai, ia justru melihat Aldo berusaha mendekati Alisa terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ngapain anak tengil konglomerat di mari?" Melihat Aldo duduk begitu dekat dengan Alisa.
Ray yang telah membatalkan niatnya menemui Alisa saat itu, berjalan kembali melakukan aktivitas tidurnya di ruang kelas.
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa sadar sebulan telah berlalu.
Rutinitasnya menempelkan puisi masih berjalan lancar seperti biasa, hingga 2 hari sebelumnya Ray tak menempelkan puisi dengan maksud ingin mengetahui apakah ada yang menyukai puisi buatan dirinya itu.
Melihat majalah dinding kampus.
~Ketika hatiku terdiam dalam situasi yang sulit untuk mencinta, keraguan terus mengekang jalan pikiranku.
~Di hadapkan pada dua pilihan, antara seorang lelaki biasa dan sang pangeran membuat hati semakin bingung.
~Apa yang akan lelaki biasa itu lakukan demi mendapatkan mimpi kosong ku?
"Apaan ini? Yah jelas milih pangeran lah, ngarang ni yang buat," ujar Ray memandang tulisan puisi tersebut sedikit mencibir.
"Aku kerjain dikit ah," lanjutnya mengambil pena.
~Lelaki biasa itu tak akan melakukan hal apapun sebab ia tak ingin bersaing memperebutkan bidadari. Dalam hidup ia mengerti bahwa seleksi alam kan memilih kemana hati sang bidadari itu berlabuh.
"Kenapa kamu coret-coret tulisan ku!" Bentak seorang gadis dari belakang Ray.
"Waduh gawat, pasti yang punya ini," batin Ray berat untuk menoleh ke belakang sedang tangannya masih menempel di tulisan tersebut.
Perlahan sedikit menoleh ke belakang. "Alisa?"
"Kamu lagi Ray? Kenapa sih selalu mengganguku?
Aku salah apa sama kamu?"
"Gak gak, gak salah, Aku kira tadi ini tulisan punyaku."
Alisa berlalu pergi meninggalkannya dengan perasaan kesal akan tingkah usil Ray. Ketika berada di dalam ruang kelas, Ray tak mampu berucap kepadanya. Hanya sesekali mencuri pandang menatap Alisa sembari menulis sepucuk surat dengan niat meminta maaf.
Sedang asik menulis...
"Widih, mesra bener tuh kata-kata, coba sini liat," ujar Aldo merampas surat tersebut kemudian membacanya di tengah keramaian kelas.
~Seorang lelaki biasa pernah melakukan kesalahan berulang kali terhadap sang bidadari. Meski Bidadari itu sedikit kesal, ia tetap memaafkannya.
~Bukan karena merasa kasihan akan dirinya, melainkan sang bidadari mengerti jika memaafkan adalah hal terbaik dalam hatinya.
"Apaan bidadari bidadari, lebay bener lu penyair kampungan," sindir Aldo.
Mengingat akan kecaman dosen jika ia melakukan keributan lagi, Ray terdiam melihat perlakuan Aldo padanya dengan lembut mencoba meminta kembali surat itu.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu kak, lanjut....