
"Yah begitulah, namanya satu kapal, pasti selalu sama dimana aja lokasi kita berada."
"Permisi, Pak Saddam, ini surat rekomendasi pindah tugas bapak," ujar salah seorang polisi menyerahkan berkas ke Saddam.
"Terimakasih," balas Saddam mengambil berkas tersebut.
"Jadi kapan itu?"
"Bulan depan rupannya, baiklah," jelas Saddam membuka membaca tanggal rotasi area tersebut.
Kemudian, keduanya berlalu meninggalkan kantor pusat untuk kembali menuju ke area kepemimpinan Saddam.
Kembali ke sisi Ray.
"Semoga dengan bergabungnya kembali buk Alisa, bisa meningkatkan serta memajukan perusahaan lebih dari yang selama ini kita harapkan," ujar krpala direksi utama berdiri menyambut hangat kedatangan Alisa di ruang rapat kantor.
"Terimakasih untuk sambutannya. Saya harap, dengan adanya saya disini, semua bisa lebih bertanggung jawab atas bidang masing-masing," jelas Alisa ikut berdiri diiringi tepuk tangan meriah.
"Yasudah kalau begitu, perkenalan hari ini sampai disini dulu dan semua bisa kembali melanjutkan aktivitas masing-masing," lanjut Alisa membubarkan rapat pagi.
"Kalau begitu, Aku permisi dulu sayang," bisik Ray pada Alisa.
"Iya mas, kamu juga, hati-hati di jalan ya."
"Siap bos, jaga kandungan kamu ya sayang," balas Ray mengelus lembut lengan Alisa.
"Iya mas."
Ray mencium kening Alisa dan setelah menghantar menemani Alisa, Ray kembali bergegas menuju kantor Novi.
"Semoga kandungan kamu baik-baik saja sayang," batin Ray memasuki mobil kemudian berlalu pergi.
Setibanya di kantor.
"Pak Ray, di tungguin buk Novi di ruangan miliknya," ujar salah seorang karyawan menghampiri Ray yang baru tiba.
"Oh iya, makasih."
"Widih, darimana aja juragan baru keliatan?" sapa Fendi berselisih di ruang recepcionist.
"Biasa, maaf lagi buru-buru aku nak," singkat Ray memasuki lift kantor.
"Woi, tadi kayaknya aku liat si Ray," ketus Fii menepuk bahu Fendi mengejutkannya.
"Iya, itu tadi memang dia, gak tau kenapa kayak buru-buru."
"Apa bakalan dimarahi Novi ya karena terlalu lama absen libur?"
__ADS_1
"Ya gak tau juga, tapi gak mungkin lah. Secara lord kita itu patokan pria sempurna impian setiap wanita," jelas Fendi sedikit usil.
"Iya juga sih," balas Fii mengangguk santai.
"Yaudah ayok balek ke ruangan, ntar kalau diliat kamera pengintai santai-santai disini bisa di pecat jadi gembel lagi kita," seru Fendi menuntun Fii kembali memasuki ruangan mereka yang tak berada jauh dari lift kantor.
Setibanya Ray di depan ruangan Novi.
"Permisi, Bu." Berjalan masuk mendekati.
"Yaudah yah, kalau begitu nanti Novi kabari lagi," singkat Novi menutup panggilan telepon kemudian mempersilahkan Ray duduk.
"Gimana liburannya?" tanya singkat Novi membuka laptop miliknya mengabaikan pandangan.
"Lancar sih, Bu."
"Syukurlah kalau begitu. Siang nanti ayah memintaku untuk membawa kamu kerumah Leon," ucap Novi kembali mengemas beberapa lembar kertas print.
"Kerumah Leon? Ngapain, Bu?"
"Kamu lupa atau memang sengaja ingin melupakan semua peran yang sudah kamu jalani?" sindir Novi berdiri berjalan menuju rak berkas miliknya.
"Maksudnya? Lupa yang seperti apa, Bu?"
"Bukannya kamu telah bermain peran sebagai Leon? Sudah seharusnya kan kalau kamu harus tau semua pribadi atau sifat bahkan seluruh kekayaaan yang Leon miliki baik itu saham, perusahaan, rumah dan lainnya?" jelas Novi kembali duduk menekan telepon kantor.
"Iya sih Bu, tapi apa gak terlihat kalau aku terlalu berlebihan dan semakin jauh tercebur kedalam kehidupan Leon?" sahut Ray melanjutkan kembali pembicaraan.
Novi menghentikan laju jari mengetik sesuatu, melepas lembu kacamata miliknya, kemudian menoleh menatap lurus Ray.
"Apa kamu pikir yang selama ini terjadi dan kita lalui berdua masih terlihat dangkal, Ray?"
Mendengar peryataan tekanan Novi membuat Ray melamun terdiam untuk beberapa saat.
"Udalah, lagian juga hanya berkunjung kerumahnya yang telah lama kosong, bukan yang gimana-gimana juga," lanjut Novi bangkit dari kursi miliknya berjalan santai terduduk di sofa tamu.
"Permisi Bu," sapa seorang karyawan berjalan masuk memberikan berkas yang Novi pinta.
"Makasih ya."
"Sama-sama, Bu." Berjalan pergi meninggalkan ruangan Novi.
"Oh iya, kamu sudah boleh kembali meninggalkan ruangan ini. Nanti aku kabari lagi jam berapa kita harus bergegas berangkat," lanjut Novi membaca santai berkas yang ada pada genggamannya.
"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi."
Ray bangkit berjalan, ketika sampai di depan pintu ruangan...
__ADS_1
"Kamu gak perlu takut dan berfikir yang bukan-bukan. Kamu dan Leon itu berbeda dan aku pastikan kalau rasaku pada Leon takkan pernah muncul untukmu," jelas Novi menghentikan langkah Ray.
Ray menoleh berbalik menatap Novi yang fokus membaca berkas tersebut, kemudian kembali berjalan keluar ruangan.
Disisi lain Eka, Putra dan lainnya setelah kembali ke markas.
"Widih kayaknya rampasan kita bulan ini selalu besar dan memuaskan hasilnya, kapten," ujar Ricko menumpuk beberapa tumpukkan uang ratusan.
"Jangan terpancing oleh dunia. Ingat, apa yang kita hasilkan hanya beberapa persen saja buat keberlangsungan hidup kita. Semua akan kita serahkan pada mereka yang mengisak tangis merasakan lapar," jelas Eka mengusap mengembus membersihkan senapan laras panjang miliknya.
"Kalau aja hasil setiap kita dapatkan untuk kita semua, pasti udah nyalon presiden aku," lanjut Ricko membuka koper berisi perhiasan.
"Tuhan udah tau duluan, makanya nasibmu begini. Kalau belum saatnya jangan memaksa, jika memaksa, rakyat yang bakal menderita," ketus Putra berjalan memangku segelas kopi kemudian terduduk santai.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, banyak juga ya? Gak nyangka hasilnya sebanyak ini," ucap Jhon berdiri di belakang Ricko menghitung tumpukkan uang yang Ricko kumpul.
"Terus kapan kita salurkan semuanya?" pekik Lucy berjalan menuju kamar.
"Untuk memastikan semua berjalan lancar, besok akan kita bagikan ke semua penduduk yang menbutuhkan," balas Eka.
"Budi mana? Daritadi gak keliatan," sahut Putra.
"Diluar lagi nyiapin mobil rakitan miliknya," singkat Eka.
"Udah berasa kayak di film-film action aja pakai ngerakit mobil tempur sendiri," pekik Jhon.
"Hobinya selama ini baru tersalurkan, biar ajalah. Toh dengan adanya dia makin mempermudah kegiatan yang kita lakukan," jelas Eka kemudian bangkit berdiri berjalan menuju kotak persenjataan lainnya.
"Ray bagaimana ya kabarnya? Udah sebulan ini dia gak ada kasih kabar. Belum lagi ketika terakhir bertemu, wajah Ray terlihat seperti banyak beban yang sedang dia pikul," pekik Putra mengkhawatirkan Ray.
"Doakan saja dia baik-baik disana, kalau terjadi sesuatu mengerikan, pasti dia kabarin kita disini," sahut Eka.
"Iya juga sih. Oh iya, bagaimana mana kalau bulan depan kita berkunjung ke kota miliknya?" lanjut Putra.
"Ide bagus sih," jawab Eka kemudian duduk kembali di kursi menggenggam melihat-lihat pistol jenis baru yang ia dapatkan.
"Sekalian pengen tau kehidupan dia di kota sana. Pasti seru kehidupannya yang baru," ujar Putra menyeruput kopi.
"Asek bro, refreshing," sahut Ricko menoleh menatap Jhon.
"Yoi, gasken lah," balas Jhon menaik turunkan kedua alis mebatap Ricko.
Kembali ke sisi Ray.
"Sudah siap? Kita berangkat sekarang," jelas Novi menghampiri Ray yang sedang duduk bersantai di pos satpam.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu sanak famili saudara sedulur setanah air, kalau cuaca cerah, besok kita lanjut lagi.